Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 65


__ADS_3

Untuk ke sekian kalinya, hal ini terjadi. Laki-laki yang sedang dalam proses pendekatan dengan Rea-mundur perlahan. Ada saja penyebabnya. Satu yang pasti, semua itu bersumber dari Braga Assavero-dialah awal mula dari berbagai kegagalan Rea menjalin hubungan dengan para pria. Salah satu pria itu puj Aero sendiri.


Kadang Rea bertanya-tanya, apakah benar lelaki yang pernah menculiknya itu tak memiliki perasaan special padanya? Pasalnya, antara sikap dan perbuatan begitu bertolak belakang. Aero melarang dirinya bersama Ardan, bukankah tindakan itu seperti seorang kekasih yang posesif? Mendadak dia menjadi lebih suka mengatur. Tidak ingin memiliki, tapi juga tidak merelakan untuk dimiliki orang lain, itu cukup menggambarkan bagaimana tingkah Aero.


Jangan bilang dia sebenarnya jatuh cinta tapi tidak peka. Jangan bilang dia sebenarnya sayang tapi sungkan. Benar-benar sialan!


Masih mengenakan dress warna hitam sebatas lutut dengan lengan tangan pendek, Rea berdiri di balik jendela rumah. Hanya sebatas itu kakinya melangkah. Dia sendiri tidak tahu kenapa otaknya tak memberikan perintah untuk menghalangi perilaku Aero. Atau mungkin dia sekalian membawa tas dan langsung saja di kursi mobil Ardan? Ya. Harusnya dia bisa bertindak nekat seperti itu. Seharusnya.


Salahkan dirinya yang tidak berdiri lebih dekat sehingga tidak bisa tahu apa yang dua lelaki itu bicarakan. Ardan berdiri di samping pintu mobil dan Aero tepat di hadapannya. Sekitar lima menit mereka bicara. Dan melihat mantan mobil miliknya melaju pergi, Rea tahu, dia harus meminta maaf pada Ardan, secepatnya.


"Kamu ganti baju! Jangan pakai dress!"


Rea tersentak begitu suara Aero masuk ke inderanya. Ia pikir lelaki itu masih ada di garasi tadi. Kenapa mendadak sudah berada di dekatnya? Sejak kapan? Apa mungkin dia terlalu sibuk mencari memikirkan kalimat permintaan maaf pada Ardan pada kolom pesan Whatsapp.


"Ngga mau." Jawab Rea tanpa menatap mata Aero, pikirannya sedang kalut.


"Belum makan malam kan?--Siapa yang kamu telefon?"


"Hallo, Dan? Maaf ya , aku ngga bisa keluar."


Rea berusaha tak terpengaruh dengan rasa ingin tahu pria yang masih berkeliaran ini. Ia setia menunggu jawaban Ardan yang sedang dihubungi.


"..."


"Lain kali kita-"


"Ngga ada lain kali buat dia!" Tanpa ijin, Aero merebut ponsel Rea yang masih tersambung dengan si lelaki jelek itu paksa. "Hallo? Aku ngga main-main Dan!" Seru Aero pada akhirnya sebelum memutus sambungan sepihak. Sukses besar membuat Rea terperangah tak percaya.


"Ganti bajunya buruan." Selalu seperti itu. Di bawah tatapan dingin Aero, tanpa rasa takut sedikitpun Rea membalasnya sama tajam. Menantang singa gurun yang sedang mengejar mangsanya.


Tak kunjung bergerak, akhirnya Rea mengalah. Ia memalingkan wajah kemudian melangkah memasuki kamarnya.


"Good." Puji pria itu sesaat wanita dengan dress itu berdiri di depan lemari. "Jadi. Mobil itu Ardan yang beli?"


Bug


Sebuah gumpalan kain melayang cepat ke arah wajah Aero. Namun dengan sigap tangan lelaki itu menangkapnya. "Keluar ngga!" Teriak Regina begitu keras, kenapa bisa ketika menyuruhnya ganti baju, pria itu justru sedang menunggunya di depan pintu? Dasar penguntit.


Brak. Pintu kamar ditutup kencang dari dalam. Memisahkan Rea dan Aero dalam dua ruang.

__ADS_1


War is going to start. Bisik Aero lirih sambil tersenyum.


Lebih dari dua puluh menit Rea tak kunjung keluar dari kamar. Terpaksa Aero menggedor pintu dan meneriaki wanita yang katanya tengah ganti baju itu untuk segera keluar. Tapi dasar wanita tangguh, bukannya menjawab iya atau ok. Justru dengan santainya mengatakan, " berisik!! Aku mau tidur!"


"Bukan saatnya tidur Regina Athalia. Ganti baju! Keluar segera dan ikut aku!"


"Ngga mau!" Serang Rea dari balik pintu kamar dengan tegas.


"Apa harus aku yang masuk dan melakukannya?"


Brak. Terdengar suara amukan dari dalam kamar. Entah apa yang dilakukan Rea di dalam sana sehingga menimbulkan bunyi keras seperti benturan benda padat. Aero memanggil nama wanita itu sekali lagi, sekedar memastikan. Namun, tak ada balasan sampai akhirnya muncullah Rea dengan kaos dan celana yang membungkus tubuhnya. Benar-benar seperti ingin tidur. Apakah wanita itu tadi serius?


"Apa?!" Tanya wanita tanpa orang tua ini dengan nada yang tidak bersahabat.


"Ikut aku sebentar!"


"Ngga mau! Aku lagi emosi karena kencan aku gagal!"


"Tidak akan gagal! Makanya ikut aku!"


Untuk beberapa saat, suasana rumah menjadi hening, hanya terdengar bunyi pergerakan jarum jam. Jangan katakan, lelaki itu sebenarnya ingin mengajak Rea kencan namun tidak mau mengatakannya dengan gamblang?


Tenang Rea. Jangan mudah terbawa perasaan. Kuat!


"Rumah aku."


"Buat apa?"


"Kenalan sama keluarga aku."


Yang benar saja Aero ini? Apa maksudnya?


"Aku ngga bilang iya." Masih mempertahankan keengganannya pergi bersama Aero. Karena ia yakin, bukannya perasaannya makin hilang tapi bisa jadi perasaan itu muncul kembali. Kalian pasti tahu, wanita jika diberi perhatian-di saat yang tepat-akan mudah luluh.


"Siapa yang tadi bilang ingin cari laki-laki yang bisa mendampingi seumur hidup? Kamu kan? Aku sekarang mau."


Jangan mudah percaya dengan seorang pembual Rea. Keep strong!


Sebelum menjawab, lebih dulu Rea menarik nafas. "Yes, I did. Dan bukan berarti lelaki itu kamu. Apa tadi kamu bilang? Aku sekarang mau?"

__ADS_1


Mata Rea menelisik raut wajah datar Aero. "Hanya sekarang?" Ulangnya lagi dengan raut wajah begitu tenang. Dia juga menuntut kejelasan dari kalimat yang sudah dilontarkan lelaki tanpa malu ini.


"Maksudnya saat ini aku mau dan siap." Balas Aero sama tenangnya.


"Mau dan siap untuk?" Sengaja Rea menaikkan dagunya. Ia percaya diri dan dia tak ingin diperlakukan sebagai orang yang lemah dan tidak ingin dikasihani.


Menyaksikan sendiri bagaimana Rea menampilkan dirinya yang angkuh namun anggun, Aero merasa gatal. Mempertahankan tatapan tajam, kakinya melangkah maju, mengikis jarak hingga tersisa dua jengkel di antara mereka. Dan seperti yang dia duga, Rea balik menampilkan tatapan berkilat-kilat. Walaupun tinggi badan wanita cantik ini sebatas dagu, ia tak sungkan untuk mendongak mengimbangi dominasi aura Aero.


"Kamu mau aku bicara panjang lebar? Jangan salahkan aku kalau sampai kamu mual." Bisiknya dengan suara berat tepat di depan bibir Rea, seperti sengaja menggoda.


Kedekatan fisik mereka berhasil menyebabkan wangi parfume feminin Rea sampai pada indera penciuman Aero. Reflek jakunnya bergerak naik turun. Aromanya terlalu menarik untuk pria yang jarang digoda sepertinya.


"Aku ikut! Tapi bukan berarti karena aku mau." Tukas Rea dengan nada suara yang tak kalah dalam. Bahkan saking beraninya wanita itu, sampai-sampai Aero hampir kalah untuk memutus kontak mata lebih dahulu karena tak tahan ingin maju menyerang.


"Ya. Kamu ikut karena aku paksa. Clear?!" Kata Aero memperjelas. Dan tak lama, mata wanita cantik itupun menyerah. Lebih dulu mengalihkan pandangan dan berjalan menjauh. Memberikan kesan pada Braga Asaavero jika wanita itu memang lawan yang pas.


...***...


Sepanjang perjalanan Rea senantiasa diam. Pikirannya berkecamuk, ini bukan pertama kali Aero melakukan tindakan spontan. Rea yakin, Aero tak memikirkan matang-matang apa yang dia akan tunjukkan. Dan mengetahui pada akhirnya akan sia-sia, atau Rea sebenarnya hanya akan diberikan sebuah harapan palsu, wanita cantik ini memilih menguatkan hati lagi.


Ia sudah berjanji. Jika pada akhirnya Aero memperlakukannya sama seperti sebelumnya. Maka sudah pasti Rea akan pindah dari tempatnya sekarang tinggal. Ia muak, jika mendapati pria itu datang, datang dan pergi sesuka hati. Ia pikir Rea apa? Sebuah persinggahan? Bukan!


"Kita makan dulu."


Tak terasa dihadapan Rea sekarang ada sebuah resto makanan Jepang yang sangat terkenal. Lelaki yang membawanya kemari sudah lebih dulu meninggalkan mobil, melenggang sendiri menuju pintu masuk, bahkan tanpa menunggunya. Apa-apaan dia?


Kesal dan lapar menjadi satu. Meski enggan, Rea tetap menurunkan kakinya di aspal parkiran. Matanya menelisik ke sekitar dimana banyak mobil dan motor terparkir. Ia percaya, di dalam pasti sangat ramai. Masih menikmati lampu-lampu yang indah di luar resto, Rea sampai tersentak saat tangannya digenggam erat dan sejurus kemudian ditarik mengikuti lelaki dengan punggung lebar-Braga Assavero.


"Jangan lambat!"


"Ngga perlu ajak aku kalau tahu aku lambat." Kata Rea sambil menghentikan langkahnya di tengah jalan. Dasar pria songong.


Hal tersebut membuat Aero juga ikut berhenti sampai tangan keduanya terentang cukup jauh. Mendapati wajah kesal yang jelas tergambar, Aero melangkah mendekat, pun tanpa melepaskan genggamannya.


"Biar cepat, mau aku gendong?" Bisiknya dengan pandangan mata yang begitu serius. "Aku ngga main-main Rea! Satu... Dua ... Tiga!"


"Mass!!! Kamu gila ya?! Mau bikin aku malu?! Mau ditaruh mana muka aku?! Semua pada ngeliatin!! Turunin ngga?!"


"Ngga!! Biar cepet!"

__ADS_1


Dan jangan lupa gaes untuk vote, like, commentnya mewarnai tiap episode yaaa...


biar aku ngga lupa sama cerita ini hehehe


__ADS_2