
Langkah pria lulusan luar negeri jurusan psikologi ini sedikit ragu. Sore itu, usai sedikit bersitegang dengan Papanya terkait teman tidur, maksudnya datang ke rumah Rea adalah untuk bertamu. Setidaknya ada hiburan yang bisa dia dapat saat melihat wajah cantik itu lagi.
Jahat banget lo! Udah nelantarin perasaan orang, justru lo datang lagi buat dapat hiburan. Emang wanita itu mainan?
Tapi mengingat bagaimana dia bersikap dulu, dan tiba-tiba muncul kembali, bukankah itu akan sangat memalukan? Seketika Aero juga mengingat masa pendidikannya di Singapura. Apa yang bisa dia banggakan dari gelarnya itu? Jika untuk memahami seorang perempuan yang sudah jelas apa maunya saja tidak bisa. Gelar yang tersemat di belakang namanya seperti mubazir.
Tak ingin langsung pulang, Aero mengendarai mobilnya menuju tempat dia biasa berlatih. Selama ini, bukannya dia menghilang tanpa kabar. Dia hanya fokus untuk pertandingan yang sudah dia impikan di luar negeri. Aero berpikir, Rea bukanlah orang yang akan terlalu rumit seperti kebanyakan wanita saat dekat dengannya. Tidak menagih sesuatu yang memang belum bisa Aero berikan, tentang waktu dan kepastian. Braga Assavero masihlah orang yang belum bisa memberikan seratus persen hidupnya di tangan wanita. Dia masih belum bisa. Sebab dia sadar diri, ia bukanlah tipe lelaki yang penuh perhatian, penyayang, pelindung dan peduli. Memang ada saatnya dia bisa bersikap seperti itu, namun sebagian banyak waktu yang lain akan benar-benar dia pakai untuk dirinya sendiri.
"Lo di Jakarta bro?" Sambar Aero begitu nada sambungan telefon berhenti dan terdengar suara lelaki yang akan berucap hello.
"Mau ngapain lo?" Tanya lelaki di seberang sana dengan nada bicara yang begitu tak bersahabat. Seolah Aero adalah orang yang sering berhutang dan tidak pernah membayar.
"Ngobrol."
"Ckck. Ngapain harus ngobrol sama gue? Gue bukan tempat curhat!"
"Sombong banget!" Balas lelaki ini cuek tanpa melepaskan fokus kemudi. Ia tak peduli pria yang dia telefon sedang sibuk atau tidak. Yang jelas dia ingin bertemu.
"Jangan lama-lama! Gue tunggu sekarang!"
"Ok sayang!"
Membelokkan stir mobilnya ke kiri, Aero menginjak gas dalam untuk segera sampai di cafe milik temannya-Bordes Alexander-kebetulan tidak terlalu jauh dari posisinya sekarang berada. Sore menjelang malam ini akan dia habiskan untuk duduk diam di salah satu meja. Bukan makan atau minum, dia mungkin hanya akan diam menikmati musik yang dimainkan band lokal. Menelfon lelaki yang sudah berumah tangga tidak ada salahnya. Mereka tidak terlalu akrab sebenarnya, bertemu pun hanya beberapa kali dalam kurun waktu setahun, sedangkan berkirim pesan tidak pernah sama sekali. Jadi, ya bisa dibilang Aero datang jika butuh saja.
...***...
Usia menunaikan kewajiban di atas sajadah, Rea segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Ada ide yang muncul saat tadi berdoa. Apa kalian sering mengalami hal tersebut? Ide cemerlang muncul saat dia mendekatkan pada Sang Pencipta, itu hal yang jarang terjadi. Biasanya ide-ide justru muncul saat ada di kamar mandi, dimana itu adalah tempat yang justru berkumpulnya para setan dan kawanannya. Jadi mungkin ide yang muncul di kamar mandi adalah hasil dari bisikan setan.
Aero akan minta temannya yang bekerja di dealer mobil untuk membantunya. Ia ingin membuktikan omongannya tadi, ada satu dari ratusan juta masyarakat Indonesia yang akan membeli mobilnya.
Tok tok tok
"Makan Mba." Panggil Bibi Yul dari luar kamar.
"Ya Bi, sebentar."
__ADS_1
Ada beberapa kalimat yang Rea ketik, sebelum akhirnya ia mengirimkan pesan tersebut pada seseorang. Sambil menunggu pesan dibalas, ia akan turun ke bawah makan malam dan menceritakan ini semua pada pengasuhnya.
Beruntung tidak ada yang berkomentar tentang ini, diusia hampir 26 tahun, Regina Athalia masih memiliki pengasuh yang mengingatkannya untuk ini dan itu. Mungkin dia kelihatan mandiri, tapi saat di rumah, dia menjelma kembali jadi anak remaja yang memiliki baby sitter.
"Bi, ngga dilanjutin lagi jual tanamannya?"
"Masih lanjut. Mba Rea aja yang ngga tahu karena kemarin di Rumah Sakit. Tetap banyak pesenan anggrek ke luar kota. Selama nunggu Mba Rea, yang ngurus Mba Ririn."
"Siapa Ririn?" Tanya Rea saat dia duduk di kursi makan, siap untuk mengambil nasi liwet di wadah tupperware.
"Tetangga sebelah, dia bantu packing dan antar ke jne."
"Ooh." Tanpa pikir panjang Rea mengangguk, ia sudah begitu siap untuk melahap menu makan malam. Sampai sebuah pertanyaan terlontar, membuatnya diam karena bingung.
"Ngapain itu si gondrong?"
"Ha?"
"Mas Aero kan gondrong sekarang."
***
Sementara di tempat lain, Aero sedang duduk tepat di hadapan Bordes. Di mejanya belum terhidang apa-apa.
"Ngga kau pesen apa-apa?" Bordes yang baru bergabung usai mandi di ruangan lantai tiga cafe miliknya, segera menawarkan.
"Nanti!"
"Mba!" Panggil pria itu pada salah satu karyawannya dengan mengangkat tangan kanan tinggi. Tak berapa lama waiters yang menggunakan seragam warna merah dan hitam datang menghampiri, siap untuk mendengarkan Bos Besar. "Segelas air putih buat petinju kita." Katanya dengan mimik wajah datar. Dan sebelum karyawatinya kembali mengucapkan, 'ada lagi?', Bordes sudah lebih dulu menambahkan. "Udah. Itu aja!"
"Gimana kemarin? Sukses?" Tanya Bordes basa-basi. Ia hanya ingin mencairkan suasana. Sebab temannya ini masuk mengunci mulut rapat.
"Sukses. Lo ngga liat rambut gue ini?"
"Ckck. Emang harus begitu? Nga sumpek lo waktu di ring?"
__ADS_1
"Kan diiket!"
"Emang boleh petinju gondrong?"
"Shannon Briggs."
"Gue ngga kenal.--Ngapain lo kesini?"
"Gue kangen!"
"Cih. Setelah dulu lo dateng karena masalah Mamah lo, sekarang apa lagi?" Seorang Bordes sedikit banyak tahu Braga-panggilannya hingga sekarang. "Masalah cewe? Lo udah mulai pacaran? Apa udah mau tunangan? Atau nikah?"
Aero nampak menghembuskan nafas kasar. Ia sedang bingung sebenarnya. Tapi terlalu gengsi untuk menceritakan langsung pada si pria besar. Fisik mereka hampir sama, hanya Bordes lebih berisi di otot lengan kanan dan kiri.
"Ada cewe yang ngejar-ngejar lo?"
Aeeo menggeleng.
"Apa lo suka sama cewe, tapi cewenya ngga suka sama lo?"
Kembali Aero menggeleng.
"Ngga direstui?"
"Bukan! Gue bingung aja sama hubungan laki-laki dan perempuan."
"Waw. Siapa?" Bordes nampak antusias, ia sampai menegakkan bahunya dari sandaran kursi karena ingin tahu cerita lebih lanjut dari lelaki yang minim interaksi dengan perempuan ini.
"Gue ngga mau udah nikah, tapi ujung-ujungnya gue anggap dia kaya cewe biasa."
Sebentar, mendadak Braga mengatakan hal demikian. Pikiran Bordes langsung berlarian mencari kemungkinan-kemungkinan masalah yang sedang dihadapi temannya. Lelaki di depannya ini memang suka seperti itu. Mengatakan apa yang ada di otaknya saja. Tanpa berniat menjelaskan dari awal hingga akhir konflik yang di hadapi. Namun, lama hanya mengira-ngira Bordes akhirnya menyerah. "Maksud lo apa si? Ribet banget apa yang ada di otak lo kayaknya."
"Lo tahu kan gue itu masih sedikit ilfeel sama perempuan yang selalu kasih perhatian dan natap gue penuh harap?"
"Ngga. Gue ngga tau." Serobot Bordes cepat.
__ADS_1
Tapi bohong. Bordes jelas-jelas tahu.