Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Kamar Mandi


__ADS_3

.


Setelah mendengar penjelasan dari Kadita, Esme cukup memahaminya. Esme merasa bahagia jika pada akhirnya rumah tangga Kadita sudah mulai membaik.


"Esme, aku pulang duluan, ya?" ucap Kadita sambil beranjak.


"Kau ke Supermarket, hanya membeli itu? Kau dan dia...???" Esme memiringkan wajahnya.


"Sstttt!!! Tidak ada salahnya 'kan, hehee...," bisik Kadita sambil tertawa nakal. "Esme, kau juga harus sembuh, ya, kau pasti bisa. Jangan lama-lama. Kasihan Alucard, dia juga pria normal yang butuh belaian." Kadita semakin tertawa nakal.


Hey... lama-lama apanya? Aku dan dia baru saja menikah, satu haripun belum. (Batin Esme)


Esme mendatarkan wajahnya. "Kaditaaaa... jangan membahas itu. Kau ingin membuat pikiran itu datang lagi ke otakku?"


"Tidak, tidak! Jangan. Maaf ya, maaf," ucap Kadita dengan senyuman yang merasa bersalah.


"Ya sudah, aku pulang dulu, ya." Kadita berjalan sambil melambaikan tangan pada Esme.


"Eh...," tiba-tiba langkah kaki Kadita terhenti.


Kadita kembali berjalan menghampiri Esme.


"Esme, hati-hati dengan Leo. Aku tadi bertemu dengannya disini, sepertinya dia sedang menguntitmu," bisik Kadita.


Esme mengerutkan keningnya. Apakah benar yang diucapkan Kadita? Leo menguntitnya?


"Kenapa dia menguntitku? Apa dia sudah menikahi Alice?" tanyanya.


Kadita menggelengkan kepalanya. "Aku sedang berusaha membujuknya. Minggu depan aku akan menyeretnya untuk menikahi Alice," bisik Kadita lagi.


"Apakah dia pengangguran sekarang?" tanya Esme penasaran, dan masih ada sedikit rasa cemas pada Leo.


"Ya, dia sekarang pengangguran. Sudah! Jangan mengkhawatirkan pria seperti itu lagi. Kau sudah punya si oppa Korea itu. Dia jauh lebih tampan, kaya, dan baik, dari si bajing*an tengik itu," ucap Kadita.


"KADITA, AYO!" teriak Garry di yang sedang berbincang dengan Alucard di area parkir.


Kadita segera berpamitan pada Esme. Kemudian, ia berjalan menghampiri suaminya.


"Kita bahas nanti lagi di kantor. Aku ada urusan penting dengan istriku," kata Garry pada Alucard.


Urusan penting? Urusan ranjang kali. Apa dia sedang memanas-manasi aku, karena aku tidak bisa berbulan madu dengan Esme? Cih! Menyebalkan. (Batin Alucard gigit jari)


Garry dan Kadita masuk ke dalam mobil. Mereka berlalu meninggalkan Alucard.


Esme berjalan menghampiri Alucard sambil membawa 5 kantung belanjaan yang isinya camilan semua. Esme merasa kewalahan.


"Sini, sini! Biar aku saja," ucap Alucard, ia segera merebut belanjaan itu dari tangan Esme.


"Uh," rintih Alucard, tangannya penuh dengan belanjaan.


"Kenapa? Berat?" tanya Esme.


"Mm... tidak," ucapnya dusta. "Kenapa tidak membeli yang lebih banyak dari ini? Sekalian saja beli Supermarketnya, aku sanggup jika kau yang memintanya," ucap sombongnya keluar lagi.


"Yaaa... belilah sesukamu. Ayo, cepat. Ini sudah hampir gelap," kata Esme.


Saat berjalan menghampiri motor mewahnya. Alucard dan Esme bertatap mata.


"Belanjaannya kebanyakan. Bagaimana kita membawanya?" tanya Esme.


Alucard berpikir keras. "Bisa di atur. Kau bawa dua kantung, aku bawa tiga. Kau jinjing ini di kedua tanganmu," katanya sambil mengatur.


"Lalu, bagaimana caramu membawa tiga kantung belanjaan itu?" tanya Esme penasaran.


Alucard memasukan kantung belanjaannya ke lengan kanan dan kiri, lalu yang membuat Esme tertawa, Alucard mengaitkan kantung belanjaan itu di lehernya.


"Hahaha... kau tidak malu naik motor seperti ini?" Esme tertawa geli.


"Telanjang bulat di hadapanmu saja aku bersedia. Ayo, cepat naik!" celetuk Alucard.

__ADS_1


Uh, apa dia tidak sadar dengan apa yang dibicarakannya? Aku jadi memikirkannya lagi. Ah, sudahlah. Tadi saja aku bisa menahannya, sekarangpun harus bisa!! (Batin Esme)


Esme pun naik dan duduk di belakang Alucard. Ia menyengkram baju bagian perut Alucard tanpa di suruh.


"Anak pintar," gumam Alucard sambil berseringai, karena merasakan sentuhan di perutnya.


Brum... brum...


Motor mewah itu melaju dengan suara yang jantan.


....


Sesampainya di gedung apartemen, Alucard memarkirkan motornya. Ia menggiring Esme masuk.


Esme menajamkan indra perasanya. Ia merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya.


Esme menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Tidak ada siapapun yang mencurigakan disini.


"Ada apa?" tanya Alucard penasaran.


"Mm... tidak!" Esme kembali melangkahkan kakinya diikuti Alucard.


Jangan-jangan yang di katakan Kadita benar. Leo menguntitku. (Batin Esme menduga-duga)


Alucard membuka pintu apartemennya, dan Esme langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam.


"Hey, hey! Buru-buru sekali, ada apa?" Alucard semakin dibuat penasaran.


Esme membuka sandal, lalu menyimpan kantung belanjaannya di atas sofa.


Perasaannya menjadi tidak tenang. Apa benar Leo sedang mengawasinya?


Alucard pun menyimpan kedua belanjaan yang di lilitkan di tangan kanan dan kirinya.


"Hey Esme, aku bertanya padamu, kenapa kau diam saja?" ucap Alucard.


Tiba-tiba, terdengar suara azan berkumandang. Esme segera beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Ia meninggalkan Alucard begitu saja yang masih mencemaskan tingkah anehnya.


Ada apa lagi dengannya? Saat masuk ke apartemen tingkahnya menjadi aneh. (Batin Alucard dengan tatapan menyelidiki)


Alucard merogoh saku celananya. Ia mengambil ponsel, lalumenelepon seseorang.


"Kim! Turunkan beberapa orang-orangku. Suruh mereka berjaga dan awasi lingkungan apartemenku. Aku rasa ada yang tidak beres disini," ucap Alucard.


"Baik, Presdir!"


Panggilan langsung di akhiri.


Alucard menyimpan ponselnya di samping televisi. Ia membenahi makanan ringan yang tidak tertata rapih.


Tidak lama Esme ke luar dari kamar mandi. Riasan di wajahnya sudah terhapus. Alucard menatapnya, kenapa hanya wajah, tangan dan kakinya saja yang basah kuyup?


"Apa?" kata Esme sambil mengeringkan anggota tubuhnya yang basah.


"Kau mandi atau apa? Yang basah hanya sebagiannya saja," Alucard dibuat terheran.


"Aku mau shalat. Kau juga cepatlah ambil air wudhu. Kita shalat berjamaah."


"Salat? Wudhu?" Alucard mengingat kembali yang sudah ia pelajari tentang agama barunya.


Oh iya... aku lupa, dia 'kan mualaf. (Batin Esme)


Esme langsung tersadar.


"Ayo, ikut aku ke kamar mandi."


Alucard ternganga, matanya membulat.


"A-apa yang mau kita lakukan di kamar mandi?" Alucard berpikir gila.

__ADS_1


Esme mendatarkan wajahnya. Ia tahu Alucard pasti berpikiran yang aneh-aneh.


Esme langsung menarik paksa tangan Alucard.


Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi.


Esme mulai mengajarinya tata cara berwudhu.


Aku kira, dia akaann.... (Batin Alucard yang salah praduga. Tangan dan mukanya sudah basah dengan air wudhu)


"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Fokuskan pandangan dan pikiranmu dengan apa yang aku intruksikan," kata Esme, sinis.


Alucard langsung tersadar. Ia kembali memperhatikan intruksi Esme.


"Bukan begitu, gosok punggung tanganmu seperti ini," Esme menyentuh tangan Alucard dan menggosoknya, memeragakan agar Alucard cepat bisa.


Deg...


Deg...


Deg...


Hati Alucard berbunga-bunga saat tangannya disentuh oleh Esme, ia menatap wajah Esme yang basah. Air di keningnya mengalir menyusuri kebawah pipinya. Bibir mungilnya pun terlihat merah mengkilat karena berair. Alucard semakin meliarkan pandangannya.


Tidak aku sangka, tulang selangkanya pun begitu menawan. (Batin Alucard)


Alucard sangat berani menatap tulang selangka dan kedua dada Esme yang menonjol tanpa berkedip.


Deg... deg...


Jantung Alucard semakin berdetak hebat. Darah yang mengalir diseluruh tubuhnya bergejolak panas. Ia menelan salivanya.


"Bagaimana? Sudah paham?" tanya Esme, tiba-tiba.


Tidak ada jawaban dari Alucard.


Esme segera menoleh ke arahnya. Tak di sangka wajah Alucard sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Jarak bibir ke bibir hanya beberapa senti saja.


Pipi Esme langsung memerah. Jantungnya berdegup kencang.


Ada apa dengan detak jantungku? Perasaan ini sama seperti saat aku menyukai Leo. Aku merasa sangat tertantang saat melihat wajah dan kulit Alucard yang begitu indah. Pahatan wajahnya sangat sempurna. Apa aku sudah mulai menyukainya? (Batin Esme)


Glek...


Esme pun menelan salivanya.


Alucard semakin dekat dengan bibirnya.


"Esme... apa tidak bisa sekarang?" Kedua bola mata Alucard menatap harap.


"Sekarang? Apa? ... Melakukannya?" Esme tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan, karena kedua matanya masih terlena dengan ketampanan Alucard.


Alucard menganggukan kepalanya.


"Boleh, ya? Aku akan melakukannya perlahan," ucapnya lirih.


Alucard semakin menatap Esme dengan penuh harap, sambil terus menunggu persetujuan dari Esme. Tidak sabaran.


Kedua mata mereka semakin mantap beradu, dengan gejolak cinta di dasar hatinya yang semakin menggebu-gebu.


...


BERSAMBUNG!!!!


Hayooo... mikir apa?? Mikir apa kalian wahai readersku yang budiman. 🤣🤣🤣


jangan lupa dong LIKE, KOMEN & VOTEnya ❤

__ADS_1


__ADS_2