Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 19


__ADS_3

Dari sekian banyak moment pertemuan Aero dengan Rea,baru pertama inilah Aero melihat kemarahan yang sesungguhnya.Dia pikir,gadis cantik itu memiliki pengendalian emosi yang bagus.Namun semua teori itu memang benar adanya.Perempuan dan perasaan, keduanya berdekatan dan tidak dapat dipisahkan.


Niatnya sore ini datang adalah untuk mengajak Rea menemui Arka di suatu tempat. Kesepakatan yang pria bejat itu katakan harus Rea ketahui.Cepat atau lambat.Tak sejalan dengan keinginan,Rea yang terlihat pendiam dan malas-malasan duduk di teras rumah itu malah mengeluarkan tanduk beserta taring tak kasar mata, setelah Aero panggil beberapa kali.


Ia sempat terkejut, hanya beberapa milidetik.Setelah itu,ia segera mematikan mesin motornya dan bergerak maju ke arah Rea yang sedang berusaha membuka pintu rumah.


"Aku sibuk!" Celetuk wanita itu saat Aero sudah berdiri di belakang tubuhnya.


"Pulang kerja di sore hari dan kamu sebut ini sibuk?"


"Memang kamu pikir urusanku cuma bekerja?"


"Memang."


Umpatan Rea langsung berkumpul di tenggorokan.Ingin sekali ia berkata kasar pada makhluk tak berkepentingan ini.Mengganggu dan tak tahu diri.


"Dilarang masuk!Aku mau istirahat!" Pintu sudah terbuka, secepat kilat Rea masuk dengan pintu yang dibuka sedikit.Buru-buru ia langsung menutup pintunya kembali saat seluruh tubuhnya berada di dalam rumah. Menghalangi pria berjas dan bermasker itu bertamu.


"Jadi kamu sibuk atau ingin istirahat?"


Rea gemas. Ia ingin sekali Rea menjambak rambut rapi Aero agar terlepas dari kulitnya. Itu adalah urusan dia ingin melakukan apapun di kediamannya.Jika sibuk yang dia maksud adalah untuk tidur, memang menjadi masalah untuk Aero?


"Bukan.Urusan.Kamu."


"Itu jadi urusan aku sekarang.Temani aku keluar dan setelahnya, kamu bebas melakukan apapun."


"Aku menolak."


"Tapi aku memaksa."


"Jangan membuat aku berubah pikiran.Beberapa hari lalu aku sudah melupakan rencana balas dendam,dan jangan-"


"Tapi aku menunggu bagaimana cara kamu balas dendam."


"Oh ya?"


"Ya." Jawab Aero tegas sambil mengangguk.Ekspresinya sendiri tak bisa Rea baca,karena sedari tadi mereka berbicara Aero masih mengenakan maskernya.Membuat Rea hanya bisa menerka-nerka lewat tatapan tajam yang datar itu.Sialnya, bagian itu sangatlah sulit. Aero bahkan terlihat jarang sekali berkedip setiap Rea memperhatikan.


Kedua lengan pria itu masih menahan daun pintu dan bingkai pintu yang akan tertutup.Tak memerlukan banyak energi, karena sebenarnya yang dia gunakan adalah telapak kakinya.


"Mundur!"

__ADS_1


"Ngga!" Rea menolak apa yang Aero perintahkan.Enak saja, satu detik dia lengah buaya bisa masuk ke rumah.


"Mundur jika tidak ingin jatuh."


"Ngga mau!" Sekuat tenaga Rea berusaha mendorong pintunya agar tertutup. Namun dasar hukum alam,kekuatan lelaki memang jauh lebih besar dari perempuan.Tak berlama-lama,pintu perlahan bergerak terbuka.Sukses membuat Rea makin waspada dan menaikkan usahanya.


"Mundur! Aku ingin duduk."


"Di luar ada kursi."


"Aku ingin duduk di dalam."


"Aku tidak menerima ta-AW!!"


Bersamaan dengan suara itu,Aero berhasil masuk ke dalam rumah. Tentu dengan cara paksa dimana dia harus mengerahkan sedikit tenaganya. Mengakibatkan kening Rea terbentur tepian pintu dengan cukup keras.


"Ngga punya sopan santun. Dasar pemaksa!" Rutuk Rea sambil mengelus keningnya dengan telapak tangan. Ia mundur, memberi jarak pada tersangka yang membuatnya hampir gegar otak.Matanya masih berkilat tajam, marah yang tak tertahankan.


Bisa-bisanya ada lelaki yang kasar macam Aero. Sudah jelas Rea tak ingin diganggu, dia malah memaksa bertamu. Meminta maafpun tidak. Acuh, begitu saja berlalu dan duduk di salah satu sofa.Tidak tahu adab bagaimana sebenarnya cara bertamu ke rumah orang lain.Apa dulu ia tidak bersekolah dan mendapatkan materi muatan Pendidikan Kewarganegaraan?Kalau tidak salah, dalam salah satu pasal tertulis, setiap warga negara berhak atas kehidupan yang aman dan damai.


...***...


"Bu, punya nomor Pak RT?" Suara Rea terdengar begitu pelan sampai ke telinga Ibu pemilik runah kontrakannya.


"Ada orang masuk ke rumah, ngga mau pergi." Kembali suara Rea dibuat seperti bisik-bisik.


"Maling?"


"Buk-Iya!Iya Maling!" Awalnya Rea akan menggeleng, namun untuk beberapa saat otaknya bekerja dengan cepat. Ia langsung mengiyakan begitu saja. Sepertinya akan lebih mudah jika mengusir Aero dengan cara seperti itu.


"Saya telfonin ya?"


"Cepetan Bu!"


Rea yang sekarang ada di dapur,berjongkok dan menyudut di satu sisi seperti tengah bersembunyi, kembali menempelkan plastik berisi es batu ke keningnya.Entah itu cara yang benar atau tidak untuk mengobati luka benturan tadi.Ia hanya tahu cara tersebut sering dipakai oleh Mamahnya dulu setiap dia jatuh. Katanya agar tidak sampai bengkak berlebih.Dan memang benar, rasa nyeri yang sempat terasa itu mulai memudar, digantikan dengan dingin menyegarkan.


"Sakit?"


Deg


Rea benar-benar terkejut saat tiba-tiba suara berat yang datar itu terdengar di sekitarnya. Seperti bisikan setan di dekat telinga. Dan itu selain membuat kaget, juga membuatnya merinding.

__ADS_1


Tanpa mengangkat pandangannya,Rea menjawab dengan penuh kesinisan." Menurut kamu?"


Embun yang menempel di luar plastik mulai menjadi tetes-tetes air.Mengalir perlahan dari kening Rea ke wajah hingga membasahi sedikit demi sedikit blouse yang dikenakan.Sesekali Rea meringis karena saat dia menekan plastik berisi es batu itu, keningnya terasa nyeri kembali.


"Berdiri!"


Selalu saja,yang Rea dengar hanya kata perintah.Tak mengandung kelembutan sama sekali.Bukannya Rea ingin diperlakukan seperti putri, tidak.Dia hanya kesal pada lelaki yang hanya bisa memerintah dan tak melihat kondisi orang yang dia perintah.Seperti tak punya rasa simpati sama sekali.


Rea tetap duduk di atas lantai dapur.Menekuk dua kakinya di depan dada sebagai tameng. Tak bersuara atau bergerak sama sekali ketika Aero meminta.


"Eh!!"


"Kamu duduk disana seolah aku menyiksa kamu." Entah bagaimana caranya Rea tidak tahu, tiba-tiba saja dia sudah berdiri kemudian duduk di meja makan.Tadi dia merasakan ada lengan besar yang meluruskan kakinya kemudian mengangkat pinggangnya dengan begitu mudah-tak kesulitan sama sekali.


"Mau apa?"


Tanpa Rea ketahui apa maksudnya, Aero mendadak melepas jas hitam yang dia kenakan.Belum sampai disitu, entah sejak kapan Aero juga sudah melepas masker warna hitam bergambar tengkorak itu. Dan sekarang sedang maju perlahan ke arah Rea,menampilkan tatapan tajam yang begitu serius.


Reflek, Rea mundur. Ia menggeser duduknya ke belakang dan menaikkan kedua kakinya ke atas meja seperti biasanya dia ketakutan.


"Kamu mau apa?" Seru Rea sekali lagi. Nafasnya mulai sesak dan degupan di jantungnya makin terasa cepat. Apalagi saat salah satu tangan Aero menggenggam pergelangan kaki Rea yang terbungkus celana jeans warna putih.Menariknya perlahan yang tentu Rea pertahankan benar-benar posisi tubuhnya.


"Aero!" Teriak Rea memperingatkan.


"Aku mau mengobati."


"Tapi tidak perlu sampai-"


"Mba Rea!! Mana malingnya?!"


Kepala Rea sontak mencari dimana sumber suara itu berasal. Tak jauh darinya sudah berdiri beberapa orang laki-laki yang membawa kayu siap untuk memukul.Namun yang membuat Rea bingung, kenapa bapak-bapak itu malah berhenti dan memandanginya dengan kening berkerut. Atau lebih patut dibilang terpana sebenarnya.


Mencoba ingin tahu apa yang membuat mereka terpana, mata Rea pun bergerak perlahan ke arah pandang mereka.


Shit.Kenapa seperti ini?


Kenapa bisa-bisanya salah satu kaki Rea melingkar di pinggang Aero? Sejak kapan?Dan lagi, kenapa pria itu kini berjarak begitu dekat dengannya?


"Itu siapa Mba Rea?" Suara Pak RT berkumis akhirnya menyadarkan keterpakuan Regina Athalia.


Ini salah. Setelah terkumpul kembali seluruh nyawanya, Rea mendorong dada Aero dengan sekuat tenaga menjauh darinya.Diapun turun dari atas meja.Membenarkan penampilannya yang berantakan.Dan bodohnya dia malah bertingkah laku seperti anak yang dipergoki orang tuanya berbuat mesum. Menundukkan kepala malu.

__ADS_1


Sialan Aero!


__ADS_2