
Jika kemarin Rea masih terpuruk di dalam kamar, menangisi kesendiriannya menghadapi hidup, bersedih dan terpuruk akan segudang masalah yang menimpa. Kini perlahan, seiring waktu kesabarannya berbuah hasil. Satu demi satu benang kusut yang membelenggu kakinya mulai terurai. Jalannya tak lagi sulit seperti dirantai, perlahan mulai menapak per langkah. Memang benar, manusia tidak bisa hidup sendiri. Rea bisa mengukir senyuman lagi, itu barang pasti berkat bantuan dari banyak orang.
Jalannya mulai terang, setelah sertifikat kepemilikan rumah dan barang lainnya sudah berganti nama menjadi miliknya. Hak waris untuk sang Ibu tiripun sudah ia berikan. Ternyata ada sebidang tanah kosong yang cukup luas di daerah pinggiran kota Jakarta milik Alamarhum Papahnya. Akhirnya, Rea memutuskan untuk menjualnya saja, karena ia sendiri tidak tahu akan dimanfaatkan untuk apa. Kemudian, hasil penjualan tersebut beberapa bagian ia berikan kepada sang Ibu tiri dan bagian lain ia gunakan untuk menutup bantuan Bu Nindi. Tentu jasa notaris, advokat dan kawan-kawannya selama ini tidaklah murah. Biarlah yang tersisa hanya berapa persen, yang terpenting dia bisa kembali bernafas dengan nyaman.
Sementara hutang bank, semua itu akan Rea tutup dengan gajinya perbulan. Entah sampai kapan akan tertutup, yang jelas sekarang hanya tinggal satu rantai tersisa. It's ok. Itu kata Bu Nindi.
Tidak bisa langsung bersorak bahagia merayakan kebebasan, namun Rea lega mendapati usahanya sampai beberapa bulan ini berhasil. Akhirnya rumah dan mobil tua itu kembali menjadi miliknya. Dan Arum-Ibu tiri mau keluar dari rumah. Bukan Rea mengusir, tidak. Justru Rea membiarkan Ibu tiri tetap ada disana. Tak masalah baginya.
Tapi, pikiran wanita itu berbeda, ia dengan kepala terangkat berjalan meninggalkan rumah dengan membawa banyak sekali koper dan box. Entah apa saja isinya, mungkin hingga koleksi sepatu, tas, pakaian, perhiasan wanita itu bawa semua. Sheingga perlu beberapa mobil untuk memindahkan.
"Rena ngajak Ibu tinggal di rumahnya yang besar dan megah. Jadi kamu hati-hati ya di sini. Kapan-kapan main ke istananya adik kamu. Dan, kayaknya kalau Ibu betah, ibu akan tinggal disana seterusnya."
Itu kalimat yang keluar dari mulut sang mantan nyonya rumah. Dia tidak banyak mendebat keputusan pengadilan karena dia pun sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kamar Ibu ngga akan Rea ubah. Bibi akan terus bersihin kamar itu setiap hari. Jadi kalau nanti-"
"Ngga perlu. Ibu ngga akan kesini lagi kyaknya. Kecuali..." Wanita itu menggantungkan kalimatnya, menatap Rea dari atas ke bawah dari balik kacamata hitam seperti tengah menilai.
"Kecuali?" Rea mengulang karena begitu ingin tahu dengan kelanjutannya.
"Kalau kamu menikah. "
Mendengar itu, Rea sontak tersenyum. Tidak ada kebencian yang mendalam di hatinya saat itu. Perlahan mulai bisa menerima sikap judes dan menyebalkan Ibu tiri usai Papahnya meninggal. Ia sadar, saat Mamahnya tiada-Ibu Arumlah yang datang melengkapi. Ia datang dengan kasih sayang yang seadanya, dengan mulut yang tak bisa berbicara lembut seperti Mamah. Namun, wanita itu ada disaat masa pertumbuhan Rea. Dan itu sudah lebih dari cukup.
"Iya. Nanti kalau Rea menikah pasti Ibu diundang."
Dengan setulus hati bibir Rea mengucapkan hal demikian. Bahkan wajahnya tersenyum senang membayangkan saat itu tiba. Ia masih punya seseorang di moment berharga. Dan itu melegakan.
__ADS_1
Sudah enam bulan ini kehidupannya mulai ditata kembali. Rea masih bekerja sebagai asisten Bu Nindhita yang saat ini tengah berbadan dua. Hanya kata syukur, ucapan selamat dan doa yang Rea panjatkan untuk bosnya itu. Setelah sekian lama, akhirnya istri kedua Pak Danu itu hamil. Sebuah keajaiban yang tercipta saat pernikahan menginjak usia 3 tahun.
Tidak hanya bekerja untuk orang lain, perlahan Rea mencoba dunia bisnis. Kesukaannya bercocok tanam ia kembangkan. Halaman depan dan belakang rumah ia sulap menjadi kebun kecil penuh dengamln bibit tanaman. Mulai dari tanaman hias hingga yang berbuah ia pelihara. Semua itu ia kerjakan dengan suka cita. Tentu ada campur tangan Bibi Yul di dalamnya. Wanita itu setia menunggu hati tua bersamanya. Mengharukan.
...***...
Rea memasuki rumah, tanpa kesulitan ia membuka pintu dan melangkah menuju tempat yang sudah kenal. Disana, tepatnya di ruang tengah duduk seorang pria, sedang menunduk sibuk dengan ponsel. Televisi menyala, menyiarkan sebuah pertandingan yang selalu ditonton sang lelaki.
"Assalamu'alaikum." Ucap Rea ketika tinggal beberapa langkah lagi jaraknya dengan pria itu.
"Wa'alaikumsalam." Bibir tipis itu membalas, namun sepertinya nampak enggan untuk menatap wanita yang baru datang. Fokusnya hanya pada layar ponsel berukuran 5 inc. Sungguh makhluk ciptakan Tuhan seindah Rea disia-siakan.
Rea meletakkan barang bawaannya di atas meja-tepat di hadapan sang lelaki pendiam. Kemudian beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum.
Dug, benturan gelas kaca dengan permukaan meja menimbulkan suara yang akhirnya berhasil membuat wajah pria itu terangkat.
"Pizza."
"Aku kira masakan rumah." Terdengar sedikit nada kecewa. Namun Rea berusaha tak memikirkannya. Sudah terlalu biasa.
"Ngga sempet pulang." Jelasnya singkat sambil mendudukan dirinya di samping sang lelaki usai membuka box pizza. Aroma wangi daging dan keju panggang mulai tersebar, tercium oleh pria yang masih mengenakan kemeja hitam yang terbuka dua kancingnya.
"Aku mandi dulu."Putus lelaki wangi itu sambil menarik kain yang terselip di dalam celananya. Tampilannya kini makin membuat Rea panas dingin. Liar dan mempesona.
"Mas!" Reflek Rea menahan pergelangan tangan sang lelaki gagah di sampingnya, seperti enggan diacuhkan. Dia baru datang, dan rasanya sangat menjengkelkan karena langsung ditinggal.
"Hmm?" Mata tajam itu langsung menatap Rea dengan cara yang sulit dijelaskan. Menunggu kenapa wanita ini mencegahnya untuk mandi. Padahal hari sudah begitu malam, keringat dan aroma tubuh berbaur menjadi sesuatu yang tidak enak ketika berdekatan dengan orang lain. "Kenapa?" Katanya lagi, sebab tak kunjung mendapat penjelasan kenapa dan kenapa. "Aku udah gerah."
__ADS_1
"Oh ok."
Mendadak kata-kata yang ingin dimuntahkan Rea, tertelan kembali sesaat tampilan pria di hadapannya ini sudah begitu membuatnya panas dingin. Bagaimana tidak, seluruh kancing kemeja sudah terlepas. Menampakkan kulit perut hingga dada telanjang yang begitu mengkilat karena keringat.
"Cuma itu?"
"Aku langsung pulang ya." Akhirnya kalimat itu yang mampu Rea ucapkan dengan nada lembut. Sudah pukul 8 malam, dan ia juga sama-sama belum mandi.
"Kenapa?"
"Mas mau istirahat kan?" Jawab Rea takut-takut. Lelaki yang menjulang itu sangat datar dan dingin ketika membalas berbicara dengannya. Seperti tak menginginkan ada obrolan panjang. Selalu singkat, tak melebihi 5 kata.
Melihat lelaki itu hanya diam, Rea tahu diri. Dengan senyum sedikit terpaksa, ia berdiri menyampirkan tasnya lagi di bahu kanan.
"Rea pulang dulu ya Ma-"
Ucapan Rea terputus, karena tadi dengan gerakan yang teramat cepat lelaki pendiam itu membungkam bibir Rea dengan bibirnya. Menyecapnya begitu dalam dan penuh tekanan.
"Kamu berisik. Nunggu aku mandi aja ngga mau. Duduk! Nanti aku antar pulang." Bisik lelaki itu di depan bibir Rea. Tak ada jarak, seutuhnya tubuh mereka saling menyentuh.
"Mas!" Rea memperingatkan, karena sempat ia rasakan tangan liar meremas asetnya di belakang. "Aku pulang nih!" Ancam Rea dengan mata melotot kaget.
"Dasar perempuan, sukanya ngancem."
Kekeh lelaki itu sambil melepaskan rengkungannya di tubuh Rea. Ia tersenyum tipis kemudian mundur perlahan sambil memerintah, "jangan pulang!"
Jadi, Mas yang dimaksud oleh Rea adalah dia- Braga Assavero. Lelaki yang selama enam bulan ini dekat dengan Regina Athalia. Menemani dan mensuportnya menyelesaikan masalah demi masalah.
__ADS_1