
.
Hari ini adalah hari yang penuh dengan masalah. Pasalnya, Alucard tidak main-main dengan ancamannya pada Alice, yaitu tentang tes keperawanan.
Sebelum tes keperawanan itu dilaksanakan di sekolah, Alice segera mengundurkan diri dari sekolahnya. Ia benar-benar ketakutan jika kehamilannya diketahui orang banyak. Padahal 3 hari lagi ia akan melaksanakan Ujian Nasional.
Satu sekolahan dibuat terheran dan penasaran dengan keputusan anak Gubernur yang memutuskan sekolahnya secara tiba-tiba.
Kemudian, dengan usilnya Lolyta menyebarkan tentang kehamilan Alice pada teman kelasnya.
Berita kehamilan Alicepun langsung tersebar hanya dalam waktu satu jam ke seluruh penjuru sekolahan.
Kepala sekolah segera menelepon Tn.Argus, sayangnya tidak di angkat. Tn.Argus sedang mengurus hal penting di luar Kota.
Kemudian, kepala sekolah menghubungi Ny.Irina, ia ingin memastikan berita yang beredar disekolahnya itu benar atau tidak, karena pada saat di tanya oleh beberapa guru, Alice tidak menjawabnya, ia langsung berlari ke luar dari sekolah. Tas beserta alat tulisnya pun ditinggalkannya dikelas.
Saat panggilan telepon itu di angkat oleh Ny.Irina, kepala sekolah segera memberitahukan bahwa Alice mengundurkan diri dan juga menanyai alasan yang sebenarnya.
Jiwa Ny.Irina terhentak sekaget-kagetnya dengan berita itu.
Ia segera menutup panggilan telepon itu, dan mencari keberadaan Alice untuk memastikannya.
Pada saat akan mengeluarkan mobilnya dari garasi rumah, Alice datang dengan seragam sekolahnya, ia langsung masuk kedalam rumah begitu saja sambil menangis terisak-isak.
Ny.Irina langsung menarik tangannya.
"Alice!" panggilnya dengan tatapan yang menakutkan.
Alice berusaha melepaskan genggaman tangan ibunya yang semakin menyakiti pergelangan tangannya.
"Ibu, kau menyakitiku," ucapnya sambil menutupi mata sembabnya.
Ny.Irina segera menyeret tangan Alice masuk ke dalam rumah.
"Ibu mendapat telepon dari kepala sekolah. Kenapa kamu mengundurkan diri tiba-tiba? Tiga hari lagi kau akan mengikuti Ujian Nasional. Ada apa denganmu, Alice?" Ny.Irina mengerutkan keningnya. Ia tak habis pikir dengan anak semata wayangnya itu.
Alice hanya terdiam. Ia sangat ketakutan, sepertinya ibunya sudah mulai menaruh curiga padanya.
"Katakan yang sejujurnya, Alice? Ibu ingin mendengarkan alasan yang logis," katanya semakin emosi.
Alice menjejakkan kedua lututnya ke lantai. Ia tertunduk sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Ibu... maafkan Alice," ucapnya dengan tubuh yang gemetar hebat, tangannya dingin sudah bagaikan es. "A-aku... aku hamil, bu." Air mata Alice mengalir deras.
Ctarr ⚡⚡
Guntur menggelegar.
"Apa!!!" Bola mata Ny.Irina membulat sempurna. Nafasnya sudah sangat berat.
Apa aku tidak salah dengar? Tidak! Pasti Alice sedang ditindas temannya disekolah. Teman-temannya kan banyak yang sirik. (Batin Ny.Irina)
Brak...
Tiba-tiba saja Tn.Argus datang di waktu yang tidak tepat.
"Ayah?" Alice terbelakak, tubuhnya gemetar sudah bukan main.
"Sayang? Bukankah, kau sedang ke luar Kota?" kata Ny.Irina, yang berusaha menutupi keadaan Alice.
Tn.Argus menyingkirkan tubuh Ny.Irina, ia berjalan tergesa-gesa mendekati Alice.
Plak...
Ia langsung menampar pipi Alice dengan sangat keras.
"Keluar kau dari rumahku!" teriakannya membuat Ny.Irina dan Alice ketakutan.
Tn.Argus segera menyeret tubuh Alice.
Alice sudah bagaikan kotoran dimatanya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Alice sedang bercanda denganku, dia sedang membual," bantah Ny.Irina. "Anak kita tidak mungkin seperti itu." Ny Irina berusaha melepaskan cengkraman Tn.Argus dari baju seragam Alice.
"Ah! Ayaaahh... sakit, ayaahh. Maafkan Alice," rintihan Alice, karena kerah seragam sekolah yang Tn.Argus cengkram menyekik lehernya.
Tn.Argus melemparkan sebuah amplop besar, dan semua isinya langsung berhamburan ke lantai.
Foto?
Deg...
Semua mata langsung melihat foto yang berhamburan itu.
Fotonya berisi Alice yang tak berbusana, sedang berada di sebuah Hotel dengan seorang pria.
Ny.Irina mengambilnya perlahan.
"A-Alice? Apa benar ini kau?" Tangan Ny.Irina gemetar saat melihatnya.
Darimana ayah mendapatkan foto ini? (Batin Alice)
Alice hanya menangis tak bersuara.
"Bukankah... bukankah ini Leo, kekasihmu yang waktu itu datang kemari?" Tanyanya dengan tatapan tak ingin mempercayai semua ini.
"Sudah melihat buktinya 'kan!" Wajah Tn.Argus sangat menakutkan.
Ia kembali menyeret tubuh Alice ke luar dari rumah.
"Pergi! Jangan mengotori rumahku. Aku tidak memiliki anak dengan kepribadian seperti ini! Kau benar-benar sudah merendahkan martabat seorang wanita! Ayah benar-benar sangat kecewa padamu, Alice!" Urat di kepala Tn.Argus timbul, karena saking marahnya pada Alice.
Alice merangkul kaki ayahnya. "Tidak ayah. Jangan usir Alice. Alice tau, ini semua salah. Alice minta maaf," ucapnya pilu.
Perasaan dan hati seorang ibu hancur berkeping-keping. Ny.Irina hanya mematung, ia tak bisa berkutik apapun, karena begitu terkejut mengetahui Alice sudah melakukan hubungan badan dengan seorang pria sampai hamil.
"Ibu... ibu jangan diam saja. Beri ayah pengertian. Kak Leo akan bertanggung jawab, dia akan bertanggung jawab," Alice terus saja menangis sambil meyakinkan ayah dan ibunya.
Tn.Argus menyuruh pembantunya mengambil semua barang milik Alice. Kemudian, ia melemparkannya kewajahnya.
Tn.Argus menutup pintu rumahnya. Tapi, Alice langsung menahannya menggunakan tangan, hingga tangannya terjepit, sakit sekali.
"Ayaahh... jangan usir aku!! Ayaahh... aku mohon." Tangisannya sudah bukan main.
Tn.Argus mendorong kasar tubuhnya hingga Alice terjungkal. "Memohonlah pada lelaki yang sudah menidurimu sampai membuatmu hamil seperti ini!"
Brak...
Pintu tertutup rapat serapat-rapatnya, hingga nyamukpun tak akan bisa masuk ke dalam.
😭 "Ibuuu... aaaaa, ayaahhh...," 😭
Alice menangsi sejadi-jadinya.
Kemudian, ia menghapus air matanya, karena percuma saja ia menangis. Ayah dan ibunya sudah benar-benar kecewa, mereka tidak akan membukakan pintu untuknya lagi.
Alice mengambil beberapa tas berisi bajunya, lalu ia memesan taxi online, menuju rumah Kadita.
Sesampainya di depan rumah Kadita, ia segera mengetuk pintu.
Tidak lama pintu terbuka. Garry yang membukanya.
Garry menatap heran pada Alice, karena kedua matanya sangat merah membengkak.
"Alice? Ada apa denganmu?" tanya Garry penasaran.
"Kak, dimana Kak Kadita?" Alice balik bertanya.
"Mm... Kadita sedang ke Supermarket, membeli bahan makanan," ucapnya ragu, karena Kadita tidak memberi tahu Garry alasan sebenarnya ia ke Supermarket. Garry hanya menduga-duganya saja.
"Bolehkah aku masuk?" tanya Alice, sambil tertunduk sungkan.
"TIDAK!!!"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara penolakan dari luar rumahnya.
Alice dan Garry langsung menoleh ke sumber suara.
Kadita berjalan mendekat dengan raut wajah penuh amarah. Ia menenteng beberapa belanjaan dari Supermarket.
Alice menatapnya heran.
"Mau apa kau kemari? Mencari pelarian?" Kadita meninggikan suaranya, pandangannya penuh benci.
Alice terbelalak, ia tidak mengerti.
"Kak... ap-apa yang -"
"Kau mau tahu alasanku marah seperti ini padamu?" Kemarahan Kadita mulai bergejolak.
Garry yang sedang berdiri di ambang pintu hanya bisa terdiam, karena tak tahu apa-apa.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan pada Esme, Alice?" Kadita terengah-engah menahan emosi.
Bola mata Alice membulat sempurna, ia langsung tertunduk takut.
"Alice! Esme sudah mengalah demi kamu, dia mengorbankan cinta dan merelakan pernikahannya gagal, itu semua demi kamu. Demi wanita yang sedang hamil anak kekasihnya! Dia sudah sangat menderita karena ulahmu. Tapi, kau... dengan teganya kau menyuruh penculik untuk merusak wajahnya dan membunuhnya?" Kadita mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
Siapa... siapa yang memberitahu ini semua??? (Batin Alice, semakin ketakutan)
"Aku ingin bertanya, salah apa Esme padamu?Hah? ... Ayo, jawab! Salah apa dia?" Kadita menunjuk-nunjuk jari tangannya.
"Disini dia korbannya. Yang berhak marah dan benci itu adalah Esme, bukan kamu! Tapi kau malah tidak tahu malu. Sudah dikasih hati malah minta jantung. Apa kau tahu, dia mengalami pelecehan seksual dari para penculik yang kau suruh? Bukan hanya pelecehan, dia mendapatkan kekerasan!" Rahang Kadita mengeras. "Saat ini, Esme berada dirumah sakit, terbaring lemah tak berdaya. Fisik dan mentalnya terganggu, dia sampai mengalami sindrom trauma! Kau benar-benar biadab!! Tindakanmu ini sangat tidak manusiawi, Alice. Beruntung, Esme tidak memenjarakan kamu, karena dia kasihan melihatmu yang tengah berbadan dua," jelas Kadita dengan amarah yang semakin membara.
Alice tak bisa berkata apapun, ia di buat mati kutu dengan tubuh yang semakin gemetar ketakutan.
"Alice, kau menggali kuburanmu sendiri! Pada awalnya aku sangat mengasihanimu. Tapi, setelah mengetahui kau berbuat keji seperti itu pada Esme, aku... aku benar-benar kecewa dan sangat marah. Seharusnya aku tidak perlu empati pada wanita keji seperti dirimu! Sekarang, jangan pernah datang lagi kemari, jangan mengotori rumahku. Kau tanggung saja sendiri akibat perbuatanmu itu."
Brak...
Kadita mendorong Garry masuk dan menutup kasar pintunya.
Tubuh Alice langsung terjatuh ke lantai. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Air matanya enggan keluar, sepertinya air matanya sendiripun sangat jijik menempel di wajahnya.
Alice merogoh kantung bajunya.
Dengan wajah menyedihkan ia menelepon Leo.
"Halo... Kak Leo, kau dimana? Orang tuaku sudah tahu kehamilan ini, mereka mengusirku dari rumah. Kak Kaditapun tidak mengijinkanku tinggal dirumahnya. Kau jemput aku kesini, ya?" katanya.
"Kau ingin tinggal dirumahku?" tanya Leo.
"Ya,"
"Aku harus menyiapkan berapa peluru untuk menembak mati kamu? Alice, kedatanganmu membuat hubunganku dengan Esme hancur berantakan. Seharusnya aku sudah menikah dengannya. Rasa cintaku pada Esme sudah mendarah daging. Teganya kau menyuruh penculik untuk menyakiti orang yang aku cintai sampai separah itu. Apa kau tahu, saat ini aku tidak boleh menjenguknya di rumah sakit. Akupun sudah tidak diperbolehkan lagi melihat wajahnya. Ini membuatku benar-benar sangat menderita," kata Leo penuh amarah.
"Kak Leo, jangan berbicara seperti itu. Aku sudah tidak ada tempat untuk kembali. Aku sedang mengandung anakmu, kau sudah berjanji akan menikahiku 'kan?"
"Apa!! Menikah? Menikah dengan wanita iblis seperti dirimu? Hahaha... cih, aku sudah tidak sudi lagi. Lahirkan saja anak itu, aku akan membawa dan mengurusnya, tapi jangan harap aku akan menikahimu!!!"
Tut... tut... tut...
Panggilan diakhiri.
Alice membatu. Jiwa dan perasaannya benar-benar hancur meremuk. Wajahnya sudah tidak bisa berekspresi lagi, perlahan air matanya menetes.
"AAAAAAA!!!!!!!!!!!"
Alice sangat-sangat frustasi. Ia melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Ia menyiksa dirinya dengan memukul-mukul keras perutnya, hingga perutnya memerah kesakitan.
....
BERSAMBUNG !!!!
Bentar lagi menuju momen bahagia nih, kesedihan dan ketegangannya mulai menyusut.
__ADS_1
Kunjungi juga novel baruku 'Istri Kecil Yang Nakal' yaa...