
.
Esme mengabaikan Kadita dan Garry yang masih berada di dalam kafe.
Dengan wajah yang amat marah, ia hanya terus menarik tangan Alucard untuk ke luar dari kafe itu.
Alucard hanya terdiam, lelaki ini memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi Esme akan bertindak seperti ini padanya?
"Masuk!!" perintah Esme pada Alucard dengan tatapan yang sangat tajam.
Alucard sedikit terkejut. "K-kau mau membawaku kemana?" tanyanya. "Kita pakai supir saja, ya?"
"Jangan banyak bicara, cepat masuk!" Esme terengah-engah menahan amarah, karena perkataan Leo yang mempermalukannya di depan umum masih terngiang-ngiang ditelinganya.
Seharusnya yang bersikap kasar itu adalah pihak lelaki, bukan wanitanya? Benarkan? Di beberapa novel, yang sering kali mengintimidasi yaitu pria pada wanitanya. Tapi, disini kenapa malah Esme yang bersikap kasar pada Alucard?
Alucard malah senang Esme bersikap seperti ini padanya, karena berkat kejadian ini membuat Esme melupakan traumanya dan membuat mereka semakin dekat. Hingga ciuman panas itu masih sangat terasa dan melekat diotak Alucard. Bibir lembut Esme yang melum*at sadis bibirnya, membuat hatinya berbunga-bunga dan menggila tiap memikirkannya.
"Kenapa malah senyum-senyum? Aku bilang cepat masuk!" Esme mendorong kasar tubuh Alucard untuk masuk ke dalam mobil.
Bruk...
Alucard masuk dan duduk begitu saja.
Esmepun masuk di bagian kemudi, lalu ia mencari-cari kunci mobil, tapi Esme tak dapat menemukannya dimanapun.
"Arrghh... dimana kuncinya, Al?"
Alucard langsung dibuat panik mencari kunci mobil itu bersamaan dengan Esme. Tiba-tiba ia tersadar. Ini kan mobil yang para pengawal itu bawa, bukan mobil pribadinya Alucard.
Alucard menjulurkan kepalanya ke luar dari kaca jendela mobil. "Woy, brengs*k! Apa kalian tidak dengar istriku sedang mencari kunci mobil ini? Cepat, bawa kesini kunci mobilnya dalam 3 detik!" teriak Alucard pada para pengawalnya.
Para pengawal terhentak kaget mendapat teriakan dari Alucard, kemudian salah satu pengawal segera memberikan kunci mobil itu pada Alucard sambil tertunduk takut.
Esme merampasnya cepat. Ia segera menyalakan mobil dan langsung mengemudikannya.
Esme masih belum sadar dengan apa yang sudah di perbuatnya saat di kafe, membuat para pengunjung kafe geger karena mereka berciuman di tempat umum.
Alucard hanya terduduk manis, sambil berseri-seri melihat tingkah istrinya yang sepertinya memang belum menyadari sudah menciumnya.
Tatapan mata Esme hanya terus tertuju ke depan, dengan kerutan di dahinya. Suasana hatinya benar-benar tidak bagus.
Alucard merogoh kantung celananya, ia mengirim pesan pada adiknya, Claude, untuk mengurus Leo. Mau di tendang dari Indonesiapun tidak apa, selama lelaki itu tidak macam-macam lagi pada Esme.
__ADS_1
Apakah aku harus mengirimnya ke ujung dunia? Atau ke gurun sahara agar lelaki bajing*n itu dehidrasi dan lebih bagusnya lagi dia mati mengering. (Batin Alucard)
Setelah mengirim pesan, Alucard segera mengantungi ponselnya lagi. Ia curi-curi pandang pada Esme yang sedang menyetir. Wajahnya masih terlihat emosi.
"Hey, bukankah kau ini doktoral dari Amerika?" tanya Alucard basa-basi.
"Mm...," jawabnya singkat dan malas.
"Selama kita bertemu, aku tidak pernah mendengarmu berbicara menggunakan bahasa Inggris," katanya.
"Lalu?"
"Aku meragukanmu, apa jangan-jangan kau tidak bisa berinteraksi menggunakan bahasa Inggris?" Tatapan ragu muncul di kedua mata Alucard.
Esme langsung menoleh tajam ke arahnya. "Kau sedang meledekku atau mau menguji kemampuanku?"
"Maka sebutkan, apa bahasa Inggrisnya dari 'aku mencintaimu Alucard',"
"I LOVE YOU, ALUCARD!!" ucapnya cepat.
Ups...
Esme menginjak pedal rem secara mendadak, ia membatu disana. "Kau!!...," sorotan matanya tajam dan menakutkan. "Berani-beraninya disaat seperti ini kau malah mempermainkan ucapan itu," tuturnya.
"Memangnya kenapa?" Alucard menelan salivanya, ia sedikit ketakutan. Takut menyinggung perasaan Esme.
Esme mengerutkan keningnya. Tatapan matanya sangat menakutkan. Wajahnya mendekati wajah Alucard, hingga berjarak hanya 3cm saja. "Dengar, ya!!"
Alucard malah lebih mendekatkan wajahnya, hingga saat ini wajah mereka berjarak hanya 1cm saja. Ia menatap dengan tatapan menantang. "Dengar apa, hah?"
Deg... deg...
Berani-beraninya dia berbalik menggodaku. Lihat saja, aku akan semakin menggodanya. (Batin Esme)
"Alucard, dengarkan aku!" Esme meraih wajah Alucard dengan tangannya, hingga pipi Alucard langsung merah merona. "Al, mungkin... emm, mungkin saat ini aku sudah mulai menyukaimu -"
Dag, deg, seerrrrr....
"APA!!! Kau mau makan bakso malam-malam begini?" Alucard langsung menghindar. Sebenarnya, hatinya ingin meledak mendengar ungkapan cinta langsung dari mulut Esme. Alucard hanya berusaha menghindarinya saja dengan berbicara seperti itu.
"Al, aku serius!!!" lagi-lagi tatapan mata Esme sangat tajam.
Alucard hanya mengangguk, sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Hah? Hanya seperti itu saja reaksinya? Dia ini, benar-benar, ya.... (Batin Esme menggeram)
"Alucard, sayaaaanggg... sepertinya aku sudah mulai menyukaimu," ucapan yang dipaksakan genit.
Wajah Alucard sudah sangat merah.
"Sudah cukup!!!!" Alucard menjauhkan wajah Esme. "Aku tidak tuli. Jangan ulangi kata-kata itu lagi," kata Alucard.
Deg...
Perasaan Esme langsung hancur melihat rekasinya. Kenapa? Kok seperti itu reaksinya? Apakah Alucard tidak menyukai Esme? Apa benar, Alucard menikahinya atas dasar kasihan?
"Kau? Kenapa reaksimu seperti itu?" Esme menunduk sedih, perasaannya sangat hampa.
"Lalu reaksiku harus seperti apa, Esme?" Alucard menghela nafas berat. "Sebenarnya saat kau mengungkapkan isi hatimu tadi, aku ingin sekali langsung memelukmu, menciummu dan melakukannya disini saat ini juga. Tapi... tapi, aku berusaha menahan diri untuk tidak melakukannya, karena aku tahu kau masih dalam keadaan trauma. Aku hanya bisa berkata 'oh, seperti itu, ya sudah syukurlah'," kata Alucard, pilu.
Aku kira dia menolakku. Ternyata, Alucard hanya menahan diri saja. (Batin Esme yang sudah mulai merasa lega)
Esme segera meraih wajahnya, bola mata mereka beradu. "Al, kita pulang, ya? Kita coba melakukannya malam ini, bagaimana?" ucap lirih Esme.
Alucard langsung terbelalak. "A-apa kau serius?"
Esme menganggukan kepalanya. "Orang yang aku cintai sekarang ada di hadapanku, aku tidak perlu mengontrol diri lagi," kata Esme dengan santainya. "Tapi, aku tidak yakin kita akan melakukannya sampai tuntas," sambungnya dengan wajah merenung.
"Tidak apa-apa, kita melakukannya bertahap saja. Aku akan membimbingmu dari tahap dasar sampai kau sudah benar-benar merasa bahwa kau yakin menyerahkan dirimu padaku seutuhnya," jelas Alucard.
Uh, aku benar-benar merasa bersalah sekarang. (Batin Esme)
"Tapi, semua ini pasti membuatmu kecewa, karena aku belum bisa memuaskanmu. Aku malah memberimu harapan palsu seperti ini," ucap lirih Esme.
Alucard menggenggam tangan Esme, erat. "Esme, kita sudah mengucap janji suci di hadapan orang-orang. Kita berdua akan melalui ini semua bersama-sama. Sakit, senang, marah, kecewa atau apapun itu, aku akan tetap berada disampingmu, mendampingimu. Kau harus yakin, kita bisa melewati ini bersama-sama." Alucard mencium punggung tangan Esme.
"Tapi, Al -"
"Tidak ada tapi-tapian. Jika sudah membahas tentang masalah ranjang di hadapanku. Gaspoollllll!!!" katanya, penuh ambisi.
.....
BERSAMBUNG !!!!
Lanjut jangan, niihhh?????
Jangan lupa Like, Komen & Tips, author tuh cuma dibayar dari tips Koin loh. 🤧🤧
__ADS_1