
.
Malam hari, tepatnya pukul 08:42 WIB, Leo sedang berdandan setampan mungkin. Ia bahkan memakai parfum mahal untuk bertemu seseorang di Mouse Hotel, dan itu sangat membuat Alice tidak tahan untuk tidak tinggal diam.
Alice akan mengikutinya malam ini, walaupun harus merelakan membawa perut besar bersamanya.
"Tenang, nak. Ibu tidak akan membiarkan ayahmu menemui selingkuhannya!" gumam Alice sambil mengelus perutnya saat berpura-pura tidur, agar Leo tak curiga.
Bisa-bisanya dia membeli parfum mahal disaat keuangan sedang kritis. (Batin Alice)
Leo berjalan mengendap-endap, ia menghampiri Alice untuk memeriksa apa Alice benar-benar sudah tidur?
Alice segera memejamkan matanya rapat-rapat saat tangan Leo melambai-lambai dihadapan matanya.
Wanita menyusahkan ini sudah tidur. Baiklah... (Batin Leo)
Leo kembali berjalan mengendap-endap bagai kepiting, ia ke luar dari kontrakan sempitnya itu. Membuka lalu kembali menutup pintunya sangat hati-hati.
Suasana kontaran sudah hening. Alice segera beranjak, ia menendang guling yang ia peluk sedari tadi. Jiwanya penuh amarah dan kebencian.
Alice mengintip ke luar jendela, apakah Leo sudah jalan? Ya, sudah! ... Ia pun segera mengganti pakaiannya. Alice memakai kaca mata hitam, pakaian tertutup, lalu kain untuk menutupi rambutnya. Ia ke luar dari kontrakannya dengan menutupi setengah wajahnya.
Jalannya menunduk dan penuh dengan rasa kewaspadaan. Ia takut Leo menyadarinya bahwa dirinya mengikuti Leo yang saat ini berjarak 5 meter darinya.
__ADS_1
Alice sesekali mengumpat di balik dinding rumah-rumah, untuk menghindari kecurigaan Leo, karena insting Leo mengatakan ia sedang diikuti seseorang. Tapi, saat melihat ke belakang, tidak ada siapapun.
Leo terlihat sedang menjawab panggilan telepon. Alice terus memperhatikannya.
"Sedang menelepon siapa dia?" gumamnya.
Tidak lama, sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan Leo. Seorang pria tua ke luar dari mobil mewah itu, ia membungkukkan tubuhnya pada Leo, lalu membukakan pintu bagian belakang.
Di dalam mobil terlihat ada seorang wanita. Leo pun masuk sambil melihat ke sekeliling.
"S-siapa wanita yang bersamanya itu? Dan... mau kemana mereka?" Kedua mata Alice terbelalak. Ia sangat panik saat melihat mobil mewah itu sudah melaju pergi dari situ.
Alice berlari, kemudian ia segera menghentikan taxi yang sedang melintas di jalan raya.
Brukk...
Supir taxi tersebut sedikit ragu, karena melihat perut buncit Alice. Ia takut terjadi apa-apa pada ibu hamil.
"Kenapa masih belum jalan! Cepat kejar mobil di depan. Aku akan membayarmu dua kali lipat!!!" kecam Alice sambil menyengkram kasar kemeja kerja si supir.
"A-em, baik Nona."
Taxi itu pun segera mengikuti mobil yang membawa Leo.
__ADS_1
Berhentilah mobil mewah itu di Mose Hotel. Leo ke luar dari mobil, sambil memapah seorang wanita. Sangat romantis.
Jiwa Alice semakin membara saat melihatnya. Ia menggertakkan giginya, hingga rahangnya mengeras. Panas sekali hatinya. Sangat tidak terima melihat Leo selembut itu pada wanita lain.
Leo masuk ke dalam Hotel itu.
Alice membayar ongkos taxi dengan uang dan sebuah kalung emas yang cukup tinggi harganya, karena Alice sudah tak memegang uang lagi. Ia berjalan mengendap-endap mengikuti mereka.
Leo dan wanita itu terlihat sedang duduk di sofa restoran yang ada di dalam Hotel tersebut. Alice memasang kembali penyamarannya. Ia berjalan melewati mereka sambil menutupi wajahnya, lalu duduk di belakang sofa yang sedang Leo dan wanita itu duduki. Tujuan jelasnya agar Alice bisa menguping apapun yang Leo dan wanita itu bicarakan.
Alice berpura-pura membuka wadah bedaknya, padahal ia ingin mengintip pada cermin kecil yang menempel di wadah kaca miliknya, seberapa cantik wanita itu.
"Ya Tuhan!!! Apa yang aku lihat?" Kedua mata Alice enggan berkedip. "Sial!! Kenapa tidak ada celah jelek sedikitpun dari wajahnya? Wajahnya malah mirip artis Korea!!"
Seorang pelayan menghampiri meja Leo dan wanita itu. "Silahkan, Tuan dan Nyonya ingin memesan apa?" tanyanya sopan.
"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu. Kau boleh memesan apapun yang kau mau, aku akan menelaktirmu sebagai hadiah pertemuan kita." Wanita ini bicara bahasa Indonesianya sangat kaku.
"Ah, tidak perlu repot-repot. Seharusnya aku yang merasa ini suatu kehormatan besar bisa bertemu dengan wanita secantik dirimu, Nona Ara." Leo sangat gugup.
Ara? Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa bicaranya terdengar sangat kaku? (Batin Alice yang sedang menguping)
Ara tersenyum samar, lalu ia memesan semua menu terbaik di restoran itu pada si pelayan.
__ADS_1
...
Mau kemana? LIKE, KOMEN & TIPS dulu dong 😍