
Dasar lelaki pembawa masalah.Bukannya berhasil mengusir manusia tidak tahu diri macam Aero. Rea justru membuat pria itu bertahan makin lama.Siapa lagi jika bukan karena Pak RT dan antek-anteknya yang ingin menggerebek si maling.Tidak pantas disebut maling, sebab mereka lebih pantas disebut sebagai pasangan jaman now yang tak bermoral. Posisi intim yang siapapun akan berpendapat jika mereka memang akan melakukan sesuatu yang iya-iya.
"Ta-tadi benar ada-"
"Maaf karena merepotkan Pak RT. Tidak ada maling disini, saya hanya masuk tanpa ijin." Serobot Aero yang jengah mendengar Rea tiba-tiba tergagap.Lelaki itu melewati Rea begitu saja dan menggiring tamu yang diundang Rea melalui telfon tadi ke arah pintu keluar.Tentu sambil menjelaskan sesuatu yang semoga saja masuk akal. Tanpa komando, kaki Rea juga berjalan mengikuti di belakang tubuh tinggi Aero.
"Kamu siapa?" Pak RT bertanya dengan curiga.Ia bahkan sesekali menoleh ke belakang, seperti memastikan salah satu warganya baik-baik saja.Karena bisa jadi,di jaman yang kejam ini ada drama penyekapan dan penyanderaan.
"Temen dekat Rea."
Sejak kapan berteman?Memang dekat?
"Bukan penculik atau penagih hutang?"
Deg
Mata Rea sontak melebar dengan pertanyaan Pak RT yang sebenarnya tetap sasaran itu. Iya Pak, dia penculik. Orang jahat.
"Kenapa Mba Rea?" Mata tajam Pak RT menangkap perubahan ekspresi yang begitu jelas dari wanita di belakang tubuh Aero.Ia merasa seperti ada kejanggalan.
"Itu-"
"Kami punya janji untuk bertemu,karena Rea belum pulang-saya masuk ke rumah lebih dulu. Kebetulan saya memiliki kuncinya. Akhirnya Rea pulang, dia mungkin kaget karena melihat ada lelaki di dapur-berdiri memunggunginya.Mungkin dia melupakan janji dan terlanjur cemas, kemudian menelepon anda dengan berbisik-bisik..."
Kebohongan. Itu jelas bohong.Namun kenapa begitu lancar pria itu mengucapkan alasan yang diada-adakan?Rea menggeleng perlahan.Benar-benar lelaki dengan banyak tipu muslihat.
Semakin jauh membiarkan sosok asing ini di rumahnya memang akan berdampak buruk.Segera saja ia mengambil alih obrolan, meminta maaf atas keteledorannya membuat laporan. Kemudian menggiring bapak-bapak itu hingga teras rumah.Sungguh dia merasa sangat malu, kedapatan seperti akan melakukan hal-hal intim.Terlebih pesan Pak RT yang terang-terangan menasehatinya agar tidak melakukan zina di lingkungannya. Membuat Rea seketika merasa benar-benar terhakimi.
Bisik-bisik para pengikut Pak RT mulai terdengar, semakin menyudutkan Rea dengan tambahan omongannya yang tidak-tidak.Juga jangan tinggalkan ibu-ibu yang ternyata berjaga di depan rumah Rea. Fix.Kejadian ini akan menjadi bahan gosip warga RT 2 RW 1.
Memasuki rumah kembali, Rea berjalan lunglai, menunduk tak tentu arah.Dia kira hidup baru di tempat ini akan membawa kedamaian di hatinya. Namun, semua itu harus dia tahan-mungkin hanya angan dan harapan.Rea tahu benar bagaimana mulut ibu-ibu kompleks rumahnya.Ia sering ikutan berkumpul membeli sedikit sayur di pertigaan jalan.Kebiasaan mereka, selain membeli bahan kebutuhan pokok, mulut yang menggosipkan orang lain pun sepertinya menjadi kebutuhan pokok.Gunjingan mereka selalu pedas untuk Rea dengar.Seperti semua orang itu tak ada baiknya dimata mereka.
__ADS_1
"Aku cape.Kamu lebih baik pulang." Tahu masih ada laki-laki yang berdiri dekat dengannya,Rea bergumam tak bertenaga.
"Arka akan datang kesini."
Kepala Rea yang tertunduk, terangkat seketika.Ia tak habis pikir dengan Aero yang masih saja semena-mena.Apa dia tidak sadar, kejadian tadi sudah cukup membuat Rea mendapatkan citra buruk sebagai wanita.
"Kamu sadar dengan tindakan kamu?Ini rumah aku,kamu ngga punya wewenang sedikitpun untuk mengundang tamu kamu kesini!"
"Tamu itu adik ipar kamu.Mantan calon suami kamu.Mungkin kamu lupa." Dengan entengnya Aero berkata demikian.Tidak ada tanda-tanda di wajahnya yang menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan.Dia tenang seperti air di danau.Tak ada riak sama sekali.
"Ngga penting lagi.Kalau kamu mau, temui dia di teras rumah.Aku mau ikut campur urusan kalian."
Rea sudah berdiri, menantang Aero seolah dia bisa.Dari postur tubuh saja Rea harus sedikit mendongak menatap mata tajam itu. "Tunggu apa lagi? Keluar!!" Bentak wanita cantik ini karena tak juga melihat tanda-tanda pergerakan Aero.
...***...
Pada akhirnya, setelah mendorong tubuh besar itu keluar dari rumah-mengusir lebih tepatnya, Rea segera mengunci rumahnya berlipat-lipat.Ia menambahkan grendel di pintu agar Aero tak bisa masuk lagi seenaknya.
Beberapa menit ia memejamkan mata, walaupun tak benar-benar lelap.Daun telinganya menangkap suara gaduh yang entah berasal dari mana.Selain teriakan, juga ada suara benturan, decitan kursi dan pecahan vas bunga.Mata Rea terbuka seketika.
Tanpa memperhatikan penampilannya, dia langsung berlari terbirit-birit menuju suara yang dia kenal-Arka tengah berteriak.
Bug
Pintu yang dari tadi tertutup akhirnya Rea buka.Ia langsung disambut dengan terhempasnya sosok tinggi besar Aero di bawah kakinya.
Ada apa ini?Kenapa ramai sekali?
Tidak hanya ada Arka dan Aero, tapi ternyata ada banyak warga yang menonton aksi saling tonjok mereka. Pak RT dan 2 orang lainnya berdiri di tengah untuk melerai. Menarik begitu saja Aero dan Arka yang masing-masing dipegangi ke dalam rumah Rea-tanpa ijin darinya.
"Bubar! Bubar!!"Seorang antek Pak RT mengusir ibu-ibu yang menonton.Membubarkan kerumunan yang jelas tidak diperbolehkan,ada aksi tidak terpuji tersaji, bukannya menelepon polisi atau melerai mereka justru tadi memvideokan hal tersebut.Dasar warga Indonesia.
__ADS_1
"Siapa yang disini akan menjelaskan lebih dulu?"
Rea masih berdiri di balik pintu, bingung kenapa Pak RT harus meluruskan kejadian tersebut di rumahnya.Kenapa tidak langsung di bawa ke kantor polisi saja pak?
Baik Aero maupun Arka sama-sama terdiam.Rea baru menyadari jika tampilan keduanya sudah berantakan.Tidak, tepatnya Arka yang lebih berantakan.Seluruh kancing kemeja putih pria itu sudah hilang entah kemana.Sudut bibirnya berdarah sedikit. Padahal sebenarnya Arka baru sembuh dsri cedera rahang bawahnya. Tinjuan kemarin benar-benar membuatnya tak bisa makan dengan nyaman.
Jangan tanyakan Aero, dia masih rapi dengan pakaiannya tadi.Hanya lengan kemeja yang sudah terlipat hingga menunjukkan salah satu tato bergambar naga kecil.
"Kalau tidak ada yang menjawab, saya akan laporkan saja ke polisi.Kalian bukan warga sini tapi membuat kekacauan di tempat kami.Atau- Mba Rea mau menjelaskan?"
Seluruh mata langsung mengarah padanya, termasuk Aero.Untuk sesaat Rea langsung merasa kecil ketika Pak RT membawa namanya.Reflek kakinya mundur selangkah karena begitu gugup dengan todongan pertanyaan ini.
"A-aku ngga tau-"
"Apa Mba Rea lagi diperebutkan sama dua laki-laki ini?"
"Apa?"
Tolong sadarkan Rea, sedang dimana dia berada.Dunia mimpi atau dunia nyata. Karena berlebihan sekali pertanyaan tadi, memang dia siapa? Sepenting apa? Secantik apa? Dan seberharga apa dia hingga diperebutkan dua lelaki?
"Iya.Masalah diantara kami adalah tentang Rea."
Apa-apain ini? Ingin sekali Rea menjambak rambut Aero.Apa maksud dia menyatakan hal tadi?Sejak kapan Rea menjadi awal masalah mereka?Bukannya semua masalah dia diculik itu karena hutang?
"Kamu." Aero menunjuk Rea dengan dagunya. Menatapnya dari atas ke bawah seperti meneliti.Rea tak tahu harus apa.Hingga kemudian Aero mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Rea meninggalkan ruang tamu dengan lari secepat kilat."Masuk dan ganti baju kamu!"
What the hell!Rea baru saja sadar, dia telah mempertontonkan tubuhnya dengan balutan tanktop serta celana pendek ke seluruh warga-mungkin.
Shit! Kenapa baru mengatakan sekarang? Rra merutuki dirinya yang ceroboh. Ternyata penting tidur dengan pakaian yang tertutup. Sebab ini adalah salah satu contoh kejadian yanh tidak diinginkan.
To be continue.
__ADS_1
Jangan lupa beri vote dan comment yaa teman agar cerita ini berlanjut heheh.