
.
Kalian terlalu sibuk dengan kisah hidup Esme, sampai lupa bahwa authornya hari ini ulang tahun. Hikss... meni gak ada yang ucapin dari readers. Nangis bombay, nih ðŸ˜ðŸ˜ Kalau mau ucapin di kolom komentar ya, hihi... jangan lupa sama amplop yang berisi LIKE apalagi TIPS KOIN/POIN 🤣
....
8 bulan pun berlalu begitu cepat. Setelah kejadian berita yang didalangi oleh Ara, dari situ sudah tidak ada masalah yang membuat emosi naik lagi.
Alice? Ia sudah kena batunya, tapi malah kabur entah kemana, tak pernah muncul lagi.
Leo, perasaannya pada Esme masih tetap sama. Hanya saja, saat ini, ia tak segila dulu. Leo sudah ikhlas dan merelakan Esme, karena sudah tak mungkin baginya untuk bisa bersanding dengan wanita hebat seperti Esme.
Hidup Esme saat ini sudah kembali normal, seperti ada cahaya kebahagiaan yang akan menuntunnya masuk.
Dari setiap kejadian atau masalah yang menimpa hidupnya, Esme tak pernah sekalipun gugur. Ia malah semakin kokoh dan kuat. Sebab, semua yang telah ia lalui, tersimpan dalam memorinya dan akan dijadikan sebagai pembelajaran hidup.
Rumah tangga yang harmonis bukan berarti tiada konflik dan masalah. Justru berbagai masalah dan konflik akan menjadi pembuktian kedewasaan suatu hubungan. Karena sejatinya, setiap ada masalah harus dicari jalan keluar atau solusinya (Seperti kisah Esme), bukan malah lempar tangan dan menghindar apalagi sampai menyiksa diri. Misalnya, mogok makan atau bahkan yang lebih parahnya lagi sampai berpikir akan buduh diri.
TIDAK!
Kalian jangan sampai berpikir seperti itu. Masih ada novel ini yang akan memberikan motivasi untuk tetap hidup, memberantas masalah sampai ke akarnya.
Jika memang kau salah, akui dan perbaiki. Jika tidak salah, ya lawan, selesaikan dengan otak. Esme pun begitu. Kalau tidak bisa, ya harus bisa. Gerakkan hatimu, ubah pola pikirmu, dan ayo melangkah.
Kembali ke laptop.
...
Hari ini hari sabtu, Esme dan Alucard berencana pergi ke pantai untuk refreshing otak. Sudah siap berkemas, tinggal cuss meluncur.
Eh, tiba-tiba ponsel Emse berdering. "Tunggu, Al. Ada yang telepon," katanya.
"Hem." Alucard memakai kemeja pantai dengan motif simple dan celana pendek warna netral. Uh, ketampanannya sangat menggoda, jadi pengen jilat.
Ia memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil. Lalu, memeriksa ulang sebelum menutup bagasinya.
"Apa!! Kenapa bisa mendadak sekali?" Nada suara Esme meninggi. "Baiklah, aku akan segera ke sana," katanya, sambil menutup panggilan telepon itu.
"Ada apa?" tanya Alucard.
"Kadita, hari ini dia akan melahirkan. Ayo, kita ke rumah sakit!" Esme segera masuk ke dalam mobil.
Bruk...
"Honey, kita sudah merecanakan liburan ini dari jauh-jauh hari. Bagaimana mungkin harus menundanya lagi?" keluh Alucard.
Belakangan ini pekerjaan Alucard menumpuk, hingga ia tak bisa berduaan lama dengan Esme. Dan, hari ini seharusnya mereka berlibur ke pantai. Tapi, author berkehendak lain.
"Ayo, cepat! Bayinya sudah mau ke luar, aku harus melihatnya!!!"
"Haiisss... iya, iya!" Alucard mengernyit sebal, sambil masuk ke dalam mobil.
Jika Ibu Negara bilang seperti itu, maka Alucard harus seperti itu, tak bisa menolak. Semua perkataan yang keluar dari mulut Esme merupakan titah baginya.
Maklum saja, Alucard sangat menghargai istrinya. Tapi, Esme tidak pernah bertingkah kok meskipun punya suami yang penurut seperti itu. Pokoknya mereka saling melengkapi dalam pekerjaan maupun urusan lainnya.
Sampailah mereka di rumah sakit. Alucard segera memarkirkan mobilnya. Setelah diparkirkan, Esme tak sabaran. Ia keluar dari mobil begitu saja, melupakan Alucard.
Esme sangat mencemaskan sahabat baiknya itu. Padahal, kemarin Kadita masih bekerja dengan semangat di kantor.
"Esme, tunggu aku dong!" geram Alucard sambil berlari mengejar Esme.
__ADS_1
Esme dan Alucard berjalan masuk keruang persalinan. Mata Esme sibuk mencari keberadaan Kadita.
"Loh, dimana Kaditanya?" gumamnya, karena saat melihat bangsal tidak ada Kadita disitu.
"ESME!! Disini!" panggil Kadita sambil melambaikan tangannya.
Ternyata Kadita sedang berjalan-jalan di koridor rumah sakit, di dampingi Garry. Wajahnya terlihat sangat pucat, tubuh berisi, bokongnya ketat, perutpun sudah sangat buncit. Melihat keadaan Kadita seperti itu, Esme jadi merasa ikut sesak.
Keringat yang ke luar dari tubuh Kadita banyak sekali, terlihat dari bajunya yang basah dimana-mana.
"Kenapa malah jalan-jalan? Bukankah kau akan melahirkan? Aku jadi cemas dan langsung kemari," kata Esme.
"Dua jam lalu, katanya masih pembukaan 5, aku disuruh perawat untuk jalan-jalan supaya proses pembukaannya cepat." Bibir Kadita kering dan pecah-pecah, ia telihat sangat kelelahan.
Tiba-tiba, Kadita mengerucutkan bibirnya. "Hey Esme, apa kau tahu... ini sangat sakit, huhuuu... Garry brengsek, aku tidak mau punya anak lagi. Hiks...." Matanya berkaca-kaca.
Glek...
Esme menelan salivanya. Perasannya jadi menciut mendengar sahabatnya sedang mengeluh karena sakitnya saat akan melahirkan.
Alucard pun melihat Kadita jadi ngeri.
Garry melirik Esme dan Alucard, suasananya jadi canggung. "Hus, jangan bicara seperti itu. Kau menakuti Esme, tahu!" bisik Garry. "Ayo, kita jalan lagi."
Saat akan melangkah, tiba-tiba kontraksinya datang, perutnya merasa sangat sakit, seperti dikoyak-koyak atau apalah itu. "A-aduuhh... perutku," Kadita menyekram kasar tangan Garry, hingga tangan Garry memerah.
"Cepat, panggil dokter!" kata Kadita, sambil menggigit bibir bawahnya. "Aku rasa, kepala bayinya sudah mau ke luar. Huaaa... sakit sekali."
"Al, tolong panggilkan dokter. Aku akan membantu Garry memapah Kadita," ucap Esme panik.
"Aku... a-emm, hufff... baiklah." Alucard pun berlari mencari dokter.
"Huh, huh, huh... ayo, cepat bawa aku ke bangsal!"
"Aw, Kadita apa kau ingin melihat sahabatmu mati? Kau menarik kerah bajuku!" teriak Esme.
"Tubuhmu berat begini mana bisa cepat," celetuk Garry, sambil berusaha memapah Kadita.
"Hah? Apa kau bilang? Tubuhku begini juga gara-gara kamu! Enak saja malah menyindirku begitu. Aku potong punyamu, baru tahu rasa! Aduduuhhh... cepat, Esme, ini sakit."
"Cepat apa? Kakimu dong yang digerakkan, dari tadi melangkahnya seperti siput saja!" Esme jadi terbawa suasana.
Uh, pokoknya suasana jadi sangat berisik.
Akhirnya Garry menggendong tubuh Kadita masuk ke ruang persalinan, meskipun tubuhnya sangat berat.
Tidak lama, dokter dan beberapa perawatpun datang. Dokter segera memeriksa Kadita.
"Aduh, Dok. Nyawaku sudah di ambang kematian begini masih perlukah diperiksa lagi? Cepat, ambil tindakan dong!" Kadita sudah tak tahan.
"Tenang, Bu. Jangan panik. Ayo, atur nafasmu," intruksi dokter.
Garry berangsur mundur seperti kepiting.
"Mau kemana kau? Temani dia sampai anak kalian lahir. Biar kau tahu seperti apa perjuangan Kadita melahirkan anakmu!" Esme menahan tangan Garry dan membawanya kembali ke samping Kadita.
Garry berwajah datar, ia sangat takut dan gugup.
"Pembukaannya sudah lengkap. Cepat siapkan alatnya!" titah dokter.
Perawat sibuk mondar mandir mengambil alat. Alucard yang sedang duduk menunggu di luar, penasaran. Ia berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Mau apa kau kemari?" tanya Esme.
"Aku mau lihat."
"Apa yang mau kau lihat? Kadita akan melahirkan secara normal. Kau tidak boleh melihatnya. Bahaya! Karena itu milik Garry." Esme menarik tangan Alucard ke luar dari ruang persalinan. "Tunggu di luar saja."
"Hmm... Esme, jangan tinggalkan aku sendirian disini. Nanti kalau aku diculik tante-tante gimana?" ucapnya manja.
"Huff... ya sudah, iya. Padahal aku penasaran ingin melihat proses melahirkan secara langsung," gumamnya.
Akhirnya, Alucard duduk berdua dengan Esme sambil merangkulnya.
Dari dalam, terdengar suara Kadita yang sedang mengejan. Sepertinya, tidak lama lagi akan terdengar isak tangis bayi.
"Al? Aku kapan seperti itu?" tanya Esme. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Alucard.
"Kalau sudah waktunya, kamu pasti hamil. Kita harus terus berusaha."
Esme mengangguk malas.
Tiba-tiba, ayah dan ibu Garry datang menghampiri. Wajah-wajah orang Italia. Ekspresi mereka terlihat sangat panik.
"Maaf, apakah yang di dalam itu Kadita?" tanyanya dengan bahasa Indonesia yang kaku.
"Oh, iya. Kadita sedang ditangani dokter, Garry ada di dalam menemaninya," kata Esme.
Ibunya Garry terlihat menghela nafas lega. Mereka memilih untuk menunggu di luar saja.
Selang beberapa detik, Ny.Irina dan Tn.Argus pun datang. Tn.Argus terlihat sedang menggendong seorang anak kecil. Anak kecil yang cantik dan lucu, pipinya sangat gembil.
Mereka menyapa ibu dan ayah Garry. Kemudian, Ny.Irina berjalan menghampiri Esme dengan raut wajah cemas, menanyai kondisi Kadita.
Saat Ny.Irina akan masuk ke ruang persalinan. Tiba-tiba terdengar isak tangis bayi.
Ny.Irina dan ibunya Garry bergegas masuk, ingin melihat. Begitupun dengan Esme.
"Waaa... syukurlah, anak dan ibunya selamat."
Bayi yang sedang di bersihkan oleh perawat itu terus saja menangis. Garry terlihat sedang memeluk Kadita dengan isak tangis bahagianya. Perjuangan dan ekspresi wajah Kadita saat melahirkan anaknya, membuat perasaannya benar-benar sedih.
Bayi yang berjenis kelamin lelaki itu di letakkan oleh dokter di samping Kadita. Wajah Kadita sangat pucat, kedua matanya hitam seperti panda.
Esme tersenyum-senyum saat memperhatikan setiap sudut wajah bayi mungil itu.
"Kau mau yang seperti itu?" tanya Alucard tiba-tiba. "Kita bisa membuatnya lebih dari 1 kalau kau mau."
Esme meneteskan air mata bahagianya, lalu menganggukan kepalanya. "Ya, aku mau lebih dari dua, hihii...."
Dua? Sedikit sekali. 11 anakpun aku sanggup kok. (Batin Alucard)
"Esme, fighting!" ucap Kadita. Ia memberikan ucapan semangat menggunakan bahasa Korea sambil tersenyum, karena tahu suaminya oppa-oppa Korea.
Esme mengangkat kepalan tangannya.
"FIGHTING!"
...
BERSAMBUNG!!!
Mana nih kado buat author? Hihi, jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE nya yaaa 😘
__ADS_1