
Meski tubuhnya nampak tegap berdiri gagah layaknya ksatria, tak ada seorangpun yang tahu perasaannya. Aero tak memiliki orang yang dia percayai untuk berkeluh kesah, sekalipun itu Jordi sang asisten setia. Setiap masalah, berusaha ia cari sendiri jalan keluarnya. Sebab ayahnya tak ingin ikut campur, walau statusnya di dunia bisnis adalah owner.
Dia menduduki satu status yang tinggi tapi kosong, sepi. Ada sesuatu yang perlu mengisinya. Dan lelaki berumur 30 tahun ini tidak tahu apa.
Bibi Yul pernah suatu ketika bertemu dengan Aero di Mall. Ia sedang menunggu di depan sebuah outlet pakaian ternama, saat beberapa lelaki gagah berjalan cepat tepat di depannya.
"Mas Aero?!" Reflek Bibi Yul memanggil, begitu melihat wajah tampan dengan tubuh berbalut setelan jas dan ia yakin benar siapa lelaki tersebut.
Mereka berhenti-lelaki berbalut jas hitam yang berjumlah tiga orang. Sekedar melirik guna memastikan siapa yang mengenal pimpinan sasana tinju ini, salah seorang yang berdiri di sisi kiri Aero melangkah mendekati sumber suara.
Baru dua langkah, Aero sudah mencegah dan meminta lelaki itu tak melanjutkan langkahnya. Tak beranjak dari kursi, Bibi Yul menatap Aero dari ujung kaki hingga kepala. Seperti menilai dan memastikan lagi penglihatannya. Siapa tahu mirip saja. Siapa tahu perkiraan Bibi Yul salah.
"Eh bener ya?" Tambahnya usai jarak di antara mereka tersisa dua meter.
"Tunggu sebentar. " Kata Aero pada Jordi dan Ardi yang mengikutinya. Mereka baru saja menemui salah seorang pengusaha di salah satu restoran Jepang.
"Lama ngga ketemu."
"Bibi sehat?" Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Aero setelah sekian lama. Wajahnya datar dan belum ada senyum yang terukir.
"Alhamdulillah, tambah gemuk."
Mata Aero melirik ke kanan dan kiri, mencari keberadaan seseorang dan itu bisa dipahami Bibi Yul. "Mba Rea lagi ke toilet." Katanya, memberikan apa yang ingin Aero tahu dengan cuma-cuma. "Mas Aero sibuk banget ya? Sampai ngga pernah main lagi." Celetuknya lagi, sebagai basa-basi, khas warga Indonesia.
"Iya. " Jawab Aero, diikuti anggukan mantap.
"Kapan-kapan main."
Bibi Yul berpura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara keduanya. Tindakannya ini sekaligus ingin mengamati perubahan ekspresi Aero, apakah pria itu canggung, bertingkah aneh atau biasa saja.
"Lain kali saja. Saya sibuk, dia juga tidak kalah sibuk kan? Saya masih ada pekerjaan Bi. Sehat selalu ya."
Sikap acuh, dingin dan tak ramah inilah yang membuat Bibi Yul tidak menceritakan pertemuannya dengan Aero pada si cantik Rea. Dia tidak ingin melihat wajah kecewa dan sakit hati lagi. Cukup sudah Aero menyiksa batin Rea.
...***...
__ADS_1
Disuatu sudut Rumah Sakit, duduk saling berhadapan Bibi Yul dan Aero. Dengan pemikiran yang sudah tak serumit beberapa hari lalu.
"Bibi kemarin ingin minta bantuan apa?"
Lebih dulu Bibi Yul tersenyum. Rea sudah sadar. Ia pun sudah mengetahui bagaimana kronologi kecelakaan lewat mulut anak asuhnya. Hilang sudah ketar-ketir yang dia rasakan. Ketakutan akan kemungkinan buruk yang sempat singgah, perlahan sirna. Bosnya tidak akan di penjara, karena statusnya disini sebagai korban. Itu cukup membuatnya lega. Meski masih miris melihat luka lecet di tubuh anak perempuannya.
"Sudah bisa ditangani sendiri. Ngga perlu. Mba Rea sudah sehat lagi." Begitu katanya, berusaha ramah dan tenang.
"Ok."
"Kenapa bisa Mas Aero sudah ada disana waktu itu? Saya yang ditelefon saja butuh waktu untuk sampai ke rumah sakit. Atau-"
"Bukan seperti apa yang Bibi pikirkan. Saya bukan yang menabrak. Bukan juga sedang mengikuti Rea."
"Terus?"
"Mobil yang menabrak Rea itu milik saya. Dipakai oleh teman saya. Kebetulan saya yang ditelefon untuk datang ke rumah sakit."
Jelasnya dengan tegas seperti tidak ingin lagi ditanyai, dan terlihat begitu meyakinkan sebab dijawab spontan tanpa berpikir lebih dulu.
"Iya."
Bibi Yul mengangguk paham. Sudah dua hari Rea dirawat, dan ini kali pertama pertemuan selanjutnya setelah hari itu. Maksudnya pertemuan di mall.
"Mas Aero ngga jenguk Mba Rea?"
"Sudah."
"Kapan?"
"Sebelum bibi sampai di rumah sakit."
"Tapi belum pernah ngobrol lagi."
"Buat apa? Yang penting dia selamat."
__ADS_1
Ok. Itu sudah mengisyaratkan jika Aero sudah tak ingin berhubungan dekat lagi dengan si cantik manis. Rasanya seluruh sikap respek yang selama ini Bibi Yul miliki rontok sudah. Mendengar bagaimana cara lelaki ini menanggapi omongannya, ingin sekali dia menempelkan teflon panas di wajahnya.
Menarik nafas lebih dulu untuk mengumpulkan energi. Bibi Yul mengangkat wajahnya, memandangi wajah anak muda yang begitu tampan dengan kesal. "Ini pengin Bibi omongin waktu itu. Tapi Mas Aero keburu pergi."
Usai menjeda beberapa detik, keluarlah apa yang sudag terpendam lama di hati wanita setia ini. "Mba Rea perempuan baik-baik. Bersikap biasa saja bukan menunjukkan dia tidak memiliki masalah. Bibi tahu, dia menganggap Mas Aero sudah lebih dari teman. Bibi senang liat Mba Rea keliatan hidup kalau sama Mas Aero. Harusnya tidak berakhir seperti ini. Kalian sudah dewasa. Jika memulai dengan cara yang baik. Maka saat ingin memutuskan hubungan pun, sebaiknya lelaki sejati datang dan menyampaikan dengan baik pula. Tidak serta merta pergi begitu saja. Masalah sakit hati itu biasa. Yang terpenting tidak ada kesakitan yang berkelanjutan. Sama saja dosa jariyah, menyakiti hati manusia terus menerus.
Mba Rea bukan orang ambisuis. Dia sederhana, ngga suka yang muluk-muluk. Mas Aero datang. Dan bilang apa yang ingin disampaikan. Dia bukan anak kecil. Pasti paham bagaimana menyikapi penolakan."
Dadanya kembang kempis cepat. Matanya menyotot Aero yang hanya diam. "Maaf kalo Bibi ikut campur dan sok tahu. Padahal bukan siapa-siapa."
Aero mengangguk saja dengan wajah yang senantiasa dijaga tetap flat.
"Lebih cepat bilang lebih baik Mas. Biar Mba Rea ngga merasa bersalah terus menerus. Selama ini, dia merasa punya dosa yang besar tapi ngga tau itu apa. Soalnya Mas Aero ngga pernah muncul lagi. Jangan menggantungkan perasaan wanita. Dosa.-Bibi kembali ke kamar dulu. "
"Iya."
Aero duduk dengan pandangan mata fokus ke satu titik,yaitu asbak rokok. Namun pikirannya entah sedang berada dimana.
Sudah dia ingat kembali alasan kenapa mendekati Rea. Itu karena dia kasihan. Tak ada rasa berbunga-bunga atau percikanapi panas yang muncul saat mereka tengah berdua-menurut Aero. Aero tidak suka saat orang lain menyukainya, karena akan nampak membuatnya risih. Bertindak berlebihan, meminta hal yang berlebihan, dan itu masih mengganggunya.
"Mas!"
"Ya?"
"Herry sudah bisa pulang." Jordi memberikan informasi tentang Herry-teman yang meminjam mobil lambo miliknya atau bisa juga disebut orang yang menabrak mobil Rea dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sepi namun hujan deras itu.
"Kita pulang." Ajak Aero.
"Itu-"
Jordi kembali menelan kata-kata yang ingin sekali diucapkan. Percuma Bos Aero sudah melenggap pergi menyusuri kornidor rumah sakit menuju pintu keluar, bahkan tak ingin berhenti sejenak untuk mendengar satu kalimat darinya. Ia hanya ingin mengatakan, "itu Mas. Mba Rea pengin ketemu." Tapi melihat bagaimana ekspresi Aero saat ini, ia lebih baik diam. Lelaki itu lagi-lagi dalam emosi yang tidak stabil.
Bukannya Aero tidak peduli. Aero bahkan tahu bagaimana kejadiannya, karena kebetulan mobilnya tak jauh dari mobil lambo. Sekitar 10 meter di belakang truk ada mobil Aero yang melaju tak kalah kencang, namun beruntung ia segera mengerem saat tau truk mendadak berhenti. Ia tidak ikut berbaur dalam kecelakaan beruntun.
Aero peduli. Bahkan, ia sendiri yang mengeluarkan tubuh Rea dari dalam benda terbalik itu. Ia sendiri yang menggendongnya menuju mobilnya dan membawa ke rumah sakit. He did that.
__ADS_1
Aero masih seperti puzzle yang berserakan. Tak jelas apa bentuknya sebelum disusun dengan sabar oleh sang penakluk.