
.
Otot-otot di tubuh Esme mulai menegang. Aliran darah mengalir lebih cepat. Esme segera menoleh ke arah lain. "Maaf, Al. Aku... aku belum bisa sekarang," ucap Esme, lirih.
Alucard tertunduk hampa, perasaannya sangat kecewa. Tapi, Alucard mencoba untuk mengerti dengan keadaannya.
Esme mengatur nafasnya dan mengendalikan pikirannya. Ia berusaha untuk tidak memperlihatkan pada Alucard bahwa saat ini pikirannya mulai di grogoti bayangan-bayangan itu lagi.
Esme segera mengambil air wudhu, walaupun tangannya gemetar ketakutan.
Kemudian, ia berlalu meninggalkan Alucard sesegera mungkin.
"Esme, maaf aku...-"
Esme mengacuhkannya.
Ia masih terfokus dengan pengendalian pikirannya. Kemudian dengan cepatnya, Esme mengambil mukena dan sajadah. Ia memaksakan ibadah dengan tubuh yang gemetar hebat.
Saat menjalankan shalat, Esme menutup kedua matanya erat-erat, keringat bercucuran dimana-mana.
"Allahu akbar,"
Bibirnya pun gemetar saat mengucap kalimat takbir. Air matanya menetes tanpa di perintah.
Bayangan-bayangan saat Esme di lecehkan dan dianiaya, nampak nyata di pikirannya. Esme seperti sedang berada disituasi saat itu lagi. Kesakitannya pun terasa nyata. Ini benar-benar sangat menyiksanya.
Esme berusaha sekuat tenaga mendorong pikiran itu untuk keluar dari otaknya. Tapi, bayangan itu menghadangnya sangat kuat sekali, hingga Esme harus lebih kuat darinya agar bayangan itu tidak masuk lebih dalam.
Alucard yang sudah mengambil air wudhu memperhatikannya dari ambang pintu.
Tubuh Esme gemetar? Ada yang tidak beres!
Lalu... bagaimana denganku? Aku belum paham caranya shalat? (Batin Alucard)
Alucard hanya bisa melihat dan menjaganya dari jauh dengan kecemasan tinggi. Ia menyalahkan dirinya sendiri, atas perbuatannya yang hampir saja bisa membuat keadaan Esme lebih parah dari ini.
Setelah selesai shalat, Esme tidak segera membuka mukenanya. Ia berjalan cepat naik ke atas ranjang, Esme menyelimuti tubuhnya dengan selimut, tubuhnya meringkuk di dalam selimut tebal itu tanpa berucap satu kata apapun.
Bbbrrr....
Tubuh Esme semakin gemetar hebat.
__ADS_1
Alucard berjalan mendekatinya dengan kerutan di dahi, rasa cemasnya semakin meningkat.
"Esme, tenangkan pikiranmu," bisiknya. Alucard sangat panik melihat keadaan Esme. "Aku... aku harus bagaimana?"
Esme hanya terdiam, tapi tubuhnya masih gemetar.
Sepertinya, ucapan rasa cemasku tidak akan membantu. Esme hanya butuh ruang dan waktu, agar bisa mengendalikan pikirannya sendiri. (Batin Alucard yang berusaha memahami)
Setengah jam sudah berlalu.
Alucard berusaha tenang, tapi itu tidak bisa. Semakin waktu berlalu, rasa cemasnya pun semakin bertambah.
Yang ada dipikirannya hanya, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?
Sorotan matanya tidak pernah lolos kemanapun, Alucard yang sedang duduk di sofa dengan kepanikan tinggi, hanya terus menatap tubuh Esme yang sedang meringkuk di balik selimutnya.
Tiba-tiba saja, tubuh Esme sudah tidak gemetar lagi, dan itu membuat perasaan Alucard sedikit tenang.
"Esme," panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban.
Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Esme.
"Esme, apa kau sudah membaik?" bisiknya dengan hati-hati.
Tetap saja tidak ada jawaban.
Alucard membuka sedikit selimut yang menutupi wajahnya, karena itu bisa membuat nafasnya sesak.
Ternyata Esme tertidur.
Wajahnya pucat, keningnya penuh dengan keringat, hingga mukenanya nampak basah.
Alucard menghela nafas panjang, perasaannya sudah tidak panik sepanik tadi.
Ia menyentuh tangan Esme. Tapi, tangannya begitu dingin bagaikan es.
Alucard mengusap-usap tangannya, agar tangan Esme kembali hangat. Kemudian, ia mencium punggung tangan Esme.
"Esme, kau adalah wanita yang hebat. Kau pasti bisa melawan sindrom itu. Ada aku, aku yang akan mendampingimu sampai kau sembuh. Aku akan senantiasa menanti sampai kau bisa menyerahkan dirimu padaku seutuhnya, jiwa maupun raga," ucapan Alucard begitu lembut menyejukkan.
__ADS_1
Alucard mengambil tisu kering, lalu menyapu keringat di dahi istrinya dengan sangat mesra.
"Cup,"
Kecupan bibir Alucard mendarat di kening Esme. "μ’μ κΏκΏ, (joheun kkum kweo)" bisik Alucard di telinga Esme, yang jika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu semoga mimpi indah.
Triingg... triingg....
Ponselnya yang tergeletak di meja ruang tamu berdering.
Alucard segera beranjak, berjalan ke luar dari kamarnya. Ia memeriksa siapa yang meneleponnya.
"Kim?" gumamnya.
Alucard mengangkat panggilan telepon itu.
"Ya, hallo?" Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Presdir, aku sudah menempatkan beberapa orang-orangmu di setiap sudut apartemen. Ada satu orang pria yang mencurigakan. Saat di periksa, ternyata pria itu adalah Leomord, mantan kekasih istrimu. Dia mengenakan topi hitam dan masker mulut agar tidak ada yang mengenalinya," jelas Sekretaris Kim di telepon.
Alucard langsung terduduk, keningnya mengkerut, matanya menciut.
"Leo? Apa dia mengikuti Esme?" tanyanya.
"Sepertinya, iya. Saat di tanyai, dia hanya bungkam, lalu malah menyerang orang-orangmu untuk meloloskan diri."
Jadi pria bajing*n itu yang membuat Esme resah saat masuk ke apartemen? (Batin Alucard)
"Hmmmm," Alucard menggeram, rahangnya mengeras. "Selidiki dia, jangan sampai dia bertingkah yang aneh-aneh." Ia langsung mematikan panggilan telepon itu.
Alucard menopang wajah dengan kedua tangannya. Sorotan matanya sangat tajam.
"Kenapa Esme tidak memberitahuku? Apa dia masih menyimpan rasa pada pria itu? Dia takut jika aku melakukan pertumpahan darah dengan mantan kekasihnya?" gumam Alucard menduga-duga.
Aku akan sesegera mungkin melumpuhkan ingatannya!!! (Batin Alucard penuh ambisi)
******
BERSAMBUNG !!!!
LIKE & KOMEN dong, votenya ditabung dulu buat senin. UP lagi sore ya, kalau gak sore ya besok π Author lagi kurang bersemangat. π€§
__ADS_1