Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 90


__ADS_3

Sudah tiga hari pasangan tak romantis ini kembali menginjakkan kakinya di Jakarta, tepatnya daerah Kelapa Gading. Lebih dari tujuh hari mereka berkeliling Spanyol, ya khusus negara matador. Entah apa penyebabnya, Rea pun tak sempat bertanya. Dia sudah senang karena bisa menghabiskan detik demi detiknya bersama lelaki tanpa kepekaan. Mulai dari Malaga di selatan Spanyol-tempat paling bersejarah dalam adu banteng. Tak lupa ke kota Valencia, kota utama Madrid dan berakhir di Barcelona.


Satu hal yang membuat Aeronya betah ada di negara dengan warna bendera kuning dan orange mungkin adalah, karena Aero menguasai bahasanya. Ya, dia tak mengalami kesulitan ketika berbicara dengan penduduk asli. Pertandingan tinju di negara Amerika Latin membuatnya harus belajar bahasa Spanyol, katanya baru-baru ini. Belum lagi Bordes, lelaki pemilik darah semi Spanyol yang ikut andil dalam honey moon ini. Dia lelaki yang pertama kali mengajarkan Aero apa itu mi amor.


Kebersamaan yang singkat itu sedikit disesali Rea, pasalnya Aero sudah kembali sibuk. Pria itu sudah kembali dingin dan tak tersentuh. Lihatlah sekarang, ia sedang mengelap motor hitam kesayangannya dengan begitu lemah lembut. Rea terus mengamati dalam diam, sampai akhirnya sebuah mobil datang dan dua orang tak dikenal membuka pintu penutup mobil bagian belakang. Baru Rea bersuara, karena ada yang aneh.


"Motornya mau dibawa ke mana Mas? Ke bengkel?" Tanya Rea penasaran. Dia ikut berjalan mendekati mobil bak terbuka yang baru datang juga karena motor besar itu di dorong si empunya keluar garasi.


"Ngga."


"Trus? Kok di angkut?"


"Dibawa ke Bandung."


"Mas mau touring disana?"


"Ngga juga."


"Trus apa? Yang jelas dong." Rea kekeh butuh jawaban.


"Mau dihibahin ke teman. Kasihan ngga punya motor buat dagang cilok."


Kening Rea mengernyit, tak serta merta dia percaya. Itu motor kesayangan Aero, pabrikan Italia yang tak banyak orang di negeri ini punya. Masa iya begitu mudah dihibahkan ke akang-akang cilok?


"Dikasihkan sukarela?" Kembali Nyonya rumah memastikan. Kekepoannya itu makin membesar. Dua orang yang membawa mobil bak terbuka segera menyiapkan tali, juga dudukan ban motor. Aero anteng, diam tak menyahuti, dia juga tak tinggal diam. Aero membantu menaikkan motor ke bak terbuka lalu mengikat rangka motor pada tepian mobil, agar selama dibawa tidak jatuh, ya mungkin fungsinya seperti itu.


"Jangan Mas, kan sayang. Nanti ngga bisa jalan-jalan naik motor lagi." Tambah wanita ini sambil memelas memegangi tepi bak mobil. Mengamati baik-baik wajah lelakinya yang begitu serius.


Lama tak ada jawaban, Rea didiamkan oleh banyak orang, layaknya orang asing. Ia macam hantu yang datang dan mengamati kegiatan manusia.


"Bisa beli yang baru." Celetuk Aero dengan mudahnya. Pria itu turun dari atas mobil usai memastikan semua ikatan kuat. Segera penutup terakhir untuk motor dipasang, kunci tepian mobil bagian belakang dikaitkan.


"Siap angkut!" Teriak Aero sambil menepuk body mobil keras sebanyak dua kali.


Rea melirik sekilas pada Jordi yang tengah diam tak berkutik. Posisi Jordi tak jauh darinya, namun lebih dekat dengan Aero. Sejak kejadian Rea pulang dengan taksi online dan kerampokan itu, Jordi memang menjaga jarak. Sudah pasti karena Aero memarahinya habis-habisan. Jordi juga mungkin kesal pada Rea karena tak memudahkan tugasnya. Berani-beraninya istri bosnya itu tak mengabarinya ketika akan pulang.


"Kamu tahu buat siapa?" Rea mendekati asisten suaminya itu untuk mendapatkan informasi.


Jordi hanya memberikan gelengan kepala, Rea tahu, dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari lelaki yang kecewa ini.


"Motornya dibawa kemana si Mas?"


"Kan tadi udah dijawab. Di-ba-wa ke Ban-dung."


"Buat siapa?"


"Ada lah. Kamu ngga perlu tahu."


Meski tak mendapatkan jawaban pasti, Rea tetap mengikuti suaminya, sebisa mungkin mengimbangi langkahnya yang lebar memasuki rumah. Beberapa detik lalu, mobil sudah pergi membawa serta motor Ducati warna hitam. Aero menatapnya dalam kesedihan, meski dibalut ketenangan.


"Di?!" Teriak Aero dari dalam rumah. Ia tahu Jordi pasti masih berada di sekelilingnya.


"Ya Mas?!" Dengan setengah berlari, pria muda itu datang, mendekat ke arah Aero yang berdiri di tangga ke lima.


"Pastiin motornya sampai."


"Oke!"


Jordipun pergi secepat itu. Meninggalkan Rea dengan sejuta pertanyaan di otaknya.


Hingga malam tiba, tak satupun pertanyaannya terjawab. Rea yang sejak tadi setia mengikuti aktifitas Aero, hanya mendapatkan usiran dan usiran.


"Daripada kamu lalu lalang ngga jelas. Mending bantu simpen uang ini di brangkas. Kodenya 017566." Ulas Aero yang sudah tak tahan melihat Rea mondar-mandir mengganggu.


"Kenapa ngga di bank coba?"


"Mba Rea? Bank mana yang buka jam segini? Kalau ada, yuk kita kesana!."


Rea hanya tersenyum tanpa dosa. Dia ingat, ini sudah larut malam."Apa aja isi brangkasnya nih? Aku takut kalau ada yang membahayakan."


"Pistol Glock 43, kaliber 9 mm."


"Mas??" Rea yang sudah berjongkok di depan lemari brangkas mundur. Matanya melotot horor dan bersuara dengan nada benar-benar waspada.


"Aku taruh dokumen, sertifikat sama uang. Barang-barang penting! Bukan barang-barang ilegal!"


"Bener ya?!" Tantang Rea macam anak kecil, dia tadi sudah terlanjut percaya. Bagaimana tidak, wajah Aero begitu meyakinkan saat mengatakan hal tersebut. Alis tebalnya pun bekerja sama untuk membuatnya yakin.

__ADS_1


"Iya."


Menit berlalu, Aero kira istrinya tak akan tertarik sebegitunya melihat isi brangkas. Ternyata sama saja, wanita dan harta itu satu paket kesatuan. Lebih dari lima menit Rea tak beranjak dari posisinya. Harusnya ia cuma butuh beberapa detik untuk membuka dan menaruh uang dalam amplop, setelah itu sudah, tutup. Tapi ini apa? Dia malah...


"Mas? Ini punya aku kan?" Sela wanita itu dengan cara yang luas biasa aneh. Rea menunjukkan sesuatu di telapak tangannya.


"Apa?!"


"Ini! Yang waktu itu Mas pinjam." Rea semakin mengikis jarak, perempuan cantik itu berdiri tepat di hadapan Aero dan menunjukkan benda berbahan emas yang biasanya tersemat di jari.


"Ooh, iya.Ini padahal barang ngga penting, kenapa ada disana?!" Tanpa dosa, mulut tajam Aero kembali menunjukkan diri.


Lenyap sudah senyuman bahagia di wajah Rea saat itu juga. Tatapannya berubah menajam, direbutnya lagi cincin jadul yang sedang Aero pegang. Tanpa kata wanita cantik itu balik badan kemudian berjalan ke arah meja rias hendak menaruhnya di kotak perhiasan. Rea diam karena dia kesal sekaligus gembira, cincin yang tak seberapa milik orang tuanya itu kembali padanya.


Sementara Aero, pria yang hanya memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek memandangi Rea dari tempatnya berdiri. Dia tak berusaha mendekat untuk memeluk atau menenangkan, karena dia merasa apa yang dia sampaikan adalah sebuah kebenaran. Dia jujur.


"Sekarang memang ngga penting. Tapi dulu, aku sampai harus dibantu banyak orang buat cari cincin itu sebelum ke rumah kamu. Ternyata aku taruh di brangkas ya? Heheh." Jelas pria tidak peka itu garing. Suasana berubah canggung, terlebih ketika Rea mendadak diam. Aero tahu dia salah, maka perlahan dia berusaha membujuk istrinya yang moody itu.


"Barang itu memang ngga berharga buat aku. Tapi pemiliknya, penting buat aku."


Belum sampai dua detik Aero mengatakan itu, ada sesuatu yang bertranformasi. Wajah Rea merona perlahan. Hilang sudah wajah kecut yang sedari tadi tergambar.


"Dasar murahan, gitu aja melambung." Celetuk Aero tanpa perasaan. Dan itu sukses besar menjatuhkan kebahagiaan Rea yang baru tercipta.


Tapi bukan Rea jika ia tidak bisa membalikkan keadaan.


"Dasar laki-laki payah, merayunya cuma bisa gitu doang. Pantes ngga ada yang mau! Aku juga ngapain mau nerima lamaran kamu! Bego!" Rutuknya pada diri sendiri.


"Kenapa perlu susah-susah merayu, kalau aku tarik begini aja kamu mau."


"Sekali-kali uji dulu ke sebelum ngapain-ngapain di tempat tidur. Istrinya diperlakukan manis, biar melayaninya juga sepenuh jiwa raga."


"Jadi selama ini setengah jiwa raga?"


Rea hanya menghela nafas pasrah. Tak berniat membalas sebab dia sendiri tahu, pesona suaminya luar biasa hebat. Baru disentuh saja Rea sudah tak berkutik. "Jadi ngga?! Sebelum aku tidur nih!"


"Apa perlu ditanya lagi. Sini! Pengin dicium-cium dulu ngga?"


"Ckck. Kapan romantisnya?" Desak wanita cantik dengan rambut tergerai itu kesal. Dia wanita normal, yang ingin diperlakukan istimewa oleh pasangannya. Tak masalah dia yang harus lebih dulu meminta, sebab menunggu Aero melakukan, seperti menunggu hujan di gurun.


Aero diam, ia menghela nafas panjang sambil menatap Rea dengan cara yang tak pernah dia perlihatkan sebelumnya. Ketajaman matanya seketika membuat suasana menjadi panas. Ada sesuatu yang mendadak berubah. Apakah itu akibat ucapaannya beberapa detik sebelumnya? Karena ia yakin sekali, pria dengan dada telanjang itu berjalan dengan cara yang begitu mengerikan. Wanita ini seketika merinding, hanya karena telapak tangan Aero yang dingin bersentuhan dengan tengkuknya.


"Jangan minta berhenti ya malam ini." Bisik Aero dalam tepat di dekat telinga Rea. Hanya dengan suara macam itu saja wanita cantik ini meleleh, seluruh tubuhnya mendamba dan miliknya basah seketika.


...***...


"Aa bangun!"


"Kenapa sayang? Dayana udah tidur? Mau sekarang kita mainnya?" Jawab pria kekar itu dengan mata masih tertutup. Tubuhnya telungkup di salah satu kamar perempuan anaknya.


"Iih. Lagi mimpi pasti nih."


Gadis kembali mengguncang tubuh suaminya yang besar untuk bangun dengan lebih keras.


"Aa! Ada orang datang nganter motor."


"Ya Allah, ngga usah sambil mendesah begitu panggilnya." Kali ini si pria menjerit seperti perempuan.


"Hmm. Perlu pake cara lain ini si.--Sayang? Mau di ranjang kita yang luas aja, apa mau di sini? Tapi tempat tidurnya Ndut ngga senyaman punya-"


"Kamar kita aja yuk!" Berdirilah lelaki besar itu dari posisi berbaringnya. Matanya langsung terbuka, dan tangannya mengapit lengan Gadis menuju pintu.


Gadis seketika tertawa. Sambil diapit keluar kamar Dayana, tangannya sempat mengambil kaos yang tersampir di gantungan baju.


"Bentar. Ada tamu. Aa pake kaosnya dulu, temuin tamunya. Trus nanti baru ke kamar. Ya? Paham?" Gadis memakaikan kaos putih di tubuh suaminya, menasehati si lelaki seperti anak kecil kemudian merapikan rambut yang berantakan, dan terakhirnya menariknya ke arah tangga.


Pertemuan singkat di malam hari berakhir. Dua orang pria dengan tubuh kekar yang mengirimnya sendiri ke kediaman Bordes. Ia masih berdiri di dalam garasi rumahnya sambil memandangi motor yang baru saja di taruh di sebelah mobil. Ia mengamati dalam diam dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Aa beli motor baru? Katanya lagi nabung? Eh malah ini tahu-tahu di anterin motor bagus." Cerocos Gadis di sebelahnya tanpa henti.


"Katanya ngga boleh buang-buang uang A'? Kebutuhan anak-anak makin banyak, belum nanti buat sekolah iya kan?"


"Ckck! Kamu cantik-cantik brisik deh! Mending kamu siap-siap di kamar."


Gadis yang memang sensitif tertunduk lesu, ia masuk ke dalam rumah tanpa suara, meninggalkan Bordes yang termenung. Dia sedang mengingat-ingat. Siapa,apa, dimana, mengapa dan kenapa bisa motor ini dihibahkan padanya. Usai sesuatu terlintas di benaknya, Bordes akhirnya tergelak seperti orang gila.


"Kalau lo ketahuan bucin Ga. Gue akan minta motor lo yang sekarang!"

__ADS_1


"Ngga takut."


...***...


Dua bulan kemudian...


"Mba, ada suaminya nunggu di depan."


Rea mengerjap tidak yakin dengan apa yang baru saja disampaikan asisten rumah tangga Bu Nindhi. Dia sedang berkunjung sekaligus meminta saran pada orang yang dia anggap berpengalaman, tenang dan bijaksana. Hampir apa yang keluar dari mulut Bu Nindhi akan ia lakukan dan percayai. Bukan karena beliau adalah mantan bosnya, tapi lebih pada memang apa yang dia sampaikan mengandung banyak kebenaran. Sesungguhnya, apa yang Bu Nindhi sampaikan hampir sama dengan apa yang Rea temukan di internet, namun entah kenapa Rea lebih yakin jika mendengarmya secara langsung.


Wanita yang merupakan istri kedua Pak Danu itu tersenyum pada Rea usai mendengar pekerjanya menyampaikan jika suami tamunya ini tengah menunggu di teras.


"Bener kan Re? Baru juga jam 4 sore, kalau bukan karena cinta ngga mungkin dia kesini. Kan dia bisa tuh telfon dan minta kamu cepet pulang. Atau kalau dia sibuk, ya minta sopir buat jemput kamu."


"Mungkin memang lagi lewat Kemang aja kali Bu. Saya ngga mau terlalu besar kepala, ngga mau kepedean. Karena suami aku sukanya melambungkan tinggi terus menjatuhkan sedalam-dalamnya."


"Mana ada. Saya ngga lihat tuh dia begitu. Dia sayang, cinta, tapi bukan tipe lelaki yang dengan mudah mengucapkannya. Dia suka menunjukkan dengan hal-hal kecil yang bahkan ngga kamu sadari."


"Aku berharap omongan Ibu bener semua. Jujur aja, dua tahun menikah sama Mas Aero, saya masih belum bisa mengerti dia seratus persen."


"Itulah seninya rumah tangga. Sedekat dan selama apapun kamu mengenal pasangan, bukannya kamu akan tahu dia luar dalam, kamu justru akan melihat hal-hal baru yang muncul. Yang kamu pikir dia itu seperti ini, ternyata bukan. Sifat dan perilaku mereka berubah-ubah, dan tugas kita sebagai pasangan adalah menjaga kesetiaan mereka."


"Iya."


"Ya udah sanah pulang."


"Titip salam buat si ganteng ya Bu."


Akhirnya Rea bangkit, obrolan yang mereka lakukan di halaman belakang membuatnya harus berjalan sekitar dua menit untuk menuju teras rumah.


"Lama banget! Ngapain aja?"


Nah kan? Seperti yang Rea pikirkan, Aeronya tidaklah se- sweet itu untuk menjemputnya. Mereka sudah ada di dalam mobil, baru saja keluar dari pelataran rumah besar Bu Nindhi.


"Ngobrol sama Bu Nindhi."


"Ibu hamil ngga boleh banyak ghibah. Nanti nurun ke anaknya."


"Maass!! Masa doanya begitu?"


"Ya apa yang dilakuin Ibunya bakal nurun ke anaknya."


"Apa mungkin dulu almarhumah Mamah waktu hamil suka marah-marah ya? Nih nurun ke anaknya." Balas Rea sarkas.


"Mulutnyaa ..."


"Hehe maaf." Rea terkekeh pelan usai mendapati Aero meliriknya begitu tajam."Kenapa liatin begitu? Aku tambah gemukan ya? Iya nih, pipinya penuh banget. Sampai Bu Nindhi bilang aku-"


"Tambah cantik!"


Mulut Rea terbuka dan tertutup tanpa bisa mengeluarkan suara. Baru dipuji sesedikit itu, dia langsung tak bergerak. Pipinya merona merah dan bibirnya perlahan terkulum. Sesuatu yang tiba-tiba keluar dari mulut Aero memang selalu mengejutkan.


"Masih berani pake celana jeans?!!"Teriak Aero di tiba-tiba.


"Iya lupaaa, maaf."


"Pulang nanti, aku bakar habis celana-celananya!"


"Astaghfirullah." Sebut wanita cantik itu tidak suka. "Jangan kaget ya sayang, Papa kamu memang suka begitu, sedikit sadis. Biarin aja celana Mamah dibakar, yang bakalan ganti rugi juga nanti yang bakar. Ya kan?" Seru Rea sambil mengelus perutnya yang membuncit, tak lupa matanya juga melirik sedikit ke arah si penyumbang ****** berada. Sengaja suaranya keras, agar seseorang yang tengah mengemudikan mobil juga mendengar.


"Puedes callarte mi amor?!" Perintah Aero tegas saat dia sudah mulai pusing dengan ibu hamil ini.


"Si. Te amo mi amor." Balas Rea tak kalah tegas, sampai berhasil membuat Aero yang menahan emosi, mendadak tertawa terbahak.


Saat mobil berhenti, tangan kirinya meraih kepala Rea, diciumnya cepat pelipis dan bibir, tanda jika ia gemas. "Ngga nyangka, sejak isi kamu terlihat makin sexy. Harusnya dari dulu aja ya aku hamilin kamu!"


...-Tamat-...


Akhirnya cerita ini selesai. Bagi aku pribadi, menyelesaikan Aero dan Rea ini rada-rada susah. Penginnya kaya yang lain sampe ratusan episod. Tapi apa dikata, ngga kuaat hehehe


Makasih gaes untuk suportnya, yang rajin kasih hadiah, vote maupun tip, apalagi yang rajin like dan comment. It means a lot hahaha


Berhubung cerita ini ngga sudah di kontrak, jadi ngga akan aku hapus. Silahkan kalau ada waktu, bisa di baca lagi. Barangkali dari Part 1-90 ada hal yang di kangenin dari Braga Assavero Danunjaya atau Regina Athalia.


Sampai ketemu dicerita aku selanjutnya....


Tetap jaga kesehatan, keimanan dan jaga perasaan ya gaes hehehe

__ADS_1


Love you full


18072021


__ADS_2