
Luka-luka di tubuh Rea perlahan mengering. Tidak tepat sebenarnya jika dikatakan di tubuh, sebab mayoritas luka terdapat di kedua tangan dan kepala. Akibat pecahan kaca depan dan menancap dan menggores lengan wanita ini. Sementara pipinya yang mulus juga tak luput dari goresan kaca. Sedikit, namun tetap menonjol di antara kulit wajahnya yang putih bersih.
Lalu bagaimana dengan sekujur tubuhnya? Remuk redam. Nyeri dimana-mana, untuk sekedar duduk atau berbaring miring saja perlu kehati-hatian. Belum lagi dengan sakit kambuhan yang tiba-tiba muncul tanpa permisi. Efek dari mobil yang terbalik itu adalah kepala yang terasa berputar-putar di atas wahana. Sulit baginya untuk fokus pada satu benda saat ini.
Meski demikian, sadarnya Rea adalah keberuntungan. Ia masih bisa membuka mata tanpa ada kerusakan serius merupakan mukjizat yang sangat besar.
"Bi, mau pipis."
Sigap, Bibi Yul berdiri dari kursi yang didudukinya untuk membantu Rea bangkit. Perempuan tua itu memapah Rea ke kamar mandi hingga membantu membaringkan kembali di atas tempat tidur. Hari ketiga pasca kecelakaan, Rea sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Tentu masih perlu cek mingguan untuk memastikan berfungsinya organ-organ dengan baik.
"Mobilnya udah di anter Bi?"
"Udah Mba. Tadi pagi."
"Pasti hancur ya?"
"Kap depan mobil sudah di-"
"Kalo dibenerin pasti mahal. Apa dimusiumin aja ya? Kayaknya Rea mau naik gojek atau gocar aja deh. Takut."
"Kemarin kan bukan salah Mba Rea."
"Tapi ngeri Bi. Nakutin."
Mencoba mengerti Bibi Yul mengangguk. Tangannya mengelus lengan Rea dengan hati-hati. Kalimatnya tadi terpotong, namun untuk mengulang kembali rasanya tidak perlu. Biar nanti bosnya ini yang akan melihat bagaimana keadaan mobilnya sekarang.
"Untung Bu Nindi baik ya Mba. Sudah dikasih cuti, dibantu lagi."
"Iya. Padahal Rea mau bantu dia ngurus anaknya loh Bi. Lucu banget mukanya. Gemesin."
"Mau makan buahnya?" Tawar Bibi Yul saat melihat Rea duduk diam dan fokus memperhatikan ponsel. Masa penyembuhannya masih sekitar seminggu lagi, jadi Rea harus dipastikan benar-benar makan, istirahat yang cukup.
"Ngga. Mau tidur aja. Bangunin ya Bi kalau udah jam 3 sore."
"Siap."
Bibi Yul segera keluar dari kamar Rea setelah memastikan anak asuhnya memejamkan mata. Dihembuskannya nafas lelah, bukan karena dia menyerah berada di samping anak cantik itu, namun lelah pada berbagai masalah yang menimpanya. Sebagai wanita yang sudah mengarungi kehidupan hingga usia 50 tahun, masalah yang bertubi-tubi menimba Rea tergolong berat. Kehidupan anak yatim piatu itu seperti dipermainkan oleh banyak orang, oleh takdir dan kehidupan. Bisa dikatakan dia wanita tanggung, sebab masih bisa hidup normal, tidak terpengaruh dunia negatif yang katanya bisa meringankan masalah.
...***...
Pintu kamar ditutup, mata indah Rea yang tadi terpejam kembali terbuka. Tangannya meraih ponsel di atas nakas. Ia ingin sendiri. Sebab Bibi Yul tak pernah sekalipun membiarkannya duduk diam dan merenung.
Dibukanya aplikasi whatsapp, ia mulai membalas beberapa pesan dari temannya yang meminta maaf karena belum bisa menjenguk, juga mengaminkan doa-doa mereka. Dengan kejadian ini ia sadar, masih ada orang yang peduli padanya. Walau mungkin, kalimat 'Get well soon' yang mereka ketika di grup adalah hasil copy paste. Tidak masalah.
Jordi-Asisten
__ADS_1
Gimana keadaannya Mba Rea?
^^^Sudah lebih baik. Makasih Di. ^^^
Balasnya tanpa bersusah-susah. Dari lelaki itu ia tahu siapa yang menabrak. Siapa juga yang mengendarai dan siapa pemilik asli kendaraan sport warna merah berenaga kuda yang menyeruduk mobilnya. Lelaki itu. Rea tak ingin menyebut namanya. Permintaan Rea yang titipkan pada Jordi untuk lelaki itu tak mendapat tanggapan. Sampai Rea kembali ke rumah, tak sekalipun memiliki waktu menemuinya. Sekedar untuk melihat pun tidak. Kecewa sudah pasti. Tapi lebih lanjut, alasan kenapa pria itu tak memberinya kejelasan membuat penasaran.
Jordi-Asisten
Get well soon.
Pesan terakhir itu tak Rea balas. Ia memilih melanjutkan pemikirannya, bukan tentang lelaki itu. Tapi tentang masa depannya.
Rea butuh suasana baru. Mungkin berlibur.
...***...
Seminggu kemudian apa yang sudah dijadwalkan oleh dokter, Rea ikuti. Didampingi Bibi, Rea mengecek kondisinya lagi. Menyusuri lorong rumah sakit yang ramai dengan dipapah, makin menunjukkan dia begitu lemah. "Rea bisa jalan sendiri kali Bi."
"Ngga! Jalannya masih bisa ambrug sewaktu-waktu. Kena angin aja bisa tumbang."
Rea terkekeh. "Lebay. Sejak kapan Rea selemah itu? Asal Bibi tahu, yang sering sakit itu Rena, padahal Rea yang sering pulang kehujanan kalo pulang dari sekolah. Ini badan sakti banget."
"Mba!" Panggilan Bibi Yul yang sedang memberikan peringatan tak diindahkan oleh Rea.
"Mba ada siapa itu di depan?"
Secara perlahan, Rea mengalihkan pandangannya. Ia sedang asik melihat sisi kiri lorong rumah sakit yang berutama taman, terlihat sejuk dan menenangkan. Namun saat matanya menangkap sosok lain di depannya, sekitar 10 meter. Pandangannya mendadak kosong. Kakinya memaku di lantai.
Setelah sekian lama, akhirnya wajah itu kembali mampir dalam memori Rea. Ia hampir saja lupa, atau lebih tepatnya melupakan. Mencoba berdiri dengan tenang, nyatanya hati Rea tengah goyah. Sosok beku itu makin mendekat dengan ekspresi datar.
Jangan berhenti.
Jangan berhenti.
Lewati saja.
Kita tidak saling kenal.
"Bi!"
Ternyata tidak, pria itu justru berhenti tepat berjarak satu meter di hadapan Bibi Yul. Dan apa tadi? Sapaan yang pertama kenapa ditujukan bukan pada dirinya?
"Cek up?" Tanya lelaki itu sambil melirik Rea, mungkin.
"Iya Mas."
__ADS_1
"Sudah lebih baik?"
Rea diam. Matanya masih lurus tertuju ke arah lorong yang ramai.
Melihat tak ada tanda-tanda ingin menjawab, Bibi Yul menggoyang lengan anak asuhnya pelan, sambil berkata, "Mba! Itu Mas Aero tanya."
Rea mengangguk dua kali, tanpa menatap sang mantan penculik. Hatinya goyah, dia takut jika harus menatap mata itu berlama-lama. Terlalu lama waktu yang Rea berikan untuk memaklumi.
Obrolan terjadi antara Bibi Yul dan Aero. Rea senantiasa diam dengan wajah yang berusaha nyaman dan stabil. Sampai akhirnya, ada seorang lelaki berkuris roda datang menghampiri, ditemani Jordi.
"Kamu katanya mau pulang?" Tanya Pak Danunjaya pada anaknya. Ingat sekali tadi begitu ingin meninggalkan rumah sakit setelah melihat dirinya di cek oleh dokter. Kini, pria tua itu mulai melirik dua wanita berbeda generasi di hadapan Aero. Ia penasaran.
"Sebentar lagi pulang." Jawab Aero dengan ketus. Jordi hanya menggelengkan kepala tanda jengah dengan sikap tidak bersahabat anak dan bapak ini.
"Teman kamu?" Tuan Danunjaya kembali bertanya.
"Bukan!"
Lama hanya diam. Suara tegas dan dingin Rea membuat Aero langsung mengalihkan perhatiannya. Menatap tajam namun sepersekian detik kemudian berubah santai. "Saya hanya salah satu klientnya dulu."
Danunjaya mengangguk, tapi tak serta merta percaya. Wajah tuanya menimbang-nimbang tentang apa yang perlu dia gali lagi tentang klient Aero.
"Bapak sakit?" Suara lembut Rea mengalun saat menanyakan lelaki di atas kursi roda.
"Iya, paru-paru saya bermasalah."
"Semoga lekas sembuh."
"Kamu sakit?"
Rea menggeleng sambil tersenyum tipis pada Pak Danunjaya, dan itu disaksikan oleh Aero.
"Saya sehat."
"Ada tamu menunggu di rumah Tuan." Jordi segera menginterupsi obrolan ini. Ia mengingatkan Tuannya untuk segera pulang. Sebab tahu pasti, kejadian ini akan menjadi bahan penyelidikan selanjutnya. Siap-siap Jordi.
Begitu Jordi dan Tuan Danunjaya pergi setelah berpamitan. Rea mengambil nafas kasar, kemudian berkata, "Ayo Bi! Aku ngga betah disini!"
"Mas-"
"Ngga perlu terlalu sopan untuk orang yang ngga tahu sopan santun." Celetuknya cepat mencegah Bibi Yul yang pasti akan berpamitan.
No. Orang itu tidak pantas untuk diperlakukan baik oleh kita. Karena dia sendiri tidak memperlakukan kita dengan baik.
"Besok, mobilnya dijual aja ya Bi. Terus uangnya kita amalin atas nama yang memperbaikinya. Itung-itung bantu mengurangi dosanya." Bisik Rea pada Bibi Yul sambil berlalu dari hadapan Aero. Ia sudah tahu, mobilnya kembali dalam keadaan ok, tentu dengan body mobil yang sudah diperbaiki. Mulus seperti tak pernah mengalami benturan.
__ADS_1
Bukannya marah dan terhina atas perkataan Rea, lelaki itu justru diam-diam tersenyum.
Hayoo udah update nih, jangan lupa vote, commentnya yaaa gaess. Biar semangat 45!!