Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Romeo & Juliet (END)


__ADS_3

.


Keesokan harinya. Alucard dan Tn.Harits membawa Esme beserta anaknya pulang ke rumah besarnya.


Berita besar ini langsung tersiar di Korea. Generasi ke-3 keluarga Aganor menjadi topik utama. Mereka dibanjiri pujian, doa dan perkataan selamat dari masyarakat disana.


Betapa senang hati Esme telah melahirkan seorang anak perempuan yang cantik jelita. Jika saja, anak pertamanya tidak meninggal, mungkin saat ini sudah berumur 2 tahunan.


Mata bayinya bulat, bibirnya mungil seperti Esme. Hidungnya mancung kecil seperti Alucard.


Saat mereka tiba dirumah, ternyata keluarga Alucard yang dari Korea sudah ada disana. Mereka langsung menyambut Esme dan bayinya.


Begitu masuk ke dalam rumah, bayi itu langsung dikerumuni.


"그의 얼굴은 그의 아버지처럼 보인다. (Wajahnya mirip seperti Alucard, ya)"


"아기는 아름답고 달콤합니다. 이런 걸 원해.(Bayinya cantik dan manis. Aku mau yang seperti ini)"


"이봐, 내 첫 손자 야. (Hey, ini cucu pertamaku)" Ny.Bae langsung menggendong bayi mungil itu, mengeluarkannya dari kerumunan.


"Nana, bayi Alucard sangat cantik. Bukankah kau menginginkan anak perempuan? Bagaimana kalau kita memiliki lebih banyak anak lagi?" celetuk Tn.Aganor ditengah-tengah keramaian.


Blush...


"Apa kau gila, Djordi! Usiaku seperti ini sudah tidak pantas memiliki anak. Haiss... kau ini benar-benar membuatku malu di depan besan."


Tn.Harits tersenyum kecil melihat tingkah konyol keluarga terpandang ini. Ia kira semenakutkan dan seangkuh apa keluarga kaya Alucard dari Korea. Ternyata karakter mereka sedikit membuat Tn.Harits senam wajah.


"Hahahaa... Ibu, aku tidak keberatan memiliki adik lagi," kata Akai.


"Ya, aku juga sependapat dengan ayah dan Akai. Hihihiii...." Clude bersekongkol.


"Dasar kalian, maniak!" geram Ny.Bae.


Alucard, Aldous, dan Adamson tersenyum sambil menyimak.


Esme yang sedang terduduk melihat suasana seperti ini pun ikut tersenyum lebar sambil meneteskan air mata bahagianya. Ramai, hangat dan penuh kasih sayang. Keluarga yang benar-benar adalah sebuah keluarga sungguhan.


Tiba-tiba, Hanabi, Kadita dan Garry datang bertamu. Tentu saja kedatangan mereka kesana untuk melihat anak Esme dan Alucard.


Saat masuk ke dalam, kedua mata Kadita berbinar-binar.


Ya Tuhaannn!!! Oppa-oppa Korea bertaburan disini. Tampan sekali adik-adiknya Alucard, apa mereka itu belasteran surga? Garry sayang, maafkan mata jahanam istrimu ini. (Batin Kadita)


Hanabi membawa anaknya, Marvel. Usianya tidak jauh berbeda dengan Romeo.


Kadita datang bukan hanya membawa Romeo saja, ia pun membawa anak perempuan yang lebih tua satu tahun dari anaknya, yaitu Freya.


Kalian pasti langsung tahu, siapa itu Freya.


Ya, Freya adalah anak Alice dan Leomord. Sayangnya orang tuanya tidak datang, lebih tepatnya tidak mau datang, karena masih sangat malu bertemu dengan Alucard dan Esme.


Semua kumpul disini.


Marvel dan Freya berlarian kesana kemari, tidak mau diam. Ny.Bae dan Tn.Aganor yang mengasuhnya dibuat kewalahan.


Namun, Romeo sedari datang terus saja berada di samping bayi mungil ini. Romeo terus menatap wajah anak Esme, ia mengelusnya dan menciuminya, gemas.


"Lihat, Meo sepertinya menyukai anakku," kata Esme.


"Tentu saja. Matanya 'kan seperti ayahnya, tahu mana orang cantik, langsung dia deketin. Hahahaa...," celetuk Alucard.


"Haiss, dasar bedebah!" geram Garry.


Kadita dan Esme tersenyum.


"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah memberikan nama untuk bayi kalian?" tanya Hanabi pada Esme dan Alucard.


Esme dan Alucard beradu tatap.

__ADS_1


"Mm... belum."


"Bagaimana jika namanya Juliet saja!" seru Kadita, antusias. "Disini sudah ada Romeo, tinggal Julietnya yang belum ada, hehe. Itu hanya usulku saja sih."


"Seperti kisah cinta 'Romeo & Juliet'? Kisah cinta mereka tragis, jangan!" kata Alucard.


"Aih, nama Juliet bagus kok. Marvel, Romeo dan anak kita kedepannya akan bersahabat baik, mereka tidak akan mungkin hidup tragis. Jangan samakan dengan cerita itu," kata Esme.


"Ya, ya, ya. Nama anak kita aku serahkan padamu saja." Alucard menyerah, tak ingin memperdebatkan hal kecil.


Tiba-tiba tanpa di duga.


Pyarrr....


"FREYA!!!" teriak Kadita.


Semua mata menatap kearah keributan itu.


Freya memecahkan guci besar yang harganya miliaran. OMG!!


Kedua mata Ny.Bae dan Alucard membulat. Sebab, guci itu adalah guci yang Ny.Bae hadiahkan untuk Esme. Susah payah Ny.Bae membelinya di sebuah pelelangan.


"Hehe, tidak apa-apa. Hanya sebuah guci. Yang terpenting dia tidak terluka," kata Ny.Bae.


"Aduh, anak ini memang tangannya tidak mau diam. Maaf, Ny.Bae."


Kadita segera menggendong Freya.


Saat digendong, tangannya tak sengaja menarik suatu tali yang menempel di dinding yang berhubungan dengan lukisan.


Sreettt...


BRUAK!!!


Lukisan yang dipajang dan ditata sangat hati-hati di dinding itupun jatuh menghantam pajangan runcing di atas meja.


Lukisannya robek!


Ya Tuhan, tak kuasa author menulis angka 9nya.


Pelukisnya pun bukan main, dia adalah Marcelino Abraham. Pelukis yang sudah mendunia.


Ny.Bae mendapatkannya disuatu rumah lelang yang ada di New York.


Alucard, Ny.Bae dan Tn.Aganor terbelalak matanya melihat lukisan itu robek.


"Omo!! Omo!!" Ny.Bae menyentuh bagian belakang kepalanya. Sepertinya tensinya naik, karena saking terkejutnya. Hahahaa...


"IBU!!"


"Ny.Bae!!"


"Tidak apa-apa. Aku akan bawa dia naik," kata Tn.Aganor.


Mereka berdua pun pergi dari situ.


Kadita yang memiliki tanggung jawab terhadap Freya, merasa sangat sangat dan saaangaaat bersalah.


"Huaaa, Esme bagaimana ini? Itu kan lukisan yang sangat mahal?" Kadita tak tahu harus bagaimana. "Garry, aku tak mau membawa anak ini kemanapun lagi! Singkirkan dia!!"


Alucard dan adik-adiknya hanya bisa menghela nafas hampa. Mau bagaimana lagi? Toh, lukisannya sudah rusak.


"Esme aku akan membawanya pulang dulu. Nanti aku kesini lagi. Katakan pada Ny.Bae permintaan maaf dariku. Aku akan menyuruh Alice dan Leo untuk menggantinya. Ya, meskipun itu mustahil sih."


"Sudahlah, tidak apa-apa. Nanti ku simpan lukisannya digudang. Aku akan menggantinya dengan menempelkan foto anakku," kata Alucard.


"Ya, benar. Foto anakku jauh lebih mahal harganya daripada lukisan itu."


"Aku benar-benar tidak enak pada Ny.Bae," ucap Kadita lirih. "Meo, ayo kita pulang dulu."

__ADS_1


Romeo menggelengkan kepalanya. Ia memeluk Juliet sambil mengumpat di belakang bahu Esme.


"Aduh, anak ini. Masih kecil, sudah menaruh perasaan. Bagaimana kalau besar nanti! Ayo, Meo. Mami janji akan membawamu kembali kesini," bujuknya.


Garry, Alucard dan Hanabi turun tangan membujuknya. Namun, Romeo bersikeras tak ingin jauh dari Juliet.


Saat Esme berbisik lembut di telinga Romeo, barulah anak itu mau di ajak pulang.


"Esme, aku pulang dulu. Nanti aku kemari lagi. Dah."


Kadita pulang hanya untuk mengantarkan Freya pada ayah dan ibunya saja.


"Esme, Alucard, aku juga harus pulang. Aku hanya izin keluar sebentar pada suami. Takutnya, dia marah karena aku lama. Aku akan sering-sering main kesini dengan Marvel. Dah."


Mereka berpamitan pada Alucard dan adik-adiknya.


Alucard masih terheran dengan apa yang Esme bisikkan pada Romeo, hingga Romeo mau di ajak pulang.


"Aku mengatakan pada anak itu, kalau sudah besar aku akan menjodohkan mereka," kata Esme.


"Apa? Menjodohkannya?" Alucard tercengang.


Esme mengangguk.


"Bagaimana anak usia 1 tahun mengerti perjodohan?" Tak masuk akal bagi Alucard.


"Hahaha, aku juga tidak menyangka anak itu akan mengerti ucapanku. Sudahlah, lupakan.Tidak mungkin Romeo akan ingat sampai dia remaja kan?" Esme menggendong anaknya, karena menangis minta susu.


...


Setelah kejadian itu, 4 tahun pun berlalu begitu cepet. Romeo dan Juliet tumbuh jadi anak manis. Cantik dan tampan.


Romeo kecil ini hampir setiap hari ia berkunjung ke rumah Alucard, hanya untuk sekedar bertemu dan bermain dengan Juliet.


Tak jarang mereka sering bertengkar. Membuat seisi rumah berisik karena tangisan anak-anak.


"Huaaa, Uli a mau maen ama Meo dagih! (Juli gak mau maen sama Meo lagi!)"


Romeo malah tersenyum senang melihat Juliet menangis terisak-isak. Ia sangat usil padanya, karena wajah Juliet selalu imut dan menggemaskan.


"Hihihi... Meo janji gak jahat lagi. Sini, Meo peyuk. Kita main sayang-sayangan aja ya, Uli."


Romeo pun memeluk Juliet yang sedang mengusap air matanya.


Cekrek...


Ternyata Alucard dan Esme memperhatikan mereka dari kejauhan. Mereka memotret momen bagus itu. Alucard dan Esme tersenyum saat melihat hasil fotonya.


"Esme, difoto ini Julie terlihat menggemaskan. Apa tidak ada pikiran untuk mencetak anak laki-laki?" Alucard memberi sebuah kode sambil meliarkan tangannya.


"Dasar tangan laknat! Lihat, dimana kau menyentuh?"


Alucard memeluknya dan membawa Esme ke atas ranjang. Sikapnya sangat agresif.


"Al, anak-anak ada diluar. Bagaimana kalau mereka -"


"Mmm... mmmm, uh, uh. ALUCARD!!"



.


.


.


.


......TAMAT......

__ADS_1


Sebagai penghargaan terakhir untuk author AMP. Ayo dong kasih aku VOTE KOIN & POIN untuk novelnya. 🤧


__ADS_2