Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Jiwa Devil


__ADS_3

.


Setelah keluar dari rumah Alice, Leo segera memesan taxi online. Ia menuju ke rumah Ny.Hilda dengan amarah yang menggunung.


Sampailah dirumah Ny.Hilda, Leo masuk tanpa mengetuk pintu. Ia mendorong kasar pintu rumah Ny.Hilda.


Ny.Hilda yang sedang mengeluarkan heels dari rak sepatu terhentak kaget.


"L-Leo?" ucapnya gugup. Sebenarnya Ny.Hilda ingin kabur, karena pada saat menelepon Alice ia mendengar suara Leo ada disana.


Leo sudah pernah memperingati Ny.Hilda untuk tidak mengusik apalagi sampai menyakiti Esme lagi. Tapi, Ny.Hilda malah tidak mendengarkannya. Ia buta karena harta.


Ia bersekongkol dengan Alice untuk membuat Esme sengsara, hanya demi uang. Alice akan memberikan uang padanya, setelah semua rencana ini berhasil.


"Katakan padaku dimana Esme?" ucapan Leo sedikit meninggi, hingga Bi Inah dan Pak Lampir dibuat penasaran, mereka mengintip dari dapur.


Tubuh Ny.Hilda gemetar hebat.


"Aku... aku tidak tahu. Dia pergi bersama atasan barunya," ucapnya dusta.


"Bohong! Aku tahu apa yang kau dan Alice rencanakan. Cepat, katakan dimana Esme? Jika tidak, aku akan menelepon polisi sekarang juga!" ancamnya dengan mata yang membulat sempurna.


Balmond dengan tubuh besarnya keluar dari kamar, sambil membawa sebungkus makanan ringan.


"Atas dasar apa kau membentak-bentak ibuku seperti itu?" ucap Balmond dengan raut wajah menantang.


"Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan wanita mata duitan ini" bentak Leo.


Balmond berjalan cepat dan...


Bruk...


Ia melayangkan tonjokannya ke arah Leo, tangan besarnya itu membuat Leo terjatuh dan ujung bibirnya berdarah.


Ny.Hilda berjalan menghadang Balmond dengan tubuh yang semakin gemetar.


"Jangan memukulnya lagi!" Ny.Hilda menahan tubuh besarnya. "Sudah, sudah. Ibu tidak ingin kau dipenjara karena memukul orang," ucap cemas seorang ibu.


Leo menyapu darah yang menetes dari ujung bibirnya. Tatapan matanya mengarah pada Balmond, sangat menakutkan.


"Leo, jangan memperpanjang masalah ini, aku mohon." Tatapan mata Ny.Hilda sangat menyedihkan. "Pergilah ke rumah kosong di tengah hutan. Esme... Esme ada disana!"


"Kalian!! ... Dasar BIADAB!" Leo sangat ingin mengobrak abrik rumah Ny.Hilda, ia terbakar emosi. "Jika terjadi sesuatu dengan Esme, jangan harap kalian bisa hidup damai!!!" Leo mengepalkan tangan dengan nafas yang terengah-engah.


Ia berlalu meninggalkan rumah Ny.Hilda. Saat keluar dari rumah itu, Tn.Harits baru saja memarkirkan mobilnya.


Tn.Harits segera keluar dari mobil dan mendorong bahu Leo. "Mau apa lagi kau kemari?" tatapan mata Tn.Harits penuh benci padanya.


Leo yang masih terbakar emosi, mendelekan matanya. "Tanyakan saja pada istrimu yang keji itu!!" Leo berlalu melewati Tn.Harits menuju lokasi Esme.


Tn.Harits tertunduk. Ia merasa ada yang aneh.


Ada apa dengan Hilda? Mengapa Leo berbicara seperti itu padanya? (Tn.Harits sangat penasaran, ia segera masuk kedalam rumah)


.....


Diwaktu yang bersamaan.


Alucard dan para pengawalnya secara diam-diam masuk ke dalam hutan mengikuti arahan dari alat pelacak yang sedang Sekretaris Kim genggam. "Presdir, titik merah berada di 150 meter lagi dari sini," bisik Sekretaris Kim.


Rahang Alucard mengeras, semakin dekat dengan lokasi penculikan Esme, ia semakin menjadi tak sabaran. Tanpa sadar, Alucard bergegas menerobos masuk lebih dalam lagi ke hutan.


Tapi, Sekretaris Kim langsung menarik tangannya. "Presdir! Jangan gegabah. Yang menculik wanita itu bukanlah orang biasa sembarangan. Aku melihat dari caranya memukul dan menendangmu malam itu, sepertinya dia adalah penculik profesional!" seru Sekretaris Kim.


Alucard menepis kasar tangan Sekretaris Kim. Bola matanya membara bagaikan terbakar api.

__ADS_1


Alucard menghela nafas panjang, kemudian ia menggerakkan tangannya pada seluruh para pengawal yang sedang bersembunyi di balik pohon besar untuk melangkah bersamanya masuk lebih dalam ke hutan.


Sudah melangkah hampir 112 meter, akhirnya Alucard melihat sebuah rumah yang sangat tidak layak untuk ditempati. Benar saja, alat pelacak itu terhenti saat Alucard bersembunyi di balik pohon besar.


Krak...


Ia tak sengaja menginjak sesuatu di tanah yang penuh dengan sampah. Alucard terheran, ia tertunduk dan melihat benda apa yang terinjak oleh kakinya?


Ponsel?


Alucard segera mengambilnya.


Ponsel pintar berwarna putih ini sudah sangat kotor dengan tanah. Alucard kira ponsel yang sedang digenggamannya sudah mati atau rusak, tapi begitu di tekan tombolnya, ponsel itu menyala. Batre ponsel tersisa 2%, wallpaper ponselnya adalah foto Esme yang sedang tersenyum manis dengan topi kekinian. Dan, terlihat di atas ponselnya itu ada tanda lokasi yang menyala.


Benar-benar tidak bisa diremehkan. Wanita ini sangat cerdas. Sepertinya dia sudah memperkirakan akan ada seseorang yang mencarinya. Jadi, dia mengaktifkan lokasi di ponselnya dan menyembunyikan ponsel itu di atas rumput penuh sampah ini. (Batin Alucard)


"Aaaaa," suara teriakan dari dalam rumah.


"Aku mohon jangan lagi. 😭 Aku mohooonnn...." Esme mempertahankan beberapa helai bajunya yang sudah tercabik-cabik oleh para penculik itu dengan deraian air mata dan pipi yang lebam.


Selama berada di rumah itu, para penculik memperlakukan Esme sangat kasar. Kesabaran Esme sudah mencapai batas. Esme berontak, ia berusaha memukul titik lemah musuh, tapi sayangnya, para penculik itu selalu lolos, dan malah berbalik memukul Esme. Sudah 2 kali Esme mendapat pelecehan dari mereka.


3 orang penculik itu segera membanting tubuhnya ke atas ranjang. Mereka sudah bagaikan iblis penuh gairah.


Esme merangkak dan memeluk erat ranjang kayu sekuat tenaga, dengan tubuh yang gemetar. Ia tak ingin pelecehan itu terulang lagi.


Satu orang penculik berusaha melepaskan rangkulan tangan Esme, yang satunya lagi menarik tubuhnya.


Tidak! Tidak! Jangaann...


"Ayaaaahhhh...." Tanpa di beri makan dan minum sehari semalam, Esme memanggil nama ayahnya sekuat yang ia bisa, hingga nafasnya habis.


Genggaman tangan Esme sangat erat, hingga membuat para penculik jengkel.


Tak...


Salah satu penculik memukul titik lemah di bagian leher Esme, hingga membuat Esme terkejut dan kesakitan karena aliran darahnya terganggu. Beberapa detik setelahnya, tubuh Esme langsung kaku, tergeletak tak berdaya di atas ranjang, mulutnya menganga dengan kedua bola mata yang masih terbuka tapi pandangan matanya kosong.


Dengan pandangan kosong itu, Esme hanya bisa menitikan air matanya. Tubuhnya tak bisa di gerakan, benar-benar sudah mati rasa.


3 penculik segera merobek paksa baju yang sudah compang-camping berantakan itu.


Tatapan mata mereka sangat buas dan liar.


Brak...


Tiba-tiba seseorang mendobrak pintu...


Dan saat para penculik itu menoleh,


DOR... DOR... DOR...


Cairan kental merah berbau amis itu muncrat kemana-mana.


Alucard menembak kedua kaki dan tangan mereka masing-masing.


Ia menggerakan tangannya pada para pengawal untuk segera membawa dan mengurus para penculik itu.


Dan, tiba-tiba Alucard terbelalak, pandangan dan perasaannya begitu hampa saat melihat Esme yang sedang terbujur kaku tanpa busana di atas ranjang dengan mata yang menatap kosong langit-langit kamar. Jiwa Alucard bergetar, hancur sehancur-hancurnya.


Alucard melihat pakaian robek Esme berantakan dimana-mana.


Lalu ia berjalan perlahan dengan bendungan air di matanya. Ia membangunkan Esme sambil melihat dari ujung kaki hingga ujung rambutnya yang sudah benar-benar kacau.


Esme terdiam dengan tatapan kosong melompong, lagi-lagi Esme hanya bisa menitikan air matanya, ia tak bisa menggerakan tubuhnya, dan tak bisa merasakan apapun saat ini.

__ADS_1


Seluruh panca indranya seperti direnggut paksa begitu saja.


Wajahnya sangat pucat dan penuh lebam di sekujur tubuhnya.


Alucard mengerutkan keningnya, tatapannya penuh getir, tak kuasa melihat Esme yang seperti ini. Ia segera melepaskan jas hitamnya dan membalut tubuh Esme.


"Esme, sadarlah," ucap lirih Alucard. Ia langsung memeluk tubuh Esme, air matanya mulai menetes. "Aku disini, Esme. Jadi, aku mohon sadarlah!!! Ayo sadarlah Esme...." Alucard menggoyang-goyangkan tubuh Esme.


"Aku akan membalaskan semua ini untukmu! Kau tidak boleh mati begitu saja, kau harus melihat mereka menderita sejadi-jadinya." Air mata Alucard mengalir semakin tak terkendali.


"Kita menikah, ya. Aku akan selalu berada di sisimu, menjagamu, melindungimu. Jadi aku mohon, gerakkan mulutmu, panggil namaku...! Ayo, Esme panggil namaku...." Kesedihan Alucard sudah bukan main, air matanya menetes tepat di pipi kiri Esme.


Brak... Bruk...


Leo menendang dan memukul para pengawal Alucard, yang ia anggap sebagai para penculik Esme.


Ia segera masuk ke dalam rumah itu.


Langkah kakinya langsung terhenti saat melihat Alucard sedang memeluk tubuh Esme tanpa busana yang dibalut jas hitam.


Leo ternganga, ia berjalan perlahan mendekati Alucard dan Esme.


Alucard menoleh dengan tatapan pembunuh.


Ia meletakan tubuh Esme dan berjalan cepat dengan kepalan tangannya.


Bruk...


Alucard menonjok pipi Leo, hingga tubuhnya menghantam meja.


Kemudian, dengan cepatnya Alucard menyengkram erat kerah baju Leo, lalu ia melucurkan tendangannya hingga membuat Leo lagi-lagi ambruk.


"Hentikan Alucard! Aku sedang tidak ingin cari ribut denganmu! Aku kemari untuk menyelamatkan Esme," teriak Leo, tatapan matanya penuh kecemasan.


Sekretaris Kim segera menahan tubuh Alucard yang semakin menggila.


"Dasar BANGS*T!!! Kau sudah menyakitinya dan bilang kemari untuk menyelamatkan Esme?" Kedua mata Alucard membulat sempurna. "Apa kau berniat kembali padanya? Langkahi dulu mayatku, kepar*t !!" teriak Alucard. Alucard meronta-ronta, agar tangan sekretaris Kim yang menahannya terlepas.


"Presdir, tahan emosimu. Selesaikan ini nanti saja. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan Esmeralda," ucap Sekretaris Kim.


Alucard terengah-engah. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya penuh dengan emosi.


"Biar aku saja," ucap Leo sambil mengulurkan tangannya.


Dasar bajing*n tidak tahu malu!!! (Batin Alucard menggeram)


Alucard langsung menendang tangan Leo sekeras-kerasnya. "ENYAH KAU!! ... Jangan menyentuh wanitaku dengan tangan kotormu!"


Wa-wanitanya? (Batin Leo terhentak kaget)


Alucard segera meraih tubuh Esme. Ia menggendongnya ke luar, meninggalkan Leo.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun yang membuat Esme seperti ini, lolos begitu saja!" Alucard mengeluarkan jiwa iblisnya.


"Kim, aku ingin menjadi mualaf. Segera carikan orang yang paham tentang agama islam!" ucap Alucard sambil berjalan melewati Sekretaris Kim.


Apa aku tidak salah dengar? Mualaf?? (Sekretaris Kim terheran-heran)


Leo semakin dirundung rasa bersalah. Ia menyapu kasar wajahnya lalu menonjok dinding dengan emosi yang menggunung. Aura kebencian terpancar dari dalam dirinya.


"Alice!! Hilda!! Aku telah salah menilai kalian. DASAR BIAD*B!!!" geram Leo. Ia berencara membuat perhitungan pada mereka.


....


BERSAMBUNG !!!!

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen & Tips.


Sebenernya, part ini tuh mau diisi VISUAL para pemeran AMP. Tapi kayanya aplikasinya lagi eror. Jadi... belum bisa ngadain part visual deh. 😅 Kapan-kapan deh visualnya.


__ADS_2