Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 70


__ADS_3

"Aero pernah melakukan hal itu?!"


"Pernah Pak."


"Kapan?"


"Sekitar satu atau dua tahun lalu. Saat sedang marak-maraknya pengusaha batubara pinjam uang ke Mas Aero."


Baru saja Jordi menceritakan kejadian saat Aero menculik seorang wanita, menggagalkan pernikahan si gadis manis itu dengan cara yang menurut siapapun tidaklah benar. Wanita berbalut kebaya cantik modern warna putih yang setelah dikonfirmasi ternyata tidak tahu apa-apa tentang calon suaminya. Dan saat itu terjadi, Aero sadar dirinya salah langkah. Ia mungkin menghancurkan masa depan seseorang. Atau sebenarnya menyelamatkan Rea dari kejamnya kehidupan.


"Memang anak itu punya uang banyak?"


Bukannya mengecilkan, Danunjaya memang tidak tahu jumlah tabungan anaknya. Dia yakin, pengusaha batubara tidak mungkin hanya meminjam uang ratusan juta, pasti milyaran. Dan setahunya, Aero hanya bekerja di firma miliknya.


"Yang saya tahu pinjamnya beberapa kali, dan ditotal bisa untuk membangun gedung sasana baru beserta perlengkapannya."


Danunjaya mengangguk saja mulai memahami. Ternyata anaknya tidak hanya berpikir tentang hobinya bertanding tapi juga mulai berbisnis. "Dan beberapa hari lalu, Mas Aero datang bawa cewe itu."


"Namanya siapa?"


Jordi diam. Dia hanya membalas tatapan ingin tahu Bos besar dengan wajah datar. Terasa sulit untuknya memberikan identitas gadis itu. Bukan tidak mungkin jika suatu hari, saat Pak Danunjaya sedang marah ia bisa bertingkah aneh.


Tahu jika Jordi juga menjadi anak buah Aero, artinya menjaga rahasia pria itu, Danunjaya menghargai sikapnya. Artinya pekerjaan Jordi benar-benar sulit. Satu sisi memihak Aero sisi lain mengikuti arahan Tuan ini. "Saya ngga akan melakukan apa-apa. Hanya ingin tahu."


Butuh beberapa menit bagi Jordi untuk memberikan jawaban. Dia perlu memikirkan baik buruk yang akan ditimbulkan. Jangan sampai Regina, wanita yang sudah dibuat susah oleh Aero juga dibuat susah oleh Bapaknya. "Namanya Regina Athalia." Sebut Jordi pada akhirnya. Sedikit berat, tapi sepertinya ini harus diperjelas.


"Cantik?"


Jordi sedikit tidak menyangkan akan respon pertama yang meluncur dari bibir Bosnya. Dia berpikir Pak Danun akan menanyakan bagaimana kepribadian si Rea. Namun ya sudah lah, melihat bagaimana ekspresi bosnya yang terlihat begitu ingin tahu ia pun bersuara, "Bapak pernah bertemu."


"Oh ya? Dimana?"


"Ingat waktu kita cek up ke rumah sakit? Di lorong kita bertemu Mas Aero yang sedang berbicara dengan dua wanita dan-"

__ADS_1


"Oh! Gadis itu." Serobot Bapak berkursi roda ini cepat. Walau usianya sudah tidak dikatakan muda lagi, ingatannya tergolong bagus. Dengan cepat ia bisa menemukan siapa yang dimaksud oleh Jordi. Mendadak pria tua itu tersenyum. "Cantik. Kaya Mamanya Aero."


Jordi pun mengakuinya. Sekilas perawakan Rea memang seperti almarhumam Nyonya Danunjaya. Namun tetap mereka berbeda dalam berbagai segi. Rea cenderung cuek, terus terang dan mau diajak berdebat. Sementara Nyonya Danunjaya begitu perhatian dan kurang suka berdebat. Dia benar-benar tipikel wanita penurut.


"Mas Aero tertarik, tapi dia menolak untuk percaya."


"Kalau dia sudah bawa perempuan itu ke sasana, artinya dia sudah cukup percaya."


Tak lama seseorang yang sedang dibicarakan muncul dari balik pintu. Tanpa mengetuk pintu perpustakaan rumah lebih dulu. Ia seperti tahu dimana keberadaan Ayahnya.


"Kalian ngomongin aku lagi?" Tanpa perlu malu-malu dia bertanya. Menunjukkan eksistensi dirinya, menunjukkan kecombongan dan keangkuhannya.


"Siapa lagi?" Jawab Pak tua dengan lugas. Memang topik teratas dari pertemuannya dengan Jordi adalah tentang dirinya.


"Ngga ada bosannya?"


Aero berujar sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa. Tubuhnya masih berbalut setelan jas warna hitam.


"Justru makin lama makin menarik. Cerita drama aja kalah sama kisah hidup kamu."


"Mau ngajak kemana besok? Tumben." Diam-diam dalam hati Danunjaya bersorak. Meski raut wajahnya disetel untuk selalu datar seperti acuh dan tidak berminat. Sangat jarang Aero memberinya pertanyaan macam tadi. Apa mungkin akan diajak nonton pertandingan dirinya? Jika iya, makan dengan cepat Danunjaya akan mengatakan ok. Jarang-jarang anaknya meminta dukungan seperti ini, biasanya Danunjaya harus datang ke venue dalam diam.


"Aku mau ngelamar anak gadis. Jam 7 malam kita berangkat. Jordi, Ardi, Deni, Mbok Darmi sama Mba Yanti diajak. Seragamnya udah aku beli tuh di ruang tengah. Kalau terlambat aku tinggal!"


Tanpa menunggu jawaban, Aero segera berdiri dan pergi dari ruangan. Meninggalkan Jordi dan Danunjaya yang tengah berpikir keras. Mereka sedang mencerna baik-baik kalimat cepat yang baru saja Aero katakan.


"Di!"


"Ya Pak?!"


"Coba cek suhu badannya Aero. Barang kali panas. Dia suka ngomong ngelantur kalo lagi sakit."


Dengan entengnya Bos besar mengatakan demikian. Ia mendorong kursi rodanya sendiri menuju rak buku yang tak terlalu tinggi. Tangannya langsung terangkat guna mencari judul yang dicari. Dengan jari telunjukkan ia baca setiap punggung buku yang berjejer di rak kedua dari atas. Usai menemukan, dengan mudah ia ambil lalu membukanya. Pria itu membaca dengan tenang.

__ADS_1


"Saya pamit Pak." Ijin Jordi usai tidak tahu apa yang harus dia lakukan di ruangan itu. Ia ingin sekali melihat apa yang terjadi di ruang tengah. Sebab lewat cela pintu yang Aero buka tadi, ia sempat menangkap beberapa orang tengah berdiri disana.


...***...


Jordi cukup tercengang dengan apa yang ada di ruang tengah. Beberapa bingkisan atau yang lebih tepatnya parcel atau apalah itu bertebaran di meja, sofa-sofa hingga karpet. Yang ada di sana kini tinggal Mba Yanti-asisten yang tugasnya membersihkan ruangan di rumah ini- tengah mengeluarkan barang dari dalam paper bag.


"Apa itu Mba?"


"Eh Mas Jordi. Ini seragam, katanya buat acara besok." Tunjuk perempuan berumur 40 tahunan itu padanya. Kemeja yang terbuat dari kain batik berwarna dasar hitam.


"Itu barang-barang buat apa?!" Jordi maju lebih dekat melihat barang yang mencolok di atas meja. Di dalamnya ada tas? Kenapa perlu dibungkus seperti itu? Apa tidak berlebihan?


"Itu seserahan namanya Mas. Buat lamaran Mas Aero. Ya allah, Mba Yanti di ajak juga masa. Ngga pernah mimpi dibawa acara penting keluarga ini." Tak bisa ditutup-tutupi Mba Yanti memang terlihat sangat sumringah sekarang.


"Ini ditaruh dimana lagi Mba?!" Kali ini supir keluarga Danunjaya masuk membawa lagi bungkusan itu, disusul di belakangnya Mbok Darmi pun ikut membawa. Mendadak Jordi panas dingin. Apa yang dilihatnya sukses membuat merinding. Sebanyak ini? Apa masih ada lagi di luar sana? Jordi sempat melongok mencari tahu.


"Di bawah aja ngga apa-apa Pak. Nanti saya yang rapikan." Perintah Mba Yanti, di tangannya juga sudah siap baju yang hendak dia berikan ke Pak No. "Ini besok dipake ya Pak. Seragam kita hehehe."


"Saya juga?" Wajah pria itu tak kalah bahagianya sambil meneliti baju batik yang sudah ada di tangannya. "Ukurannya M. Wah bener!"


Jika Mbok Darmi, Mba Yanti dan Pak No masih heboh dengan seragam batiknya. Jordi justru bingung harus bersikap seperti apa. Lidahnya terasa kelu dan otaknya terasa mampet. Satu-satunya yang dia tahu adalah, dia perlu memanggil Pak Danun kesini. Tidak hanya Aero yang sakit, mungkin beberapa orang disini juga sakit.


Namun, belum sampai ia melangkah lebar menyusul tuannya, langkahnya sudah terhenti. Pria berkursi roda itu sudah ada di belakang Mba Yanti. Tengah memandangi keramaian yang terjadi dengan kening berkerut.


"Bapak!" Seru Jordi sambil berjalan cepat ke arah Bos Besar.


"Anak itu dimana?" Tanya Tuan Danun dingin.


"Nanti saya panggilkan."


"Ngga! Aero dimana?! Saya mau susul. Sama mau tanya sesuatu. Sejak kapan si dia sakit? Jangan suka buat saya khawatir. Bertanding aja bisa buat saya mendadak jantungan, apalagi ini!"


Kembali pria itu pun tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Mendadak Aero bertanya kepada dirinya apakah ada kesibukan atau tidak saja sudah bisa dikatakan tidak beres. Mendadak melamar seorang wanita? Ia kira anaknya sedang bergurau. Tapi kalau sudah sampai pada seragam dan seserahan yang bertebaran di ruang tengah rumahnya. Ia butuh penjelasan panjang dari mulut anaknya. Akan dia paksa Aero untuk bicara, bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Jangan lupa beri like, vote dan comment yaa gaes. Biar bisa up setiap hari.


__ADS_2