
Saat patah hati karena Arka, Rea begitu pendiam dan menerima. Berbeda hal dengan ini, walaupun hubungan mereka belum bisa dikatakan amat serius, namun ketidak jujuran Nando membuat Rea marah dan kecewa. Ingin sekali ia melampiaskan semuanya pada sesuatu. Tapi apa? Akalnya masih bisa bekerja dengan baik mengingatkannya akan kekacauan rumah apabila Rea lepas kendali.
Usai mengatakan hal tidak masuk akal pada Aero di ruang tamu, Rea memutuskan mengunci dirinya di dalam kamar. Ingin menangis namun untuk apa? Tidak ada gunanya. Ia malah terlihat makin menyedihkan. Ok, mungkin bisa dikatakan Rea telah membawa perasaannya sedikit dalam. Ia senang dengan segala bentuk perhatian Nando. Namun disisi lain, dia juga amat tersinggung dengan kegiatan-kegiatan pria itu di luar sana. Bukan berarti Rea akan senang jika Nando melakukan hal-hal intim dengan dirinya, tidak. Gadis ini tetaplah memegang tegus prinsipnya, untuk menjaga kehormatan kedua orang tua.
Ingin kembali dalam kondisi tenang, Rea memutuskan untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin, bersujud di atas sajadah dan meminta ampunan. Dasar manusia, dia sering kali lupa akan kewajibannya ini. Datang disaat sulit dan pergi disaat senang. Ia sadar, setelah Mamahnya meninggal Rea mulai jauh dari Tuhannya. Wanita cantik ini terlalu percaya bisa hidup mandiri.
Lama dia mendekam di dalam kamar, suara dentingan benda berbahan kaca terdengar, membuatnya mau tak mau harus keluar. Di balik pintu kamar, Rea berkali-kali menghela nafas. Berat sekali rasanya untuk mengusir pria itu, namun berat juga untuk merelakannya tetap ada di rumah.
"Tuan rumah tidak memberiku minum, jadi aku mengambilnya sendiri."
Baru saja Rea ingin membuka mulut saat ia mendekati seorang pria berbalut kemeja dan celana hitam, Aero sudah lebih dulu berhasil membungkamnya. Tak ambil pusing, Rea menarik kursi dan mendudukan dirinya disana. Tepat saling berhadapan dengan Braga Assavero.
"Mau apa lagi?" Tanya si wanita dengan nada lemah seperti sudah sangat putus asa. Bagaimana tidak putus asa? Aero seperti sosok tak kasat mata yang mengikuti Rea tanpa henti. Mengganggu dan muncul sesekali untuk menunjukkan eksistensi dirinya.
"Jadi benar kamu patah hati?"
"Ck." Rea berdecak tidak suka. Matanya langsung mengalihkan pandangan ke segala arah, mencari sesuatu yang membuatnya tertarik dan fokus.
"Ada apa dengan dosen berkacamata itu? Selingkuh? Diam-diam kasar? Atau agresif?"
Rea tetap diam. Meja makan yang membatasi keduanya berhasil membuat Rea merasa aman. Namun berhasil juga membuat Aero mengamati ekspresi wanita itu dengan baik. Tergambar jelas di wajah Rea, ada rasa kecewa, lelah, marah dan putus asa. Setelah sekian lama, akhirnya Aero mengalami lagi saat-saat dia memperhatikan wanita dengan sedemikian intens macam ini.
__ADS_1
"Aku pikir kamu wanita kuat. Karena masih jelas aku ingat, tidak ada wajah seperti ini setelah hubungan kamu dan Arka berakhir. Kamu masih terlihat hidup, tidak seperti sekarang."
"Manusia punya hati. Dia akan tersenyum saat senang, menangis saat sedih. Kamu ngga punya hati?"
Jelas pertanyaan Rea itu sangatlah biasa. Untuk orang sekelas Aero yang memiliki pertahanan dan pengendalian diri yang kuat, hal tersebut tak bisa menyinggung sisi kecilnya. Namun entah kenapa, saat Rea tadi bertanya dibarengi tatapan mata menuduh, membuat jantung Aero sempat berdetak.
"Kamu bilang kamu seorang Sarjana Psikologi." Celetuk lagi bibir Rea yang saat ini terdengar amat tajam.
"Bagaimana bisa putus cinta membuat jantung kesakitan, nafas bisa sesak, air mata becucuran dan reaksi fisik lainnya?" Aero menjeda. "Awalnya aku tidak mempercayai teori itu. Otak kamu terlalu memproduksi banyak hormon."
"Lalu intinya apa?"
"Jangan sampai kamu mengalami fase bergaining, jangan anggap apa yang kamu lakukan sebelumnya yang membuat peristiwa ini terjadi. Hindari pemikiran, 'coba aku tidak melakukan hal itu atau seandainya saja dulu aku begini'. Jauhkan hal-hal bodoh itu dari otak kamu."
"Bicara memang mudah. Kamu tidak pernah-"
"Aku pernah mengalaminya." Potong Aero cepat. Ia hanya ingin menunjukkan jika bukan hanya Rea saja di dunia ini yang patah hati.
Alih-alih melihat reaksi Rea yang lebih bersahabat, wanita itu justru tersenyum sinis ke arahnya sambil berkata. "Orang seperti kamu pernah juga? Impossible." Ejeknya.
Masih dengan pengendalian diri yang kuat, Aero hanya menggeleng, tidak habis pikir dengan cara Rea berpikir. Terlalu sulit ditebak. Berubah-ubah seiring waktu.
__ADS_1
"Melihat Nando yang sepertinya datar, flat tak banyak tingkah-begitu berbeda dengan karakter Arka. Namun akhirnya kamu tetap gagal menjalin hubungan. Apa kamu pernah berpikir?"
"Apa?"
"Mungkin, kesalahan sesungguhnya ada di diri kamu." Aero mengatakan hal tadi sambil menatap lurus mata Rea. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi selanjutnya dari wanita pendiam yang ternyata bisa meledak-ledak.
Dan gotcha. Mata memicing, kening berkerut, nafas memburu serta tatapan tajam seperti laser ternyata tidak Aero dapatkan. Justru air mata yang meleleh, Rea akhirnya menunduk, menyembunyikan tangis. Bahunya perlahan bergetar hebat, membuat Aero membeku. Kenapa bisa seperti ini? Sebenarnya bagaimana jalan perasaan wanita itu? Ia kira Rea akan marah dan langsung memaki dirinya yang salah menilai. Tapi apa? Yang Aero dapati malah sebuah tangisan dari wanita yang baru saja patah hati, terdengar menyakitkan.
Pria yang baru saja memotong rambutnya dengan gaya lebih sangar ini terdiam. Tak kunjung reda tangis Rea, akhirnya dia pun mengatakan sesuatu hal dengan sangat arogant. "Ngapain kamu nangis? Percuma, tidak akan mengembalikan hal yang sudah terjadi. Kamu hanya buang-buang energi. Orang lain akan tahu kalau kamu sedang dalam kondisi yang lemah."
Rea tak menggubris.
Aero tetap bertahan di posisinya, mengamati dengan enggan. Bahkan, dia yang mengaku sebagai Sarjana Psikologi pun lupa. Jika tangisan dapat membantu kita melepaskan hormon endorfin yang bisa mengurangi rasa sakit secara alami. Ketika seseorang menangis, tubuh akan mengeluarkan seluruh toxic yang tertahan, sehingga setelah menangis dia akan merasa lebih kuat secara fisik dan mental.
Hingga 10 menit, Aero masih bisa menunggu. Karena ia pikir Rea termasuk wanita yang tak berlama-lama larut dalam kesedihan. Perkiraannya salah. Nyatanya wanita itu masih menangis tanpa henti, stabil dan belum terdengar tanda-tanda berakhir. Aero menarik nafas panjang, mengembuskannya sambil memejamkan mata.
"Percepat tangisan kamu. Dan setelah itu bangkit." Perintahnya tegas dan keras, seperti sudah tidak tahan lagi mendengar suara orang yang menangis. Baginya itu seperti suara nyanyian neraka. Aero berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Rea. Ia membuka pintu dan membantingnya kasar. Tak menghiraukan tetangga yang mungkin akan terganggu.
Dipacunya mobil baru hadiah dari Papahnya dengan kecepatan tinggi. Niatnya datang adalah ingin memamerkan pada wanita itu mobil barunya. Ingin berbagi kesenangan. Yang Aero sendiri tidak tahu apa alasan dia harus berbagai kesenangan dengan Regina Athalia. Dia hanya mengikuti kemana mobilnya melaju saat itu.
Rasanya percuma datang ke tempat ini.
__ADS_1