
Mata Rea mengerjap bingung saat Aero mengulurkan sendok yang sudah berisi sayuran me depan mulutnya. Jangan bilang Aero akan menyuapinya? Merasa ini pasti hanyalah prank, Rea memutuskan untuk mundur perlahan. Malu rasanya kalau ia menuruti Aero membuka mulut, kemudian pria itu justru mengeluarkan kalimat ejekam macam, "kamu berharap disuapi ya? Ngimpi."
Akhirnya, daripada harus malu karena di-prank. Rea menggeleng sambil tangannya yang ada di atas meja perlahan membalikkan piring. "Aku ambil makan sendiri aja." Katanya lirih. Langsung membuang muka, tak ingin melihat bagaimana ekspresi yang muncul di wajah Aero.
Selain karena bisa saja dia malu, Rea juga takut jika perlakuan Aero ini sering ia lakukan ke wanita lain. Terlebih seminggu lalu. Saat pertemuan di Mall. Sampai saat ini belum ada penjelasan apapun dari mulut tipis itu. Apakah memang hal tersebut tidak penting? Atau apakah Rea yang tidak wajib tahu apapun yang Aero lakukan? Atau satu lagi, Rea bukan orang yang special bagi Aero?
"Ok. Good girl."
That's it. Singkat dan jelas. Aero melanjutkan makan malamnya, sementara Rea mulai mengisi piringnya dengan beberapa sayuran. Berusaha tenang dan tidak terpengaruh pada perlakuan Aero yang tadi begitu manis.
Mereka makan dalam diam. Hanya ada suara dentingan alat makan yang dibarengi suara penyanyi di televisi.
Beberapa menit berlalu, pria dengan tubuh makin berotot itu sudah selesai. Dan kini tengah meneguk segelas air putih dengan cara yang sukses membuat Rea menghentikan kunyahannya. Bagaimana bisa, Aero sedang minum saja mencuri perhatiannya? Padahal, tidak ada yang istimewa dari aktifitas seseorang minum. Nampak biasa saja.
...***...
"Habisin makanan kamu." Celetuk pria itu, masih menunggu Rea menghabiskan sisa ayam dan nasi di atas piring.
Terlebih dahulu Rea menggeleng, meletakkan garpu dan sendok bertumpuk di sisi piring yang kosong kemudian menjawab. "Kenyang."
"Tinggal beberapa suapan."
"Perutku penuh. Ngga baik terlalu banyak makan." Rea coba menjelaskan.
"Ngga baik juga menyia-nyiakan makanan. Lambung kamu masih kuat menampung sedikit lagi kayaknya."
"Ini lambung milik aku. Aku yang ngerasain. Jangan sok tau deh. Lagian tadi aku ambil banyak. Jadi wajar kalau ngga habis."
Fix. Ini aroma-aroma PMS sudah mulai tercium. Rea yang biasanya santai membalas omongan Aero, kali ini terdengar meninggi satu oktaf.
"Siapa yang nyuruh ambil banyak? Ambil porsi secukupnya. Kamu harusnya bisa perkirakan kemampuan makan kamu. Sedikit kalau habis, itu bagus. Kamu bisa menambah jika masih lapar. Tapi kalau ambil banyak dan ngga habis. Itu namanya stupid!"
"Apa maksudnya dengan kata-kata stupid. Hah?! Cuma perkara makan aja sampai harus keluar kata itu."
"Ok. Aku ganti. Kalau banyak dan ngga habis, itu namanya mubazir."
__ADS_1
Terlihat Aero disini yang mencoba bersabar. Ia sudah sedikit terlatih dengan kalimat-kalimat sengak Rea. Wanita di hadapannya ini memang suka sekali memancing emosi.
"Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Pernah belajar bab itu?!" Balas Rea tak mau kalah.
"Pernah juga kamu belajar Bab Perilaku Tercela, salah satunya boros, menyia-nyiakan makanan?" Aero kembali melemparkan balasan.
"Rumah siapa si ini?! Perasaan rumah aku! Kenapa aku yang diatur?"
Aero menghela nafas, mencoba mengatur suaranya agar tak meninggi. Usai bisa mengontrol diri, diapun kembali bersuara. "Ngga ada yang ngatur. Hanya mengingatkan! Kamu pasti ngga pernah tahu kan rasanya laper, tapi ngga ada yang bisa dimakan?"
"Emang Mas pernah?!" Kali ini Rea benar-benar dalam kondisi tidak bisa tenang. Seseorang seolah menyalakan jiwa perang dalam dirinya.
"Kamu pikir aku banyak ngomong seperti tadi karena apa?"
"Karena apa?" Dengan polosnya Rea bertanya. Bahkan terdengar seperti mengejek. Dan diam-diam pembicaraan mereka ini didengar oleh Bibi Yul. Ia mengawasi interaksi yang alot antara dua anak manusia berbeda gender.
Lama meluaskan hati. Akhirnya kesabaran Aero bocor juga. "BOLOT! Udah! Aku pulang." Daripada membuat kekacauan, lebih baik dia pergi.
"Tuh kan! Kabur." Sindir wanita berambut panjang ini saat Aero sudah berdiri dan melangkah menuju ruang tamu.
"Mas kabur dari obrolan tadi."
"Sudah selesai pembahasannya."
"BELUM!"
"Nanti aku kasih bukunya. Baca dan praktekkan!" Tekan Aero di kalimat terakhir. Berbicara dengan asisten Bu Nindi ini memang kadang menyasyikan kadang menjengkelkan.
"Udah keras kepala. Semaunya sendiri. Suka merintah orang. Hidup lagi."
"Apa maksudnya kamu ngomong begitu?" Akhirnya Aeropun membalikkan badannya. Kembali berjalan menghampiri Rea yang sudah berdiri di anak tangga dengan tangan berada di kedua pinggang. Ia mendengar seruan tadi.
Usai Aero berdiri menjulang dengan jarak beberapa jengkal, sehingga mau tak mau Rea harus naik satu tangga agar tatapan mereka seimbang. Mengangkat dagunya, Rea bertanya"Katanya mau pulang?!"
"Sure. Aku akan pulang. Jadi perempuan ngga usah galak-galak. Nanti ngga ada yang mau!"
__ADS_1
Mata Rea melebar karena terkejut dengan apa yang baru keluar dari mulut Aero. Apa maksudnya dengan ngga ada yang mau? Bukankah mereka dekat dan ..., ah sudah lah.
"Iya. Cuma laki-laki stupid yang mau sama aku." Kata Rea dengan nada yang sudah tak lagi tinggi. Bahkan itu terdengar lemah dan putus asa. Salahkan hormone dalam dirinya yang sedang aktif. Menstruasi di hari-hari pertama memang begitu merusak mood. Sedikit saja ada kalimat yang menyinggung sisi terdalam. Rea bisa langsung tak memiliki pengendalian.
"Bi, nanti beresin yaa. Rea langsung mau istirahat." Pesannya untuk Bibi Yul, ia tak memiliki selera lagi menghabiskan makanan-padahal mendengar Aero membujuk tadi, ia berniat menyelesaikan. Tapi dasar mulut lelaki, sukanya menyakiti.
Ia pun menaiki tangga dengan langkah yang begitu lemas. Tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
"Mba Rea lagi haid. Suasana hatinya lagi buruk. Harap maklum Mas." Suara lain muncul tepat di belakang tubuh Aero, membuatnya sedikit terlonjak akibat suara yang begitu tiba-tiba.
"Ooh gitu." Akhirnya Aero mengangguk. Tanpa banyak kata, ia keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya ke suatu tempat.
Ada suatu area yang begitu dia rindukan. Sorak-sorai penonton. Teriakan sang pelatih dan jeritan perempuan yang dia cintai. Hanya sang Mamah yang menyaksikan perjuangannya di atas ring, walaupun takut saat Aero kena pukulan dan menjerit. Wanita itu tetap setia di pinggir ring. Lainnya belum pernah mendukung Aero, termasuk Ayahnya-menurutnya.
Kenapa harus ada drama penculikan?
Kenapa dia harus bertemu wanita itu?
Semua ini makin runyam. Apalagi semenjak kedekatan mereka yang tidak bisa dibilang wajar. Lebih dari sekedar memberi perhatian. Tapi sudah sampai kontak fisik. Peluk, cium dan ...
Aero sendiri tidak ingin melakukan, tapi ada sosok lain yang menggodanya untuk memainkan tangan di fisik Rea. Awal terjadi penolakan, bahkan berkali-kali. Namun semakim di tolak entah kenapa ia justru semakin tertantang untuk menaklukkan.
"Mas dari mana?" Tanya Jordi yang menyanbutnya di ruang ganti. Akhirnya Aero sampai di sebuah sasana-miliknya.
"Makan." Singkat dan tak ingin panjang lebar.
"Ada atlet datang, mau sparing. Mas mau?"
"Boleh. Kebetulan saya sedang ingin meluapkan emosi."
"Tapi hati-hati!"
"Kenapa?"
Jordi bergerak maju karena ingin membisikkan sesuatu. Walaupun hanya ada mereka berdua di sana, namun kewaspadaan tetap nomor satu.
__ADS_1