
"Dari tadi melamun. Kenapa? Mikirin apa?"
Sebelum menjawab, Rea tersenyum. Dan itu malah membuat Bu Nindi yang baru mandi makin ingin tahu.
"Malah senyum-senyum. Apa yang dipikirin?"
Rea suka, karena bosnya termasuk manusia yang memanusiakan manusia.Tak seperti kebanyakan bos-bos lain yang cuek pada bawahan. Bu Nindi menjelma menjadi wanita super perhatian pada Rea, sudah seperti kakak pokoknya. Terlalu baik hingga Rea merasa tidak enak hati.
"Mikirin Ibu. Makin lama makin berisi aja." Goda Rea sebagai balasan.
"Maksudnya saya gendut?"
Tanpa banyak berpikir, Rea langsung mengangguk. Tangannya bergerak membukakan donat yang baru saja dia beli.
"Tuh kan. Pasti jelek ya?"
"Kan Ibu sedang hamil. Wajar kalau nafsu makannya bertambah, wajar kalau badannya lebih berisi. Ngga ada yang salah. Ngga jelek sama sekali. Justru enak dilihat kalau sekarang."
Benar kan? Moodnya langsung kembali berubah usai mendengar kalimat penghibur dari Rea. Tak ada lagi wajah kecewa yang sempat muncul- hanya beberapa detik tadi eksis.
"Maksudnya?" Tanya wanita itu sambil memperbaiki posisi duduk.
"Mukanya berseri-seri terus. Badannya makin.... maaf ya Bu. Sexy. Walaupun belum kelihatan membuncit perutnya, tapi auranya beda. Terus, untuk ukuran orang hamil. Ibu bisa dibilang ok. Karena ngga mabok parah. Atau mungkin belum ya?"
"Hmmm bisa aja. Apa orang hamil rasanya begini ya? Saya sekarang penginnya rebahan loh Re, bentar-bentar makan rebahan lagi. Begitu terus. Kan kamu tahu. Biasanya saya belum pulang ke rumah sebelum Bapak telfon duluan. Suka main kesana-sini, duduk lama-lama di cafe atau tempat makan. Ketemu sama temen-temen lah, arisan lah, nyalon, pokoknya banyak. Tapi iniiiih. Huh. Males banget kemana-mana. Pengin rebahan nonton film terus makan. Udah itu aja." Jelas wanita hamil itu panjang lebar.
Mencoba mengerti, Rea pun mengangguk.
"Kamu nemenin saya aja ya Re. Kalau mau kerja, langsung kesini. Pakaiannya boleh lebih santai dikit. Urusan kantor sama salon biarin jadi tanggung jawab mereka. Kalau ada yang main-main. Gampang. Tinggal pecat."
Rea menatap wajah bosnya yang berbaring di sofa bed tak percaya. Sadis juga ternyata Bu Nindi.
"Bantuin habisin donatnya. Perut saya ngga muat makan segitu banyak." Perintah wanita itu bersamaan dengan tangannya mengambil lagi donat tiramisu.
"Ngga. Buat Ibu aja. Pasti nanti kepengin lagi."
"Maksudnya? Makan saya banyak?"
__ADS_1
"Eh, engga Bu. Bukan begitu mak-"
"Iya. Saya tahu. "
Keduanya diam untuk beberapa menit. Fokus dalam pikirannya masing-masing. Di hadapan mereka layar LCD TV masih menayangkan film hollywood yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio-Inception. Rea ikut menonton dalam diam, sampai akhirnya sebuah suara kembali terdengar.
"Rea."
"Iya Bu?"
"Kamu tahu kan Istri pertamanya Bapak sudah punya 3 anak?"
Waw. Ini informasi yang baru Rea ketahui. Sepanjang beberapa tahun bersama dengan Bu Nindi.
Kepala Rea tentu menggeleng perlahan. Berusaha mengontrol emosinya agar tidak terlihat aneh di hadapan Bu Nindi- karena tadi ia sempat bertemu dengan wanita itu di Mall.
"Saya kan ngga pernah ketemu dengan mereka. Tapi sudah tahu namanya siapa saja, umurnya berapa, sekolah dimana. Saya yang cari tahu sendiri-Mas Danu mana mau kasih tahu. Pernah waktu itu anak yang pertama masuk RS, saya ingin jenguk Re. Tapi Bapak melarang. Dia bilang ngga perlu, nanti malah istri yang pertama jelek-jelekin kamu. Gitu.
Sampai sekarang, kadang bingung, kenapa ya saya mau sama dia? Padahal banyak loh laki-laki yang waktu itu deketin saya Re. Ngga kalah dari Bapak. Tampangnya Ok. Mapan. Baik. Tapi-"
"Assalamu'alaikum."
Yang pada dasarnya, semua itu tak berguna sama sekali. Karena ketika Pak Danu masuk ke area ruang tengah. Ia justru bertanya, "kenapa ngga ada stok makanan Mah? Kamu perlu sebentar-bentar menambah asupan. Jangan sampai kurus! Ayo bangun. Kita makan diluar."
Bu Nindi langsung mundur, kepalanya menggeleng kuat kemudian berkata,"Udah kenyang aku Mas! Tadi Rea beli makanan banyak."
"Mana? Ngga ada buktinya."
"Re keluarin makanan tadi!"
Bu Nindi yang sudah ditarik berdiri oleh suaminya. Langsung meminta Rea untuk menunjukkan sisa-sisa amunisi.
"Aku kira Mas bakalan marah kalo aku makannya banyak. Tahu gitu, ngga perlu cepet-"
"Kamu makan makanan begini?! Ngga sehat sama sekali. Udah! Ngga usah dikeluarin Rea. Buang aja! Bikin penyakit! Harusnya makan sayur dan buah, cemilannya anti MSG. Lah itu kenapa malah micin semua?! Lain kali, kalo Ibu minta beli makanan yang ngga sehat ngga usah dituruti. Kamu sukanya makanan yang begitu, apa enaknya..."
Masih banyak lagi protes dari bapak-bapak berumur itu. Mungkin memang lebih benar tadi, Nindi tetap menyembunyikan makanannya. Karena sampai beberapa menit berlalu, Danu belum juga terlihat tanda-tanda ingin berhenti memarahinya.
__ADS_1
Rea yang melihat hanya bisa diam. Antara kasihan dan ingin tertawa. Kasihan kepada Bu Nindi karena harus mendengar ceramah panjang sang suami. Dan menertawakan strategi Bu Nindi yang hampir berjalan sukses. Namun malah ia gagalkan sendiri. Ya akhirnya, begitulah.
...***...
"Kenapa telfon aku ngga diangkat? Hpnya berat?"
Apa yang kalian rasakan jika mendapat pertanyaan seperti itu? Disaat kalian baru melalui hari yang berat, harus kesana kemari mengurus Ibu Bos yang lagi dan lagi, meminta ini-itu. Disaat baru saja sampai di rumah, setelah melalui kemacetan parah. Disaat bau badan yang mulai eksis. Dan disaat haid hari pertama atau kedua.
Tentu jawabannya adalah murka.
"Sibuk!" Balas Rea singkat. Ia sudah mandi dan kini tengah duduk di kursi makan. Menunggu masakan dihangatkan kembali oleh Bibi sambil menerima telefon Aerosol.
"Sesibuk apa?"
Harusnya itu pertanyaan yang keluar dari mulut Rea. Kamu sesibuk apa sampai seminggu sejak pertemuan di mall itu baru mencari aku?
"Sibuk banget. Bu Nindi mulai mabuk."
Belum ada jawaban. Orang di seberang sana mungkin mengangguk. Dan hampir saja, jika Aero tidak segera bertanya Rea akan langsung menutupnya sepihak.
"Sudah makan?"
"Baru mau."
"Tunggu!" Perintah Aero tegas. Kemudian memutuskan panggilan dengan begitu saja. Meninggalkan Rea yang lagi-lagi hanya bisa menganga menerima perlakuan ini. Dia kira dia siapa? Suami bukan. Pacar juga bukan.
Lima belas menit kemudian ....
"Makasih Bibi Yul."
"Iya Mas Aero, silahkan dimakan."
"Kamu ngga makan?" Tanya Aero sambil tangannya menyendok sayur capcay ke mulut. Dia berhasil masuk ke rumah Rea tanpa kesulitan.
"Udah kenyang."
"Ngga nunggu aku?"
__ADS_1
"Mba Rea belum makan Mas!" Teriak Bibi Yul menginterupsi pembicaan Rea dan Aero.
Dan bibir Aero pun tertarik sedikit. Ia menyiapkan sesuatu. Seperti layaknya Bos besar, kembali dia memerintah. "Ngga usah sok kuat. Buka mulutnya yang lebar!"