Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 84


__ADS_3

Menahan rasa malu, Rea yang tak ingin terus diabaikan berusaha lagi untuk memperbaiki hubungan. Dia ingin menghangatkan kembali sesuatu yang terlanjut beku. Karena pernikahannya baginya bukan untuk satu atau dua bulan saja, tapi untuk selamanya. Meski ternyata partner hidup yang dia pilih belumlah seperti apa yang dia harapkan, sebagai wanita yang terlahir kuat dia tak boleh menyerah begitu saja.


Dia bukan lagi remaja yang mudah kecewa kemudian mengambil kesimpulan cepat untuk berpisah. Sekarang, dia adalah wanita dewasa yang tahu masalah akan selalu ada. Kuncinya di tangan kita sendiri, akan menyelesaikannya atau menghindarinya.


Ayah mertuanya sudah kembali ke rumah setelah makan malam, seperti biasa dia hanya berkunjung untuk sekedar melihat dua anaknya. Aero tentu saja, serta anak lain yang dia juga sayangi, Regina Athalia.


"Tentang yang tadi Mas tawarkan, gimana kalau ke puncak aja weekend ini?" Pintanya begitu halus di tengah keheningan. Aero tengah duduk bersandar headboard sementara Rea sudah berbaring di sisi tempat tidur yang lain.


Rea menghitung dalam diam, sudah sekitar sepuluh detik berlalu sejak dia menanyakan tentang liburan. Dan belum ada tanda-tanda suaminya membalas, walau sekedar bergumam. Pria dengan rambut masih basah itu nampak tak terganggu, dia sibuk dengan ponsel yang ada di tangan. Berdasarkan apa yang dia ucapkan, Rea tak nampak terlalu menuntut kan? Karena ia takut, Aero akan kembali kesal dan berujung menjaga jarak.


"Terserah. Kamu tinggal bilang mau menginap di hotel atau villa."


Usai sekuat mungkin menerima sikap dingin Aero, serta menerima kenyataan jika suaminya sedang tak terlibat interaksi dengannya. Rea terperangah sesaat, dia cukup kaget karena lelaki yang sudah memintanya menjadi istri itu membalas keingintahuannya. Mungkinkah ini balasan dari doa-doanya tadi? Meski ketus, Rea merasa sedikit puas. Bahkan yang membuat dia sedikit membuncah adalah dimana Aero memberinya pilihan tempat menginap. Tubuhnya yang responsif reflek berbaring miring menghadap Aero. Pandangan sedikit naik, menatap dengan berbunga-bunga struktur wajah yang begitu mempesona.


"Hotel aja gimana?" Putus Rea pada akhirnya, usai menimbang banyak hal.


"Ok. Nanti aku suruh Jordi untuk cari. Mau sama siapa kesana? Ngga mungkin kan kamu sendiri?"


Kehangatan yang baru Rea rasakan, mendadak sirna. Ia seperti merasakan guyuran air es di tempat tidur.


Maksudnya?


Rea bangkit, matanya menunjukkan kebingungan. Sama siapa? Bukankah mereka akan pergi berdua?


"Cukup kita aja kan?" Serunya pelan.


"Aku ngga bilang akan ikut. Papah ada benarnya, kamu mungkin butuh hiburan."


Harapan indah yang sudah ada di benak Re mendadak kembali harus dikubir dalam-dalam. Ia tentu saja kecewa atas keputusan sepihak yang Aero ambil, bahkan tanpa memikirkan bagaimana perasaannya dan kesedihannya saat ini.


"Kenapa? Mas masih sibuk?"

__ADS_1


"Iya. Aku bisanya meluangkan waktu di akhir tahun."


"Kalau ngga menginap?" Rea menjeda sambil menantikan respon lelakinya. "Maksudnya kita pulang pergi, satu hari aja, bisa ikut?" Jelasnya perlahan-lahan.


"Sebenarnya mau kamu apa?!" Tekan Aero dengan mata memicing ke arah Rea.


Deg. Rea merasa seperti baru saja dijatuhkan secara tiba-tiba dari atas tebing. Jantungnya langsung berpacu dengan intensitas tinggi. Mendengar nada suaranya yang tak lagi bersahabat. Wanita dengan rambut panjang ini tahu, dia sudah berhasil memancing kembali kemarahan suaminya.


Kenapa Aero begitu sensitif sejak hari itu? Apa yang telah terjadi sebenarnya? Kembali pikiran Rea teracuni hal-hal tersebut. Sebab, entah kenapa hal-hal sepele macam ini selalu memicu ketegangan. Meski tidak dilampiaskan dengan pukulan atau tamparan, namun membentak adalah sesuatu hal yang tidak pernah Rea sangka selama mengenal Aero. Satu-satunya cara untuk mendinginkan suasana ini, maka Rea yang harus mengalah. Mengalah untuk sementara.


"Ah ngga. Aku-aku ngga pengin apa-apa. Nanti aku langsung minta bantuan Jordi aja." Jawabnya tergagap, kemudian kembali berbaring dengan suasa hati yang hancur. Kali ini Rea tidur membelakangi Aero, memejamkan mata sambil menyembunyikan air matanya.


Sabar Re, mungkin suami kamu masih cape.


...***...


Weekend yang tak diharapkan akhirnya tiba, Aero sudah siap dengan kaos polos berbalut jaket kulit. Dia pamit ingin mengunjungi kantor dan setelah itu berlatih di sasana, lagi. Untuk beberapa alasan, Rea berubah menjadi lebih diam. Dia kali ini lebih banyak mengamati daripada bicara. Dia lebih banyak memaklumi perlakuan-perlakuan Aero. Selama tidak ada kontak fisik, Rea masih bisa bertahan. Dia ingin tahu sekali apa yang membuat Aeronya tidak sejahil dulu. Sayangnya tidak ada orang yang bisa dia mintai informasi, sekalipun itu Jordi sang asisten. Lelaki yang begitu rapi itu sudah tak lagi ikut menginap di rumahnya. Ia resmi tinggal di rumah Bos Besar usai Aero dan Rea menikah.


"Aku ikut ke sasana boleh?" Rea menawarkan diri usai melihat Aeronya begitu bersemangat menyiapkan sendiri pakaian gantinya. Pekerjaan yang seharusnya ia lakukan dan entah kapan lagi kembali akan ia lakukan.


Hati Rea retak pelan-pelan. Sudah lebih dari tujuh hari dan hubungan mereka belum juga ada tanda-tanda ke arah perbaikan. Malah sepertinya ini akan terus menjauh dan berjarak. Sebenarnya apa yang diinginkan suaminya saat ini? Kalau ingin Rea berubah, maka katakan.


Rea mengekori suaminya yang melangkah cepat menuruni tangga. "Mas bisa nyusul?"


"Ngga!"


Tak ada lagi kata yang mampu Rea ucapkan. Dia seakan gagap untuk sekedar memohon. Bibirnya terkunci rapat dan tenggorokannya begitu tercekat. Hingga Aero duduk di atas motornya sambil memainkan gas, Rea belum juga berbuat apa-apa. Dia berdiri sekitar satu meter dari motor pabrikan Italia suaminya.


Mencegah rasanya tidak mungkin, apalagi mengubah rencana Aero untuk ikut dengannya, itu lebih mustahil. Maka, dengan rasa sesak di dadanya, Rea maju. Dia memberanikan diri menumpukkan telapak tangannya di atas tangan Aero yang menggenggam stang motor. Pria itu kaget, meski samar. Kepala tertutup helm full face, yang hanya menyisakan sepasang mata tajam untuk Rea selami.


Pelan-pelan Rea berpesan, ia memperlakukan Aero layaknya anak tersayang yang akan berangkat ke sekolah. "Hati-hati di jalan."

__ADS_1


"Ya."


Jujur, jawaban singkat macam ini sangat menyiksanya sebagai istri. Tidakkah Aero bersikap lebih lembut walau sekedar pura-pura? Menyenangkan istri, itu adalah kewajibannya. Atau mungkin dia sebenarnya lupa sudah punya pasangan hidup?


Suara mesin yang digeber terus terdengar.


"Aku ijin, nanti berangkat sama Bibi Yul jam 10. Aku nginap di Le Eminence Hotel. Kalau-"


"Hati-hati juga!" Katanya dingin tanpa menoleh sedikitpun. Rea berusaha menahannya dengan mengeratkan genggaman, berharap mata elang itu memandangnya penuh kasih. Sudah sangat lama Rea kehilangan itu, tak hanya kehangatan di tempat tidur, perhatian, juga tatapan hangat yang sering kali menyeringai. Atau senyum sinis karena perilaku istrinya yang ganas. Semua itu hilang. Bahkan Rea sering berdoa agar semua itu hanyalah prank saja, ia berharap Aero mengerjainya. Meski dengan cara yang sangat tidak disukai.


Kehidupannya sudah begitu berat, satu per satu orang yang dia sayang perlahan meninggalkannya. Entah karena disengaja maupun tidak. Kini, jika Aeronya juga perlahan meninggalkannya, Rea pikir dirinya tak begitu berharga lagi di dunia ini. Semua orang tak bertahan di sisinya. Apa dia perempuan yang jahat? Apakah dia wanita yang dikutuk? Apa dia membawa kesialan? Atau dia memang tak mendapatkan jodohnya di dunia?


Mengingat sedikit isi tausiah seorang Ustad, Rea yang sudah hampir menyerah mendadak bisa kembali kuat. Tiap orang punya ujiannya masing-masing. Sekalipun dia sukses, mapan dan tampan, mungkin penyakit jadi cobaannya. Mungkin pula sepasang suami istri yang saling mencintai, hidup berkecukupan, mereka bisa diuji lewat anaknya. Dan Rea, mungkin dirinya diuji lewat pasangan.


"Kesalahan aku besar banget ya? Sampai Mas ngga mau lihat aku sama sekali."


Aero tetap acuh, dia malah memainkan gas hingga menimbulkan suara menderu yang memekak telinga, sekaligus mengalahkan permintaan maaf istrinya.


"Maaf. Janji ngga akan diulang. Besok kalau aku pulang, jangan dicueki lagi ya." Katanya perlahan sambil menahan kesedihan. Dia tak ingin telihat cengeng, dia harus kuat dan tidak menyusahkan suaminya. "Aku kangen." Tambahnya lagi sambil menjauhkan tangannya dari stang motor. Dan mundur beberapa langkah untuk membiarkan Aero meninggalkan garasi dengan membawa motornya.


...***...


Tepat ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh, Rea meninggalkan rumah. Dia hanya membawa sebuah koper kecil dan sling bag untuk menemani kesendiriannya. Ya, atas keputusannya sendiri Rea berangkat tanpa Bibi Yul. Dia ingin menikmati me time yang sudah sangat lama tidka diperoleh


Dengan sendiri dia bisa menangis, tanpa takut orang lain melihat. Dengan sendiri ia bisa jadi Regina Athalia yang mandiri, kuat dan berani.


Tentang Aero?


Sebagai istri, dia tak mungkin pergi tanpa ijin, sebelum benar-benar berangkat Rea kembali mengirimkan pesan. Sebuah pesan cukup panjang yang lagi-lagi berisi permintaan maaf, ijin dan harapan agar Aero bisa menyusulnya-walau hanya dalam mimpi Rea nanti malam.


Happy reading gaess

__ADS_1


Ayo sapa yang bersedia nemenin Rea ke Bogor nih?


Jangan lupa untuk vote, comment dan likenya yaa


__ADS_2