
Rumah Nando tak sedekat yang Rea pikirkan. Ternyata, pria itu harus menghabiskan waktu sekitar 45 menit dari rumahnya ke tempat Rea tinggal, beruntung Univertitas tempat Nando bekerja letaknya di tengah-tengah. Sehingga dosen berkacamata itu tak akan begitu jauh saat hendak bertemu dengannya. Namun hari ini, Nando benar-benar dari rumah, total waktu yang ia habiskan diperjalanan untuk berangkat menjemput Rea adalah 1,5 jam.
Waw.
Makin tak enaklah perasaan Rea. Perjuangan pria itu sudah jelas terlihat, lagi-Nando menginginkan sesuatu yang serius, bukan sekedar drama cinta ala remaja tanggung. Untuk itu, tak baik rasanya jika Rea tak berjuang keras untuk mendapatkan hati keluarga besar teman dekatnya ini. Kenapa masih teman dekat? Memang karena pria itu menyampaikan tidak ingin berpacaran. Tidak ada bedanya mereka berpacaran, toh komunikasi tetap intens, jadwal bertemupun tetap terlaksana. Hanya memang masalahnya, ketika ditanya orang lain tentang siapa yang ada di dekat Rea, Nando menjawab sebagai teman-ada rasa aneh yang muncul di hati Rea. Mau bagaimana lagi? Diapun tak bisa untuk mempertanyakan lebih jauh tentang status mereka.
Sejak tadi Nando menyatakan jika penilaian keluarganya menjadi penilaiannya juga, Rea membisu. Keinginannya untuk bertanya lebih jauh pada Nando tentang tips atau trik menghadapi keluarganya menghilang sudah. Sedikit kesal, karena Nando tak seperti Arka yang begitu banyak mengingatkan Rea tentang kebiasaan-kebiasaan yang harus dilakukan saat bertemu kedua orang tuanya. Nando tergolong acuh, seperti tak masalah dan tak terpengaruh dengan kegundahan hati Rea.
Tapi, bukankah bagus jika Nando tak memberinya banyak peringatan? Artinya pria itu percaya, jika Rea mampu memikat hati saudara-saudaranya. Tak ada namanya bocoran atau jalan pintas untuk memasuki keluarga mereka. Rea bisa dengan caranya sendiri agar diterima sebagai pendamping Nando kelak.
"Ehem." Rea berdehem untuk mencairkan suasana. Ia ingin sedikit disemangati oleh Nando. Berharap pria itu memberikan sepatah dua patah kata untuknya.
"Kamu nervous?"
Tanpa menoleh sama sekali, Nando bersuara. Setelah mobil tak lagi berada di jalan besar, memang pria itu harus mulai mengurangi kecepatan. Perlu hati-hati mengendarai mobil di jalan yang begitu pas.
"Iya."
"Itu normal."
Hanya itu, selebihnya Nando benar-benar fokus mengendarai mobilnya. Rea tidak tahu apakah pria itu memang acuh, tidak ingin tahu, atau ikut grogi juga karena akan memperkenalkan Rea sebagai calon istrinya.
Pemakluman. Rasanya kata itu tak pantas untuk Rea sebutkan. Ia bisa maklum diusia Nando yang sudah 30an tahun ini ingin segera menikah. Selain karena secara finansial dia mapan dan secara psikis dia dewasa.
...***...
Rea tidak ingat melalui jalan mana saja untuk menuju rumah Nando. Yang jelas, setelah sekitar 40 menit di dalam mobil. Ia sudah harus turun. Mobil teman dekatnya terparkir di pelataran rumah dua lantai yang terlihat begitu asri. Apabila dicermati baik-baik, mungkin inilah rumah yang paling besar dan luas bila dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya.
Atau mungkin karena, rumah tersebut dihuni oleh banyak manusia sehingga dibuat lebih besar? Entahlah. Rea tersentak, sebab di tengah lamunannya memperhatikan bangunan bercat putih, lengannya disentuh dan ditarik pelan ke arah pintu masuk rumah.
Jantungnya langsung berdetak keras, ia mulai gelisah dan rasanya butuh beberapa tetes air untuk membasahi tenggorokannya yang sangat kering. Dia benar-benar cemas menghadapi penghuni rumah.
Usai mengucapkan salam, Nando mendorong pintu hingga terbuka. Salah satu tangannya langsung mempersilahkan Rea untuk duduk. Sedikit tidak sopan, mata Rea menyusuri ruang tamu yang kira-kira berukuran 5 x 4 meter. Pandangannya menangkap foto besar terpajang di dinding-mungkin keluarga besar. Antara ruang tamu dan ruang keluarga dibatasi oleh sekat yang terbuat dari rotan. Pria itu menghilang di baliknya.
Kegelisahan Rea mulai bertambah. Saat dari arah dalam, keluar dua orang wanita berbeda generasi menghampirinya. Mereka saling memandang dari kejauhan, saling menilai satu sama lain. Sempat Rea mendengar, seorang wanita muda-mungkin adik Nando-mengatakan sesuatu dengan cara berbisik begitu melihatnya. "Loh, Ade kira Mas bawa Mba Kayla."
Siapa Kayla? Rea langsung bertanya-tanya dalam hati. Sebagai awalan Rea berdiri, memberi salam pada tuan rumah dengan menjabat tangannya sambil menyebutkan nama. Belum cukup mempersiapkan diri, sepertinya dia akan mulai disidang.
"Mas ngga bilang begitu."
"Tapi kemaren-kemaren Mas masih kelihatan deket sama dia."
__ADS_1
"Dulu."
"Ih kemaren!"
"Hust diem!"
Perdebatan kecil masih terjadi, dan itu cukup mengganggu konsentrasi Rea. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tampil baik dan tenang di hadapan mereka, sayang sekali kan jika karena mendengar nama wanita lain Rea langsung blank.
...***...
"Rea kerja dimana?" Ibu Nando mulai bertanya. Wawancara pun dimulai, usai Rea mengetahui jika wanita muda itu bernama Nafi-adik terakhir Nando.
"Tepatnya dimana Rea juga bingung. Rea kerja jadi asisten wanita karier." Jawabnya jujur.
"Pekerjaan kamu ngapain?"
"Saya bantu mempersiapkan hampir semua kebutuhan bos saya. Dari pakaian beliau, jadwal kerja, pertemuan dengan client, menyiapkan dokumen dan-"
"Pembantu?" Celetuk Nafi. Rea tahu wanita itu benar-benar spontan. Namun ia tak dapat mengelak jika ia pun kaget mendengar spontanitas anak SMA itu.
"Buk-Ya mungkin bisa dibilang seperti itu." Akhirnya Rea mengiyakan, tak berniat menolak karena dia pun sama-sama sulit mencari kata lain untuk menggambarkan pekerjaannya.
"Hampir mau 4 tahun."
Ibu Nando hanya mengangguk pelan, ekspresinya datar-tak terlihat senang juga tak terlihat membenci.
"Mba Rea punya saudara berapa?" Lagi, Nafi ikut ambil bagian dalam pembicaraan kali ini. Tanpa ditegur atau dihentikan oleh Ibu dan juga Abangnya.
"Ada adik perempuan 1."
"Akrab?"
"Mm untuk hal-hal tertentu kita dekat, tapi kadang kita juga sedikit beda pendapat. "
"Aku ngga terlalu suka saudara yang galak." Katanya memberikan informasi. Rea hanya mengangguk saja tanpa mendebat.
"Sanah buatkan minum." Perintah Ibu Nando saat suasana mulai tak enak. Harusnya dia yang mewawancarai calon menantunya, kenapa justru anak perempuannya sok ikut-ikutan?
Nafi enggan, ia terlihat masih ingin ikut bergabung. Namun Nando yang duduk tepat di sebelah Rea, segera memerintah dengan tegas-mungkin sambil melotot.
"Keluarga kamu sudah mengenal Nando?" Kali ini Ibu Nando kembali bertanya. Usai memastikan Nafi pergi.
__ADS_1
"Belum."
"Lah selama ini kamu jemput dia dimana? Di gang rumahnya?" Untuk sesaat pandangan Ibu langsung bergerak ke arah Nando.
"Ngga Bu, Nando jemput di kontrakannya."
"Ha?" Mata Ibu Nando langsung melebar mendengar jawaban putranya. Dia mendengar nama kontrakan, tempat paling asing menurutnya. Apa saja bisa terjadi di sana.
"Rea sedang belajar hidup mandiri, dia ingin-"
"Apa itu yang buat kamu pulang malam dengan wajah tersenyum?!" Suara Ibu mulai meninggi. Entah disebabkan karena apa Rea pun belum begitu tahu. Apa salahnya dengan kontrakan?
Rea tidak terlalu paham makna tersirat pertanyaan wanita paruh baya ini. Ia bingung kenapa Nando terlihat tegang, tak sesantai tadi. Ada nada kegugupan yang terdengar saat Nando menjawab pertanyaan Ibunya.
"Ngga Bu."
"Jangan bilang disana kalian berzina?"
Rea langsung menggeleng tegas sambil menggerakkan tangannya menolak pertanyaan itu. Kenapa pembicaraan berubah topik seperti ini?
"Tidak ada hal seperti-"Bela Nando, sebelum akhirnya kembali dikuasai lagi oleh wanita yang sudah melahirkannya.
"Bagaimana Ibu mau percaya, kalau setiap pulang kerja di saku celana kamu selalu ada pengaman?!"
"Bu!" Tak hanya Ibu, kali ini suara Nando ikut meninggi.
"Itu kebiasaan kalian akhir-akhir ini? Belum ada status yang jelas malah sudah mulai buat anak!"
Satu yang sekarang Rea rasakan. Dia sekarang memiliki keraguan. Ragu akan keseriusan Nando, ragu akan kepolosan pria itu yang terlihat baik dan santun. Juga ragu apakah dia benar-benar bersedia bergabung menjadi keluarga besar rumah ini. Karena semuanya sekarang terasa mengejutkan.
Zina?
Pulang malam?
Pengaman?
Hal tersebut begitu membekas di benak Rea. Dia melirik Nando, dengan harapan pria itu akan menjelaskan. Namun satu yang Rea tak bisa terima adalah saat dia meminta Rea untuk pulang lebih dulu. Sendirian. Dan menaiki kendaraan umum.
Shit.
Jangan lupa vote comment guys, biar author ngga lupa update.
__ADS_1