Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 26


__ADS_3

Bermaksud mengabaikan pesan dari Braga Assavero, yang Rea dapatkan hanya sebuah kegagalan. Siapa yang tidak kesal jika terus di telfon, dikirimi suara gedoran pintu serta dipanggil berkali-kali namanya dengan suara keras. Di jam istirahat, diwaktu Rea benar-benar hampir memasuki alam mimpi. Siapapun yang diperlakukan seperti itu pasti akan bangkit emosinya.


Namun dasar tidak tahu malu, bukannya merasa tidak enak karena mengganggu hak asasi manusia Rea, Aero justru memaksa masuk sesaat pintu dibuka. Wanita pemilik kontrakan yang masih diselimuti kantuk dan emosi hanya bisa menganga melihat kelakuan Aero.


Tenang Rea, selesaikan dengan kepala dingin. Rea menghibur dirinya sendiri, berusaha mengontrol rasa muak dan menahan segala umpatan, caci maki untuk lelaki super menyebalkan di muka bumi. Sebelum balik badan untuk menghadapi kekeras kepalaan Aero, Rea menarik nafas kemudian menutup pintu rumahnya sangat pelan.


"Dasar parasit." Bisik Rea sambil menggertakkan giginya. Ia tak peduli jika saat ini tampil dengan kaos lusuh warna putih dan celana kulot panjang, yang mungkin saja bisa Aero kesan Rea sebagai wanita gembel.


"Lima menit! Ce ... pe ... tan." Seru wanita itu sambil membalikkan badan. Bermaksud memberi tahu Aero jika dirinya sama sekali tidak suka dengan kehadirannya. Namun seakan dipencet tombol slow motion, ucapan Rea mendadak memelan di akhir kata. Ada sesuatu yang aneh saat Rea melihat penampilan Aero. Apa karena cahaya di ruang tamu yang remang atau memang karena..? Kulit pria itu lebih gelap. Sukses membuat Rea membuka matanya lebar. Ia ingin memastikan jika apa yang dia lihat benar.


Tiga detik memperhatikan, Rea pun memiliki kesimpulan sendiri. Benar adanya, kulit Aero tak seputih sebelumnya-entah kata putih itu pantas disebutkan atau tidak. Yang pasti Aero sangat berbeda dari yang terakhir Rea lihat. Pria di hadapannya ini lebih, jantan? Iuh, mendadak Rea merutuki dirinya sendiri yang mulai berlebihan.


Aero yang menyadari dirinya diperhatikan dengan wajah keruh Rea, makin maju mengikis jarak, kemudian bertanya. "Kamu belum tidur?"


"Menurut kamu aku mau menjawab pertanyaan tadi? " Rea yang sesungguhnya telah kembali, dia merespon keingintahuan Aero dengan begitu tak bersahabat.


"Aku pikir kamu bisa tidur sambil berjalan."


"Hk ngga lucu."


"Oleh-oleh." Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Aero sudah mengangsurkan paper bag kecil ke arah Rea.


"Itu apa? Racun?"


Jawaban tadi sukses membuat Aero terkekeh pelan. "Buka dan kamu akan tahu."


"Ngga. Lebih baik kamu bawa pulang." Acuh. Rea memilih duduk di salah satu sofa mengistirahatkan diri. Tak sama sekali mempersilahkan tamu untuk duduk.


"Ini bukti permintaan maaf dari aku."


"Sejak kapan maaf itu dibuktikan dengan barang? "

__ADS_1


Pria itu masih saja bisa santai mendapati respon yang begitu negatif dan judes dari Rea.


"Sejak saat ini. Kamu harus mulai tahu itu. Kalau kamu lupa, beberapa minggu yang lalu aku sempat ..." Aero sengaja menggantungkan kalimatnya. Memberi pancingan Rea untuk berpikir dan mengingat tentang kejadian sore itu. Dan tunggu. Terakhir Rea bertemu Aero adalah saat pria itu menciumnya tiba-tiba di teras rumah. Iya, itu kejadiannya.


Saat sadar wajah Rea makin merah karena kesal campur malu. Aero makin maju. Ia menaruh barang yang dia bawa ke atas meja. Membungkukkan sedikit badan hingga merasa cukup untuk membuat Rea mendengar apa yang akan dia katakan.


"Aku sering berbuat kesalahan secara mendadak dan tanpa perhitungan. Contohnya adalah kemarin. Jadi, siap-siap untuk bukti permintaan maaf aku selanjutnya-Regina Athalia." Bisik pria itu pelan sebelum akhirnya pergi dan menghilang di balik pintu. Sukses meninggalkan Rea yang masih terperangah tak percaya.


...***...


Hari yang Rea tunggu-tunggu akhirnya tiba. Ayuning dan Rudi Harsono, dua orang tua tirinya sedang dalam kondisi kacau-menurut Bibi Yul. Bagaimana tidak, saat mereka sudah menemukan orang yang siap membeli rumah dan mobil, surat-surat yang dibutuhkan entah kemana. Ayuning murka, berteriak menyalahkan suaminya yang ia percayai untuk menyimpan dokumen berharga milik mantan suaminya. Secara tersirat, wanita itu menuduh Rudi bermain curang di belakang. Semua itu berawal dari terbongkarnya perselingkuhan Rudi dengan janda di sebelah rumah mereka.


Ayuning saat itu dengan kuasanya meminta Rudi untuk memilih, antara dia dan janda itu. Ia bahkan berani meminta cerai pada Rudi, karena begitu sakit hati. Berbagai cacian meluncur dengan mudah dari mulutnya saat kejadian penggerebegan.


Rea bersyukur karena dirinya tidak disinggung-singgung terkait dokumen sertifikat tanah, surat keterangan waris dll. Mungkin itu karena dia sudah tak terlihat lagi keluar masuk rumah. Rea dianggap benar-benar meninggalkan rumah.


"Terus gimana Bi?"


"Ya akhirnya gagal Mba. Calon pembeli pulang dan Bapak sama Ibu ribut. "


"Makasih informasinya. Bibi Yul tenang aja, Rea udah minta bantuan ke Bu Nindi. Mereka sedang mengurus surat kepemilikan atas nama Rea."


Di balik telefon Bi Yul mengangguk. Ia tengah duduk di tepi ranjang, mengunci diri agar tidak seorangpun mendengar pembicaraan Rea dan dirinya.


"Mba Rea sehat?"


"Kenapa memangnya Bi?"


"Bibi masak nasi beberapa hari ini selalu basi."


Hm? Tak berusaha merespon, Rea hanya mengerut keningnya bingung. "Mungkin Bibi masak terlalu banyak airnya."

__ADS_1


"Bukan. Air sesuai takaran Mba."


"Atau berasnya yang harus diperlakukan special?"


"Bukan juga."


"Terus apa hubungannya?"


"Ngga ada. Ini cuma feeling Bibi aja, di kampung Bibi ada sedikit-"


"Oh iya Rea tahu."Potong begitu mengingat sesuatu.


"Maaf Mba jadi-"


"Ngga perlu Bi. Mungkin itu kebetulan aja."


Tak ingin memperpanjang cerita, Rea memilih mengalihkan topik. Ia berpesan kepada Bibi Yul untuk tetap disana, untuk setia menunggu sang pemilik asli rumah tersebut kembali. Juga meminta agar tidak banyak berinteraksi dengan Arka, Rena,Ayuning atau Rudi.


Sambungan telefon sudah dimatikan. Dan saat itu Rea mengangkat kepalanya. Menghela nafas entah karena apa.


Terkait nasi basi, salah satu daerah di Jawa Tengah masyarakatnya seperti meyakini jika nasi cepat basi, maka akan ada seseorang yang pergi. Entah itu sebagai pertanda atau hanya sekedar pekerjaan manusia yang mencocok-cocokan saja.


"Sudah siap?"


"Iya." Jawab Rea setelah muncul di teras rumah. Ia sudah ditunggu oleh kekasihnya-Nando. Rea akan pergi ke rumah keluarga Nando, menemui penghuni rumah dan berkenalan dengan saudara-saudara calon suaminya.


Telapak tanganya berkeringat, jantungnya berdetak cepat dan perutnya terasa aneh. Ekspresi Rea pun kali ini terlihat tak normal.


"Keluarga aku asik. Mereka baik. Ya walau kadang omongannya terlalu to the point. Kamu jangan kaget kalau mereka langsung bertanya tentang dimana nanti kita tinggal setelah menikah. Kamu harus jawab, dimana Mas Nando pergi aku ikut."


Cukup panjang Nando memberitahu Rea trik singkat menghadapi keluarganya. Hingga akhirnya, sebuah kalimat meluncur mudahnya dari bibir Nando, membuat Rea merasa diancam secara tak langsung.

__ADS_1


"Kamu harus tahu, keluarga prioritas pertamaku. Penilaian mereka jadi penilaian aku."


Jangan lupa vote dan comment ya guys.


__ADS_2