
.
Di waktu yang bersamaan.
Setiap waktu Kadita selalu menyempatkan berkunjung ke rumah Alice, menemaninya, menyemangatinya agar tidak semakin terpuruk, Kadita mengkhawatirkan janin yang ada di dalam kandungan Alice.
"Alice, aku janji akan membuat Leo menikahimu. Kau fokus saja dulu menyelesaikan Ujian Nasional. Tapi, setelah ujian selesai, kau harus memberi tahukan semuanya pada ayah dan ibumu," kata Kadita.
Alice yang sedang berbaring langsung beranjak sambil menghapus air matanya. "Tapi... tapi aku belum siap, Kak. Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewanya ayah dan ibu."
"Hmm... ini semua sudah terjadi Alice. Mau di tutup-tutupi sampai kapan? Kau dan Leo harus segera menikah. Orang tuamu harus tahu," ucap Kadita dengan suara yang lembut. Kadita beranjak dan mengaitkan tasnya.
"Kakak mau kemana?" tanya Alice yang tidak rela ditinggal sendiri. Alice sudah sangat nyaman dengan kehadiran Kadita, karena hanya Kadita lah tempatnya berkeluh kesah di saat sedang terpuruk seperti ini.
"Aku punya suami yang harus di urus, Alice. Ini sudah malam, dia pasti mencemaskan aku," jawabnya sambil tersenyum dusta.
"Kakak sangat beruntung sekali bertemu dengan kak Garry. Pasti kak Garry sangat menyayangi dan mencintai Kakak, tidak seperti Kak Leo." Alice termenung, ia meratapi nasibnya.
Kadita tidak menyangkalnya, ia hanya memaksakan tersenyum. Paman, bibi dan Alice tidak ada yang tahu seperti apa bejadnya Garry ketika di rumah. Kadita tidak pernah berniat menceritakan keadaan rumah tangganya yang bagaikan neraka itu, ia tak ingin membuat paman dan bibinya khawatir. Cukup dirinya saja yang menanggung derita ini.
Kadita berjalan keluar dari kamar Alice, ia berpamitan pada Tn.Argus dan Ny.Irina untuk pulang, lalu Kadita segera masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumahnya. Entah kejutan apalagi yang akan Garry perlihatkan.
Sebelum badai menerjang, Kadita segera menyiapkan antisipasi agar hatinya tidak semakin terluka.
Sampailah dirumahnya. Mobil Garry sudah terparkir di garasi rumah, lalu ia masuk dan melihat ada higheels berwarna merah jambu yang tersusun berantakan di rak sepatu. Sudah bukan hal aneh lagi baginya. Kadita berlalu melewatinya, tak ingin ambil pusing.
Ia berjalan membuka lemari pendingin, mengambil minuman dan beberapa makanan dari sana, lalu membawanya masuk kedalam kamarnya. Kadita membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan sambil menghabiskan minuman dan makanan itu.
Tapi, tiba-tiba saja...
Ah... ah....
Aktifitas Kadita langsung terhenti saat mendengar suara desahan yang berasal dari lantai atas, wajahnya mendongak. Kadita menelan salivanya, lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia berusaha mengabaikannya dengan air mata yang membendung.
Argh... uh... a-aaahhh...
Kadita semakin gerah, ia meremas botol minuman dan meneguknya habis, lalu memasukkan semua isi makanan ke dalam mulutnya, hingga ia kesusahan mengunyah karena mulut mungilnya penuh dengan makanan.
Setelah makanan di dalam mulutnya habis ditelan, Kadita membuka laci lemarinya, ia mengambil sesuatu di sana, kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Garry.
Tok... tok... tok...
Kadita mengetuk pintu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Setelah menunggu satu menit, akhirnya pintu pun terbuka.
Garry yang setengah telanjang, menyenderkan tubuhnya di samping pintu.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya sinis.
Kadita tak berani menatap wajahnya, apalagi mengintip ke dalam kamarnya. Ia segera memberikan bungkusan merk Fie*ta pada Garry. Garry mengernyitkan dahinya.
Kond*m?
Garry menatap tajam wajah Kadita. "Apa maksudnya ini? Kenapa kau memberikan aku kond*m?" Wajah Garry sudah tak enak di pandang, ia merasa marah saat Kadita memberikan itu padanya.
Kadita masih tak berani menatap wajah Garry. "Aku sangat peduli pada orang tuamu. Aku hanya takut kau menyimpan benih di rahim salah satu wanita yang sering kau tiduri dan membuat ayah ibumu kecewa," katanya.
Garry menggertakan giginya. Ia tak habis pikir dengan wanita dihadapannya, padahal Kadita itu istrinya, tapi saat suaminya bermain api di belakangnya kenapa ia tak menghentikannya, malah memberikan pengaman agar Garry tak menghamili wanita lain? Apakah wanita macam ini yang disebut bidadari surga?
Kadita berbalik dan berjalan meninggalkan Garry.
"Tunggu!" Langkah kaki Kadita langsung terhenti. "Apakah kau pernah tidur dengan pria lain setelah kita menikah?" tanyanya penasaran.
Air mata Kadita menetes, ia langsung menghapusnya. "Tidak ada urusannya denganmu. Jika aku berniat aku akan langsung pergi mencari pelampiasan pada pria hidung belang. Aku masih muda dan masih perawan, tidak ada pria yang akan menolakku," ucapnya penuh ketegaran palsu.
"Jika kau belum pernah melakukannya, lalu dari mana kau mendapatkan ini?" Garry melemparkan bungkus kond*m itu hingga mendarat tepat di samping kakinya.
Kadita terdiam membisu. Kebisuan Kadita membuat Garry semakin panas, tak sabaran. Ia jadi berpikir kemana-mana.
Garry memutar paksa tubuh Kadita.
"Apa kau tidak punya mulut? ... Jawab pertanyaanku! Apa kau pernah melakukannya dengan pria lain?" nada bicara Garry meninggi.
Tak pernah terbayangkan oleh Garry, Kadita akan bersikap kasar seperti itu padanya hingga membuat hatinya sangat sakit saat mendengar kata 'jijik' dari mulutnya.
Selama ini Kadita selalu diam, entah sejak kapan sikap kerasnya ini merasuki tubuhnya.
Garry menggertakkan giginya, hingga rahangnya mengeras.
"Jadi, selama ini kau diam karena surat perjanjian itu? Kau tidak pernah marah melihat suamimu membawa wanita lain ke rumah karena surat perjanjian itu juga !" Kekesalannya sudah menggunung. Ternyata ulah dirinya sendirilah yang membuat Kadita mau tak mau selalu bungkam, hingga membuat rumah tangganya hancur separah ini.
Garry berjalan masuk ke kamarnya, ia membuka kasar lemari bajunya lalu mengambil lembaran kertas perjanjian pernikahan. Ia merobeknya di hadapan Kadita dengan raut wajah yang menakutkan.
Kadita terbelalak. "A-apa yang kau lakukan? Kenapa kau merobeknya? tanyanya heran.
Garry menyentuh kedua bahu Kadita, ia mendorong tubuh Kadita hingga terhentak ke dinding, lalu mencium bibir Kadita dengan kasar, hingga Kadita kesulitan bernafas.
"Garry! Uh...,"
Tubuhnya langsung meronta-ronta berusaha menghentikan tindakan gila yang Garry lakukan dengan mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Sayangnya, usahanya itu hanya sia-sia. Garry malah semakin menggila, ia menggiring tubuh Kadita ke dalam kamarnya dan membanting tubuh Kadita di atas ranjang.
"Garry! Hentikan! Ada apa denganmu, apa kau sudah gila?" tubuh Kadita gemetar hebat, keringatnya pun bercucuran. Ia sangat ketakutan saat ini.
__ADS_1
Kadita memutar bola matanya, ia melihat sekeliling ruangan. Dimana wanita yang tadi mendesah itu? Kemana perginya? Yang ada hanyalah televisi yang menyala, tapi layarnya hitam.
"Tidak ada wanita lain di kamarku. Puas!" teriak Garry. "Aku sudah merobek surat perjanjian itu. Jadi... bisakah, ketika aku membawa wanita lain kau bertindak dan marah layaknya seorang istri !"
Kadita terhenti, ia tak mengerti apa maksud Garry. Kenapa Garry tiba-tiba menjadi seperti ini?
Kadita beranjak dari ranjangnya. Garry langsung menarik tangannya, dan menghimpit tubuh Kadita dengan tubuhnya di atas ranjang, hingga sudah tak ada jarak lagi di antara mereka.
Kadita memalingkan wajahnya, karena jarak wajah mereka hanya berjarak 2cm, itu membuatnya sangat gugup.
Garry mulai menj*lat telinga kirinya, hingga tubuh Kadita menegang.
Kadita memukul-mukul bahu Garry sambil menyapitkan lehernya karena geli. "Garry, aku mohon jangan seperti ini!" Garry tak menghiraukannya, ia malah semakin mengeratkan tubuhnya, hingga buah dada Kadita menempel di dadanya bagaikan perekat.
"Hey! Sadarlah... aku bukan wanita yang sering kau tiduri!" teriak Kadita.
Garry langsung terhenti. "Kau tidak mau melakukannya denganku?" tanyanya dengan tatapan mata yang tajam.
Kedua bola mata Kadita bergetar.
"JAWAB! ... Apakah aku sebegitu menjijikannya dimatamu?" teriak Garry, hingga sedikit menyakiti gendang telinganya.
Kadita segera mendorong tubuh Garry, ia beranjak dan memunggunginya. "Ya! Kau sudah melakukannya dengan banyak wanita. Aku benar-benar tidak menyangka bisa menikah dengan pria semenjijikan seperti dirimu!" Kadita membohongi perasaannya lagi.
"Apa kau pernah melihat aku melakukannya dengan wanita lain dengan mata kepalamu sendiri? Tidak 'kan? Sebenarnya, selama ini aku tidak pernah melakukan hubungan badan dengan wanita lain, aku hanya membawanya ke dalam kamarku untuk membuatmu cemburu. Tapi sayangnya, kau tidak pernah memperdulikan hal itu," jelas Garry sedikit pilu.
Kadita terkejut mendengar pengakuan dari Garry. Memang benar, ia tak pernah melihat Garry melakukan itu dengan mata kepalanya sendiri. Tapi, apakah ucapan Garry ini bisa di percaya?
"Membuatku cemburu? Untuk apa?"
Garry memutar bola matanya.
"Untuk... untuk melihat apakah kau menyukaiku atau tidak," kata Garry sedikit gugup.
"Jika aku menyukaimu, lantas kau akan melakukan apa? Bukankah sudah terlihat sangat jelas dari awal kau menentang perjodohan ini, dan sikap dinginmu padaku menyiratkan sebuah kebencian yang sangat besar !" Kadita sangat kesal hati. Sebenarnya seperti apa perasaan Garry padanya.
Garry malah diam membisu. Pada awalnya ia memang sangat benci dijodoh-jodohkan seperti itu oleh orang tuanya. Tapi, setelah di jalani dan seatap dengan Kadita selama satu tahun, Garry mulai terbiasa dengan sikap lembut Kadita. Kadita selalu menjamunya dengan baik, dengan senyuman, meskipun ia tahu Garry selalu bermain api dibelakangnya.
"Garry, selama kita menikah aku tidak pernah menghentikanmu. Aku tahu kau tidak bahagia membangun rumah tangga denganku. Maka kau bebas mencari wanita pilihanmu sendiri, yang bisa membuatmu bahagia dan nyaman. Aku tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Tapi, hanya satu yang aku pinta... jangan pernah menceraikan aku, karena jika ayahku melihatnya disurga mungkin dia akan menangis disana." Bicara Kadita gemetar, air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Ia segera berlari ke luar dari kamar Garry dengan deraian air mata.
Garry mengerutkan dahinya, ia tertunduk, merasa tak tega melihat Kadita sesedih itu.
Garry menjatuhkan hampa tubuhnya di atas ranjang, dengan menatap kosong ke langit-langit kamar.
....
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa Like, Komen & Koinnya hihi ❤