
"Ini yang namanya Paris?"
Dan setelah sekian lama bersama keluarga kecil Alex di meja makan, bahkan sampai mereka kini berada dalam satu lift, Aero baru menanyakan nama bayi yang sahabatnya bawa kemana-mana ini. Sungguh perilaku yang terlambat, kurang peka dengan banyak keadaan. Apakah matanya sama sekali tidak terhipnotis dengan tingkah lucu anak Bordes yang sangat menggemaskan ini?
"Iya Om." Jawab Bordes dengan suaranya yang dibuat seperti anak kecil. Ia masih terus ditempeli gadis kecilnya. Sampai dia sendiri kebingungan dibuatnya sebab bukan dia yang membawanya selama 9 bulan ini.
Mungkin, karena Aero jarang berinteraksi dengan anak kecil, sehingga saat melihat anak Bordes yang berbalut pakaian bayi warna pink dengan pipi tembam nan putih tersenyum, dia hanya menarik bibirnya sedikit. Tak ada respon berlebih yang ia lancarkan seperti tante-tante genit di luaran sana. Entah itu mencubit, mencium atau mencoba untuk menggendong. Semua itu tidak dia lakukan. Apa mungkin jika Rea ikut, istrinya akan melakukan hal segila itu? Pikir Aero diam-diam.
"Bule banget mukanya."
Bordes Alexander-yang memiliki garis keturunan spanyol tersenyum bangga. Dia mengeratkan pelukannya pada Paris dengan satu tangan ke arah dada. Dan tak lama, bayi cantik itu mengalungkan dua tangan pendeknya ke leher Bordes seraya tertawa riang. Sementara di sisi lain, Gadis masih sibuk dengan ponsel. Bukannya bermain dan mengacuhkan, dia hanya sedang sibuk menanyakan anak perempuan pertamanya yang ikut Oma dan Opa di Bandung.
"Buatnya aja disana."
"Aa!" Seru Gadis-wanita cantik yang merangkul lengan suaminya-dengan suara lantang, ia seperti memperingatkan Bordes agar tidak mengatakan hal yang berlebihan. Sebab sudah dia hafal sekali, lelakinya jika dipancing hal macam itu akan mulai tumbuh kesombongan didirinya. Kepalanya mendadak membesar dengan mengingat masa lalu yang dia capai dengan cukup mudah.
Mendapatkan istri, centang.
Menginginkan anak, centang.
Menginginkan anak lagi, centang.
Seakaan hal-hal tersebut dia dapat dengan mudah.
"Loh memang begitu kan? Inget waktu kamu minta balik aja ke kamar dari pada jalan-jalan? Ngebet banget pengin pelukan terus disayang-sayang. Iya kan?!"
Gadis diam dengan wajah yang memerah.
"Oh ngga inget ya? Itu loh, waktu kamu kepleset. Terus malah nangis. Padahal ngga jatuh. Memang si ketika jatuh, rasa malu lebih besar dari sakitnya." Jelas Bordes mencoba menggali moment itu di benak istrinya. Yang justru bukannya membuat Gadis ingat, tapi malah membuat dia kesal.
Udah sombong, ngga peka lagi. Udah tahu istrinya malu. Malah dilanjutin!
"Waktu kamu pengin lagi itu loh sayang."
Ok fix. Aero harus segera menghentikan.
"Ngga liat muka istri lo udah merah begitu?" Celetuknya lebih keras. Ia mulai melihat sepasang suami istri yang saling berhadapan dengan dua wajah berbeda ini. Satu jahil dan satu sudah hampir menangis. Tangan Bordes hendak meraih bahu istrinya untuk mendekat, namun secepat kilat Gadis memberi jarak. Hingga akhirnya pun dia mengalah.
"Udah biasa. Tandanya dia masih hidup." Tanpa rasa bersalah Bordes kembali menjawab enteng. Dasar mulut kejam.
"Iih!!"
Pintu lift terbuka di lantai keluarga Alex menginap. Sambil menghentakkan kaki, Gadis keluar dari kotak besi tersebut. Tak menghiraukan anaknya yang memanggil terus-menerus. Mama mama dan mama. Kata-kata itu terus menggema.
"Ya sayang, nanti kita susul Mamah. Gue duluan."
__ADS_1
Kadang Aero masih saja tidak percaya dengan kehidupan sahabatnya itu. Bagaimana dua orang yang saling berkebalikan bisa terus bersama dan saling mencintai? Ah dia sendiri tidak mengerti kenapa pula bisa menargetkan Rea yang dalam segi apapun terlalu ekstrim untuknya. Tapi bukankah dia sendiri yang bilang, ingin terus memiliki teman debat sepanjang hidup?
Masih terus melanjutkan perjalanannya menuju lantai dimana dia menginap, Aero mulai menguap berkali-kali. Sialan! DIa benar-benar butuh tidur setelah ini. Tak masalah jika dia tidur dan istrinya nanti bangun? Namanya juga hidup, harus saling melengkapi. Yang satu tidur dan yang lainnya terjaga.
"Dari mana Mas?"
Pertanyaan singkat tiba-tiba terdengar sesaat Aero keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Kepalanya terangkat di tengah rasa kantuk, sekedar untuk memastikan itu siapa.
Setelah memastikan siapa gerangan yang berhasil membangunkan tidur jalannya, Aero buru-buru membuka mata.
"Dari bawah. Sarapan."
"Bukannya nanti akan di antar?" Tanya Jordi lebih dalam. Bukannya dia cerewet tapi memang dia yang meminta agar sarapan untuk kamar pengantin itu dibuat special.
"Ketemu teman sekalian. Papa udah bangun?"
Aero memang harus menemui Bordes, untuk urusan yang benar-benar penting. Perihal tingkahnya yang jahil tapi berujung kepuasaan. Dan sialnya, Aero menikmati hal tersebut. Nanti, setelah dia dan Rea sudah sama-sama pulih tenaganya, next level will be held.
"Sudah. Tadi baru saja minta sarapan. Mba Rea dimana?"
Jordi menyamai langkah Aero yang berjalan terus sambil memberikan setumpukan amplop.
"Di kamar. Masih ngantuk katanya."
Itu bukanlah yang sesungguhnya. Rea tak sama sekali mengatakan apapun setelah dia digempur Aero habis-habisan. Bahkan perginya Aero untuk sarapan tidak pamitan, ia sengaja membiarkan istrinya masih bergelung di bawah selimut meski matahari telah meninggi.
"Ok, makasih. Ini dari siapa?" Tanya Aero sesaat dia melihat beberapa amplop yang Jordi serahkan padanya. Hadiah susulan dari rekan Ayahnya.
"Itu Pak Hardi dan keluarga. Kapan mau dibantu pindahan?"
Aero mengangguk lebih dulu sebelum menjawab. "Aku belum sempat tanya." Usai membolak-balik setumpukan amplop dari para tamu, Aero terdengar menghela nafas lelah dengan keras, seperti mengenyahkan seluruh beban di pundaknya.
"Besok pembicaraan final dengan Tim Pak Harjono Ali. Mereka minta first class untuk tiap kepala tapi-"
"Besok aku berangkat Di!"
Jordi mendadak menghentikan langkah kakinya. Apa barusan dia tidak salah dengar? Hari kedua setelah menikah dan Aero akan langsung bekerja? Padahal beberapa hari sebelumnya Aero sudah meminta 7 hari untuk sang istri. Apakah saat itu hanya gurauan? Atau saat ini Aero tengah mabok?
"Mba Rea gimana?"
"Dia urusan aku." Jawaban singkat yang lagi-lagi membuat Jordi geleng-geleng kepala. Dia hanya bisa memaklumi apapun tingkah Aero. Selama ada Rea, semua akan baik-baik saja.
***
Bukan aroma wangi yang pertama kali Aero cium saat menginjakkan kembali kakinya di kamar. Entah ini perasaannya saja atau pikirannya yang tersugesti dengan moment pagi tadi, yang jelas dia mencium bau-bau percintaan. Oh jangan sampai dia teracuni omongan Alex barusan.
__ADS_1
"Satu kali dia ngerasain di bawah lo, selanjutnya dia akan tunduk."
Itu kata Alexander Martinez-si pria sombong penakluk Gadis manis yang begitu polos.
Aero mengedarkan matanya pada ranjang king size tempat dimana dia dan pasangannya menyempurnakan pernikahan. Meletakkan amplop di salah satu nakas, Aero secara perlahan melepas kaos yang dikenakan kemudian melemparnya begitu saja ke sofa. Ditatapnya Regina Athalia yang tidur membelakanginya, sekedar mempertontonkan punggung mulus tak tertutup selimut. Tubuhnya seperti tertarik magnet, ia mendekat untuk melabuhkan bibirnya di satu sisi bahu yang terbuka. Ikut memejamkan mata kala aroma itu kembali mengisi kekosongan jiwanya. Aero berusaha menahan, walau dia ingin kembali melakukannya.
Ditariknya mundur kembali tubuh besar yang sempat menempeli tubuh Rea. Ia berbaring terlentang melipat kedua lengan di belakang kepala. Mata Aero terpejam kemudian, mengistirahatkan tubuhnya untuk hal lebih besar lain. Dia yakin apa yang Papanya katakan benar. Kehidupan pernikahan tidak akan semudah apa yang dilihat. Ego perlu dikendurkan. Kepekaan harus ditingkatkan. Dan kasih sayang harus terus ditumbuhkan. Keduanya terlelap, keheningan tercipta namun kehangatan mulai terasa.
***
"Besok aku berangkat kerja."
Buru-buru Rea menelan sarapan di waktu siangnya. Dia masih duduk dengan berbalut bathrobe sedangkan pemilik suara yang tadi muncul tiba-tiba masih terbaring di kasur.
"Mas? Kamu ngigau?" Bisik Rea sambil melirikkan matanya, mencari tahu keadaan suaminya sekarang.
"Aku udah bangun." Dan jawaban itu disertai bangkitnya Aero dari pembaringan dengan tubuh yang luar biasa membuat merinding Rea. Suaranya yang berat dan serak, rambut yang berantakan serta otot perut yang menunjukkan kekuatannya.
"Besok keputusan final. Jadi aku harus berangkat."
Sarapan yang Rea kunyah mendadak hambar. Rasanya tak lagi lezat dan menggugah selera. Perutnya tiba-tiba penuh. Ada rasa tidak suka yang langsung muncul ketika Aero menyebutkan jadwal acaranya besok.
"Kalau gitu, aku juga berangkat." Tanpa berpikir, Rea juga mengikuti apa yang Aero lakukan.
"Atas ijin siapa kamu berangkat?" Pria itu bangkit dan berjalan mendekati sang istri, suaranya tadi meninggi.
"Kamu." Cicit Rea sedikit takut. Pasalnya baru kali ini Aero nampak berbeda.
"No!" Putus sang kepala rumah tangga tegas. Ia tak malu-malu memperlihatkan sesuatu yang tengah bangkit di dalam tubuhnya.
"Daripada di rumah bingung mau ngapain."
"Beres-beres rumah? Buka kado? Atau istirahat kan bisa?"
Rasa kesal Rea bertambah. Dengan sekali gerakan, dia langsung berdiri tepat di hadapan Aero dengan jarak beberapa jengkal saja.
"Kamu juga harusnya bisa kan di rumah nemenin istri? Baru juga satu hari resmi menikah. Udah ditinggal. Kamu ngga berpikir nanti ada omongan buruk tentang kita?" Meski ini buruk karena harus membantah di hari pertamanya menjadi istri. Rea tetap melakukannya. Dia ingin diutamakan. Terutama di awal-awal pernikahan.
"Siapa yang berani ngomongin aku? Anak buah? Kaya kamu ngga pernah diomongin orang aja!"
Benar-benar! Sepertinya Rea harus menghapus listnya agar menjadi istri idaman. Dia tetap tidak bisa hanya diam dan menurut. Seluruhnya mendadak bergejolak saat Aero bertingkah tidak seperti seharunya seorang pengantin.
"Kali ini beda! Kalau kamu berangkat ke kantor, nama aku juga pasti akan terbawa-bawa. Apa sebagai istri aku ngga bisa melayani kamu sampai-sampai hari kedua udah keluar rumah? Apa istrinya tidak semenarik itu, sampai rela memilih pekerjaan? Mas ngga mikir?!"
Ok. Apakah ini sedikit berlebihan? Karena mendadak Aero menarik pinggangnya mendekat hingga tak berjarak. Bibir itu sudah mulai menjalar di sepanjang garis leher. Tak menyentuh namun meninggalkan jejak nafas. Rea mulai meremang.
__ADS_1
Tetap kasih dukungan ya gaess biar aku ngga melupakan cerita ini.
Jangan lupa vote, comment, like nyaa yang banyaaak