Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 13


__ADS_3

"Iya Bi?"


"Ibu mau jual mobil Bapak sepertinya Mba."


"Loh! Kenapa?"


"Denger-denger untuk nyicil hutang di bank."


Kepala Rea mendadak terasa pening. Harus sampai kapan ia harus menerima semua ini? Perlahan-lahan kenangan milik kedua orang tuanya telah berpindah tangan. Tanpa melalui persetujuannya.


Rea mengingat, Ibu tirinya memang memiliki pinjaman di bank swasta. Sudah 3 tahun ia membantu menyicil, dan mungkin kini hanya tinggal 1,5 tahun lagi agar hutang itu lunas. Rea perkirakan jumlah kekurangan tak sampai ratusan juta. Lagi, mereka punya Arka yang katanya siap membantu keuangan keluarga. Kenapa sekarang, kendaraan milik Papahnya juga harus terlibat melunasi hutang mereka?


"Terimakasih."


"Sama-sama." Balas Rea setelah mengangsurkan uang pas kepada driver taksi online. Ia menutup sambungan telefon, baru kemudian membuka pintu mobil dan meloncat keluar.


Pandangan mata Rea masih tak lepas dari ponsel yang dia genggam dengan kedua tangannya. Berjalan tanpa melihat arah sambil mengetikkan suatu pesan.


To:Bibi Yul


Bi, besok aku pulang. Mau ngomong sama mereka. Jangan kasih tahu dulu ya!


Send.


"Astaghfirullah." Seru Rea reflek ketika kakinya tadi tersandung dan hampir saja terjatuh. Beruntung keseimbangannya lumayan bagus, hingga ia tak perlu nyusruk di lantai teras yang kotor dan dingin.


Acara dinner Ibu Nindi dengan sahabatnya berlangsung begitu lama. Nyaris saja Rea tertidur di salah satu sudut restoran. Jika Bu Nindi tidak segera memanggilnya untuk bergabung di akhir sesi.


Berkat memiliki majikan yang luar biasa baik dan pengertian, perut Rea aman malam ini. Ia tidak perlu berkutat di dapur untuk sekedar membuat mi rebus atau susu hangat. Sabtu malam ini, ia bisa mandi dan bergelung di atas kasur.


...***...


Baru saja Rea keluar dari kamar mandi, masih mengenakan handuk yang membelit tubuhnya. Langkahnya langsung tertuju ke arah ponsel yang terlihat menyala dan bergetar di atas nakas.


Belum sampai terangkat, panggilan sudah berhenti. Nomor asing tadi masih menghubunginya. Dan karena banyak notifikasi yang masuk, akhirnya Rea memberanikan diri membuka kolom obrolan milik +6281212****


Saya tahu kamu sudah pulang. Angkat telefon saya, atau saya datangi rumah kamu!


Panggilan suara tak terjawab pukul 22.23

__ADS_1


Panggilan video tak terjawab pukul 22.25


Panggilan suara tak terjawab pukul 22.30


Panggilan video tak terjawab pukul 22.34


Regina Athalia!


Begitu membaca sekilas, Rea langsung tahu jika lelaki bernama Braga Assavero itu penuntut. Tidak pernah ingin berhenti begitu saja sebelum keinginannya terwujud. Memang dia raja, yang setiap ucapannya harus dituruti? Rea memilih mengabaikannya. Walaupun dalam hatinya, ia merasa sangat amat murka. Lelaki tinggi itu selalu saja mengucapkan kalimat-kalimat bermakna dewasa padanya.


Selain murka, Rea juga takut. Bukan tidak mungkin seringnya pria itu datang ke rumah akan menjadi gunjingan para tetangga. Orang-orang akan mengecapnya sebagai perempuan tidak baik yang sering memasukkan lelaki tiap malam.


Tidak, dia sedang ingin hidup lebih bahagia dari sebelumnya. Rea ingin menata kehidupan yang benar-benar santai tanpa tekanan. Sebisa mungkin ia menghindari manusia bermuka dua.


Menggurilkan ke bawah aplikasi WA, dia kemudian membuka pesan dari Bibi Yul. Bibinya di rumah pasti sudah bersiap untuk istirahat. Bibir Rea bergerak membaca sebuah balasan, hanya kalimat sederhana yang tiba-tiba membuatnya goyah. Bingung harus menjawab apa. Akhirnya Rea mengabaikan, ia duduk di tepi ranjang dan menaruh ponselnya di sisi kiri.


Usai membalurkan lotion di sekujur tubuh, mata Rea kembali menangkap ponselnya yang menyala dan bergetar. Bukan sekali dua kali, namun lebih dari 5 kali. Terdengar tak sabar dan menuntut. Mungkin pria itu kesal, karena Rea hanya membaca pesan saja tanpa berniat membalas. Hanya sebuah lirikan, Rea melihat informasi photo terkirim.


...***...


"Saya tidak berbohong."


Takdir telah mengubahnya. Membuatnya harus jauh dari orang-orang yang disayangi. Tidak ada yang tahu kesakitannya, mereka hanya tahu keburukannya dari sebuah foto yang tersebar.


"Besok. Arka ada di rumah. Dan kamu bisa menemuinya disana. Setelah itu, saya bebas kan?" Tegas Rea tanpa pikir panjang.


"Jam berapa?"


"Jam 8."


"Ok.See you tomorrow--By the way Regina Athalia. I like your white towel."


"Brengsek!!!" Umpat Rea untuk kedua kalinya selama hidup.


Kekehan Aero langsung terdengar di seberang ponsel. Meninggalkan wajah merah Rea yang langsung mengedarkan pandangannya kemana-mana. Darimana pria itu tahu? Segera Rea menutup semua cela yang bisa terlihat dari luar, gorden jendela serta pintu kamar mandi. Pria itu makin membuatnya terlihat lemah.


...***...


"Apa ini?"

__ADS_1


"Surat pernyataan."


Aero menerima kertas yang terulur ke arahnya. Hanya dua lembar, setelah dibaca sekilas. Bibirnya tersungging tipis, Rea membuat surat dimana di dalamnya menyatakan Aero tidak akan menyebarluaskan aib Regina Athalia setelah tujuannya tercapai.


Baru Aero sadari, ternyata Rea tidak sebodoh yang dia pikirkan. Setidaknya wanita cantik di hadapannya ini tak begitu saja pasrah. Ada usaha yang dia lakukan, dan itu membuat Aero makin tertantang.


Tanpa panjang lebar, meminta pulpen yang ada dalam genggaman Rea, Aero menempelkan kertas tadi di salah satu dinding. Melirik Rea dengan sorot mata datar dan tajam sekaligus. Baru kemudian membubuhi tanda tangan di atas nama lengkap yang tidak dia sebarluaskan.


Harusnya, Braga Assavero Danunjaya.


"Done!"


"Not yet."


Alis hitam Aero menukik. Apalagi?


Baru setelah Rea menunjukkan benda pipih dengan kain bercampur warna biru seperti tinta, Aero tahu.


"Saya bukan lagi siswa." Ejek Aero dengan wajah datar. Ia menyembunyikan kedua tangan di balik pinggang.


"Agar surat ini makin meyakinkan." Balas Rea tanpa kesulitan, tangannya menengadah seperti meminta uang.


"Kenapa?"


"Tangan kamu!"


Tak kunjung mendapatkan keinginannya, Rea langsung berjalan memutari tubuh Aero yang besar. Ia menarik pergelangan tangan berotot itu agar terpisah dari pertautan.


Susah payah ia menarik lengan berat itu agar mau menempel di samping kiri tanda tangan-pengganti cap.


"Thank you." Ucapnya terdengar begitu tulus. Wajahnya langsung berubah sumringah begitu melihat surat pernyataannya lengkap. Dan mata Aero berhasil menangkap ekspresi gadis itu. Hanya perkara sederhana, namun bisa membuat wajah putih itu bersinar.


"Your welcome."


Balas Aero dengan datar dan fokus. Entah kenapa ia seperti tengan membayangkan jari tangannya tadi yang masih berwarna biru menempel di pipi putih Rea.


"Kamu?" Bisik wanita itu bingung.


"Kita pergi!" Perintah Aero dengan rahang mengetat kemudian balik badan, berlalu menuju halaman tempat motor terparkir. Ia bingung, kenapa hanya dengan membayangkan saja pipi Rea sudah mencetak warna biru sidik jarinya.

__ADS_1


Apakah tadi tangannya diam-diam bergerak sendiri? Ah tidak mungkin.


__ADS_2