Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 14


__ADS_3

Braga Assavero Danunjaya,pria 30 tahun yang terlihat tegas dan serius.Jarang ia bercanda dengan para bahawannya atau sekedar dengan rekan kerjanya. Ia lebih memilih bicara seadaanya, daripada harus berpura-pura terlihat baik di hadapan banyak orang.


Tidak ada kerugian selama ini atas sikapnya, bisnis berjalan lancar.Kebanyakan orang yang memakai jasanya adalah dia-dia yang sudah paham siapa itu Aero.Jadi tak pernah ada komplain atau protes terkait ketidaknyamanan service yang Aero berikan.


Selain memiliki sebuah sasana tinju sebagai salah satu hobinya.Aero juga berkecimpung di dunia keamanan.Ia membantu para pengusaha sukses,pejabat,hingga artis untuk mendapatkan keamanan.Bukan bodyguard pada umumnya,mereka lebih mirip tim elite yang harus bisa bekerja dalam medan apapun.Bukan seperti polisi atau tentata yang punya lisensi,mereka hanya amatir.Timnya memiliki kemampuan taktis beladiri,pengendalian diri yang baik serta otak cerdas yang dipakai untuk menyelesaikan misi dalam keadaan mendesak.Dan hal yang paling menonjol lain adalah,paras pria yang Aero didik hampir semuanya good looking.Mereka indah dipandang dan tak menakutkan jika dilihat dari dekat,mungkin hanya postur tubuhnya saja yang nampak sangar.


Aero menerima laporan,jika lebih dari 2000 orang yang dia didik sudah mendapatkan pekerjaan layak.Artinya,tujuannya berhasil.Ia bisa memberikan pekerjaan yang berkelas pada pria-pria yang dia temui di pinggiran jalan,juga meluaskan jaringan bisnisnya dikalangan atas.Great job.


"Is she fine?"


"Yes,of course.Dia baru saja sampai di rumah." Lapor Ardi pada bosnya di seberang sambungan telefon."Siang tadi,dia pergi ke Grand-"


"Aku tahu dan melihatnya.She looks afraid." Takut pada Aero tentu saja.Wanita cantik dengan rambut diikat tadi jelas-jelas beberapa detik menatap Aero tanpa berkedip.Namun akhirnya langsung memalingkan wajah dan mendekati Bosnya-seperti mencari pelindung."Besok kalian bantu Tim B untuk menyelesaikan kasus Bos Rokok.Dia bilang ada seseorang yang diam-diam menyabotase gudangnya.Mesin sering tidak berfungsi, beberapa mobil distribusi mengalami kecelakaan,lengkapnya baca laporannya."


"Siap!" Secara serempak Jordi serta Ardi membalas lugas perintah bos besarnya.


Baru saja membersihkan diri,bahkan handuk masih menggantung di pinggul Aero mengakhiri panggilan telefon lebih dahulu.Tidak ada lagi hal yang penting untuk dia lakukan.Namun mengingat wajah terkejut Regina Athalia saat melihatnya lewat tadi,tiba-tiba muncul sebuah ide.Hatinya merasa terhibur dengan setiap respon Rea.Banyak hal yang tak tertebak.Kadang kala diam saja,menjerit histeris,menangis tanpa henti dan terakhir mengamuk membabi buta.Aero sampai geleng-geleng kepala menyadari keanehan gadis itu.


...***...


Malam hari sebelum benar-benar tidur, setelah berpakaian rapi Aero justru mengendarai mobilnya sendiri membelah jalanan.Tujuannya pada satu titik koordinat yang sudah dia hafal di luar kepala.Hanya sebuah rumah sederhana di perumahan kelas menengah.Beberapa rumah saja yang nampak tinggi dan megah,lainnya biasa saja.

__ADS_1


Termasuk rumah mungil yang di dalamnya tinggal seorang wanita nekat.Mendadak memutuskan hidup sendiri,padahal jelas sekali track record-nya tak pernah sekalipun pisah dengan orang tua-kecuali untuk acara bisnis dan wisata.Itupun tidak sendirian.


Kening Aero berkerut tanda tidak suka mendengar suara jeritan kecil dari dalam rumah.Darimana dia bisa mendengarnya?Karena mobilnya saja tidak dapat ditembus peluru,bagaimana suara bisa masuk?Jarak rumah dan mobil juga sekitar 10 meter, cukup jauh.Apa Aero punya telinga setajam anjing? Tentu tidak.


Apa gunanya bos besar jika tidak memiliki peralatan canggih pengintaian.Ia kan?Dia menggunakan teknologi untuk mengekori wanita lemah seperti Rea.Sungguh berlebih.


Kapan dia meletakkannya?Tentu saja saat dimana Aero mendorong Rea dengan paksa memasuki rumah.Saat dimana dia diam tak memberi penjelasan adalah saat Aero sedang memikirkan dimana dia meletakkan alatnya. Barulah saat Rea jenuh dan kesal kemudiam pergi menuju dapur. Kesempatan Aero terbuka lebar.Begitu lebar.


"Dasar Aerosol!" Umpatan Rea kembali terdengar keras.Membuat Aero makin mengetat rahangnya. Jujur saja,dia tidak terima.Karena tak tahan lagi,sebuah earphone yang tersambung dengan perangkat ponselnya ia lepaskan dari telinga sebelah kanan.


"Aerosol?Aku hanya partikel kecil di udara?" Gerutu pria dewasa itu diam-diam sambil menjalankan mobilnya menuju rumah utama.Masih tidak habis pikir kenapa lelaki gagah,tinggi besar sepertinya dianggap hanya aerosol oleh Regina Athalia-wanita malang yang gagal menikah.Sungguh itu sebuah pelecehan.


...***...


Menyadari Rea yang memandangi Aero,untuk beberapa saat pria gagah itu menjadi kesal.Bos ini bukan tipe pria yang suka dilihat dengan pandangan macam ini.Membingungkan,antara berharap dan tatapan menyedihkan.


Bukankah harusnya Aero yang diam? Karena ia tadi baru saja melakukan hal yang awkward.Perlakuan yang harusnya dilakukan pasangan kekasih saja.


"Saya sudah tanda tangan dan cap.Apa disini kamu yang ingin bertindak tidak profesional?"Tanyanya lagi dengan volume suara lebih keras.


"Orang tuaku mengira kamu adalah teman Arka.Bagaimana pandangan mereka jika melihat aku benar-benar datang bersama kamu?Ini justru bukti valid kalau apa yang Arka bicarakan adalah benar."

__ADS_1


Karena ditekan dan diperingatkan oleh Aero dengan suara yang meninggi. Akhirnya semua pikiran buruk yang bersarang di otaknya perlahan keluar.Walau tahu,Aero mungkin tak akan peduli dengannya.


"Aku benar-benar memilih kabur dari pernikahan." Tambah Rea lagi,suaranya seperti terkecik-makin lama melemah.


"Itu masalah kamu!"


Benar kan?Aero memang tidak peduli. Jadi sia-sia saja Rea mengeluarkan unek-uneknya. Hanya lelah di bibir.


"Cepat naik!" Bentak si lelaki berjaket hitam bomber seperti pada bawahannya di kantor.


"Ngga punya hati."


Walaupun berupa gerakan bibir saja dari Rea, Aero tetap bisa membacanya.Terlebih ekspresi wajah gadis itu yang mendadak muram.


Setelah memastikan keduanya mengenakan helm dan siap.Aero langsung menarik gas motornya membelah jalanan Ibukota.Mulutnya terkunci rapat,tak berniat menanyakan satu hal pun sebagai pengisi kebosanan selama berkendara.Terlebih Rea,dia memberi jarak tubuhnya begitu nyata.Ada sebuah tas yang ia taruh di belakang punggung Aero sebagai pembatas.Ini adalah kali pertama dia berjarak begitu dekat dengan Aero.Sebelumnya sudah pernah, namun tak selama ini. Hampir 30 menit parfume Aero terus masuk ke indera penciuman Rea.Wangi yang begitu khas dari tubuh lelaki itu, mewakilkan pemakaiannya yang tegas.


Entah mendapat bisikan darimana, tiba-tiba saja di pemberhentian traffic light Aero menoleh sedikit ke belakang dan bersuara.


"Kamu pikirkan apa yang akan kamu jelaskan ke orang tua kamu.Dan saya akan pikirkan bagaimana cara agar Arka tidak kabur."


Hening.Aero kira Rea memang sedang berpikir,sehingga tak mencoba menunggu balasan.Namun justru, disaat Aero tak berharap untuk mendengar Rea tiba-tiba mengucapkan beberapa kalimat dengan bahasa formal.Dengan suara tegas yang diam-diam mengandung kesakitan.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu saya jelaskan. Karena saya baru ingat.Ternyata,orang tua saya tidak pernah percaya dengan sesuatu yang keluar dari mulut saya."


Aero pastikan dia mendengar getaran dalam kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rea.Ada sesuatu asing yang mendadak melintasi sisi sensitif Aero.Sisi terdalam yang tak pernah dia coba jelajahi bahkan sengaja dia singkirkan jauh.Ia pun pernah mengatakan hal tadi-dulu. Entah kapan.


__ADS_2