Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Club! Restoran?


__ADS_3

.


Pukul 07:12 WIB


Esme terbangun dari tidurnya karena suara ketukan pintu. Ia mengerjapkan matanya, seketika Esme tersadar ia tertidur setelah salat subuh dengan mukena yang masih terpakai. Ketukan pintu itu semakin sering diiringi dengan suara bi Inah yang terus memanggil namanya. Esme langsung beranjak, melipat mukena dan sajadahnya, lalu ia segera membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Esme, ia melihat Bi Inah membawa sebotol air dingin, beberapa es batu yang berbentuk kotak kecil, mangkuk besar dan sebuah kain. Esme mengernyit terheran.


Bi Inah langsung menerobos masuk begitu saja kedalam kamarnya, hingga tubuh Esme pun terdorong masuk olehnya. Esme semakin bertanya-tanya.


"Non, duduk disini!" pinta Bi Inah yang menunjuk ke arah ranjang.


Ah! Sepertinya Bi Inah tahu saat aku menangis tadi. (Batin Esme menyadarinya sendiri)


Esme pun langsung duduk di atas ranjangnya. "Apa sangat terlihat jelas mata sembabnya, Bi?" tanya Esme yang saat itu matanya tertutup karena sedang di kompres oleh Bi Inah.


Bi Inah tersenyum. "Bibi tahu Non sedang ada masalah, tapi Bibi tidak akan lebih membebankan Non lagi dengan pertanyaan. Bibi hanya bisa berdoa, semoga masalah Non bisa segera terselesaikan," ucap Bi Inah.


Perkataan Bi Inah selalu membuat Esme merasa damai. Bi Inah memang selalu mengerti keadaan Esme.


Setelah selesai mengompres, Bi Inah pun kembali mengerjakan tugasnya di dapur. Lalu, Esme memakai baju kerjanya dan segera merias wajahnya.


Saat matanya melirik ponsel yang tergeletak di atas meja rias, Esme langsung termenung. Ia sangat penasaran, ingin sekali memeriksa ponselnya, apakah Leo mengirim pesan atau meneleponnya pagi ini. Jika pun Leo mengiriminya pesan, apakah isi pesannya itu adalah sebuah permintaan maaf?


Saat Esme akan memeriksa ponselnya, tiba-tiba Ny.Hilda memanggilnya dari lantai dasar untuk sarapan. Esme tak jadi memeriksa ponselnya, ia langsung memasukan ponsel itu kedalam tas miliknya yang akan dipakai kerja hari ini.


Kemudian, Esme pun berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan.


Tapi, karena waktu sudah akan menunjukan pukul delapan, Esme jadi tak sempat untuk duduk sarapan bersama dengan keluarganya. Ia harus segera ke kantor karena jadwal hari ini adalah kunjungan langsung ke Supermarket yang Leo tantang untuk melepas kerugian yang sedang terjadi di Supermarket itu.


Esme mengambil roti bagiannya yang sudah Ny.Hilda siapkan, ia langsung bersalaman pada kedua orang tuanya, juga Balmond dan mengucapkan salam pada mereka.


"Esme, kenapa terburu-buru sekali?" tanya Tn.Harits dengan sedikit perasaan canggung, karena kejadian subuh ini.


"Ayah, sekarang sudah hampir pukul delapan. Hari ini aku ada urusan penting di kantor," jawab Esme, ia pun melanjutkan langkah kakinya keluar dari rumah.


Tiba-tiba, Balmond yang masih sarapan beranjak dari duduknya, ia berniat akan menyusul Esme. "Ayah, ibu. Aku juga harus segera ke kantor sekarang!" ucapnya dengan mulut penuh makanan. Balmond langsung bersalaman dan berlari mengejar Esme yang ikut serta membawa perut buncitnya itu.


Esme sudah masuk kedalam mobil dan akan menyalakan mesin mobilnya. Balmond langsung menggedor-gedor kaca mobil itu hingga membuat Esme terhentak kaget.


Esme langsung membuka kaca mobilnya.


"Ada apa? Apa kau ingin menitip makanan saat aku pulang kerja? Nanti akan aku belikan, sekarang aku harus cepat-cepat ke kantor!" ucap Esme dengan kecepatan bicaranya.


"Tidak, bukan itu. Cepat buka dulu pintu mobil belakang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Kau bisa berkendara sambil mendengarkan pembicaraanku kan!" katanya dengan nafas terengah-engah.


Ada apa? Tidak biasanya Balmond berekspresi seserius ini. (Batin Esme penasaran)


Balmond langsung masuk kedalam mobil setelah Esme membukakan pintu mobil belakang yang dikunci. Ia langsung melaju menuju kantornya.


Di dalam perjalanan, Esme mengintip Balmond dari kaca yang sedang terlihat gelisah. Ia mengetahui kegelisahan kakaknya itu karena Balmond memainkan jari jemarinya.

__ADS_1


"Esme!" panggil Balmond membuka pembicaraan. "Apa semalam kau dan Leo pergi berkencan di restoran The One?" tanya Balmond.


The One? (Esme mengernyit, heran)


"Mm... memangnya kenapa?" Esme balik bertanya. Jiwa penasarannya bergejolak.


"Aku melihat Leo keluar dari mobil sambil merangkulmu memasuki The One. Tapi, kenapa kau tidak mengajakku ke restoran yang sedang viral itu? Katanya makanan disana sangat lezat, apa benar begitu?" tanya Balmond.


Esme menciutkan kedua matanya. Ia semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan kakaknya itu. Ia berusaha mencerna sebisa mungkin maksud perkataan Balmond.


"Esme, lampu merah. Berhenti!!" teriak Balmond, panik. Esme langsung tersadar, dan langsung menginjak pedal rem.


"Kenapa kau melamun? Betulkan, malam tadi kau ke restoran itu dengan gaun merah bersama Leo?" Pertanyaan kedua dari Balmond yang membuat Esme semakin mengernyitkan dahinya.


Gaun merah? Bukan! ... Semalam aku memakai gaun hitam yang aku beli di Amerika saat aku masih kuliah disana.


"Mm... ya, tentu." Akhirnya Esme memilih untuk berbohong, karena entah apa yang akan terjadi jika ia berkata jujur bahwa semalam mereka berkencan di Club bukan di restoran yang Balmond maksud.


Hal ini begitu janggal menurut Esme.


"Bagaimana makanan disana? Jika benar enak seperti yang teman-temanku katakan, aku akan kesana saat pulang kerja," ucap Balmond dengan wajah menunggu ungkapan dari Esme soal makanan di restoran itu.


Esme menjadi tidak fokus, karena ucapan Balmond membuat otak Esme dipenuhi segudang pertanyaan saat ini.


Balmond pun memanggil-manggil namanya. Ia dibuat kesal hati karena merasa di abaikan oleh Esme.


"Ck. Sudahlah, berhentikan mobilnya. Turunkan aku di persimpangan itu !" decak Balmond dengan wajah datar sambil menunjuk ke persimpangan jalan yang ia maksud.


"Mmm...," jawab Balmond dengan raut wajah kesal, kemudian ia keluar dari mobil Esme.


Bruk..


Suara pintu mobil yang ditutup.


Esme terjeda sesaat, ia masih memikirkan ucapan Balmond. Segudang pertanyaan di otaknya dan keresahan di benaknya terus menyerbu.


Tapi Esme langsung menepis semua itu, ucapan Balmond tak boleh membuat semangatnya ciut dalam menjalankan pekerjaannya. Ia harus tetap profesional dalam bekerja.


Esme pun mengemudikan mobilnya lagi menuju kantornya.


Sesampainya di kantor, ternyata Dirga sudah menunggu Esme sedari tadi di depan ruang kerjanya. Dirga adalah wakil direkturnya yang akan ikut serta dengan dirinya melakukan kunjungan lapangan hari ini.


Esme mengatur nafasnya, sambil berjalan mendekat ke arah Dirga. Ia berusaha untuk mengesampingkan dulu pikirannya yang saat itu terus saja memikirkan kejadian malam tadi dan ucapan Balmond.


"Dirga! Maaf, aku sedikit terlambat," seru Esme sambil tersenyum ke arahnya.


"Ah, santai saja direktur! Tidak terlalu diburu-buru, kok." Dirga berbicara sungkan pada Esme.


Kemudian, Esme dan Dirga segera menjalankan tugasnya menuju Supermarket yang berada dipinggir Kota.


...

__ADS_1


Selang beberapa menit, Leo yang berpakaian sangat rapi dengan kemeja hitam berdasinya, berjalan sangat arogan menuju ruang kerja Esme.


Ia melewati meja sekretaris Esme, yaitu Kadita.


"Kadita, apakah Esme masuk kerja hari ini?" tanya Leo dengan raut wajah panik.


Kadita sedikit terkejut, karena Leo tak biasanya mampir kesitu. "Ah! Mm... ya," jawabnya singkat.


Leo pun segera memasuki ruang kerja Esme, dan langsung disusul oleh Kadita.


Bruk...


Leo membuka pintu itu dengan kasar.


Kadita mengernyit heran dengan perasaan takut. "Sepertinya suasana hati Leo sedang tidak bersahabat. Apa Esme membuat ulah?" gumam Kadita.


Leo mengedarkan pandangan matanya, ia tak mendapati Esme disana. Leo semakin panik.


"Dimana Esme? Kau bilang dia masuk kerja hari ini," bicara Leo dengan suara meninggi.


Kadita memasang wajah takut. "Leo ! Esme dan wakil direktur saat ini sedang pergi kunjungan lapangan ke Supermarket yang berada dipinggir Kota," jawabnya dengan mata tertutup karena begitu seramnya wajah Leo saat ini.


Arrgghhhh !!! (Batin Leo menggeram)


"Huh ...." Leo langsung menghela nafas panjang, dan mengatur emosinya. "Kadita, aku ingatkan padamu, walaupun aku, kau dan Esme adalah teman SMA, tapi jika kita sedang berada di kantor sebaiknya kau memanggilku dengan sebutan presdir seperti staf yang lainnya, panggil Esme juga dengan sebutan direktur. Tidak enak jika terdengar staf lain, kau memanggil atasan dengan namanya secara langsung," ucap Leo, ia langsung merapikan posisi jasnya dan berjalan melewati Kadita begitu saja setelah mengomelinya.


Kadita tertunduk, setelah mendengar ucapan dari Leo. Ia merasa dirinya sangat rendah, itu membuat semangatnya jadi luntur.


Kadita tak menyangka, Leo yang saat SMA pendiam, saat ini menjadi begitu arogan dan bermulut pedas.


...


Sampailah Leo di ruang kerjanya.


Ia langsung duduk dan meneguk secangkir kopi hangat yang sudah tersedia di atas meja kerjanya, dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Perasaannya bercampur aduk saat ini.


Kenapa Esme meninggalkanku begitu saja di Club? Dia juga tidak membalas pesanku dan tidak menjawab teleponku. Pasti Esme sangat marah dan kecewa padaku. Uh, ini tidak bisa dibiarkan! (Batin Leo, cemas)


Kemudian, Leo beranjak dan mengambil coatnya yang tergantung di samping jendela.


Leo memakai coat miliknya itu dan langsung berjalan ke luar dari ruang kerjanya.


Leo berniat akan menyusul Esme ke Supermarket itu.


...


BERSAMBUNG !!!!


Ayo dong like, komen dan vote nya.


Jangan lupa juga di Favoritkan ya ❤

__ADS_1


__ADS_2