
.
Setelah sampai di bandara, Esme dan Alucard bergegas masuk menuju antrean pengecekan.
"Dasar jal*ng! Tidak tahu malu. Sudah berani tidur dengan suamiku malah mau kabur?" caci maki seorang wanita paruh baya.
Plak...
"Uh."
Wanita paruh baya itu menampar keras pipi seorang gadis muda di hadapan para pengawalnya dan orang-orang yang ada di bandara.
"A-aku sudah bilang, aku tidak tidur dengan suamimu, Nyonya. Sepertinya kau salah orang," bantahnya.
"Salah orang bagaimana?" Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya. "Bukankah ini fotomu yang sedang tidur di atas dada suamiku? Lihat dengan jelas!" bentak wanita paruh baya itu.
Kedua mata gadis muda itu terbelalak. "I-ini... tidak! Ini bukan saya, saya rasa saya di jebak seseorang," katanya.
"Mana ada maling ngaku! Pengawal! Seret dia ke mobilku, cabe rawit sepertimu harus diberi pelajaran!" katanya dengan wajah merah penuh kebencian.
Para pengawal itu segera menarik paksa kedua tangan gadis muda itu. "Tidak! Lepaskan!... Lepaskan!" teriaknya, sambil berusaha meloloskan diri. "Kenapa tidak ada yang menolongku?" gumamnya sambil menitikan air mata.
Esme berjalan cepat menerobos kerumunan orang-orang yang sedang melihat pertunjukan menghebohkan itu.
Brukk...
Ia menendang keras pinggul salah satu pengawal itu, hingga ia jatuh dengan dengkul dan tangan yang menapak di atas lantai. "Uh," rintihnya.
Wanita paruh baya dan para pengawal yang lain langsung menoleh, siapa yang berani menendang pinggulnya? Berani sekali dia!
Saat wanita paruh baya itu menoleh ke arah Esme, senyumnya langsung menungging, tatapan matanya meledek. "Hah, bocah ingusan lagi!" gumamnya sambil berjalan menghampiri Esme.
"Ada urusan apa kamu?" tanya wanita itu dengan tampang yang menantang.
Konde yang besar, perhiasan serba serbi yang menempel hampir disekujur tubuhnya, kalung emasnya berlapis-lapis bagaikan sedang mencekik mati dirinya sendiri, lipstik yang berwarna merah darah, blush on dan eyeshadownya bagaikan habis ditonjok preman pasar. Melihatnya saja sudah sangat menusuk menyakiti mata Esme.
"Cih,"
Esme langsung mengacuhkannya. Ia dengan gagah berani, melewati wanita paruh baya itu. Esme berjalan cepat dan menarik paksa gadis muda yang sedang ditahan oleh para pengawal itu. Akhirnya gadis muda itu terlepas dari jerat mereka.
"Loly??" Kedua mata Esme terbelalak saat melihat wajahnya.
__ADS_1
"K-Kak Esme?" begitupun dengan Lolyta, ia pun sangat terkejut melihat Esme lah yang sudah menolongnya.
Dari belakang mereka, terpancar aura menakutkan yang ke luar dari tubuh wanita paruh baya itu.
Sudah marah karena Lolyta, saat ini dibuat semakin marah oleh Esme yang sudah berani mengacuhkannya begitu saja.
Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya, dan berjalan menghampiri Esme, ia melayangkan tangannya, ingin menampar dan menjambak rambut Esme.
"Kalian berdua cari mati, ya!" teriak wanita itu.
Hap...
Tangan yang sudah ditinggikannya langsung ditangkap oleh Alucard.
Wanita paruh baya itu terhentak, ia tak jadi menjalankan aksinya.
Tampan sekali pria muda ini. (Batin wanita paruh baya itu, sesat, ia hilang kendali)
"Hey, Nenek peyot. Berani sekali tangan keriputmu menyakiti istri tercintaku!" ucap Alucard dengan tatapan yang sangat menakutkan, kemudian ia mendorong kasar tangan wanita paruh baya itu.
"Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan dia," jari telunjuknya mengarah ke Lolyta. "Dia sudah berani tidur dengan suamiku. Dan sekarang, dia malah mau kabur ke luar Negeri dengan membawa uang dari suamiku!"
"Tidak! Aku tidak pernah tidur dengan suaminya. Semalam aku hanya bekerja di bar milik suaminya, lalu suaminya memberiku bayaran. Hanya itu saja," bantah keras Lolyta dengan tubuh yang gemetar.
Alucard merampas ponsel itu, lalu ia memeriksa foto tersebut. "Oh, ini buktinya," ucapnya dengan wajah santai.
Pyarrrr....
Alucard membanting keras ponsel keluaran terbaru yang sangat mahal itu ke lantai. Ponselnya langsung hancur berkeping-keping. Semua orang yang ada disitu dibuat terkejut.
"A-apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" teriaknya sambil meraup ponsel yang sudah hancur berantakan di lantai.
Suasana semakin heboh.
"Uh, tanganku tergelincir. Akan ku mengganti ponselmu sepuluh kali lipat. Sekarang buktinya sudah tidak ada 'kan. Kau tidak bisa menyudutkan gadis muda ini lagi," ucapnya.
"Ayo, sayang." Alucard merangkulkan tangannya ke bahu Esme.
"Kau!!! Apa kau tidak tahu siapa aku?" bentaknya. "Pengawal, pukul mereka!" titahnya dengan amarah yang sudah membeludak.
Ketiga pengawalnya langsung berjalan menyerang mereka. Alucard hanya perlu menjentikkan jarinya, puluhan pengawal berbaju hitam langsung datang menghampiri mereka, masuk ke dalam bandara.
__ADS_1
Wuhh, sejak kapan Alucard membawa para pengawal? (Batin Esme)
Kedua mata wanita paruh baya itu terbelalak, mulutnya menganga. "A-apa-apaan ini!" Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata ada orang yang lebih berkuasa darinya di Indonesia.
Alucard menggerakkan kepalanya, menyiratkan agar para pengawalnya membekukkan dan membuang sampah-sampah tak berguna itu, termasuk dalangnya, si wanita paruh baya yang tak tahu siapa namanya itu.
"H-hey!!! Siapa kau?... Lepaskan aku! LEPASKAN!!!" Teriaknya dengan tubuh yang meronta-ronta, berusaha meloloskan diri.
Tanpa berucap apapun, para pengawal itu segera membuang mereka ke luar dari bandara. Bagaikan membuang kotoran, sangat hina.
Sudah merasa menang, Alucard pun kembali ke antrean pengecekkan. Ia meninggalkan Lolyta dan Esme.
"Kak Esme, terima kasih sudah menolongku," kata Lolyta sambil mengusap air matanya.
Esme hanya tersenyum. "Pulanglah, jangan berani lagi berbuat ulah," ucapnya sambil berjalan kembali menuju antrean. Sekejap, pikirannya mengingat kembali kejahatan apa yang sudah diperbuat olehnya dan ibunya kala itu.
Lolyta menarik lengan Esme dengan tatapan getir. "Kak, aku minta maaf atas kesalahanku yang lalu. Aku sudah menyadarinya, bahwa Kak Esme adalah Kakak yang sangat baik dan perhatian. Aku benar-benar bodoh sudah mekhianati kepercayaanmu," kata Lolyta. "Apa Kakak tidak ingin tahu yang sebenarnya, kenapa aku bisa berurusan dengan wanita tua itu?"
Esme menghela nafas panjang. "Tidak, aku sudah tidak ingin berurusan lagi denganmu," ucapnya pahit.
"Kakak, jangan seperti itu. Mau bagaimanapun aku ini adalah adikmu, aku juga sudah menyadari kesalahanku dan meminta maaf pada Kakak," kedua matanya berlinangan air mata lagi. "Tapi... Kakak, mau pergi ke mana, sekarang?" tanyanya, basa-basi.
Yaaa... dia memang adik kecilku, dia terpengaruh jahat karena ibunya. (Batin Esme)
"Aku dan suamiku akan pergi ke Korea. Kau pulanglah, jaga ayah, ya?" Esme melepaskan genggaman tangan Lolyta.
Ke Korea? (Batin Lolyta berdebar karena para idolanya berpusat disana)
"Tunggu, Kak! Aku... aku juga ingin ikut ke Korea, ya," pintanya. "Tadinya, aku mau pergi liburan ke Bali dengan uang hasil kerjaku semalam ini."
"Ngaco! Jangan bicara yang tidak-tidak. Sudah pulang saja sana, ayah sudah menunggumu dirumah," kata Esme.
"Sayang, ayo!" teriak Alucard.
"Sudah, lepaskan! Aku tidak ingin membuat suamiku menunggu lama," kata Esme.
"Iihhh Kakak, aku mohoonn... aku juga ingin pergi ke sana. Aku akan membeli tiket dengan uangku sendiri. Aku janji aku tidak akan merepotkanmu disana, cukup sediakan tempat tidur saja untukku. Ayolah, Kak. Sebelum Kakak ke Amerika, kita 'kan sering menonton drama Korea tengah malam dikamarku? Aku ingin sekali bertemu para aktor Korea, apalagi member EXOS dan BST. Ya, Kak? Pleaassss, ayolah...," rengeknya.
....
__ADS_1
Apakah Lolyta akan berbuat jahat pada Esme?
Sebelum NEXT, dimohon LIKE, KOMEN & VOTE dulu ❤