Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Semur Jengkol


__ADS_3

.


Hari-hari ia jalani, tanpa adanya lagi sosok Leo yang selalu menemaninya. Esme sangat bersusah payah melupakan Leo, meskipun butuh waktu untuk melupakannya, karena melupakan seseorang yang sudah kita kenal sejak kecil sangatlah susah, tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi, dengan niat dan keinginan yang kuat, pasti akan dipermudah, dan tidak ada yang tidak mungkin.


Beberapa hari ini, Esme tinggal di apartemen yang sudah Alucard beli, Alucard meminjamkannya secara cuma-cuma. Esme pun memakai pakaian yang sudah dibelinya, karena Alucard yang memaksa.


Saat pergi ke kantor pun, Alucard selalu menawarkan tumpangan, tapi Esme langsung menolaknya mentah-mentah. Sepertinya ada maksud terselubung dibalik kebaikan Alucard.


Sejak kejadian dimana ia di khianati, perasaan Esme jadi lebih sensitif. Ia menjadi lebih berhati-hati saat berteman dengan siapapun.


Saat di kantor, Esme dan Kadita hanya terdiam membisu. Kadita selalu gugup dan gagal ketika akan meminta maaf pada Esme, karena telah salah menutupi semua kebohongan Leo dan keponakannya itu. Esme pun masa bodo, ia tidak ingin menanyakan atau memusuhi Kadita, yang Esme inginkan hanya permintaan maaf dari Kadita yang tak kunjung terucap.


Setiap pulang kerja, Esme selalu menyempatkan menjenguk ayahnya. Meskipun selalu ada Ny.Hilda dan kedua anaknya, tak menciutkan nyalinya untuk tetap melihat keadaan ayahnya.


Kondisi Tn.Harits makin hari semakin membaik. Siang ini, ia di perbolehkan pulang oleh dokter. Tapi, Ny.Hilda tidak memberi tahukan kabar baik ini pada Esme.


Dari kemarin, setelah Ny.Hilda menemui Leo, ia selalu melamun.


Di pertemuannya dengan Leo, Ny.Hilda meminta apa yang sudah Leo janjikan padanya dengan memberikan jaminan hidup untuk keluarganya, tapi hatinya langsung terhentak keras bagai di terjang badai dan petir saat Leo mengatakan bahwa dirinya sudah bangkrut, ia bukan lagi direktur utama di perusahaan Mord, kini Leo menyandang status pengangguran.


Ny.Hilda tak ingin mempercayainya tapi begitulah faktanya, ia sangat marah pada Leo hingga menampar pipinya.


Saat ini ia berada di jalan buntu, tak tahu arah lagi. Lolyta selalu merengek meminta uang dengan jumlah cukup besar. Balmond tidak bisa di andalkan, setiap gaji-an, ia langsung menggunakan uang itu untuk membeli makanan, atau berfoya-foya di kafe dan restoran bersama temannya.


...


Ny.Hilda memapah Tn.Harits masuk ke dalam rumahnya, mereka langsung di sambut Bi Inah dan Pak Lampir. Tapi, ia melewati mereka begitu saja, karena sedikit gugup saat berhadapan dengan mereka, sebab sudah melewati batas waktu, gaji mereka belum juga di bayar olehnya. Ini sungguh membuatnya malu dan frustasi.


"Dimana Lolyta dan Esme?" tanya Tn.Harits yang sedang merebahkan badannya di atas ranjang.


"Loly masih di sekolah. Beberapa minggu lagi dia akan melaksanakan Ujian Nasional," katanya, sambil menyelimuti kaki Tn.Harits dengan selimut.


Tn.Harits menatap tajam wajah istrinya yang tidak seperti biasanya. "Hilda!" panggilnya lembut. "Semenjak aku dirumah sakit, apakah ada yang terjadi?" tanyanya penasaran.


Tubuh Ny.Hilda membatu. "Tidak ada. Semua baik-baik saja." Ny.Hilda berusaha menutupi masalahnya dengan Esme maupun Leo, karena tidak ingin membuat suaminya yang baru pulang dari rumah sakit terbebani dengan semua hal itu.


Ny.Hilda segera memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tak ingin terlihat berbohong. Tapi, Tn.Harits langsung bisa menebaknya, sudah puluhan tahun berumah tangga, pastinya Tn.Harits sudah mengenal betul sikap Ny.Hilda ketika berbohong. "Aku tahu kau berbohong!" kata Tn.Harits.


"Sudahlah. Kau istirahatkan saja dirimu dulu, aku akan membuatkan sup hangat untukmu." Ny.Hilda beranjak, ia menghindari tatapan curiga dari Tn.Harits yang membuat perasaannya menjadi gelisah tidak tenang.


Tn.Harits segera menarik tangannya. "Katakan saja, jangan ditutup-tutupi. Kita berumah tangga sudah puluhan tahun. Aku tahu kamu sedang berbohong. Iya, kan?" Tn.Harits memaksa Ny.Hilda untuk bicara.


"Aku akan membicarakannya denganmu setelah kamu sembuh total." Ny.Hilda melepaskan genggaman tangan suaminya tanpa menoleh.


"Hilda-"


"Jangan memaksaku untuk terus bicara! Kau baru keluar dari rumah sakit beberapa menit yang lalu, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Saat ini, prioritas utama adalah kesembuhan totalmu!" Ny.Hilda berjalan keluar meninggalkan Tn.Harits yang masih resah dengan apa yang ditutup-tutupi istrinya selama ia berada di rumah sakit.


*****


Di perusahaan Mord.


Sudah waktunya jam makan siang. Esme berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju kantin. Saat masuk ke dalam lift, ponselnya berdering. Ada sebuah pesan baru, Esme segera memeriksa pesan itu.


Presdir ingin membicarakan hal penting dengan Direktur Pemasaran sekarang juga dikantornya. (Isi pesan itu)


Esme mengernyitkan dahinya. Ia tak habis pikir dengan Alucard, selalu saja menghubunginya di waktu yang tidak tepat. Esme mengantungi ponselnya, dan mengabaikan pesan itu.


Pintu lift terbuka, saat berjalan menuju kantin, tak sengaja ia bertabrakan dengan Roger.


"Uh," rintih Esme karena tangan kanannya masih terasa nyeri.


"Ah, kau!" Roger sedikit terkejut. "Apa aku menyakitimu?" tanyanya tanpa sadar.


Ada apa dengan sikapnya? Kenapa dia jadi selembut ini? Aku merasa geli... (Batin Esme)


Esme membuang muka, ia tak ingin menghiaraukan Roger, ia malah berjalan lagi dengan sombongnya menuju kantin.


Roger ternganga.


Semenjak dikhianati Leo, level keangkuhannya semakin meningkat, dan entah mengapa keangkuhan Esme itu malah membuatnya semakin tertantang.


Roger yang juga akan ke kantin, segera mengikutinya dari belakang.


Suasana kantin sangat ramai. Tercium aroma masakan ke segala arah yang sangat harum, membuat cacing diperutnya meronta-ronta kelaparan.


Esme segera memesan satu porsi makanan.

__ADS_1


Kemudian, setelah menunggu beberapa saat, ia mengambil pesanannya itu, lalu berjalan dan duduk di kursi paling pojok.


Para staf yang lain menatap tubuh indah dan kecantikan wajahnya, sampai Esme terduduk.


Dari sejak kejadian pahit itu, para staf di kantor selalu menggosipkan hubungan Leo dan Esme yang batal nikah, karena orang ke tiga.


Esme tak ingin menanggapi itu semua, ketika gosip fakta itu mulai membuat telinganya panas ia segera memakai headset, mendengarkan musik dengan volume besar, agar mulut-mulut jahat mereka tak mempengaruhi lagi ingatannya.


Saat sedang mengunyah makanan sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba saja Roger duduk di hadapannya dengan meletakan piring yang berisi makanan.


Esme tidak menyadari kehadiran Roger, ia hanya tertunduk, mengunyah dan menghayati musik dengan lantunan indah di telinganya.


Dari arah pintu kantin. Sekretaris Kim menciutkan kedua matanya, ia menajamkan penglihatannya ke arah pojok.


"Bukankah, wanita itu dipanggil Presdir ke kantornya?" gumamnya. "Tapi... kenapa dia malah ada disini dengan pria lain?" Sekretaris Kim tidak tahu bahwa yang sedang bersama Esme adalah Roger, karena Roger terlihat memunggunginya.


Gawat!!! Gawat!!! (Jiwa Sekretaris Kim bergetar ketakutan)


Tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Getaran dan suara ponsel itu membuatnya sangat terkejut. Sekretaris Kim segera memeriksa siapa yang meneleponnya.


"P-Presdir??" Kedua matanya terbelalak. Ia menelan salivanya kemudian mengangkat panggilan telepon itu.


"H-halo Presdir?" ucapnya gugup, sambil menyapu keringat.


"Kim! Bukankah aku menyuruhmu untuk menghubungi Direktur Pemasaran dari tadi!" Alucard sedikit mengotot.


"Ya, Presdir!" jawabnya singkat.


"Sudah hampir jam satu siang, kenapa dia belum juga menemuiku?" Alucard semakin tak sabaran.


Bagaimana aku menjelaskannya???


"Mm, i-itu Presdir...," ucapnya gugup. "Direktur Pemasaran sedang makan di kantin bersama seorang pria!"


Tut... tut... tut...


Panggilan diakhiri.


Glek.


....


Beberapa menit berlalu.


Saat Esme sudah selesai makan, ia melepaskan headset di telinganya dan beranjak. Esme langsung terkejut saat melihat kehadiran Roger yang tidak di ketahuinya. "K-kau? Sejak kapan kau disitu?" Esme mengangkat halis kirinya.


Tiba-tiba saja, di luar kantin sangat berisik sekali. Suara teriakan para staf wanita terdengar tidak begitu jelas.


Esme dibuat penasaran, ada kejadian apa di luar sana?


Saat Esme akan berjalan, Roger langsung menahan tangannya. Esme terbelalak. "Hey! Ada urusan apa kau denganku?" ucapnya sinis. "Lepaskan tanganmu!"


Pria tampan berjas dengan anting hitam di telinga kirinya berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kantin.


"Wah !! Bukankah itu Presdir baru kita yang dari Korea?"


"Mana? ... Kyaa, tampan sekali...,"


"Hey,hey. Ilermu mengenai bajuku, tahu."


"Aku tak kuasa menatap ketampanannya. Saranghae Oppa 😍"


Perbincangan para staf wanita.


Langkah kaki Alucard langsung terhenti saat melihat Esme bersentuhan tangan dengan pria lain.


Tubuhnya memanas, ia segera berjalan menghampiri Esme, penasaran dengan siapa lelaki yang menyentuh tangannya itu.


Esme menoleh saat Alucard mendekatinya. "Al?" Ia langsung terbelalak karena tersadar sudah mengabaikan perintahnya.


Alucard berjalan menabrak tangan Roger yang sedang menyentuh tangan Esme, hingga tangannya terlepas.


Roger dan Alucard bertatap muka. Mereka terheran satu sama lain.


Mau apa dia kemari? (Batin Roger)

__ADS_1


Aku sudah menduganya, dia ini adalah rival yang sebenarnya. Aku harus menendang dia keluar dari perusahaan! (Batin Alucard)


Alucard duduk dengan pesonanya. Esme berjalan mengendap-endap.


"Esmeralda! Duduk!" titahnya.


Semua mata tertuju pada dua orang pria dan satu orang wanita itu. Ada skandal apa di antara mereka?


Esme berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia duduk santai sambil mengatur raut wajahnya, agar tidak terlihat gugup di hadapan Alucard.


"Aku ingin membuat perhitungan denganmu." Alucard berbicara pada Esme, tapi tatapan matanya melihat ke arah Roger dengan tatapan membunuh.


Tidak ada kata 'takut', Roger malah menantangnya balik dengan tatapan pembunuh. Hingga tatapan mereka beradu dan membuat suasana di kantin jadi mencekam.


"Esme, bukankah kau punya salah padaku?" kata Alucard.


Tubuh Esme menegang, ia melirik panik.


"Untuk menebus kesalahanmu, pesankan makan siang untukku dan bawakan kemari. Sekarang juga!" katanya.


Esme langsung beranjak dan memesankan makanan. Ia tak ingin ambil pusing.


Saat memesan makan siang, ternyata lauk pauk sudah habis terjual, hanya tersisa semur jengkol saja.


"Ya sudah. Itu saja, satu porsi." Esme tak sadar seperti apa orang Korea makan semur jengkol. Ia hanya mengikuti perintah Alucard saja.


Esme mengambil pesanan, lalu meletakan nya di meja di hadapan Alucard beserta dengan mangkuk kecil berisi air untuk membasuh tangan.


Roger melihat semur jengkol itu dan langsung menunggingkan senyumnya.


"Hanya ada itu saja. Yang lainnya habis!" kata Esme.


Alucard mengernyitkan dahinya. "Apa ini?" tanyanya penasaran sambil menatap tajam bentuk semur jengkol itu.


"Ck. Itu semur!" decak Roger dengan wajah malas.


"Aku tidak bertanya padamu!" seru Alucard.


Sebelum mencicipi semur jengkol, Alucard ingin meminum air yang sudah di sediakan di dalam mangkuk.


"Hey-hey!" Esme segera menghentikan Alucard. "Mau apa kau ini?"


"Ya, mau minumlah," katanya.


Roger diam-diam tersenyum lebar menertawai tingkahnya.


"Ini bukan untuk diminum. Tapi, untuk mencuci tanganmu. Semur jengkol sangat nikmat jika makan pakai tangan!" ucap Esme.


Dasar bodoh!! (Batin Esme)


"Pakai tangan? Bagaimana cara makan pakai tangan? Biasanya aku makan dengan sumpit atau sendok." Alucard semakin tidak mengerti.


Rrghh!!! Ya ampun... menyusahkan sekali orang kaya ini. (Esme mendumel)


"Seperti ini, nih. Lihat aku!" Esme memberikan contoh padanya. "Tanganmu cuci disini. Lalu kau ambil semur ini dan simpan di atas nasi, kemudian kau ambil nasi dan semur ini, setelah itu masukan kedalam mulutmu," tutur Esme sambil berusaha menyiuk nasi dengan tangannya. "Ayo, buka mulutmu!" tanpa sadar Esme malah menyuapinya.


" A..." Alucard segera melahap nasi yang ada di tangan Esme.


Tanpa di duga mereka saling berpandangan.


Kedua pipi Alucard memerah.


Roger merasa tidak rela dengan pandangan yang tidak mengenakan di hadapannya itu.


"Ehem... ehem. Uhukk... uhuk!!!"


Eh, kenapa aku malah menyuapinya? (Esme tersadar)


Alucard dan Esme tersipu malu, mereka langsung menoleh ka arah lain.


Alucard segera mengunyah dan menelan makanannya.


Uh, kenapa makanan ini terasa bau. Apakah wanita itu memberikan makanan basi padaku? (Batin Alucard curiga)


...


BERSAMBUNG !!!

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen & Tipsnya.


Nanti hari senin, bantu vote dong. Biar novelnya semakin banyak pembaca.. Hehe ❤


__ADS_2