
Dunia ini bukan dunia sihir dimana setiap keinginan bisa terwujud dengan sekejap mata. Perlu kerja keras untuk membuat mimpi-mimpi menjadi nyata. Perlu keringat dan air mata untuk membuat usaha itu makin berarti di setiap langkahnya.
Begitupun Braga Assavero atau yang banyak orang ketahui dengan nama Aero. Pria berusia hampir 30 tahun ini sudah melewati masa keringat bercucuran sebelum akhirnya duduk nyaman di kursi Bos. Ia tahu masa sulit seperti apa, walaupun kenyataannya ia terlahir ke dunia dari keluarga berada.
Jalan hidup dan pilihannya sendirilah yang membuat ia pernah menjadi gelandangan. Ia tahu dunia gelap narkoba, perdagangan manusia, perampokan dan pencurian. He knows. Tapi tidak ikut berkecimpung di dalamnya. Bisa diibaratkan dunia itu adalah kolam kotor, Aero hanya sekedar berdiri di tepian, memandangi dan tak ingin ikut menceburkan diri. Karena ia tahu, dunia tersebut begitu kotor dan tak nyaman.
Aero kira-usai kejadian usilnya menyekap calon pengantin Arka-lelaki itu akan datang kepadanya untuk sekedar bicara. Tak masalah hutang tak terbayar, yang terpenting adalah pembicaraan antar lelaki. Namun melihat sendiri reaksi pria yang akan menikah itu terhadap wanita calon istrinya, Aero dilanda kebingungan. Baru kali ini. Apakah sikap Arka benar? Cenderung tenang dan tidak peduli terhadap calon istri yang disekap. Bahkan tak mengutus satupun orang untuk menghubunginya untuk sekedar menyelamatkan wanita malang ini. Aneh namun nyata terjadi. Ternyata masih banyak di dunia ini orang yang tak memiliki belas kasih
Lagi, Aero memandangi gadis manis yang belum juga membuka mata. Sudah 2 jam, dan Aero merasa de javu. Suasana ini pernah ia alami. Persis sama.
Niatan Aero meminta dua orang keeper di sekitar Rea, adalah untuk memastikan satu hal. Apakah hidup wanita itu masih baik-baik saja? Jawabannya adalah tidak, Rea keluar dari rumah. Wanita cantik itu memilih tinggal terpisah dari orang tua dan mendekam di rumah kecil yang biasa saja. Jelas itu adakah pilihan yang sulit. Karena Aero sendiri, pernah berada di posisi itu.
"Are you ok?" Bisik Aero sambil memandangi wajah Rea dari kejauhan.
Apakah kamu sudah tahu apa yang terjadi di belakang kamu selama ini? Tentang Arka? Tentang Rena-adik kamu? Tentang dua orang yang kamu anggap sebagai orang tua? Mereka telah berkhianat. Atau sebenarnya kamu tahu, namun diam saja?
Jadi diam-diam Aero mencari tahu siapa gerangan wanita yang sudah dia sekap. Salah sekali, karena Aero baru berinisiatif mencari tahu informasi tentang Rea justru setelah kejadian tersebut. Usahanya untuk menggertak Arka waktu itu berakhir gagal. Hal tersebut merupakan tindakan paling bodoh yang Aero lakukan. Ia salah sasaran.
"Tekanan darah rendah, kelelahan dan syok. Hal itu yang membuat dia belum juga bangun." Seru seorang dokter pada Aero dua jam yang lalu. Ia bukan orang yang mau menunggu. Ia punya janji pertemuan sebenarnya. Namun entah kenapa kali ini, ia justru menyuruh dua keeper pulang. Mengorbankan waktunya sendiri hanya untuk menunggui seorang wanita.
"Saya keluar sebentar." Pesan Aero pada perawat yang berjaga di klinik. Ia ingin menghubungi seseorang. Sudah sangat terlambat, namun lebih baik tetap memberi kabar. Entah itu akan ditanggapi seperti apa.
"Ya hallo?" Sapa seseorang di seberang telefon, tak butuh waktu lama untuk tersambung.
Tanpa menyapa, basa-basi dan permintaan maaf, Aero langsung menyampaikan pembatalan pertemuan. "Saya tidak bisa datang, kita undur saja pertemuannya."
"Selalu seperti itu. Ok. I will wait." He is lucky. Karena, walaupun sudah dua jam lewat dari perjanjian. Wanita di seberang sana masih saja mengerti dirinya. Tak banyak protes. Atau mungkin wanita itu hanya pura-pura mengerti pada kesibukan lelaki macam Aero. Yang jelas-jelas dalam 7x24 jam tak memiliki waktu luang.
__ADS_1
"Pak!" Suara lain mengenterupsi keterdiaman Aero di ruang tunggu. Seorang wanita berseragam putih berdiri di sampingnya.
"Kenapa?"
"Istrinya sudah bangun."
Untuk sesaat Aero merasa aneh dengan kalimat yang perawat tadi sampaikan. Istri? Sejak kapan dia menikah? Pacar saja tidak ia miliki. Apa mungkin wanita yang jelas-jelas berbicara padanya ini tengah salah mengira?
"Korban kecelakaan tadi sudah bangun." Imbuh perawat bernama Heni lagi karena kunjung tak mendapatkan respon dari Aero.
Ah dia.
Lelaki berotot ini akhirnya tersadar, wanita yang dimaksudkan sudah tersadar oleh perawat Heni adalah Rea.
Kepala Aero mengangguk sekali, memberikan signal siap untuk masuk menghampiri. "Ok."
Kain pembatas berwarna hijau antar ruangan disibak keras oleh perawat, memperlihatkan gadis manis yang tengah terbaring miring.
"Bu? Bagian mana yang sakit?" Tanya sang perawat saat sudah berdiri di sisi ranjang, tangannya meneliti luka luar di dahi Rea-berniat menghalau rambut halus yang bisa menempel dan menganggu kesembuhan luka.
Tak ada jawaban, yang ada hanya isakan tangis tanpa henti yang terus terdengar makin keras. Gadis itu meringkuk miring layaknya bayi, memunggungi keberadaan Aero. Bahkan wanita itu tak menghiraukan sikunya yang lecet.
"Ibu Regina?"
Tetap tak ada balasan.
"Ibu, saya perlu-"
__ADS_1
"Bisa Mba keluar sebentar? Saya ingin bicara berdua." Potong Aero, Ia tidak tahan lagi dengan sikap perawat Heni yang mulai menaikkan nada bicaranya.
Beberapa menit berlalu sejak perawat tadi menyingkir, Aero masih berdiri di belakang punggung Rea yang masih tak juga menghentikan tangisnya. Belum diketahui, tangisan itu untuk hal apa dan jenis apa. Untuk sakit akibat luka kecelakaan kah? Atau karena luka tak kasat mata? Luka hati.
"Regina Athalia."
Pada akhirnya, nama lengkap wanita itulah yang keluar dari bibir Aero lebih dulu. Suaranya yang dalam dan berat ternyata berhasil membuat tubuh Rea menegang. Tangisannya pun mendadak terhenti.
"Kamu menangis untuk luka apa?"
Dasar pria kaku dan tak bisa basa-basi. Bagaimana bisa seorang lelaki misterius yang belum dikenal gadis itu, namun melontarkan pertanyaan macam tadi? Siapapun pasti akan menyingkir tak suka. Begitupun Rea. Secara perlahan ia mulai membalikkan badan. Lama kelamaan ia tersadar, ada orang yang berdiri memperhatikannya dari belakang.
Deg
Matanya yang masih berair dan merah seketika menegang usai menemukan wajah pemilik suara dalam tadi. Ingatannya langsung melayang pada hari itu. Ia ingat betul. Pada alis tebal, mata tajam serta rambut hitam yang tersusun rapi. Dan tak ketinggalan adalah penutup wajah yang masih digunakan. Sebenarnya seperti apa wajah penculiknya itu? Apa mungkin Rea mengenalnya?
"Saya menilai tangisan tadi adalah tangisan milik orang lemah--Kenapa? Tidak terima?" Tanya Aero dengan suaranya yang mengintimidasi. Matanya terkunci begitu saja dengan netra merah milik Rea. Wanita itu tetap diam. Bahkan lama kelamaan makin menyipit. Seperti berniat melihat lebih fokus siapa gerangan lelaki di hadapannya. "Saya ulangi lagi, kamu menangis karena apa?"
Dengan sabar Aero menunggu jawaban. Tangannya mulai terkepal diam-diam di samping kanan karena Rea benar-benar seperti orang bodoh, ia hanya diam seperti patung terbaring.
Tak lama, angin seger mulai Aero dapati. Mulut wanita itu perlahan terbuka, mungkin hendak mengatakan sesuatu. Entah itu jawaban atau permintaan. Namun, begitu pita suara bergetar dan bunyi terdengar hingga telinga Aero. Lelaki itu sukses membeku, akibat dari getaran suara Rea yang membuat Aero seketika berdesir. Wanita ini masih mengingat namanya.
"Aero??" Seru Rea dengan suaranya yang begitu lemah, serak dan tak berdaya. Tadi bukanlah panggilan, tapi justru pertanyaan. Jika kata itu diterjemahkan, maka artinya akan seperti ini, 'Apa kamu Aero? Jika iya, tolong jelaskan apa kesalahanku.'
Reflek Aero mundur satu langkah begitu Rea ingat siapa dirinya. Apalagi, wanita itu hendak bangun sambil memastikan lagi siapa dirinya. "Aero kan?" Tanya wanita tadi dengan menuntut.
Jika sudah seperti ini, satu hal yang akan Aero lakukan. Ia akan tetap mengunci mulutnya. Diam.
__ADS_1