Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 33


__ADS_3

Rea dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Saat itu ia baru saja mengganti pembalut dan celananya yang sudah kotor terkena noda darah. Hanya setelah pintu kamar mandi dibuka, tubuhnya yang begitu tak bertenaga langsung ambrug. Ia sadar, tamu bulanannya kali ini begitu menyiksa. Tak hanya nyeri di perut, pinggang belakang dan dada, kepalanya ikut-ikutan berontak.


Sejak tadi siang memang belum ada makanan yang masuk ke perutnya, hanya segelas jus alpukat yang dia minum saat menemani Bu Nindi di cafe. Pantas dia pingsan, karena darahnya berkurang sementara tak ada donor nutrisi yang masuk.


Beruntung pakaian yang dikenakan Rea sudah sangat aman, wanita itu mengenakan setelan baju tidur lengan panjang, berhasil menutup kulit putih bersinarnya. Dan tak perlu was-was Aero membawa wanita itu dengan sigap ke IGD.


"Kenapa Pak?" Tanya seorang perawat yang membukakan sekat pembatas antar ruang di IGD. Segera Aero baringkan tumbuh yang mulai berkeringat dingin itu di atas tempat tidur.


"Sedang haid hari pertama."


"Sudah sering seperti ini?"


Sebelum menjawab, Aero mengingat apa yang sempat Rea ucapkan tadi. Dan tanpa keraguan dia memberikan informasi yang dia tahu. "Ngga. Biasanya baik-baik aja."


"Ini istri bapak?"


"Bukan."


"Pacar?"


Ada rasa tak suka begitu perawat berpakaian warna putih ini menanyakan hal itu. Untuk apa? Apakah itu berhubungan dengan prosedur penanganan pasien? Tidak kan?


"Apa status kami sangat penting?" Balasnya dengan ketus. Lelaki tinggi yang masih tampan itu tak ingin masalah pribadinya dibicarakan dengan sembarang orang.


Sayangnya, yang Aero kira perawat tadi akan menggeleng dan merasa tidak enak karena sudah lancang, justru mengangguk tegas.


"Iya. Mungkin pendarahan yang terjadi bukan karena haid. Bisa saja karena flek, kemudian mengindikasi ke arah keguguran. Maaf saya hanya memastikan, karena Mbanya terlihat sangat pucat." Sambil menjelaskan, sang perawat yang usianya di atas Aero itu menyiapkan infus-dengan dibantu perawat lain. Aero langsung menggeser tempatnya berdiri guna memberikan ruang.


"Saya temannya." Seru Aero singkat, hingga membuat perawat itupun mengangguk.


Salah seorang perawat menunjukkan ke Aero tepat regristasi pasien. Ia tidak membawa data apapun tentang perempuan itu. Namun, dengan lancar dia bahkan menyebutkan apa saja yang petugas tanyakan terkait identitas Rea. Mulai dari nama, usia, alamat, hingga NIK semua Aero jawab tanpa kesulitan.


...***...


Sambil menunggu sadarnya Regina Athalia, Aero tak menunggu di dalam ruang kecil yang hanya dibatasi kain gorden hijau. Ia justru duduk di depan IGD, berbaur bersama orang lain. Tak ada kecanggungan sama sekali saat bersebelahan dengan lelaki paruh baya yang berpakaian compang-camping.


Aero menyibukkan diri dengan ponsel, berusaha mengusir kebosanan. Hingga tiba-tiba pikirannya mulai menguraikan sesuatu. Jika diruntut dengan baik, beberapa waktu lalu Aero sempat melihat perubahan sikap Rea yang murung-mungkin karena Nando. Lalu beberapa hari berselang, ia mendapati Rea pulang seperti dalam keadaan mabuk-yang ternyata hanya haid. Rea sempat mengatakan jika dia sedikit terlambat datang bulan. Saat tamu bulanannya datang, justru dia langsung ambrug, seperti kehabisan darah macam orang...keguguran?


Deg

__ADS_1


Apakah yang dibicarakan oleh perawat itu benar? Rea murung ditinggal Nando karena dia hamil, kemudian frustrasi dan akhirnya berimbas pada..., entahlah. Kenapa pula Aero sampai memikirkan hal tersebut? Bukankah itu bukan urusannya?


"Siapa yang sakit Mas?" Suara seseorang terdengar, membuat Aero menoleh perlahan.


"Teman saya."


"Sakit apa?"


"Pendarahan."


Hanya kata singkat itu yang Aero ucapkan. Membuat lelaki paruh baya itu mengangguk memahami. Entah apa yang ada dipikirannya tapi Aero seperti tersadar jika jawabannya barusan bisa diasumsikan berbeda oleh orang lain.


"Semoga cepat sembuh ya."


"Amin."


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.31, dan Aero rasa ia tak akan bisa menunggu lebih lama lagi. Ia lelah dan ingin beristirahat, lagi pula sepertinya Rea akan terbangun esok hari. Setelah memastikan mantan sandranya itu dipindahkan ke ruang inap kelas 2, Aero pergi. Meninggalkan wanita itu sendirian di ruang rawatnya. Aero memang menaruh rasa kasihan, tapi juga sedikit kecewa. Kekecewaan yang timbul berkat pikirannya sendiri yang menghubung-hubungkan tiap kejadian.


Keesokan harinya...


Rea terbangun, tepat setelah mendengar suara pintu terbuka. Matanya masih begitu berat, namun perlahan dia bisa menyadari keberadaanya. Dini hari dia sempat membuka mata, walau setelah itu kelelahan kembali membawanya tertidur.


"Hmm." Gumam wanita itu dengan kesadaran yang baru 50 persen.


"Saya disuruh Mas Aero untuk menemani Mba disini."


Aero?


Mendengar nama itu, mata Rea langsung sepenuhnya terbuka. Ia melihat sendiri wanita yang dia kira perawat rumah sakit-karena memakai baju putih-putih, berbicara padanya.


"Nama saya Desi. Saya juga perawat-eh masih calon perawat." Jelasnya lagi dengan lugas.


"Aero dimana?"


"Saya tidak tahu, sepertinya ke luar kota. Tadi malam ada suruhan Mas Aero yang meminta bantuan saya."


Rea akhirnya mengangguk perlahan, berusaha mencerna satu demi satu. Ia tersentuh karena lelaki itu mau membawanya ke rumah sakit. Padahal jika mau, Rea bisa saja ditinggalkan di lantai seperti mayat.


Dua hari berselang, Aero belum juga menampakkan dirinya. Tidak juga mengirimkan pesan atau menghubungi. Rea yang selama ada dalam perawatan, tak memegang ponsel merasa kebingungan. Beruntung dia libur 3 hari, karena Bu Nindi sedang pergi ke luar negeri dengan suaminya. Jadi masalah pekerjaan Rea aman. Bagaimana keadaan rumah? Pasti tak ada pencuri yang mau masuk, karena tak ada barang berharga disana. Kecuali ya kalau pencuri membutuhkan barang perabot rumah tangga.

__ADS_1


Desi-sang calon perawat sangat bisa diandalkan. Dia tanpa sungkan membasuh tubuhnya dengan air hangat, memasangkan pembalut, membersihkan tempat tidur yang sempat kotor lagi karena darah haidnya.


"Kamu beneran udah pantes jadi perawat loh Des. Bisa diandalkan. Ngga risih ngurusin aku." Puji Rea setelah dia kembali duduk di ranjang usai ganti baju.


"Harus dong, ini pekerjaan pertama aku Mba. Lumayan buat beli baju, sepatu, tas. Pokoknya sesetel outfit."


Desi menjawab dengan antusias.


"Hmm?" Rea tak mengerti dengan penjelasan wanita muda itu.


"Mas Aero udah bayar jasa aku Mba. Jadi, Mba fokus ke kesehatan aja, jangan mikiran yang lain."


What?


Rea terkejut. Untuk apa pria itu membayar orang untuk dirinya? Apa agar Rea punya sebuah hutang? Jika iya, secepatnya akan ia gantikan uang yang dikeluarkan Aero untuk Desi.


"Mas-Mas Aero kasih kamu berapa?" Ada sedikit kecanggungan saat Rea memanggil nama lelaki itu seperti cara Desi melakukan.


"Hehehe." Desi hanya terkekeh kemudian nyengir lebar.


"Berapa?"


"Mba Rea ngga perlu ngasih kata Masnya."


"Ngga! Mba harus ganti ke Mas Aero biaya kamu. Kita cuma temen."


"Ah masa? Aku ngga percaya."


"Ih kamu dibilangin ngeyel."


Keduanya begitu akrab dalam waktu singkat.


"Jangan kaget loh Mba."


"Berapa juta si?" Tanya Rea gemas.


"Sehari 3 juta."


Apa? Untuk Rea yang tidak terlalu punya banyak uang. Nominal segitu cukup banyak. Apalagi juga untuk Desi yang masih kuliah. Menurut dia, uang segitu besar. Gaji pertama yang sungguh luar biasa, itu katanya setiap hari.

__ADS_1


Jadi, sepertinya hari ini juga Rea harus bisa sembuh dan pulang ke rumah. Ia tidak ingin mempunyai banyak hutang, terutama untuk lelaki seperti Braga Assavero.


__ADS_2