
Rea menangis saat sudah berada di tempat paling aman dan nyaman, yaitu kamarnya sendiri. Setelah mengucapkan sesuatu pada Bibi Yul dan Aero, ia langsung melindungi diri agar tidak terlihat lemah di mata semua orang. Salahkan dia yang sedang PMS, jadi segala sesuatu lebih mudah menyentil hati dan pikiran. Rasa tidak percaya diri, pesimis dan sedih mulai hinggap dan memonopolinya.
Tak ada isak yang terdengar dari bibir Rea yang merah, murni hanya air mata yang berlinang membasahi kedua pipi. Lebih dulu ia memastikan Aero pergi dari rumahnya usai makan malam. Mengendarai mobil mewah dan membelah jalanan, entah kemana tujuan pria itu. Yang jelas, Rea ingin sekali bertanya.
Kamu mau kemana?
Tak hanya itu, dalam beberapa bulan terakhir, sering terbersit rasa penasaran tentang kehidupan Aero. Bagaimana masa lalunya? Bagaimana keluarganya? Bagaimana kehidupannya dengan teman? Bagaimana pengalamannya dengan wanita sebelum dirinya? Memikirkan hal itu, tanpa disadari air mata itu makin deras.
Sudah sekitar 6 bulan mereka dekat dan intens berkomunikasi, namun belum juga ada tanda-tanda Aero membuka kisah hidupnya. Hanya Jordi yang Rea kenal sejauh ini, pria itu tinggal seatap dengan Aero di rumah yang sering Rea datangi sebagai asisten.
Kadang, mulut Rea begitu ingin menanyakan sesuatu pada Jordi. Namun lagi-lagi, otaknya mengatakan untuk "stop, batas kamu hanya ada di sana, mundur jika tidak ingin kecewa!"
Tidak perlu terlalu jauh mencari tahu, karena bisa jadi pria itu tahu apa yang Rea lakukan diam-diam. Dan akhirnya, masalah besar mungkin akan Rea hadapi. Entah itu apa, namun Rea yakini Aero bisa meledak sewaktu-waktu.
Sampai saat ini, Rea masih merasa dirinya diintai oleh beberapa pasang mata. Tanpa bertanya, dirinya tahu, mereka adalah orang-orang Aero. Pekerjaan yang dijalanilah yang membuatnya perlu berhati-hati. Tapi kenapa Rea pun seperti dilindungi? Apa karena pria itu menganggap dirinya sedikit special?
Memang masa lalu, atau kehidupan pribadi adalah something sensitive. Sama seperti Rea yang tidak ingin mengumbar banyak hal pada seseorang yang belum ia percayai 100 %. Aero pun mungkin demikian. Apalagi dia seorang pebisnis. Perlu membangun benteng perlindungan yang tinggi dan tebal.
Lagi enak makan, kenapa perlu banget muncul kata-kata begitu? Dasar ngga punya hati.
Rutuk Rea yang kesal karena Aero bersikap menyebalkan disaat dirinya sedang mengalami mood swing.
Jika dipahami baik-baik, tak hanya Aero yang salah, Rea juga terlibat pada perubahan mood-nya sendiri. Salah siapa justru merespon omongan lelaki berbibir tipis itu? Dari jaman kegagalan pernikahannya dengan Arka, kan Rea sudah tahu pasti, Aero itu mulutnya terlalu tajam. Bisa menyakiti tanpa disadari.
Sebuah sofa kecil di sudut kamar Rea duduki, ia tiba-tiba merenung, memikirkan 6 bulannya yang dihiasi oleh lelaki bertinggi 180 cm. Bukan hanya tentang duka yang Aero kenalkan padanya, tapi juga tentang suka cita. Rea masih ingat bagaimana lelaki berambut cepak itu menawarinya sebuah pertemanan, tentu dengan cara yang tidak semestinya.
Tapi apakah bisa disebut pertemanan? Jika sudah banyak aktifitas diluar zona itu yang mereka dilakukan. Macam peluk dan cium. Perlakuan yang biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih atau mereka yang sudah berumah tangga.
__ADS_1
"Saya tidak pernah berteman lama dengan wanita. Karena biasanya mereka datang ke saya hanya dengan maksud tertentu."
"Maksud kamu apa mengatakan hal itu? Aku ngga datang ke kamu! Dari awal bertemu, aku udah berusaha ratusan kali menghindar. Ngga ada gunanya dekat dengan lelaki yang tidak jelas seperti kamu! Lagi pula, apa yang aku dapatkan kalau berteman dengan kamu hah?! Hanya masalah yang aku dapat." Rea menjeda.
"Orang kok dateng bukannya kasih duit malah kasih masalah." Tambah Rea lagi sambil menggerutu.
Aero mendengar bisikan wanita cantik itu. Tak terpengaruh, dia tetap mengikuti Rea yang sedang berbelanja di supermarket kala itu. Ia mengekori ke setiap bagian seperti seorang suami.
"Sekarang coba kita ingat-ingat. Siapa yang lebih dulu mendekat? Kamu kan? Siapa yang lebih dulu menghubungi? Kamu juga. Jadi jelas. Keadaannya disini kamu yang mungkin datang dengan maksud tertentu?" Mata Rea melirik pria berpakaian rapi di sampingnya saat mengucapkan kalimat terakhir. Berharap pria itu sadar.
Dan apa yang Rea dapat? Bibir pria itu justru menyeringai kemudian mendekat dan mengatakan sesuatu. "Jadi? Kita berteman?"
Reflek Rea menggeleng, ia mengembalikkan barang yang dia ambil tadi ke dalam rak kemudian mendorong troli cepat ke arah kasir tanpa memperdulikan Aero. Lama-lama berdekatan dia bisa terpapar virus gila.
"Saya sudah bantu mendapatkan rumah kamu. Itu artinya saya mau berteman dengan kamu." Belum juga menyerah, Aero ikut berdiri di belakang Rea yang tengah memindahkan barang belanjanya ke meja kasir.
"Harusnya kamu merasa bangga dan beruntung kenal dekat dengan saya."
"Sorry. Sombong bukan gayaku. Aku sedang tidak mau dekat dengan seseorang." Secara tegas Rea menolak.
"Saya bukan sedang mengajak kamu berpacaran."
Glek. Kasir wanita yang mendengar percakapan mereka langsung mengalihkan pandangannya dari layar komputer ke Aero dan Rea. Ada raut geli sebenarnya namun berusaha ditahan.
Rea membalikkan badannya, dan kaget karena ternyata Aero berdiri begitu dekat dengan dirinya. "A-aku ngga mau berteman maupun pacaran saudara Aero yang terhormat."
"Good. Saya akan mulai dengan ber-aku kamu." Mata Rea benar-benar melotot saat bibir Aero dengan mudahnya melontarkan hal macam tadi. Apa gunanya dia bertanya jika pria itu mengambil kesimpulannya sendiri?
__ADS_1
"Aku bilang, tadi kalau--Kamu budeg ya?!"
Aero melihat kasir sudah menyelesaikan tugasnya, tanpa mengindahkan ekspresi Rea. Ia menarik lengan asisten Bu Nindi itu untuk balik badan. Mendorong pinggang belakang Rea hingga menyentuh meja kasir. Dan dengan seenaknya, Aero maju mengikis jarak hingga membuat keduanya saling bersentuhan. Rea sontak berjengit kaget, sesaat ada tangan yang menyelip di pinggang kanan. Belum lagi, posisi mereka yang menempel macam ini. Apa kata orang?
"Aku denger." Bisik Aero tepat di telinga Rea. Jika tangan kanan mendarat di pinggang kanan Rea. Tangan kiri Aero mengulurkan sebuah kartu kredit pada kasir. Mengalihkan fokus wanita cantik ini, sengaja Aero melakukan kontak fisik ini. Ia ingin membayarkan belanjaan wanita di dalam-pelukannya ini.
...***...
Usai sehari semalam berpikir. Rea memiliki sebuah tujuan. Dia perlu sebuah jawaban dari Aero, jawaban itulah yang akan menentukan langkah Rea selanjutnya.
Malam hari, ketika jam sudah mengarah ke angka 11an, ia mulai mengetikkan sesuatu untuk Aero pada pesan Whatsapp. Berkali-kali menulis, karena tidak sesuai dengan maksud yang ingin Rea sampaikan, akhirnya kembali dihapus.
Hingga, tanpa Rea sadari, karena terlalu fokus memikirkan kalimat apa yang perlu dia sampaikan. Aero sudah lebih dulu mengirimkan pesan. Membuatnya hampir saja lepas kendali melempar benda kecil tersebut karena kaget.
Baru saja ia mengetikkan kata 'iya', layarnya langsung berubah menjadi mode panggilan telefon. Bunyinya meraung-raung, begitu tidak sabaran seperti orang yang menelefon.
Satu menit, dua menit berbicara dan tiga menit menunggu balasan. Sambungan akhirnya Rea matikan sepihak.
"Gimana Mba?" Tanya Bibi Yul yang kebetulan memang berada di dalam kamarnya. Wanita itu tahu bagaimana pembicaraan yang terjadi.
Rea menggeleng dengan air mata yang meluruh.
"Ngga serius Bi."
Mengetahui jika apa yang Bibi Yul sarankan justru tidak mendapatkan hasil yang semestinya. Wanita itu bergerak maju memeluk sang anak asuhnya.
"Ngga apa-apa Bi, daripada Rea baper berlarut-larut. Mending kaya gini aja. Jelas." Hibur Rea sendirj dengan dibalut isak tangis. Dia tak menyangka, apa yang dia tunggu dan harapkan ternyata tidak sesuai. Lagi-lagi dia harus gagal. Menemukan seorang pria yang mau bertanggung jawab atas dirinya ternyata sulit. Padahal dia tidak terlalu mementingkan kehidupan mewah, dia mau hidup banting tuling selama dia memiliki seorang lelaki yang menjadi sandaran. Hanya itu.
__ADS_1