
Cukup melegakan, lebih telatnya sangat melegakan. Walaupun Bu Nindi, Rea yakini juga memiliki masalah yang tak kalah rumit. Pada akhirnya, mulut Rea berani menyampaikan keresahannya.Tidak sepenuhnya menceritakan, karena sebenarnya Bu Nindi yang lebih banyak menanyakan ini dan itu. Rea hanya menjawab dan berusaha jujur. Rea membiarkan bosnya tahu apa aib keluarganya.
Dan setelah membeberkan semua fakta, hadiah yang Rea dapat adalah beban di kepalanya terasa terangkat-walau tidak seluruhnya. Namun itu membuatnya senang bukan main.
Terlebih dua kalimat yang Bu Nindi ucapkan di akhir pertemuan waktu itu. " Saya baru tersadar. Saya pikir saya yang punya masalah besar Re ternyata kamu juga." Elusan lembut mampir di bahu Rea kala itu, dan ia pun menjadi teringat sosok orang tua-Papah dan Mamah.
"Pak Danu menghubungi saya lagi Bu." Tunjuk Rea ketika ponselnya bergetar dan menyala. Dua perempuan yang terpaut usia 10 tahun ini tengah berada di salon. Sekedar creambath guna mendinginkan kepala. Keadaan mereka masih dalam proses menunggu waktu cream meresap ke setiap helai rambut, menutrisinya secara perlahan. Handuk warna putih masih terpasang indah di atas kepala mereka dan bahu. Bu Nindi asik menutup mata sambil mendengarkan musik, sementara Rea menunggu jawaban wanita itu.
"Angkat saja."
"Loudspeaker?"
"Tidak perlu."
"Ok." Rea mengangguk mantap. Ia menggeser tombol warna hijau ke atas, kemudian menunggu suara sapaan pertama yang terdengar. Bu Nindi yang ditelefon, entah kenapa malah Rea yang berdebar-debar.
"Iya Pak,saya ada di salon sama Ibu."
"Hari ini Ibu berangkat?"
Setelah kejadian di Pantai Ancol waktu itu, memang akhirnya Bu Nindi jatuh sakit. Ia menginap di rumah sakit selama 3 hari, kelelahan dan stress. Rea sendiri diminta untuk menjaga hampir 24 jam di ruang inap. Tak ada tamu yang datang menjenguk, hanya dia dan Pak Danu saja. Aneh, sebenarnya dimana keluarga Bu Nindi yang lain?Orang tua? Kakak? Adik? Atau keponakan? Bekerja selama hampir 3 tahun ini dengan majikannya,Rea tak kunjung tahu semua orang-orang itu. Bu Nindi terlihat hidup sebatang kara.
"Ibu hanya minta ke salon, tidak ke kantor."
"Kirim foto Ibu sekarang ya?"
"Iya."
"Jagain istri saya."
"Siap Pak."
Tut
Kadang Rea bingung dengan bagaimana kehidupan lelaki yang memiliki dua orang istri. Apakah mereka benar-benar senang memiliki dua orang wanita dalam hidupnya? Apa mereka tidak kesulitan mengontrol keinginan istri satu dan yang lain? Apakah mereka benar-benar sudah memikirkan tindakan ini sebelumnya? Tidakkah mereka berpikir, mereka jelas akan menyakiti satu hati?
Karena pada dasarnya wanita adalah makhluk paling sensitif dan peka.Satu kalimat ambigu dari suami bisa ditanggapi berbeda oleh telinga wanita. Mereka cenderung bertindak sesuai perasaan.
"Bapak bilang apa?"
"Minta foto Ibu."
__ADS_1
Cekrek
"Eh jangan kirim yang itu!"
"Kenapa?" Buru-buru Rea langsung menghapus foto yang diambil dengan camera whatsapp. Ia memandangi bosnya yang duduk tepat di sampingnya dengan bingung. Wanita itu bahkan tidak mau menegakkan kepalanya, atau menoleh sedikitpun. Ia tetap santai menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata.
"Nanti ada yang marah."
Mulut Rea membentuk huruf O. Maksudnya tadi mungkin adalah istri pertama bisa marah. Wanita kedua Pak Danu itu bisa mengira Nindi pamer dengan keunggulan fisiknya. Atau tuduhan yang lebih menyesakkan lagi, Nindi dikira wanita murahan karena terus menerus mengirimkan foto-foto tak biasa.
Rea patuh kepada bosnya yang baik hati. Ia baru berhasil mengirimkan foto kepada Pak Danu satu jam kemudian, setelah Nindi sudah berpakaian rapi lagi. Foto pura-pura sedang membaca majalah dan menunggu giliran, padahal sudah selesai.
"Ibu seperti menghindari Pak Danu." Celetuk Rea begitu mereka sampai di rumah. Di tangan asisten cantik ini sendiri menenteng 3 tas yang berisi baju serta make up. Sebelumnya tadi sempat masuk ke Mall, hanya 30 menit saja. Singkat dan tak banyak berputar-putar.
"Eh Re, ada cowo single mau kenalan sama kamu. Mau ya?"
Mengalihkan pembicaraan. Lagi-lagi seperti itu. Majikannya belum ingin terbuka. Dan Rea merasa tidak berguna sekali menjadi seorang asisten.
"Memang dia mau sama saya yang seperti ini Bu?"
"Memang kamu kenapa?" Bu Nindi berhenti di tengah tangga, dia membalikkan badan melihat Rea dengan cara yang berbeda-seperti menilai.
Rea sempat tidak nyaman melihat reaksi Bu Nindi. Bosnya seperti ingin meledak, namun ternyata senyuman mulai mengembang. "Suka merendah deh kamu." Puji Nindi pada sang asisten. Ia sangat suka Regina Athalia. Tak mudah terpengaruh dengan rekan-rekannya yang mulai merubah tampilan dan gaya. Asisten teman sosialita Bu Nindi banyak yang sudah melengkapi dirinya dengan pakaian branded, bahkan tasnya ada yang sudah menggunakan merk ternama. Walaupun KW atau mungkin barang second yang diberikan majikan mereka.
"Mau ya Re. Biar kamu ngga menyedihkan."
Bukannya Rea tersinggung, wanita itu justru tertawa pelan."Saya tidak se-me-nye-dih-kan yang Ibu kira.Saya bahagia dengan cara saya." Katanya meyakinkan.
"Jangan buat saya khawatir.Saya takutnya kamu diam-diam cari jalan pintas."
"Ya allah, saya belum seputus asa itu Bu." Balasnya lagi dengan diselingi tawa sopan.
"Ya pokoknya besok kita atur jadwal pertemuan. Kamu dandan sedikit."
Rea tak bisa menjawab, dia hanya diam lanjut menaikki tangga rumah besar Bu Nindi.
"Bagi saya, diamnya kamu artinya iya loh Re."
Dan disitu, Rea merasa menyesal karena tak angkat bicara. Andai waktu bisa diulang, dia lebih baik menolak dan beralasan sudah memiliki teman dekat. Ah dasar, Rea terlambat berpikir.
...***...
__ADS_1
Aero duduk di hadapan pria tua yang tengah tersenyum. Terlihat dia bahagia, namun Aero tidak demikian. Pikiran Aero masih melayang pada informasi dari Ardi terkait perkembangan Arka. Lelaki bejat itu ternyata baru saja mengambil pinjaman di bank, dengan jaminan sebuah rumah. Untuk apa lagi?Apakah mau membayar hutang dengan uang hasil hutang juga? Dasar manusia bodoh.
"Kamu ada waktu weekend ini?"
Pertanyaan tadi membangkitkan kesadaran Aero. Ia membuka mata lebih lebar. Menegakkan cara duduknya dan melihat makanan yang pria itu santap-salad buah.
"Kenapa?"
"Ada tanah kosong yang dijual di Bali."
Aero berdecak tak suka. "Sudah tua bukannya banyak beribadah, justru banyak menimbun harta.Manusia yang memiliki semakin banyak harta di dunia, akan dihisab semakin lama." Tuturnya panjang. Sukses besar membuat pria tua yang duduk di kursi roda itu hampir tersedak.
"Kamu berbicara seperti itu, seolah rajin sholat." Balas sang senior dengan suara lemah.
"Ibadah tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain."
Pria tua itu mengangguk, ada sedikit rasa hangat yang menyusup ke dalam hatinya.Kalimat balasan anak muda itu banyak benarnya.Dan ia merasa bangga untuk itu."Weekend ini, Papah pesankan tiket juga untuk kamu.Kita berangkat malam."
"Terserah."
Aero menjawab acuh. Ia merogoh ponsel di saku celananya karena mulai bosan dengan obrolan sore di halaman belakang rumah.
"Kamu sedang jatuh cinta?"
Untuk sesaat, pertanyaan lelaki tua itu membuat Aero menghentikan ketikannya. Dia mengangkat kepala dan memandang wajah Papanya dengan tidak suka.
Bibirnya kemudian membuka, menyuarakan ketidaksukaan dengan tegas. "Jangan sok tahu."
Tuan Danunjaya mengalah, mengangguk sebagai respon mengiyakan. Dia sudah sangat senang anak lelaki satu-satunya itu mau duduk bersama menghabiskan waktu, setelah sekian tahun. Aero tak mau memandangnya lama-lama, namun dia justru tak mau melepaskan pandangannya dari anak lelaki yang dulu pernah lengket sekali dengannya.
Wajah imut milik Aero kecil tak lagi terlihat. Mata lembut juga tak nampak. Kulit putihnya tergantikan.Sekarang, yang masih tersisa hanyalah alis tebal. Dan itu membuat Danunjaya merasa bersalah, karena banyak waktu yang terbuang.
"Mau kemana?" Aero yang tiba-tiba berdiri, membuat pria itu reflek bertanya. Karena sebelum berdiri tadi, sempat dia lihat bibir Aero tersenyum tipis. Pasti ada sesuatu.
"Kerja."
"See you." Tubuh Aero yang begitu tinggi dan berotot mulai berjalan menjauh darinya. Ia tahu, jawaban Aero tadi adalah bohong.Tapi tak masalah. Dia memaklumi. Aero yang tak membalas sapaannya pun sengaja dia biarkan.Masih beruntung Aero mau tinggal di rumah itu-lagi.
Aero dan Rea masih beda scene.
Jangan lupa vote dan comment ya
__ADS_1