
.
Sesampainya di Indonesia. Alucard segera membawa Esme ke dalam taxi, menuju apartemennya. Mereka akan beristirahat disana hari ini, lalu pindah ke rumah baru, besok pagi.
Baru saja menjejakkan kaki di dalam apartemennya, tiba-tiba ponsel Alucard berdering. Panggilan dari Claude. Claude menyuruhnya untuk datang ke perusahaan.
"Tapi, aku baru saja sampai beberapa detik yang lalu. Duduk saja belum," ucap Alucard dibalik telepon.
"Ini sangat penting, Kak. Jika Kakak tidak mengirim Roger ke luar Pulau, mungkin dia yang akan menggantikan Kakak saat ini," kata Claude di balik telepon.
"Ck, ya sudah pekerjakan lagi saja dia di Jakarta!"
"Baik, aku akan mengembalikan dia ke perusahaan. Tapi, Kakak tetap harus ke sini sekarang juga. Perusahaan sangat membutuhkanmu!"
"Si Kim kemana? Suruh saja dia yang menggantikanku."
"Beberapa hari ini dia sudah sangat sibuk mengurus laporan. Aku menyerahkan perusahaan ini pada Kakak bukan pada Kim. Kakak seharusnya menjaga perusahaan ini sebaik mungkin dong!" kecam Claude.
"Hufff... semakin lama kau semakin mirip ibu. Baiklah, aku akan tiba di perusahaan 15 menit lagi." Alucard menutup panggilan telepon itu. Ia terduduk di sofa sambil memijat keningnya.
Esme yang baru saja membersikan kamar tidur, berjalan menghampirinya. "Aku baru saja mengganti sepreinya. Apa kau mau istirahat di kamar?" tanya Esme.
Alucard menarik tangan Esme, hingga Esme terjatuh dan terduduk di lahunannya.
"Kenapa?" tanya Esme sedikit cemas, karena wajah Alucard tak bersemangat.
"Aku harus pergi ke perusahaan sekarang."
"Kita kan baru saja sampai? Ada masalah apa diperusahaan?"
"Entahlah, Claude hanya menyuruhku untuk segera kesana. Tidak apa-apa kah jika kau kutinggalkan?" tanya Alucard, ia merasa tidak tega.
"Emm, aku sih tidak apa-apa. Tapi, kau? Kau pasti sangat lelah 'kan?"
"Apa kau sedang mencemaskan suamimu?" Alucard tersenyum manja.
"Tentu saja, sayaang!"
"Kalau begitu, cium aku untuk mengembalikan semangatku," pintanya.
__ADS_1
"Muah!!... Bagaimana? Sudah pulih semangatnya?" tanya Esme.
"Pipi kirinya belum?"
"Muah...,"
"Keningku? Hidungku? Lalu... bibirku?" pintanya lagi tak tahu malu.
"Cih, setelah semua itu ku cium pasti kau akan meminta lebih kan?" Esme menatap curiga.
"Hahaha... baiklah, simpan ini sampai menstruasimu selesai. Bangun! Kau sangat berat, tahu."
Berat? (Batin Esme)
"Rrghh... suruh siapa kau menarik aku?" Esme langsung terbangun.
Alucard beranjak lalu memeluknya dari belakang, ia berbisik. "Jangan marah, nanti aku susah menenangkanmu. Aku akan pulang cepat. Kau masakkan aku semur jengkol yang enak, ya?" Alucard mencium kening Esme, kemudian berlalu keluar dari apartemen dengan membawa kunci mobil setelah membisikan permintaan itu.
Semur jengkol? Aiss... aku tak habis pikir dengannya. (Batin Esme)
...
Di waktu yang bersamaan.
Kriing... kriing... kriing...
Ketemu! Ternyata ponselnya tertindih oleh tubuh Leo sendiri. Alice segera mengambilnya, dan langsung mematikannya tanpa melihat siapa yang menelepon. Ia berjalan kembali untuk melanjutkan makan siangnya.
Kriing... kriing... kriing...
Lagi-lagi ponsel Leo berdering. Alice meletakan sedoknya dengan raut wajah kesal. Ia kembali dan mencoba memeriksa siapa yang menelepon Leo.
"Siapa ini? Nomor tidak dikenal?" gumam Alice.
Ponsel itu terus berdering. Membuat Alice sedikit tergerak, penasara. Lalu, ia mencoba untuk menjawab panggilan telepon itu.
Alice tak bersuara, ia sedang meningkatkan tingkat kewaspadaannya. Takutnya, yang menelepon ini adalah seorang penipu atau seseorang yang jahat.
"Hallo?" ucap si penelepon.
__ADS_1
Seorang wanita? Siapa dia, dan mau apa? Apa dia selingkuhan Kak Leo? (Batin Alice)
"Hallooo... hallooo???" ucap si penelepon lagi.
Alice segera membangunkan Leo. Tidak lama, Leopun terbangun.
"Aku bilang, ketika aku sedang tidur jangan pernah menggangguku!" teriak Leo.
"Ponsel Kakak berdering terus dari tadi, aku coba mengangkatnya, dan ini panggilan dari seorang wanita. Kau bicaralah dengannya, sepertinya ada hal yang sangat penting!" tutur Alice dengan rasa cemburu yang menggebu.
Leo langsung beranjak. "Seorang wanita?" Ia segera merampas ponselnya dari tangan Alice.
Cih, dia langsung mengambil ponselnya! Apa benar, itu dari selingkuhannya? (Batin Alice)
"Ya, hallo?" ucap Leo.
Leo mendengarkan dengan seksama ucapan si penelepon itu, hingga Alice sangat penasaran apa yang mereka obrolkan, karena Leo terlihat sangat serius.
"Pergi! Syuhh... jangan menguping!" ucap Leo, mengusir Alice.
Kak Leo mengusirku? Dasar brengsek. Wanita mana yang berani merebut Kak Leo dariku dan menghasutnya untuk membuatku pergi!!! (Batin Alice, menggeram)
Kedua mata Alice berkaca-kaca, ia sangat kesal juga benci. Lalu, Alice sedikit menjauh dari Leo, ia melanjutkan makan siangnya lagi. Alice berpura-pura tidak perduli, padahal indra pendengarannya sangat tajam saat ini.
"Aku ingin bekerjasama denganmu tentang Esmeralda," ucap si penelepon.
Kedua mata Leo langsung terbelalak. "Esme?" gumam Leo.
Leo beranjak, ia mengecilkan suaranya takut Alice mendengar. Alice semakin dibuat penasaran. Ia lebih menajamkan pendengarannya.
"Ya katakan ... oh, baik, baik! ... Dimana?... Ah! Mouse Hotel? ... Besok, jam 9 malam? Emm, baiklah aku akan berusaha mengosongkan jadwalku! ... Ya, sampai bertemu disana," bisik Leo. Panggilan telepon pun berakhir.
Mouse Hotel, jam 9 malam besok? Rrghh...
aku ingin lihat, wanita seperti apa yang akan tidur dengan suamiku! (Batin Alice, penuh amarah)
...
BERSAMBUNG !!!
__ADS_1
Mau kemana? LIKE, KOMEN & TIPS dulu ❤
Akutuh suka sedih, banyak yang minta up cepet, tapi banyak juga yang gak menghargai sedikitpun, setidaknya berikan like, komen/vote. Kalau seperti ini terus, aku pundung nih 🤧 huwaaaa... 😭😭