Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 54


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Pak Danun berniat akan melakukan penggalian dalam-dalam pada asisten anaknya. Ia tidak mendapat kesempatan untuk bertanya saat pulang, sebab Jordi terus mendapatkan telefon dari seseorang yang berada di rumah utama.


"Bapak sudah selesai cek up, sekarang dalam perjalanan pulang."


".."


"Pak Aero akan ke kantor lagi. Ada rapat evaluasi dengan tim sekitar jam 11 nanti."


"..."


"Free antara jam 3 sampai jam 5. Setelah makan siang, ada janji temu dengan perwakilan partai. Kenapa?" Jordi yang duduk di samping supir melaksanakan pekerjaannya. Ia harus membagi waktu Aero yang padat. Lelaki bertubuh tinggi itu mau meneruskan pekerjaan Papanya asal dia juga bisa menjalankan bisnisnya sendiri.


"..."


"Oke."


Namun, sepertinya Pak Danun harus menunda. Ia perlu bersabar untuk mendapatkan informasi akurat. Ternyata benar apa yang Jordi katakan. Ada tamu yang sudah menunggu di rumah. Tidak bisa dikatakan orang penting, tapi pasti mendatangkan pundi-pundi uang. Perlu waktu 1 jam untuk menjamu teman lama. Dan setelah dipastikan pergi, Pak Danun meminta Jordi masuk ke ruang kerjanya.


"Aero belum telfon kamu kan?" Baru saja Jordi membuka pintu, pertanyaan dari Bos Besar sudah menyambutnya. Tidak bisakah dia duduk lebih dulu?


"Belum Pak." Jawab Jordi sambil melangkahkan kakinya mendekat.


"Duduk disini." Perintah Pak Danun yang menunjuk sofa besar tepat di sebelah kirinya. "Kita ngobrol sebentar."


Jantung Jordi berdetak makin tak menentu. Walau wajahnya terlihat tenang, nyatanya telapak tangannya mulai berkeringat. Selama menunggu Pak Danun menjamu tamunya, Jordi sebenarnya sudah mempersiapkan bagian mana yang perlu dia utarakan dan bagian mana yang perlu dia sembunyikan.


"Kamu bekerja sudah berapa lama ya?"


Kenapa pertanyaan tadi malah terdengar di kepala Jordi seperti, kamu mau saya pecat? Sofa yang harusnya nyaman diduduki karena berharga mahal terasa seperti kompor panas yang lama kelamaan membakarnya.


"Sudah lama."


"Iya. Dari kamu masih pakai seragam putih abu-abu, badan kurus, rambut awut-awutan sampai sekarang. Betah kan?"


Bibir asisten paling setia Aero ini tersenyum karena diingatkan masa lalunya. Betah bukanlah hal yang tepat untuk ditanyakan. Pekerjaannya bukan hanya berkaitan dengan jadwal seseorang tapi juga tentang konflik, skandal dan keselamatan banyak orang. Itu mengerikan, jujur saja.


Percuma saja menjelaskan jika dirinya sebenarnya mulai merasa takut, sebab keluar dari lingkungan pekerjaan Braga Assavero sama saja memasuki jalan penuh ranjau. Kepalanya mengangguk perlahan sebagai jawaban dia betah dan nyaman. Bohong 100 persen.


"Tadi itu siapa Di?" Nah, inilah pembukaannya.

__ADS_1


"Client Pak." Tanpa menemui kesulitan, Jordi menjawab seperti apa yang Rea lakukan. Kenapa dia bisa tahu arah pembicaraannya kesana? Of course, tidak ada hal lain lagi yang paling ingin Pak Danunjaya ketahui kecuali tentang Aero dan Aero.


"Baru ada client yang kenal sama direkturnya. Jujur. Perempuan tadi siapa?"


"Client-nya Mas Aero. Dulu pernah minta bantuan untuk mengurus kepemilikan warisan Ayahnya." Hufft. Apakah itu jawaban yang bagus? Jordi akan mulai mengarang cerita.


"Saya bukan orang bodoh yang tidak tahu alur pekerjaannya. Kalau hanya mengurus kepemilikan warisan, tim kecil pasti bisa."


"Kebetulan, waktu itu memang dia bersama-"


"JORDAN DIMAS KURNIAWAN!!"


Deg


"Teman. Temannya Mas Aero." Secepat kilat Jordi memperjelas semuanya setelah dibentak oleh Bos Besar. Lebih tepatnya, reflek. Siapa yang tidak takut jika orang pertama sudah menampakkan tanduk iblisnya?


"Mereka teman? Yakin hanya teman? Yang saya tahu teman Aero kebanyakan laki-laki. Ada perempuan, itupun orang luar negeri." Ulang mulut tua itu dengan suara yang lebih lembut, namun masih menampakkan kengerian.


"Bapak tanya saja ke Mas Aero. Ada bagian yang tidak bisa saya ceritakan."


"Kamu saya pekerjaan memang untuk hal-hal macam ini. Jadi jangan suruh saya tanya sama orang yang ngga akan kasih informasi. Saya kalau bicara dengan anak sendiri ngga pernah dapat apa-apa.--Jadi...?"


Wajah Jordi yang tenang, kini mulai memudar. Matanya perlahan menunjukkan sikap lemah di hadapan Papa Aero. "Boleh tidak saya bekerja hanya untuk satu orang saja Pak?" Katanya memelas. "Bukannya lelah. Tapi saya perlu menjaga privasi seseorang."


"Papa kalau mau tahu perkembangan aku, kenapa ngga langsung ajak aku ngobrol? Ngga perlu bawa-bawa Jordi yang cuma tahu 40 persen kehidupan aku."


Mendengar suara lain yang tiba-tiba ikut bergabung, sontak pandangan mereka teralihkan pada seseorang yang berdiri di ambang pintu ruang kerja Danunjaya. Mata Jordi sedikit berbinar, seperti baru saja melihat malaikat penyelamat.


Tubuh tinggi besar yang hanya berbalut kemeja hitam itu melangkah mendekat. Ikut bergabung dan duduk di sofa.


"Kenapa disini? Jordi bilang ada pertemuan dengan perwakilan partai setelah makan siang?" Iya, Danunjaya mengingat apa yang tadi Jordi bicarakan. Setidaknya, sebagai ayah dia masih memberikan perhatian. Salah, justru harusnya banyak perhatian. Sebab ada banyak waktu yang terbuang. Waktu yang harusnya mereka habiskan bersama untuk berlibur, bercengkrama, berolahraga bersama atau apapun itu.


"Batal."


"Kamu yang membatalkan?"


"Papa pikir aku ngga profesional?" Tanpa rasa ragu, Aero menatap mata Papanya dengan kesal.


"Sejak kapan seorang direktur terlibat langsung dengan client-nya? Ada sesuatu yang terjadi?"

__ADS_1


"Ngga ada. Semua baik-baik aja."


"Oh ya? Mungkin ada sesuatu di antara kalian yang terjadi. Bukan hanya sekedar client. Mungkin teman kencan? Teman tidur? Atau lebih dari itu?"


Melihat mata Aero yang makin menajam sesaat Danunjaya menyebut 'teman tidur', ia yakin ada sesuatu yang terjadi. Terlebih gelagat tidak nyaman yang sempat ia tangkap dari Jordi.


"Teman tidur? Jadi selama ini Papa ngga bener-bener tahu kehidupan aku?" Tanya lelaki itu terdengar terluka, meski kilat matanya menunjukkan permusuhan. "Lalu apa gunanya Jordi? Aku biarin dia bolak-balik kesini tujuannya agar aku ngga perlu ceritain kehidupan aku sama Papa."


"Akhir-akhir ini dia ngga ngasih tahu sesuatu dengan jelas. Dia jaga privasi kamu."


"Ngga perlu. Sekarang ceritain aja semuanya sama Papa Di. Aku ijinin."


Pemuda paling muda di ruangan itu sontak menggeleng. Ia menutup bibirnya rapat saat sudah ada di antara dua orang yang saling berbalas sindiran.


"Dia ngga mau, jangan dipaksa."


"Aku maksa karena ikut-ikut Papa."


Siapapun tolong aku, teriak Jordi dalam hati. Dari sekian banyak orang yang bekerja dengan Tuan Danunjaya, hanya dia seorang yang sering melihat ketegangan seperti ini. Perlukah dia berbangga? Tentu tidak. Dia takut, ikut tersambar amarah.


***


Sabar tidak ada batasnya. Hal itu yang menjadikan Rea masih bertahan meski sendiri. Ia kuat dan kuat, pintanya terus pada Tuhannya agar diberi kekuatan.


"Mba Rea, tadi kok bisa ngomong begitu pas ada Mas Aero?"


Bibir Rea tersenyum tipis. "Aku sebel liat mukanya. Apalagi tadi, yang dia sapa itu Bibi duluan. Ngga melirik aku sama sekali. Juga kayaknya ngga berniat ngajak aku ngobrol Bi. Daripada aku keliatan menyedihkan, mending aku balas aja pake kata-kata sengit. Emang dia doang yang ngga peduli. Rea juga."


"Nah begitu dong."


"Bibi kalau ketemu dia ngga perlu bersikap baik. Pura-pura aja ngga kenal. Rea memang sakit hati, tapi masih bisa berpikir jernih."


"Oke."


"Mobilnya beneran mau Rea jual Bi." Kata Rea sambil termenung melihat mobil yang terparkir di garasi rumah.


"Kenapa?"


"Takut nyetir lagi." Sebisa mungkin Rea menahan rasa sesak di dadanya. Sesungguhnya berat melakukan ini, tapi itu harus. Kenangan itu berharga, tapi keselamatan lebih utama. Masih banyak kenangan tentang orang tuanya di rumah ini, bukan hanya di mobil itu. Dan tentang keselamatan dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika kembali menyetir sendiri.

__ADS_1


Sebuah mobil berhenti tepat di depan halaman rumah Rea. Matanya langsung melebar, dan tanpa berpikir panjang ia langsung berdiri, bersiap untuk mengunci pintu dari dalam. Alih-alih fisiknya segera bergerak, Rea justru bergeming saat suara pria itu terdengar.


"Pagi tadi ada yang mengatakan ingin berbaik hati untuk mengurangi dosa seseorang?"


__ADS_2