
"Setelah tadi aku gendong, mau juga aku suapi?"
Begitulah cara Aero berbicara ketika Rea tak kunjung menyentuh makanannya. Bagi yang baru mengenal lelaki dengan lengan berotot ini, pasti akan meleleh saat ditawari hal macam tadi. Tapi tidak untuk Rea, dia justru memutar bola matanya jengah. Setelah tadi Aero bilang bersedia untuk jadi teman hidupnya, bersedia pula membopongnya hingga duduk nyaman di salah satu kursi, rasanya Rea hanya ingin terus diam. Dia masih malu. Tangannya setia bertautan di atas pangkuan, menundukkan kepala sebab beberapa orang masih mencuri-curi pandangan ke arah mereka. Pasti yang dibicarakan tentang Aero, Aero dan Aero. Bagaimana tidak? Penampilan pria itu sangat keren. Berbanding terbalik dengan Rea yang hanya memakai celana kain warna hitam dipadukan kaos putih berukuran S.
Di meja sudah terhidang seporsi ramen, sushi, dan aneka dimsum yang tertata di piring-piring kecil. Nampak sangat menggugah selera dengan plating yang cantik.
"Aku lagi berdoa." Celetuk wanita dengan rambut yang diikat ekor kuda ini, masih belum mengangkat kepalanya. Aero sampai harus menghentikan gerakannya yang hendak mengambil dimsum udang.
"Selama itu? Atau kamu sebenarnya lupa doa mau makan? Grogi di depan aku?
Tatapan netra tajam Rea akhirnya terangkat. Kilatannya terlihat menyeramkan, namun dalam versi cantik. Bibirnya berdecak tidak suka. "Aku bukan cuma membaca doa mau makan. Tapi juga doa terhindar dari sihir dan keselamatan dunia akhirat." Jawabnya dengan sinis.
Tahu apa yang terjadi? Aero yang sedang mengunyah sushi hanya tersenyum geli. Kepalanya menggeleng, tidak habis pikir dengan isi kepala Rea. Selalu saja mengejutkan dan membuatnya tak ingin jauh-jauh. Regina memang cantik dan baik, tapi wanita itu sering membantah dan suka mengajak perang mulut.
"Atau kamu masih ingin berlama-lama dengan aku disini?"
Lidah Rea terjulur ke luar. Terlihat sangat muak dengan penuturan alay yang lelaki itu sampaikan. Dengan gerakan yang dibuat lambat, lengan kanannya terangkat dari bawah meja. Ia ambil sumpit. Tanpa minat ia memisahkannya menjadi dua bagian. Mulai mengaduk-aduk ramen yang tadi dia pesan tanpa suara. Tanpa suara yang dimaksud adalah saat pemesanan tangannya menunjukkan gambar ramen di buku menu.
"Jangan buat aku muntah-muntah dengan bualan kamu. Kata-kata kamu itu hampir hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri. Sampai saat ini, aku juga ngga tahu rencana apa yang sedang kamu susun. Apakah ingin memberikan harapan palsu lagi seperti dulu? Atau hanya sekedar menunjukkan diri kamu yang sombong!"
Pernyataan cukup panjang Rea membuat Aero menatapnya datar. Ia ingin membuka suara untuk meluruskan, tapi saat melihat mata Rea sedang tertuju ke arahnya seperti menanti jawaban. Pria itu memutuskan untuk menunda.
"Makan lebih dulu."
"Ckck selalu semua harus mengikuti aturan kamu." Katanya tak suka. Ia perlahan menyantap ramen daging yang masih mengepulkan asap itu. Rea mencoba fokus pada makanan, sambil menjaga hatinya agar tetap kuat.
Habiskan Rea! Dan setelah itu tanyakan lagi apa yang kamu tanyakan satu tahun lalu. Pastikan apa jawabannya. Iya atau tidak!
Mereka berdua makan dalam diam dan backsound musik jepang ikut mengiringi waktu kencan mereka. Meski tak berselera untuk mengunyah ataupun menelan, sebisa mungkin Rea menghabiskannya. Dia bukan tipe orang yang suka mengambur-hamburkan uang.
__ADS_1
...***...
"Kamu ngga merasa dingin?"
Rea diam. Ia terus melangkah keluar dari restoran tanpa menghiraukan Aero. Cuaca mendadak berangin, dan Rea tadi lupa untuk mengambil jaketnya di lemari. Berusaha tidak apa-apa adalah hal yang dia lakukan. Selama belum hujan, maka dia akan baik-baik saja.
Kemarahan kembali menyelimuti Rea. Perasannya makin muram saat tadi dia menanyakan hal penting pada Aero. Lelaki itu tidak menjawabnya. Justru hanya kalimat perintah yang makin membuat Rea hilang akal. "Lebih dulu kamu ikut aku!" Ingin sekali tadi dia menyiramkan kuah pedas ramen ke bola mata hitam itu. Rea ingin membuatnya tak lagi mengintimidasi. Ia ingin menghancurkan dominasinya juga.
Rea menghentikan derap langkah yang tadi begitu cepat. Ia kini berdiri dengan lengan terlipat tepat di sebelah motor Aero. Berdiri layaknya mandor yang tengah mengawasi para pegawai.
"Ngga dingin?" Suara berat itu terdengar dari balik tubuh Rea.
"Ngga!"
"Ok. Lagian aku yang kena angin."
Apa dia bilang? Bisa tolong diulangi?
Malam hari, angin berhembus kencang seperti akan turun hujan ditambah dengan berkendara motor tanpa pakaian penghangat, adalah hal yang jangan sampai terulang lagi dalam hidup Rea. Ia mulai merapatkan tubuhnya, mencari kehangatan di punggung Aero.
"Dingin?!" Teriak Aero sambil menoleh ke belakang, seperti hendak mengecek keadaan Rea di jok belakang.
"Iya!" Balas Rea tak kalah kerasnya. Untuk apa berbohong dalam situasi seperti ini? Untuk menjaga harga diri? Atau berharap Aero akan memberikan jaket yang dia kenakan pada Rea? Tolong singkirkan pikiran itu jauh-jauh!
Tak lama setelah Rea menjawab, tangan kiri Aero terulur ke belakang. Ia mencari pergelangan tangan Rea. Setelah ditemukan, ditariknya perlahan ke arah depan sehingga reflek tubuh Rea bersandar punggung Aero.
Rea memperhatikan baik-baik posisinya saat ini. Baru dia sadari, jika jaket yang Aero kenakan sengaja dibalik. Ressleting yang seharusnya di depan pindah ke belakang, dan belum terkancing. Mengakibatkan punggung lebar itu terekspos dengan jelas. Tak ingin mati kedinginan, satu tangan Rea mengikuti. Perlahan memeluk tubuh besar pria itu dan mendekatkan tubuhnya. Kedua tangannya bertautan di perut rata Aero.
"Sebentar lagi sampai,"kata si Aero sambil mengelus lutut Rea tanpa menghentikan motornya. Elusan lembutnya itu ia lakukan hingga mereka berhenti di sebuah gedung yang tak terlalu besar.
__ADS_1
"Rumah kamu?"
"Iya."
Helm yang masih melindungi kepala Rea dia lepas. Pandangannya masih tertuju ke arah bangunan di hadapannya. Benarkah ini rumah? Tak nampak seperti itu. Setahu Rea, rumah Aero ada di Bekasi-tempatnya sering Rea kunjungi dulu. Dan ini?? Rea bingung harus menyebutnya seperti apa.
"Aku ngga mau masuk!"
"Kenapa?"
Rea hanya membalas dengan gelengan kepala. Ia masih berdiri di sisi motor yang terparkir, sementara Aero sudah berjalan menuju pintu bangunan itu. Tak teramat jauh, mereka hanya berjarak sekitar dua meter.
Dengan dua langkah kaki yang lebar, Aero mengikis jarak. Tepat di hadapannya Rea memandang dengan sorot mata bingung.
"Ngga mau masuk Mas." Bisiknya lemah. Tempat itu seperti markas orang-orang kasar dan jahat dimata Rea.
"Iya, aku harus tahu alasannya! Kenapa?" Mendengar Rea yang bertingkah malu dan enggan, spontan Aero berbicara dengan sedikit lembut.
"Jangan berpikir kalau di dalam nanti aku akan apa-apain kamu?" Todong Aero saat melihat gerak-gerik Rea yang aneh-mulai mundur perlahan.
"Ngga ada jaminan aku baik-baik aja selama sama kamu."
Aero mengangguk memahami. Rea pasti takut dan cemas. Di hembuskannya nafas lelah. Jaket yang dipakai terbalik ia lepaskan. Memindahkannya ke tubuh Rea yang kecil. Lalu dengan sedikit membujuk ia berkata, "Aku udah tahu Regina Athalia itu siapa. Sekarang, giliran kamu tahu dunia Braga Assavero. Dua kali kamu tanyakan hal serius itu. Dan itu cukup membuat aku sadar untuk melakukan apa."
Rea memperbaiki jaket yang Aero berikan. Terlihat masih menimbang-nimbang, dimatanya nampak banyak keraguan. Ia sangat enggan untuk mengiyakan. Karena seperti pikirannya tadi. Siapa yang akan menjamin dia keluar markas itu dengan selamat?
"Aku akan jamin kamu aman!" Katanya menjawab pertanyaan tersirat Rea. Terlihat bola mata Aero menyorot tenang. Seperti malaikat yang membimbing untuk meraih kebahagiaan.
"Tapi-"
__ADS_1
"Pegang tangan aku!"