
"Naik!"
"Aku ingin pulang sendiri."
"Yakin?"
"Ya!"
Aero tanpa meminta dua kali langsung mengendarai motornya pergi. Dia bukan tipe lelaki yang bersedia memohon pada makhluk berjenis kelamin wanita. Apalagi dalam hal ini, Aero bukanlah kekasih Rea yang harus membujuk dan merayu agar mau diajak pulang.
Langkah Rea langsung berhenti begitu mendengar dan menyaksikan sendiri Braga Assavero menggeber motornya dengan kecepatan tinggi di jalan perumahan yang lumayan sepi. Selepas menemui Ibu dan Bapak di rumah,yang awalnya untuk mencegah mereka menjual mobil Papahnya,Rea harus berakhir dengan menyusuri jalanan dengan kakinya.
Dia sudah memutuskan,tidak ingin kembali lagi ke rumah masa kecilnya.Selain sudah dikuasai oleh orang tua tiri,rumah tersebut juga diam-diam siap dijual.Rea tidak punya daya untuk mempertahankan miliknya,terlebih memang sertifikat rumah dan tanah dipegang oleh Ibunya.Wasiat yang dibuat Papa Rea seolah hanya wacana saja.Tidak ada kewajiban bagi sepasang suami istri itu untuk memberikan pada ahli waris.
"Mobil dan rumah ini akan dijual untuk menutup hutang di bank. Ini hutang yang ditinggalkan Almarhum Papah kamu, daripada penagih bank memburu kamu. Jadi lebih baik Ibu lunasi saja.Sisanya akan dikirim ke rekening kamu,tenang."
Bukan tenang seperti ini yang Rea inginkan.Ia benar-benar muak dengan wanita kedua pengganti Mamah. Penjilat dan pemaksa. Memang selama ini tidak ada kekerasan fisik yang terjadi, namun lebih dari itu jiwa Rea benar-benar tersiksa.Ia lelah terus dimanfaatkan, tidak bisa bebas seperti kebanyakan wanita di luar sana.
"Kamu kan juga sudah memilih mengontrak rumah. Artinya, kamu ingin hidup lebih mandiri kan? Terlepas dari kami yang sering membuat kamu kesulitan akhir-akhir ini." Tambah Bapak tirinya pura-pura bijaksana.
"Kalau Bapak Ibu ingin pindah ke rumah yang sudah disiapkan Arka,silahkan. Hutang yang ada di bank Rea siap tanggung jawab. Tidak perlu menjual mobil dan rumah ini. Bagaimanapun ini milik Rea."
"Ibu sedang memberikan solusi yang baik agar kamu bisa hidup tenang tanpa dikejar-kejar hutang. Memang kamu sanggup melunasi dengan gaji yang ngga sampai 10 juta itu?"
"Itu jauh lebih baik.Daripada Rena yang hanya mampu menghabiskan uang."
"Sombong sekali. Mentang-mentang sudah bekerja.Hanya sebagai kacung saja bangga." Rena akhirnya ikut angkat suara.
Rea berusaha menahan emosi,ia berdiri tak jauh dari meja waktu saat itu. Ia sebenarnya ingin sekali membanting guci besar di sampingnya. Membuktikan jika dia bisa memberontak. Dasar adik tidak tahu terimakasih.Sudah meminta uang, meminta calon suami kakaknya, kali ini menghina pekerjaannya lagi.
__ADS_1
"Yang berhutang itu sebenarnya kan Bapak, Ibu dan Rena.Kalian hidup pura-pura kaya padahal pendapatan tidak seberapa.Bapak yang harusnya tanggung jawab di rumah ini,berusaha mencukupi kebutuhan istri Bapak.Bukannya menumpang dan ikut-ikutan mengambil pinjaman di bank yang nyatanya tidak mampu dilunasi sendiri."
Akhirnya keberanian Rea keluar.Sudah sangat lama ia ingin mengatakan hal tersebut.Dan baru kali ini bisa tercapai.Kedua suami istri yang baru menyelesaikan sarapannya itu langsung berdiri,diikuti Rena yang berjalan ke arah Rea sambil memamerkan perutnya yang buncit.Cih,dasar murahan.
"Kamu ngomong seperti itu ngga ngaca sebelumnya Re?Ibu yang ngurus kamu,Bapak yang mengambil tugas jadi kepala rumah tangga disini menggantikan Papah.Kami ini orang tua kamu.Jadi jangan bersikap seolah-olah kita bukan keluarga."
"Keluarga?" Rea berbisik dengan mata berkaca-kaca."Yang kalian utamakan hanya Rena.Rea cuma apa disini?Cuma dijadikan mesin penghasil uang."
Plak
Telapak tangan Ibu berhasil menyentak wajah putih Rea.Sebuah perlakuan yang benar-benar baru wanita cantik ini alami sepanjang usia.Apa salahnya?Selama ini sudah memberikan segala yang terbaik untuk penghuni rumah ini.Hanya kali ini berani menyampaikan saja, dan itu langsung dibalas tamparan.
"Ngga punya sopan santun kamu!" Bentaknya dengan mata melebar.
Bibi Yul yang ada di tempat kejadian segera berlari menuju anak majikannya.Ia tentu terkejut,selama dia mengabdi tak pernah ada kekerasan di rumah ini.
"Kalian sadar tidak? Kalian itu menumpang disini! Parasit!"
Itulah kalimat terakhir yang Rea ucapkan. Sebelum akhirnya Ibu dan Rena secara bersamaan mendatanginya seperti akan mencekik dan menampar. Beruntung, sebelum itu terjadi Bibi Yul langsung menariknya keluar.
Dan disinilah Regina Athalia,usai ditinggal Aero dalam keadaan yang kacau,ia berziarah ke makam kedua orang tuanya. Tak lain tak bukan untuk mengadukan segalanya. Bagaimana dia kesepian dan kelelahan.Dia ingin segera lepas dengan hubungan yang katanya keluarga, namun juga ingin mempertahankan kenangan lama.Ini bukan tentang hutang di bank, Rea siap menangguhnya. Asal tidak dengan menjual bagian terbaik dalam hidupnya.
...***...
Matahari sudah terbenam saat Rea sampai di rumah kontrakan. Ada yang aneh,karena lampu terlihat menyala.Padahal kunci masih ada di dalam tasnya.Untuk beberapa detik ia sempat panik, sampai akhirnya dia melihat sebuah motor terparkir di sudut halaman.Sejak kapan lelaki itu bisa memiliki akses masuk ke rumahnya?
Dan tanpa perlu berlama-lama, Rea mendorong gagang pintu rumah.Mulutnya sudah siap untuk mengumpat, sebelum akhirnya segera tertelan kembali. Matanya langsung menemukan sosok pria yang tengah berbaring di sofanya.Membuat Rea hanya mampu mendengus. Aero.
"Aku menunggu lama."
__ADS_1
Sesaat Rea melenggang hendak menuju bagian dalam rumah, suara Aero terdengar.
"Aku tidak meminta untuk ditunggu."
Kelopak mata Aero perlahan terbuka,bibirnya membentuk seringai. Dan lipatan lengannya di depan dada ia pindahkah ke belakang kepala sebagai bantalan.Pandangannya jatuh pada jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam,artinya sudah lebih dari 10 jam Rea entah kemana.Salah.Aero sebenarnya tahu kemana Rea pergi.
"Aku sudah bertemu dengan Arka."
"Lalu?" Rea tak antusias mendengarnya. Tangannya bekerja sama sedang menuangkan air ke dalam gelas.Kemudian meminumnya dengan beberapa tegukan.
Posisi kedua manusia ini terpisah cukup jauh, Aero yang masih ada di sofa ruang tamu, sementara Rea masih ada di dapur-duduk memandangi gelas kosong.
"Dia menawarkan sesuatu." Teriak Aero agar Rra mendengar.
Wanita yang sedang merasa begitu lelah ini termenung. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Diamnya Rea, membuat Aero akhirnya bangkit.Ia bergabung di meja makan.Tepat mengambil duduk di hadapan Rea.Seperti menunggu balasan.
Sayangnya, wajah cantik Rea malam ini terlihat begitu letih.Ia kusam dengan rambut yang berantakan.
"Maka terimalah."
Kening Aero berkerut mendengar suara bisikan Rea. "Apa?"
"Terima tawaran Arka.Dan masalah di antara kita selesai." Jawab Rea sambil menaikkan pandangannya, mengunci tatapan dengan berani pada mata elang milik Aero.
Beberapa detik kemudian,bibir Aero kembali tertarik ke atas.Membentuk sebuah senyuman amat menawan yang sangat jarang ditampilkan.Bahkan sampai membuat seorang Rea pun sedikit memberi jarak.
"Boleh aku menerima tawarannya?"
Aero menaikkan kedua tangannya ke atas meja.Sedikit mencondongkan tubuhnya yang hanya berbalut kaos hitam polo yang begitu ketat, dan kembali mengamati lamat-lamat ekspresi Regina Athalia.Bersiap untuk menunggu jawaban.
__ADS_1