
.
"Woaa... aku tidak menyangka! Ternyata Direktur Pemasaran kita...,"
"Pantas saja. Baru putus hubungan dari Pak Leo, tidak lama, langsung menikah dengan Presdir."
"Iya, ya. Ternyata Bu Direktur memakai cara menjijikan seperti itu. Dia juga sangat jahat, membunuh janin yang tidak bersalah."
Tiba-tiba, Esme masuk, berjalan dengan santainya.
"Lihat, orangnya datang!" bisik seorang staf pada staf yang lain. Para staf langsung menatapnya tajam, sangat menakutkan.
"Tidak tahu malu, atau memang sangat tebal kulit muka? Kalau aku diposisi dia, aku akan lari ke atas atap perusahaan ini, lalu loncat bunuh diri, dari pada harus menanggung malu seperti itu."
"Sttt... kecilkan suaramu. Bisa gawat kalau dia mengadu pada Presdir!"
"Laporkan, ya laporkan. Jika presdir tahu tentang berita ini juga pasti presdir sangat jijik padanya."
"Kita tunggu saja kabar perceraian mereka!"
Esme menatap ke sekelilingnya, diruangan ini penuh dengan aura kebencian. Ada apa? Apa yang terjadi? Perasaannya jadi tidak tenang.
Ada yang tidak beres! (Batin Esme)
Esme melihat semua staf sedang memegang ponsel di tangannya. Insting tajamnya mengatakan sesuatu yang besar telah terjadi melalui ponsel. Ia langsung gerak cepat. Esme berjalan mendekati salah satu stafnya yang sedang fokus pada ponsel miliknya.
__ADS_1
Esme merampas ponsel itu.
"Ah! B-Bu Direktur." Kedua mata staf itu terbelalak.
Esme memeriksa sesuatu dari dalam ponselnya. Ternyata si staf sedang membaca berita.
Eh, tunggu... ini 'kan ...? (Batin Esme, tubuhnya langsung menegang, kedua matanya terbelalak, jantungnya pun langsung meremuk)
"ESME!!" panggil Roger. Roger sangat terkejut, karena Esme sedang memegang ponsel. Gawat!
Roger segera merampas ponsel itu dan menyembunyikannya. Esme hanya terdiam membisu.
Sepertinya dia sudah tahu. (Batin Roger)
"ESME!!" panggil Alucard. Alucard berlari menghampirinya.
Esme terlihat menunduk sedih, wajahnya mendatar, senyum pun tak ada lagi. Alucard ingin menarik tangan Esme. Tapi, Roger segera menepisnya.
"Aku tidak tahu berita itu benar atau tidak. tapi, jika benar, kau sebagai suaminya harus segera mengurus masalah ini, dan aku yang akan mengurus Esme!" seru Roger.
"Lepaskan tangannya! Atas dasar apa kau berani memerintahku?" geram Alucard.
"Alucard! Saat ini, semua staf perusahaan sedang membicarakannya. Kau juga jangan banyak bicara. Cepat, padamkan api ini sesegera mungkin, karena ini adalah perusahaanmu, jadi pasti kau tahu apa yang harus dilakukan. Pakai saja kekuasaanmu. Tentang Esme, biar aku yang menenangkannya," tutur Roger.
"Hey, aku adalah suaminya, aku yang paling mengerti dia, dan akupun bisa menenangkannya dengan caraku sendiri. Sekarang, lepaskan tangannya!" ucap Alucard, dengan nada bicara yang tinggi, ia sudah sangat jengkel.
__ADS_1
"Kau hanya akan membuat dia semakin tidak nyaman." Roger merogoh kantung bajunya, ia memberikan sesuatu pada Alucard. "Lihat baik-baik. Aku mencurigai wanita itu, saat di Club, dia terus mengikuti dan mengawasi Esme," ucap Roger.
"Ara?" Kedua mata Alucard terbelalak. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat.
Kenapa aku sangat bodoh!... Ya, pasti wanita itu yang melakukannya. (Batin Alucard)
"Dari ekpresi wajahmu, sepertinya kau tahu siapa dalang dari semua ini. Pergilah, segera urus masalah ini sebelum pelakunya melarikan diri lebih jauh. Kau percayakan saja Esme padaku, lagian aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak terhormat padanya!"
"Tapi, aku -"
Kriingg... kriing...
Ponsel Alucard berdering. Telepon dari sekretaris Kim.
"Halo, Presdir! Aku sudah menemukan siapa yang menyebarkan berita itu," ucap sekretaris Kim di balik telepon.
"Terus pantau, lalu tangkap, jangan sampai lolos. Aku akan ke sana sekarang!" Alucard menutup panggilan telepon itu. Ia berjalan mendekati Esme dengan tatapan getir.
"Esme, apa kau bisa mendengar aku? Jangan hiraukan mereka. Ada aku, aku akan segera mengurusnya. Kau pergilah dengan... emm... uh, dengan Roger, ya? Aku berjanji akan mengurus masalah ini hingga tuntas." Alucard memeluk Esme sangat erat. Kemudian, ia meninggalkan Esme dan Roger.
Seakan indra pendengaran Esme telah mati. Esme terdiam, ia tak mendengarkan perbicaraan Roger dan Alucard yang masing-masing sedang mencemaskan keadaannya. Pikiran Esme saat ini telah kacau. Ia tak bisa berpikir jernih.
...
Sebelum Next, LIKE, KOMEN & VOTE dulu dong 🤧🤧
__ADS_1