Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Sadarlah Garry !


__ADS_3

.


Di waktu yang bersamaan.


Karena hari ini adalah hari sabtu, Kadita memutuskan untuk berkunjung ke rumah paman dan bibinya.


Untuk apa ia berdiam diri di rumah bersama Garry? Yang ada hanya menimbun luka yang semakin menggunung di lubuk hatinya.


Kadita segera bersiap dan memanaskan mobilnya. Tiba-tiba Garry turun dari tangga dengan keadaan yang masih mengantuk. Kadita berusaha tak menghiraukannya, karena rasa sakit semalam masih menancap di dalam dadanya.


Kemudian, Kadita merias wajahnya di sofa miliknya. Garry melewatinya begitu saja menuju dapur, lalu membuka pendingin dan meminum minuman dingin dari situ.


Meskipun ada dua orang, tapi keadaan rumahnya sangat sepi seperti tak berpenghuni.


Garry merasa terasingkan, sebab Kadita tidak seperti biasanya. Setiap pagi ia selalu menyapa Garry dengan senyum indahnya tanpa meminta imbalan disapa balik. Tapi, pagi ini senyuman itu hilang, hal itulah yang membuatnya tidak nyaman.


Ia beralih duduk di meja makan, sambil terus meminum minuman dingin itu.


Diam-diam Garry melirik Kadita yang masih membisu, ingin sekali ia bertanya 'mau kemana kau?' Tapi, entah mengapa kata-kata yang begitu sederhana itu tidak bisa lolos begitu saja dari tenggorokannya, seperti ada sesuatu yang menghalanginya bertanya.


Ya, yang menghalanginya itu adalah egonya yang terlampau besar.


Merasa telah cukup memoles make up di wajahnya, Kadita pun memasukkan alat make upnya ke dalam tas dan beranjak dari sofa menuju pintu ke luar. Garry menatap sedih, karena Kadita benar-benar telah mengabaikannya, ia tak ingin ditinggal begitu saja olehnya.


Tiba-tiba, Kadita kembali lagi. Ia berjalan membuka lemari makannya, dan mengambil sesuatu di sana, lalu Kadita menghampiri Garry sambil membawa piring yang sudah terisi beberapa lembar roti dengan selai srikaya yang di sukainya.


Kadita meletakkan piring itu di atas meja makan.


"Di mana wanitamu itu? Aku membuatkan beberapa roti dengan selai srikaya kesukaanmu. Suruh dia turun, lalu ajak sarapan bersamamu," ucap Kadita dengan ketegaran palsunya.


Sebenarnya, tubuh Kadita selalu gemetar, ia menahan tangis dan rasa sakit yang mendalam ketika harus berpura-pura tak peduli dengan karakter Garry yang sering membawa wanita lain ke rumah. Tapi, ia memaklumi itu semua, karena sejak awal Garry memang tak menyetujui perjodohannya. Apalagi sampai menyukai Kadita, itu hal yang mustahil baginya. Kadita tahu diri, jadi ia hanya bisa memendam kesakitan itu seorang diri.


Matanya mulai memerah, Kadita memunggungi Garry karena tak ingin meneteskan air mata dihadapan lelaki itu. Kemudian, ia melangkah pergi menuju pintu keluar.


Tiba-tiba, Garry memanggil namanya.


Langkah kaki Kadita pun terhenti.


"Kau mau kemana?" tanya Garry dengan penuh keraguan, dan ia menjadi salah tingkah.

__ADS_1


Kadita terbelalak, jantungnya berdegup kencang, karena jarang sekali Garry menanyainya. "Aku akan pergi ke rumah paman dan bibi !" jawabnya tanpa menoleh dengan pipi yang memerah. Kadita pun melanjutkan lagi langkah kakinya, dan memasuki mobilnya.


Saat di dalam mobil, jantungnya semakin berdetak tak karuan, wajahnya sudah memerah bagaikan tomat. Rasa bahagianya bergejolak dari dalam tubuhnya.


"Apakah Garry mulai tertarik padaku?" gumamnya tanpa sadar.


Ah, dasar gila ! Mikir apa kau Kadita? Mana mungkin Garry menyukaimu ! Sadarlah... (Batin Kadita yang mengomeli dirinya sendiri)


Kemudian, Kadita pun tersadar dan segera mengendarai mobilnya.


Garry mengintipnya dari jendela, tiba-tiba wanita berambut pendek mendekatinya.


"Sedang apa kau disini, sayang?" tanyanya sambil memeluk tubuh Garry dengan manja dari belakang.


Garry segera melepaskan tangan wanita itu dengan kerutan di dahi. Ia berjalan menuju kamar mandi tanpa berkata apapun pada wanita itu. Yang tersirat dari wajahnya hanyalah rasa kekesalan.


Wanita itu menjadi sangat marah, karena di abaikan oleh Garry.


.


******


Sesampainya di rumah Ny.Irina dan Tn.Argus, Kadita langsung memarkirkan mobil di garasi rumah pamannya. Ia segera berjalan masuk ke dalam, karena pintunya sudah terbuka.


Saat masuk, ternyata di dalam ruang khusus pamannya itu sedang ada tamu besar. Para petinggi dan pejabat, sekaligus rekan dari Tn.Argus. Mereka terdengar sedang membahas soal Pilkada yang akan di selenggarakan beberapa bulan mendatang.


Tn.Argus berencana mencalonkan dirinya lagi menjadi Gubernur.


Kadita segera berjalan menghampiri Ny.Irina yang sedang menyiapkan suguhan untuk para tamu.


"Bibi !" sapanya sambil menyentuh pundak Ny.Irina dari belakang.


Ny.Irina sedikit terkejut. "Kamu hampir membuat Bibi jantungan, tahu !" ucapnya.


"Sedang ada banyak tamu, ya? Kebetulan aku membawa beberapa bungkus makanan, tapi makanan ini kesukaan Alice," katanya sambil meletakan beberapa bungkus makanan itu di meja.


"Banyak sekali kamu membelinya. Simpan satu bungkus saja untuk Alice, dan yang lainnya akan Bibi suguhkan untuk para tamu. Stok makanan dirumah menipis, karena akhir-akhir ini Alice selalu menghabiskannya," ucap Ny.Irina yang masih menyibukan diri.


Kadita yang melihat Bibinya kewalahan langsung tergerak hatinya. "Sini, biar aku bantu membawanya, Bi."

__ADS_1


"Ah, tidak perlu. Sudah sana ke atas, temani Alice, bawa dia main ke luar. Dari kemarin mengunci diri di kamar terus." Ny.Irina menata makanan yang Kadita bawa di atas piring, lalu ia segera menyuguhkannya, berlalu meninggalkan Kadita.


Kadita menghela nafas panjang, kemudian ia berjalan menuju kamar Alice.


Saat akan mengetuk pintu, ternyata pintunya sudah terbuka sedikit. Kadita pun masuk begitu saja.


Terlihat Alice yang sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas besar. Kadita mengernyitkan dahinya sambil berjalan mendekati Alice.


Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang Alice, hingga Alice terkejut karena kehadirannya yang tidak diketahui itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Kadita penasaran, sambil memeluk guling.


"Ah, mm... aku akan pergi ke pantai dengan teman," ucapnya sedikit gugup.


"Ke pantai? Siang-siang begini ke pantai? Apa tidak takut kulitmu menghitam?" sindir Kadita.


Alice hanya sibuk mengemasi barang bebawaannya, ia tak menghiraukan Kadita.


Lalu, tiba-tiba saja rasa mual itu menyerang, tidak tahu waktu. Alice tak bisa lagi menyembunyikan itu dari Kadita. Ia segera berlari ke kamar mandi sambil menutupi mulutnya.


Kadita mengernyit heran, jiwa penasaran dan curiganya mulai muncul.


Kemudian, tak lama, Alice keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan mulutnya dengan tisu kering.


Kadita memandangi perawakan Alice dengan tatapan curiga, melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Alice gemetar hebat ketakutan, ia menyadari Kadita yang sedang memperhatikannya dengan tatapan curiga.


Bagaimana ini? Sepertinya Kak Kadita sudah curiga padaku... (Batin Alice yang semakin tidak tenang)


Kadita beranjak duduk di atas ranjang Alice, menyenderkan punggungnya ke dinding, kedua matanya di ciutkan.


"Alice ?" panggil Kadita dengan sorotan mata yang serius.


...


Sebelum lanjut klik dulu dong ;


Like, Komentar & Vote ❤

__ADS_1


__ADS_2