
.
Di tengah-tengah menunggu pesanan makanan, mereka mengobrol.
"Ah, emm... bukankah kita disini untuk membicarakan soal Esme? Esmeralda?" Leo terlihat begitu antusias.
Esme? (Batin Alice, ia semakin dibuat penasaran)
"Kau sangat tidak sabaran. Kenapa? Apa itu karena kau masih menyukainya?" tanya Ara, sorotan matanya sangat tajam.
"Ah-hahaa... ehem... ya, aku memang sudah menyukainya dari kecil, begitu juga dengan dia. Lalu, aku tidak sengaja sudah membuat kesalahan besar hingga membuat dia menjauh dariku. Tapi... aku yakin, di dalam hatinya masih ada aku. Kita sudah saling melengkapi satu sama lain, karena tidak akan mudah bagi seseorang untuk melupakan masa lalunya." Leo berbicara dengan penuh keyakinan.
Sial!! Ternyata Kak Leo masih menyukai Kak Esme? Dasar brengs*k!!! (Batin Alice)
Ara tersenyum, tapi ia masih meninggikan keanggunannya. Ara merasa kemenangan sudah semakin dekat dengannya.
"Kau sangat yakin dia masih menyukaimu. Tapi, saat di Korea, Esme dan Alucard begitu dekat, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat romantis. Tatapan mata Esme penuh cinta saat memandang Alucard," jelas Ara.
Wah, wah... wanita ini ingin menggunakan Kak Leo sebagai bahan untuk bisa memisahkan Kak Esme dan suaminya. Lihat itu matanya! Penuh kebencian saat membicarakan Kak Esme dan suaminya. Aku tidak akan membiarkan Kak Leo diperdaya oleh wanita ini. Enak saja, dia adalah ayah dari anakku. (Batin Alice)
"Tidak mungkin! Aku percaya, Esme masih menyukaiku. Sebelum perkataanmu itu terjadi, aku akan segera mencegahnya. Apa kau tahu? Pernikahan mereka didasari dengan keterpaksaan. Jadi, jatuh cinta tidaklah mungkin, karena Esme adalah wanita yang sangat sulit untuk jatuh cinta, jika dia sudah cinta maka pria itu tak akan dia lepas."
"Jika Esme memang mencintaimu, lalu, kenapa dia melepasmu? Itu menandakan dia tak cinta, bukan?" tanya Ara.
"Ah? Emm...," Leo tergagap. "Dia.. dia -"
Kringg... Kriingg...
Ponsel Leo tiba-tiba berdering. Ia segera mengambilnya dari sakunya, lalu memeriksa panggilan telepon itu dari siapa.
"Alice? Wanita sial itu mau apa menghubungiku? Bukankah dia sudah tidur, tadi?" gumam Leo.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, jawab saja. Aku akan membahas rencana kita setelah kau menjawab telepon itu," kata Ara.
"Oh, emm.. baiklah!" Leo sangat sungkan.
Leo berjalan menjauh dari Ara. "Halo? Apa?"
"Kak, kau di mana? Kau harus pulang sekarang juga! Ayah dan ibuku akan kemari, mereka sedang ada di Bandung, jadi mereka berniat berkunjung ke kontrakan kita," ucap Ara di balik telepon. Padahal ia masih duduk di belakang sofa yang Ara duduki.
"Aduuuhh... kenapa begitu tiba-tiba? Aku sedang ada pekerjaan penting dengan rekanku."
"Pokoknya Kakak harus pulang sekarang. Apa jadinya jika ibu dan ayahku tahu Kakak tidak ada di rumah jam segini!"
"Tapi, aku -"
Tuutt... tut... tut...
Panggilan terputus.
Leo berjalan kembali menghampiri Ara, mau tak mau ia harus berpamitan, dan mengundur pembicaraan rencana tentang Esme. Leo memikirkan alasan yang kuat agar tidak membuat Ara sangat kecewa.
Tiba-tiba, beberapa pelayan berjalan dengan membawa beberapa menu ke meja Ara. Mereka meletakan menu itu di atas meja.
"Silakan, Tuan dan Nyonya." Para pelayan restoranpun berjalan meninggalkan mereka.
"Tidak apa-apa. Jangan merasa tidak enak karena makanan ini. Aku juga akan bertemu dengan seorang rekan disini. Kau pergilah. Kita akan membahas rencananya di lain waktu," kata Ara.
"Aku benar-benar minta maaf, aku bukannya sengaja atau mengerjaimu, tapi ini memang benar-benar suatu hal yang mendesak," ucap Leo.
"Ya, tidak masalah." Ara tersenyum damai, lalu ia meneguk minuman itu dengan bibir tipisnya.
"Terima kasih, terima kasih. Aku akan menghubungimu segera. Aku pamit." Leo berjalan tergesa-gesa ke luar dari Hotel itu.
__ADS_1
Alice yang melihat Leo sudah ke luar dari Hotel, ia segera beranjak lalu duduk di hadapan Ara.
Ara terkejut, matanya terbelalak. "Kau??"
Brak...
"Musuhnya musuh adalah teman. Aku mendengar pembicaraanmu dengan pria tadi. Bukankah kau membicarakan seorang wanita yang bernama Esmerlada?"
"Em??" Tanda tanya besar di otak Ara.
Ctak...
Alice menjentikan jari tangannya.
"Aku menyimpulkan pembicaraan kalian. Kau tidak suka dengan Esmeralda, kau ingin memisahkan dia dari suaminya? Apa aku benar? Aku melihat kebencian dimatamu saat membicarakan tentang kedekatan Esme dan suaminya. Aku tidak akan bertanya, kau siapanya suaminya, atau berbasa basi yang lain. Inti dari segala inti, kita membenci orang yang sama, kita harus memberikan pelajaran pada wanita itu!" ucap Alice, penuh ambisi.
Hahaha... Kak Esme, suruh siapa kau masih ada di dalam hati Kak Leo? Kali ini, aku akan memanfaatkan wanita ini. Jika begitu, aku tidak akan kena imbas jika rencana ini terbongkar. (Batin Alice)
Wanita ini sangat antusias. Sepertinya dia memang sangat membenci Esme. Dia bisa jadi rekanku. (Batin Ara)
Ckrek... ckrek...
Seseorang mengambil foto Alice dan Ara secara diam-diam. Siapa? Itu adalah Hanabi, wanita bertato yang pernah memata-matai Leo kala itu.
"Tadi Leo, sekarang Alice yang duduk bersama wanita itu. Instingku mengatakan ada aura jahat disini. Aku akan mengirimkan foto ini pada Esme, tidak tau ini berguna atau tidak aku akan tetap mengirimkan foto ini padanya. Semoga Esme masih menyimpan kontak teleponku," gumam Hanabi. Ia segera mengirimkan foto yang sudah ia potret pada Esme.
Sepertinya aku dan Esme akan bertemu lagi. Sudah lama aku dan dia tidak bertemu. Seperti apa kehidupannya sekarang, ya? (Batin Hanabi)
....
BERSAMBUNG !!!
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS 😍