Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 50


__ADS_3

Jangan terlalu menaruh harapan pada seorang manusia. Karena yang akan kalian dapat hanyalah sengsara. Berharap lah pada yang memegang kendali dunia. Sebab Dia tak akan pernah membuat kita kecewa.


Sebait teks itu Rea baca ketika dalam perjalanan pulang. Menaiki taksi online membuatnya bisa santai menggunakan ponsel tanpa mencemaskan apapun. Berpuluh-puluh berita dia baca, sekedar untuk membuang waktu dan menambah pengetahuan. Sampai akhirnya, ia melihat sebuah iklan yang cukup mengganggunya. Iklan yang membuatnya mengingat seseorang. Dan entah apakah orang yang baru saja Rea pikirkan juga balik memikirkan Rea atau tidak. Oh sorry. Jangan terlalu tinggi. Maksudnya, apakah orang yang baru saja Rea pikirkan mengingat Rea?


Ingat! Jangan mimpi!


...***...


Rea menatap benda besar yang sudah terparkir di garasinya cukup lama. Benda berwarna hitam itu tak terpakai, hanya sesekali Rea panaskan mesinnya. Bermaksud memperpanjang umur. Yang dia tahu hanya itu, padahal jika lama tak terpakai pun bukan hanya mesin saja yang bisa rusak, bagian lain bisa. Perlahan kakinya melangkah menuju mobil milik almarhum Papah, kunci ia genggam di tangan sebelah kanan.


Setiap minggu, walaupun mobil tak keluar gerbang, Rea selalu mencucinya. Satu-satunya cara yang bisa dia lakukan adalah menjaganya tetap ada. Dulu mobil itu sering dipakai Rena-adik tirinya untuk pergi ke kampus atau kadang dipakai oleh Ibu tirinya pergi arisan. Sementara Rea, hanya sesekali menaiki mobil tersebut, itupun terpaksa.


Usai duduk di belakang kemudi, Rea menarik nafas dalam. Selalu kenangan Papa yang duduk disana menjadi bagian yang sulit dilupakan.


"Bi?"


"Ya Mba?"


Bibi Yul yang sedang menyiram tanaman di halaman depan menyahut tanpa mendekat.


"Rea mau latihan nyetir ya?"


Bibi yang semula santai dan tenang berubah garang begitu mendengar ide tersebut. Iangsung menggeleng dan meneriakkan kata jangan, bahaya, dll.


"Ya ngga sekarang. Nanti Rea pergi ke tempat kursus dulu, latihan disana. Baru setelah lulus, bawa mobil sendiri. Gituuu."


"Ya allah Mba. Bikin khawatir aja tadi."

__ADS_1


Rea terkekeh dengan tangan yang terus memutar kemudi ke kanan dan ke kiri-macam anak kecil. Dia sudah memutuskan semalam, akan sangat disayangkan apabila mobil hanya terparkir di garasi. Jadi, mulai besok dia sudah belajar menyetir.


Jelas wanita yang sudah mengasuhnya sejak kecil ini khawatir, ia takut majikannya nekat mengeluarkan mobil dan mencoba latihan secara langsung di jalan besar. Karena ia tahu benar, Rea belum pernah sama sekali mengendarai mobil sendiri. Pernah saat kuliah, ia meminta pada Papahnya untuk diijinkan latihan. Dan apa jawaban pria itu? "Ngga perlu, Papah aja yang antar jemput kamu. Bahaya!"


Wajah pria itu melarang anaknya, sebab dia sendiri pernah mengalami kecelakaan hebat. Dia tak ingin anaknya mengalami hal yang sama.


"Perlu montir kesini ngga ya Bi? Takut ada yang rusak, udah berbulan-bulan ngga dipake."


"Nanti Bibi panggil anaknya Pak RT aja Mba."


"Montir? Bukannya anaknya Pak RT cewe? "


"Ini anak yang ketiga. Dia kerja di bengkel mobil terkenal."


"Emang udah gede? Perasaan dulu Rea sering liat sepedaan pas ujan-ujan di depan rumah masih SMP."


Rea mengangguk saja, dia masih asik terbawa suasana pura-pura menyetir di jalanan. Sepertinya akan sangat mengasyikan. Berangkat dan pulang kerja sendiri. Bisa pergi ke tempat-tempat yang dikunjungi sendirian. Bisa bersantai di dalam mobil dan memutar musik saat sedang penat. Ah!! Bye-bye abang gojek dan gocar!!! Teriaknya dalam hati.


...***...


Sekitar 3 bulan Rea mengikuti kursus menyetir. Ia begitu antusias, sehingga tak pernah absen untuk datang ke tempat usaha milik saudara Bu Nindi itu. Instrukturnya mengatakan, Rea begitu cepat belajar. Bisa menyetir dengan santai, memiliki perkiraan yang bagus dan mulus dalam pengereman.


Usai lulus mengikuti kursus singkat, sebulan selanjutnya Rea berhasil mendapatkan SIM. Layaknya diwisuda, wanita cantik ini begitu heboh saat menunjukkan pada Bibinya sebuah kartu kecil macam kartu ATM.


"Keren kan Bi?" Tanya Rea ketika duduk di meja makan. SIM yang ia dapatkan dikeluarkan dan dipamerkan ke arah Bibi Yul.


Wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum. Jika Rea senang, ia akan ikut senang.

__ADS_1


"Ternyata dapetin SIM itu aslinya susaaaaahnya minta ampuum. Ujian berkali-kali, nyenggol sedikit aja udah gagal."


"Nyenggol apa?"


"Ya itu lah pokoknya, nanti Rea ceritain. Jadi, nanti kita bisa jalan-jalan berdua ya Bi ke pantai."


"Bibi takut!"


"Rea udah dapet SIM nih. Nyetirnya udah bener. Suerr!"


Melihat kesungguhan wanita pekerjaan keras yang tengah mengunyah makanan ini, Bibi Yul akhirnya setuju. Ia tidak bisa mematahkan semangat majikannya yang luar biasa baik. Sudah hampir setahun Braga Assavero tak muncul lagi dikehidupan Rea. Bibi kira, anak asuhnya akan terpuruk lama. Tapi ternyata tidak. Keinginannya untuk bisa membawa mobil sendiri, kesibukannya berlatih dan bekerja berhasil menghapus jejak Aero dipikiran Rea-mungkin.


...***...


Menikmati aktifitas baru dengan mobil yang selalu menemani, berhasil membawa perubahan besar untuk Rea. Suasana hatinya mulai membaik. Tidak ada lagi melamun dan ceroboh, dia justru makin fokus. Sesekali memang hatinya tersentil ketika mengingat masa lalu, namun sedetik kemudian ia bisa mengontrolnya kembali.


"It's ok macet, nikmati aja. Macet itu karena pilihan kita kan? Jelas dong. Memakai mobil di Jakarta itu artinya harus siap dengan kondisi macam ini. Jangan protes. Kalau ini cepat, udah jual aja mobilnya, ganti ke motor nanti bisa selap-selip." Cerocos Rea ketika mendengar klakson mobil-mobil di belakangnya di tengah kemacetan. Hari sudah sore, jam sibuk, hujan, jadi pantes kalau jalanan ini padat.


"Sabar gaess!!" Teriak Rea pada pengemudi lain yang tak sabaran. Dia juga terjebak kemacetan, namun tetap santai. Ya mungkin karena baru beberapa bulan ini mengalami, coba kalau sudah bertahun-tahun, mungkin tingkah Rea juga akan sama dengan mereka yang terus menekan klakson.


Hujan makin deras, langit makin gelap dan disinilah Rea harus makin hati-hati. Memasuki perempatan besad menuju rumah yang kebetulan lampu jalan sedang mati dan tidak ada traffic light, Rea sengaja memelankan laju mobil. Tengok kanan dan kiri untuk memastikan sesuatu. Sebab sering ada yang menyelonong dengan kecepatan-


Brak!!!


Malang. Dalam berkendara di jalan, apapun bisa terjadi. Bukan hanya keselamatan diri sendiri, tapi keselamatan orang lain juga perlu diperhatikan. Sebab, Pasal 235 UU LLLAJ menentukan bahwa jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas baik kecelakaan lalu lintas ringan, sedang maupun berat, pihak yang menyebabkan kecelakaan wajib memberikan bantuan kepada ahli waris korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana. Atau, tetap adanya hukum yang menjerat.


 

__ADS_1


__ADS_2