Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Paket


__ADS_3

.


Pagi hari.


"Al, ayo bangun!! Bukankah kita akan pindah ke rumah baru?" usik Esme.


Alucard masih tertidur lelap. Rambutnya terlihat sangat berantakan.


"Hey!!! Ini sudah jam 7. Mau sampai kapan kau tidur?" Esme terus saja mengoyangkan tubuh Alucard.


"Mm.... m-mmm...," ucap Alucard. Ia malah berbalik memunggungi Esme.


Ngomong apa dia? (Batin Esme)


Esme menarik-narik tangannya, agar Alucard bangun. "Kenapa susah sekali membangunkanmu!! Ayo, cepat bangun! Orang-orang yang aku suruh, sebentar lagi akan datang."


"Aishh... ya, aku bangun, aku bangun!" Alucard terduduk, ia mengusap kasar wajahnya. Matanya masih terasa sedikit berat.


Esme menutup hidungnya. "Aku sudah menyiapkan airnya." Ia meletakkan handuk di atas paha Alucard, kemudian berlalu ke luar dari kamarnya.


"Esme! Apa masih ada sisa semur jengkol yang kemarin?" teriak Alucard.


Esme muncul kembali. "Ada sedikit lagi. Kenapa?"


"Aku mau sarapan dengan itu. Kau hangatkan, ya?" pintanya, terkekeh.


"Tunggu! Tunggu!" Esme berjalan menghampiri Alucard. "Baunya masih belum hilang, kau mau makan itu lagi?" sambung Esme.


Uh, semalaman aku kesulitan tidur karena seluruh apartemen ini beraroma jengkol. Oppa, kau membuatku kagum! Kau menghabiskan semur jengkol 3 porsi. (Batin Esme)


"Memangnya kenapa? Semur jengkol buatanmu sangat enak," ucap Alucard.


"Oh, begitu. Masuklah ke kamar mandi! Kemarin aku beli pengharum ruangan yang sangat dahsyat aromanya. Kau pasti akan jatuh cinta ketika mengendusnya!" Esme mendorong Alucard masuk ke dalam kamar mandi, lalu ia menguncinya dari luar.


Tidak lama kemudian...


Duk... duk.. duk...


"ESME, BUKA PINTUNYA!! Aku tidak suka aroma pengharum ini, membuat hidungku tertusuk dan kesulitan bernafas!!" teriak Alucard.


"Rasakanlah, apa yang aku rasakan. Akupun sama tersiksanya sepertimu. Hoeekk... bau jengkol di kamar mandi sangat pekat, membuat aku mual. Aku berjanji tidak akan membuatkan Alucard semur jengkol lagi! Dia benar-benar tak tertolong," gumam Esme.


Esme beralih mengambil ponselnya. Ia menelepon ayah dan juga sahabatnya, Kadita. Mengabari mereka, bahwa hari ini ia akan pindah ke rumah barunya.


Tn.Harits dan Kadita sangat senang mendengarnya. Kemudian, Esme segera memisahkan oleh-oleh yang Ny.Bae berikan untuk dibagi-bagi. Ia akan memberikannya pada Tn.Harits dan juga Kadita.


Tidak lama kemudian, dua orang pesuruh datang. Mereka akan membantu Esme membawa beberapa barang dari apartemen ke rumah barunya. Barang-barangnya hanya sebagian saja, tidak banyak, karena apartemen ini masih akan mereka tinggali suatu hari nanti.


Esme membuka kunci kamar mandi, Alucard pun ke luar dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Bajunya sudah aku siapkan. Ayo, cepat. Orang-orang yang aku bayar untuk memindahkan beberapa barangku sudah membawa barangnya. Aku tunggu kau di bawah, ya?" kata Esme, tanpa merasa bersalah sama sekali. Ia pun belalu meninggalkan Alucard.

__ADS_1


"Cih!" Alucard berdesis, ia hanya menatap jengkel.


Setelah selesai memakai baju, Alucard pun menyusul Esme. Alucard masuk ke dalam mobil karena Esme sudah ada disana.


Mobilpun melaju menuju rumah barunya.


Sesampainya di rumah baru. Kedua mata Esme berbinar ria, rumahnya terlihat manis, dan mewah. Ny.Bae sangat pintar memilih rumah ini.


Alucard membawa Esme masuk ke dalam rumah. Orang-orang suruhan itu pun segera mengangkut bebawaan ke dalam rumah, dan menatanya.


"Terima kasih," Esme memberikan bayaran untuk mereka. Mereka pun pergi dari rumah itu karena tugasnya sudah selesai.


"Untung saja aku tidak membawa semua barang-barangku, ternyata disini semua fasilitas sudah lengkap. Mertuaku memang yang terbaik. Hihihi...." Raut wajah Esme sangat gembira.


Ting... nong...


Bel rumah tiba-tiba berbunyi.


Alucard dan Esme berjalan melihat siapa yang bertamu di hari pertama mereka pindah.


"Paket."


"Paket?" Alucard dan Esme bertatap mata. Mereka bertanya satu sama lain.


"Perumahan Goldy, blok.B No.15. Atas nama Nona Esmeralda. Tolong, tanda tangan disini," ucap kurir.


"Ehm, alamatnya memang disini. Tapi, aku tidak pernah memesan apapun. Apa ini paket dari seseorang untukku?" tanya Esme terheran.


"Tanda tangani saja," kata Alucard. Ia merasa kasihan melihat banyak sekali paket orang lain yang kurir itu simpan di jok motornya.


"Mm... baiklah," gumam Esme.


Setelah menandatangani, si kurir kembali melanjutkan tugasnya lagi. Esme dan Alucard membawa paket itu ke dalam rumah, Alucard menutup pintunya rapat-rapat.


Siapa yang mengirimi paket pada Esme? Ini sangat mencurigakan. Apakah salah satu musuhnya yang mengirimi paket ini? Tapi, aku belum memberi tahu siapapun tentang rumah baruku. Hanya aku dan keluargaku saja yang mengehatuinya. Ah!... jangan-jangan Ara yang mengirim paket ini? (Batin Alucard)


"Esme!! Buang saja paket itu!" seru Alucard, cemas.


"Kenapa?" Esme terheran.


"Paket ini sangat mencurigakan. Aku takut isinya adalah sesuatu yang berbahaya dari salah satu musuhmu," ucap Alucard. "Sini, biar aku yang membuangnya." Alucard merebut paket itu dari tangan Esme. Tapi, Esme segera merebutnya balik.


"Tapi, ini paketku. Aku tidak merasa ada yang mencurigakan. Mungkin saja salah satu keluargamu mengirim paket untukku 'kan?"


"Kau memang tidak pernah berubah, Esme. Kau selalu berpikiran positif. Tidak ada rasa kewaspadaan sama sekali. Aku hanya takut, isi paket ini sesuatu yang berbahaya!" Alucard mengotot.


"Apa kau bilang? Aku tidak memiliki rasa kewaspadaan sama sekali? Atas dasar apa kau berbicara seperti itu?" geram Esme. "Selama ini apa kau tidak pernah menyadari, aku yang selalu bersilat lidah dengan para wanita pengganggu yang mencoba mengusik rumah tangga kita? Aku tetap menyimpan rasa kewaspadaanku, kau tidak tahu kewaspadaanku sangat tajam?"


"Bukan begitu maksudku. Kau jangan mudah percaya paket ini dari keluargaku, aku hanya takut ini dari salah satu musuhmu. Aku hanya mencemaskanmu saja, Esme!" Alucard jadi merasa bersalah.


"Musuhku? Kita baru beberapa menit pindah kesini, tidak ada yang tahu alamat rumah baru kita kecuali keluargamu! Jadi, aku menyimpulkan paket ini dari salah satu keluargamu," ucap Esme percaya diri.

__ADS_1


"Apakah Ara bukan keluargaku? Dia anak dari keponakkan ayahku, kak Chan. Saat kita menikah, orang tuanya hadir. Mereka tahu tentang rumah ini, mungkin saja Ara menanyakan rumahku pada orang tuanya," jelas Alucard.


"Kau terlalu berlebihan," ucap Esme, menyepelekan. "Baiklah. Dari pada kita berdebat. Aku akan membukanya. Kita akan melihat apa isinya!"


Esme mengambil pisau, lalu membuka paket itu secara acak.


"Uh, hati-hati! Biar aku saja!" seru Alucard.


"DIAM!!"


Berani-beraninya, dia meragukan insting tajamku! (Batin Esme)


Saat paket itu terbuka. Alucard segera menjauhkan Esme dari paket ini.


"Ck! Apa-apaan kau ini? Bagaimana aku bisa melihat isinya jika aku kau tarik sejauh ini?" geram Esme yang semakin dibuat jengkel.


"A-aku hanya takut kau kenapa-napa!" Alucard tergagap.


"Al, hari ini kau sangat menyebalkan!" Esme berjalan kembali memeriksa isi paket itu.


Deg...


"Apa ini?" Esme terheran-heran.


Alucard penasaran. Ia menghampiri Esme. "Bungkus apa itu?" gumam Alucard. "Lepaskan! Jangan menyentuhnya, aku takut ini adalah siasat seseorang untuk menyakitimu!"


"Huff... Al! Bisakah kau tidak terlalu mencemaskan ini. Aku rasa ini tidak berbahaya." Esme mengendus baunya. "Emm, ini tercium seperti jamu."


Esme mengambil bungkus yang lainnya, karena bungkusnya sangat banyak sekali. "Ah! Ada bacaanya." Esme pun membacanya.


"Ja-mu... pe-nyu-bur... kan-du-ngan?"


Alucard terbelalak. "Hah? Jamu penyubur kandungan?" Ia mengambil bungkus yang lainnya.


Kling...


Ponsel Esme berdering. Ada sebuah pesan baru. Ia segera memeriksa pesan itu.


"Apakah jamu penyubur kandungannya sudah tiba? Itu diminum 2x sehari, pagi dan malam, sesudah makan. Jamu itu bukan hanya untukmu saja, Esme. Kau harus memberikannya juga pada Alucard. Biar hasilnya mantul. Kalian harus melakukannya sesering mungkin, agar proses perkembang biakannya cepat. Ibu akan menanyai hasilnya seminggu sekali, ya. Semoga kalian syukaaa... ❤"


Apakah pesan ini tidak terlalu fulgar dari seorang mertua pada menantunya? Ny.Bae sangat terang-terangan sekali. (Batin Esme)


"Ohh! Ternyata paket ini dari ibumu!" gumam Esme, tak terkejut sama sekali, karena instingnya benar. Ia menatap dengan tatapan meledek pada Alucard.


Alucard malah berjawah datar. "Jadi, ini jamu untuk berkembang biak? Bikin heboh saja! Ck... dasar ibuuuuuu!!...."


...


BERSAMBUNG !!


Jangan lupa, LIKE, KOMEN & TIPS ❤

__ADS_1


__ADS_2