
.
Pagi Hari.
Saat itu Kadita sedang sarapan bersama dengan paman, bibi dan keponakannya.
Ia terpaksa harus menginap di rumah pamannya yang dekat dengan kantornya itu, karena Kadita bekerja lembur malam tadi.
Leo meneleponnya sore kemarin, mengatakan bahwa Esme tidak dapat kembali lagi ke kantor karena cedera di kakinya. Maka dari itu, Kadita lah yang menggantikan Esme mengurus pekerjaan di kantor pemasaran hingga larut malam.
Ny.Irina menuangkan air minum kedalam gelas untuk Tn.Argus, suaminya. Mereka adalah paman dan bibi dari Kadita.
Pamannya adalah salah satu Gubernur di Indonesia. Mereka memiliki satu anak perempuan yang begitu cantik, sopan dan pintar. Saat ini anaknya sudah berada di bangku SMA dan sedang mempersiapkan Ujian Nasionalnya.
Kadita saat ini seorang yatim piatu. Ibunya meninggal saat melahirkannya, dan ayahnya baru satu tahun ini meninggal dunia karena penyakit jantung yang di deritanya.
Saat ayahnya sudah meninggal, Tn.Argus memberikan selembar kertas yang berisi tulisan pada Kadita. Isi kertas itu ternyata adalah wasiat dari ayahnya.
Ayahnya telah menjodohkan Kadita dengan salah satu anak kerabat dekatnya yang berada di Italia.
Saat kerabat ayahnya berkunjung ke Indonesia untuk berbela sungkawa atas kematian ayah Kadita, mereka langsung membahas perjodohan itu.
Pada awalnya, anak lelaki mereka sangat menentang perjodohannya, karena anak itu telah memiliki kekasih di Italia. Ibunya sampai bersujud-sujud pada anaknya, agar ia menyetujui perjodohan itu.
Lalu, karena rasa sayang yang begitu besar pada kedua orang tuanya, akhirnya anak itu pun bersedia dijodohkan dengan Kadita.
Setelah mereka menikah, Kadita dan suaminya menetap di Indonesia, karena ayahnya menyuruh anak itu untuk hidup mandiri. Mencari pekerjaan sendiri di Indonesia, sambil belajar membangun rumah tangga dengan baik.
Tapi, baru saja satu hari tanpa orang tuanya. Suami Kadita, memperlakukannya dengan sangat dingin tanpa ekspresi sekalipun.
Suaminya memberikan sebuah kertas perjanjian, yang menyatakan bahwa selama mereka menjadi suami istri, mereka tidak akan memiliki anak, juga tidak saling sentuh menyentuh.
Kadita dengan tubuh gemetar pun menyetujuinya secara langsung. Rumah tangganya dibangun atas dasar perjodohan. Nerakalah bayangan di otaknya.
Kemudian, Kadita dan suaminya mencari pekerjaan masing-masing.
Setelah beberapa hari, merekapun akhirnya mendapat panggilan pekerjaan di waktu yang berbeda. Kemudian, mereka mendapat pesan, pesan itu menyuruh mereka untuk segera datang ke perusahaan saat itu juga.
Awalnya, sang suami lah yang meninggalkan rumah, kemudian selang beberapa jam, Kadita pun keluar rumah, menuju salah satu perusahaan di Jakarta untuk melakukan interview.
Setelah melakukan interview, akhirnya Kadita dan sang suami diterima kerja di perusahaan yang sama dengan posisi berbeda.
Mereka tak menyangka bisa bekerja di satu perusahaan yang sama. Itu hanyalah kebetulan saja. Kadita menjadi wakil direktur, dan suaminya menjadi direktur personalia di perusahaan Mord.
Ya, Garry Harley adalah suaminya.
Setelah sarapannya selesai, Kadita menawarkan pada keponakannya untuk mengantarnya ke sekolah, karena jalur menuju sekolah dan kantor pemasaran sangat dekat.
Mereka pun berpamitan pada Tn.Argus dan Ny.Irina, kemudian masuk kedalam mobil.
"Alice, pakai sabuk pengamannya !" kata Kadita, sambil menyalakan mesin mobilnya.
Alice pun menuruti yang di katakan Kadita.
"Apa kakak bertengkar dengan Kak Garry? Tidak biasanya kakak menginap di rumah ayah." Alice bertanya penasaran.
__ADS_1
"Bukan, aku tidak bertengkar dengannya kok. Kemarin aku kerja lembur. Jadi, terpaksa harus menginap di rumah paman dan bibi. Kau tau kan, jalan menuju rumahku memakan banyak waktu," bantah Kadita.
Alice termanggut-manggut. Kemudian, ia memokuskan pandangannya ke depan.
Saat melihat jalanan yang begitu macet dan terasa sangat pengap, tiba-tiba saja Alice merasa pusing dan mual.
Hooeekk..
Ia menutupi mulutnya dengan satu tangan.
Kadita yang melihat Alice mual-mual langsung menatap cemas, sambil memberikannya beberapa tisu kering.
"Ada apa denganmu? Bukankah kau tidak pernah mabuk perjalanan?" tanya Kadita dengan kerutan dikeningnya, sambil mengusap-usap pundak Alice.
"Uh, sepertinya ... aku masuk angin kak, karena semalam saat tidur ac nya lupa tidak aku matikan," katanya, sambil berusaha menahan rasa mual yang melilit di dalam tubuhnya.
"Hmm... apa kita perlu ke rumah sakit? Kau kan sudah kelas tiga dan akan segera lulus. Jaga kondisi badanmu !" Kadita begitu mencemaskan Alice.
Kedua bola mata Alice langsung terbelalak saat mendengar kata 'rumah sakit'. "Ah, t-tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya masuk angin biasa. Nanti aku akan membeli obat masuk angin di warung saja," ucapnya rengan perasaan resah.
Sampailah mereka di depan gerbang sekolah SMA Alice. Ia langsung bersalaman pada Kadita dan keluar dari mobilnya sambil menutupi hidung, karena asap mobil dan motor membuat mualnya kambuh lagi.
Uh, ada apa denganku? (Batin Alice, gelisah)
Alice merasa badannya lemas, tak bertenaga. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Alice !" panggil Lolyta.
Alice pun menoleh dengan pandangan mata sayu, wajahnya pucat tidak seperti biasanya.
"Alice, ada apa denganmu? Apa kau sakit? Wajahmu terlihat pucat." Alice langsung membekap mulut Lolyta.
Ocehan Lolyta membuat kepalanya semakin pusing. Kemudian, Alice menggiringnya kesebuah tempat sepi untuk menceritakan kegundahan di dasar hatinya.
....
Di lain tempat.
Pagi itu Esme yang masih memakai piyama tidur, menatap hampa ke luar rumah dari atas balkon kamarnya.
Wajahnya terlihat kusut, suntuk dan tak bersemangat. Semalaman ia tak bisa tidur, karena terus memikirkan perkataan Balmond dan kejadian lipstik di apartemen Leo. Kedua hal janggal itulah yang terus mengganggunya.
Awalnya, Esme bersikekeh ingin bekerja. Tapi, Ny.Hilda dan Tn.Harits tak memperbolehkannya, karena semalam Leo menelepon mereka membicarakan cedera di kaki Esme. Esme tak bisa lagi keras kepala ketika kedua orang tuanya yang meminta.
Karena merasa bosan dirumah, akhirnya Esme menggunakan waktu luangnya untuk menghapus semua keresahan yang menyerbu di benaknya.
Ia segera membersihkan diri menuju kamar mandi, lalu merias wajahnya dengan sedikit terpincang-pincang.
Setelah selesai, Esme pun keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuruni tangga sangat hati-hati.
Ny.Hilda yang baru saja keluar dari kamarnya, terheran. "Esme ! Mau pergi kemana kamu dengan keadaan kaki yang seperti itu?" tanyanya penasaran, karena Esme berpakaian rapi.
Langkah kaki Esme langsung terhenti.
"Aku hanya keluar sebentar, untuk membeli camilan !" katanya.
__ADS_1
"Suruh pak Lampir atau bi Inah kan bisa !"
"Aku ingin memilih beberapa camilan sendiri !" Kemudian, Esme kembali berhati-hati saat melangkah keluar dari rumahnya.
Ny.Hilda menggelengkan kepalanya, karena sikap keras kepala Esme hanya akan membuat suasana menjadi runyam.
Masuklah ia kedalam mobil.
Esme segera menginjak pedal gas, menuju restoran The One yang Balmond ceritakan padanya saat ia melihat Leo.
Tapi, sepanjang perjalanan Esme terlihat sangat ragu.
Bagaimana jika Leo ke sana bersama rekan bisnisnya? Tapi, bagaimana jika wanita itu bukan rekan bisnisnya? Ah, tapi Leo tak mungkin mengkhianati aku ! (Batinnya semakin gelisah)
Esme memegang setir mobil sambil memainkan jari jemarinya, karena hatinya masih belum tenang.
"Jika ternyata Leo benar-benar mengkhianati aku, lantas aku harus bagaimana? Aku sangat mencintainya, dia tak bisa lepas begitu saja dari genggamanku, karena kita tumbuh bersama dari kecil. Arrgghh... kenapa aku jadi penuh keraguan padanya?" gumam Esme.
Ketika sampai di depan restoran The One, Esme langsung menuju area parkir. Ia terjeda sesaat, memikirkan matang-matang tindakannya itu.
"Baiklah, aku akan mengambil tindakan sekarang. Tapi, aku juga harus siap dengan resikonya. Jika aku tidak mengambil tindakan saat ini juga, entah kejanggalan apa lagi yang akan aku temui di hubunganku dengan Leo." Esme terus saja bergumam.
Sebelum keluar melangkah memasuki The One, Esme menenangkan pikirannya dulu. Ia mengatur nafasnya.
Dan, setelah semangatnya terkumpul, ia pun segera berjalan mendekati petugas restoran sambil sedikit terpincang-pincang.
Esme meminta izin pada petugas, untuk mengecek cctv di restoran itu.
"Atas dasar apa, Nona ingin mengecek cctv di restoran ini?" tanya si petugas.
"Emm, begini Pak. Pada malam rabu kakak saya kemari dengan rekan bisnisnya. Dia kehilangan ponselnya disini, maka dari itu saya ingin memastikannya lewat cctv," jelas Esme, dengan penuh keyakinan agar tidak nampak kepura-puraannya itu.
Petugas itu menggaruk keningnya, sambil memikirkan sesuatu.
"Malam rabu?" gumamnya.
Esme mengangguk cepat, dengan tatapan berharap.
"Ah, iya ! Pada hari rabu cctv nya sedang rusak. Kemarin, baru saja dibetulkan. Jadi, maaf sekali restoran ini tidak bisa ikut serta membantu masalah kehilangan ponsel itu," jawab si petugas dengan tatapan iba pada Esme.
Esme menghela nafas yang terasa hampa.
"Apa Bapak, tidak berbohong?" tanyanya ragu.
Petugas itu mengerutkan keningnya. "Untuk apa saya berbohong, tidak ada untungnya !" bantah keras si petugas, hingga Esme terhentak kaget.
"Mm, ya sudah. Terimakasih ya, Pak."
Dengan teriknya sinar matahari, kemudian Esme kembali masuk kedalam mobilnya.
Jiwanya kembali gundah, karena rasa penasarannya kian menyelimuti.
Lalu, aku harus bagaimana? Aku tidak memiliki rencana selanjutnya ! (Batinnya bertanya-tanya)
...
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!
Pleas, jangan lupa Like, Komen & Vote ❤