Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 43


__ADS_3

"Terima kasihnya mana?"


Cemberut dan diam adalah andalan Rea. Dia benar-benar sebal ketika Jordi tak datang atau lebih tepatnya, Aero mungkin tidak menghubunginya untuk pulang. Jadilah 30 menit ia dikurung di antara dua lengan kekar milik Aero. Pria itu terus memeluknya, mengusap punggung dan rambut seperti sedang menina bobokan.


Rea nyaman sebenarnya, namun untuk beberapa alasan dia harus bergerak menjauh. Ingat, dia belum mandi, rambutnya sedikit lepek karena keringat dan pakaiannya pun kusut. Akhirnya, setelah melepaskan protes berupa gerutuan tiada henti. Aero menyerah. Telinganya lumayan terganggu jika Rea sudah panjang lebar menggerakkan bibir. Entah omelan apa saja yang keluar, Aero sampai tidak mengingatnya.


Dan kali ini, seperti yang sudah-sudah. Aero mengantar Rea pulang ke rumahnya. Rumah sebenarnya, tempat dimana dia tumbuh serta dididik oleh Papah dan Mamah.


Baru saja membuka pintu mobil. Sindiran Aero terdengar. Niatnya Rea, ia ingin mengucapkan terimakasih pada saat nanti ia memasuki gerbang rumah. Tapi karena sudah terlanjur ditagih. Dengan kesabaran yang berusaha ditahan ia pun bersuara.


"Makasih Mas." Katanya dengan bibir tertarik ke atas. Bukan jenis senyum simpul dari hati, itu jelas penuh keterpaksaan dan amarah.


"Dari hati bilangnya."


Wanita cantik yang sudah nampak lelah ini akhirnya membuang nafas kasar. Berhadapan dengan lelaki dewasa yang berpikiran seperti anak-anak. Dimana keinginannya harus segera dipenuhi, jika tidak segera maka Aero akan...


"Ulangi lagi, kali ini dari hati. Jangan kaya tadi."


Akan terus menagihnya. Persis seperti anak 3 tahun.


"Mas Aeroooo." Panggil Rea dengan mesra, sekaligus memainkan tangannya di paha kiri pria itu. "Makasih udah nganterin aku sampai rumah. Baik banget deh." Tambahnya dengan begitu pelan dan lembut.


Mata Aero langsung menyipit ngeri melihat perubahan ekspresi Rea yang begitu drastis. Ternyata bukannya terlihat cantik, justru wanita itu makin .....


"Kamu menakutkan kalau seperti tadi." Balas pria tampan berkaos putih ini pada Rea. Ia mengusir tangan lentik gadis cantik di sampingnya-yang sempat singgah di atas pahanya- dengan gerakan setengah takut.


"Ha?"


"Cepat masuk ke rumah dan mandi!" Tak menghiraukan bagaimana wajah Rea saat itu. Aero kembali bertingkah seperti dirinya yang sebenarnya-suka memerintah.


"Maaas."


"Ngga perlu panggil aku dengan nada macam itu. Geli tahu ngga? Panggil seperti biasa aja."


"Massshh."


"Rea! Aku apa-apain kamu nih di mobil! Ngga usah begitu!"


"Dasar laki-laki. Sukanya ngancem!"


Brak

__ADS_1


Pintupun tertutup kencang. Rea buru-buru membuka sedikit pintu gerbang dan melambaikan tangan dari dalam sana. Ia berbalik membelakangi Aero, suara mobil menderu makin lama makin tak terdengar. Dan setelah memastikan aman. Tawa Rea akhirnya pecah. Sambil melangkah memasuki rumah, gelak tawanya makin kencang. Bahkan wajahnya mulai merah, dan perutnya sakit karena begitu geli menyaksikan wajah pria kekar tadi.


"Ada yang lucu banget kayaknya Mba?"


"Ha-ha-ha." Tawa Rea masih terdengar renyah. Ia kesulitan untuk menjelaskannya pada Bibi Yul.


"Temannya ngga masuk?"


Rea hanya membalas dengan gelengan kepala. Sementara tangannya masih memegangi area perut.


"Aero lucu ternyata Bi."


"Ah masa? Selucu-lucunya orang serem. Ngga akan keliatan lucu Mba. Malah makin nyeremin."


Bibi Yul yang sudah tahu Braga Assavero seperti apa, tidak akan mudah percaya begitu saja. Setelah memastikan majikannya pulang. Ia segera mengunci pintu utama dan mematikan beberapa lampu, bersiap untuk istirahat karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.12.


Mungkinkah Rea salah menghitung? Dia kira, dirinya menghabiskan waktu 30 menit dalam pelukan Aero, tapi sebenarnya waktu yang dihabiskan adalah sekitar 3 jam. Apa saja yang dilakukan? Tidak mungkinkan hanya sebuah pelukan? Apa variasi lainnya?


...***...


Aktivitas Bu Nindi mulai dibatasi. Kehamilannya ini benar-benar dijaga oleh sang suami-Pak Danu. Setiap jamnya pria itu akan menanyakan pada Rea apa yang istrinya tengah lakukan.


"Jangan dulu Bu. Tunggu sampai usia kandungan 3 bulan."


"Bosen!"


"Saya panggilkan orang salon ke rumah aja ya Bu?"


"Pengin jalan-jalan Re."


Jadi, sebenarnya ingin ke kantor atau jalan-jalan? Hampir saja Rea kelepasan mengatakan hal demikian. Mood wanita itu sungguh selalu berubah. Sebentar ingin ini, ingin itu. Makan ini, makan itu. Beruntung suaminya adalah orang berkecukupan, mampu untuk memenuhi kebutuhan Bu Nindhi yang memang terlahir dari keluarga berada. Coba kalau, suaminya hanya seorang pekerja dengan penghasilan kecil. Pasti akan sangat merepotkan.


...***...


Jam makan siang telah usai. Dan Rea sedang berkeliaran di Mall sendirian. Tujuannya adalah membeli donat J.co. Harus Rea yang membeli, tidak boleh supir, abang gojek atau siapapun. Keinginan sang bayi adalah nomor satu ya Re, pesan Pak Danu padanya. Jadi inilah bentuk baktinya sebagai asisten, memenuhi keinginan istri kedua Pak Danu yang baru hamil anak pertama.


"Eh, kamu asistennya Nindi ya?"


"Bu." Sapa Rea ketika berdiri bersebelahan saat antre.


Kenapa harus bertemu dengan wanita pertama Pak Danu sih?

__ADS_1


"Beneran itu hamil?"


Wajah yang terpoles make up tebal itu memicing tidak suka. Ada rasa cemburu dan iri.


"Iya Bu."


"Banyak maunya ya? Saya yakin iya. Minta ini-itu, beli ini-itu. Duh, saya harus peringatkan Mas Danu lagi nih."


Tak ada yang bisa Rea katakan. Karena kebetulan giliran dia untuk memesan. Dan setelah mendapatkan pesanan bosnya, ia segera pamit. "Saya duluan Bu."


"Hmm."


Perlukah dia ceritakan pertemuan ini pada Bu Nindhi? Ah rasanya tidak penting. Bosnya harus dibuat tenang dan senang. Tak ingin membuat wanita hamil menunggu lama, dan malah bisa jadi nanti berubah keinginan lagi. Rea bergegas melangkahkan kakinya keluar dari Mall untuk menunggu gojek. Terimakasih engkau manusia pencipta aplikasi gojek, sangat membantu sekali dalam keadaan darurat.


Belum sampai keluar, di tengah jalan tepat di hadapannya ada seseorang yang dia kenal. Berjalan pelan ke arahnya dengan langkah pasti, tak melambat atau makin cepat. Berbanding terbalik dengan Rea yang langsung terpaku, diam ditempat.


"Lagi cari apa?" Tanya suara familiar itu ketika jarak keduanya menyisakan 1 meter.


Sambil mengangkat kotak di tangan kiri, Rea menjawab. "Donat."


Pria di hadapan Rea yang berbalut jas mengangguk.


"Mas mau...?" Kali ini, giliran Rea yang bertanya.


"Mau makan siang."


"Ooh."


"Aku udah laper." Suara lain menginterupsi pembicaraan mereka. Rea bahkan baru menyadari, ada sosok lain di samping Aero. Wanita berpakaian modis yang sedang melingkarkan tangannya di lengan Aero. Sejak kapan? Apa saking fokusnya Rea melihat kedatangan Aero, ia sampai tidak tahu apa yang ada di sekelilingnya?


"Sebentar." Balas Aero sambil menatap wanita di sebelahnya.


"Aku pulang dulu. Have a nice day Mas."


Nanti.


Nanti.


Pasti Aero akan menjelaskan padanya siapa wanita itu, nanti. Tunggu saja penjelasannya. Bersikaplah dewasa dan tenang. Apa yang kamu lihat mungkin tidak seperti yang kamu pikirkan.


Ok, positif thinking Rea.

__ADS_1


__ADS_2