
.
Pengecekkan jantung, biaya Rp 3.850.000.
Operasi bypass jantung, biaya Rp 279.000.000.
Operasi pemasangan ring jantung, biaya Rp 315.750.000.
Rawat inap per-hari di ruang ICU, Rp 2.350.000
Dan lainnya.......
Jiwanya terhentak, ketika melihat nominal yang tertera. Seperti dipukul mati dengan telinga yang disumbat rapat. Esme berjalan bagaikan orang linglung tak tentu arah, sambil memegang lemas selembar kertas biaya rumah sakit.
Mau cari kemana uang sebesar itu? Gaji selama satu bulan menjabat jadi direktur, tidaklah cukup. Tabungannya pun hanya tersisa sedikit. Harus meminta tolong pada siapa? Saudara tidak punya, keluarga yang lain malah lepas tangan, kawan satu-satunya pun mengkhianatinya. Esme tak punya siapa-siapa lagi sekarang selain ayahnya. Haruskah Esme merendahkan harga dirinya dengan meminta tolong pada orang asing, demi membayar biaya pengobatan ayahnya.
Esme berjalan ke luar rumah sakit, udara malam merasuk ke dalam kulitnya. Ia terduduk sendirian di pojokan tempat parkir. Esme memeluk lututnya, ia terdiam dan merenung, perlahan air matanya menetes tak terkendali. Untung saja, keramaian diluar rumah sakit bisa menyembunyikan tangisannya yang terisak-isak.
Benar-benar sangat berat beban yang harus dipikulnya.
Selembar kertas biaya rumah sakit yang masih di genggamnya bergoyang-goyang tersapu angin malam. Lalu, tiba-tiba seseorang merampasnya begitu saja dari genggaman tangannya.
Esme terkejut, spontan ia mendongakkan wajahnya dengan riasan make up yang luntur berantakan karena tangisan. "Al?" ucapnya singkat.
Alucard mengernyitkan dahinya, apa yang wanita itu sebutkan barusan? Al? Sejak kapan mereka seakrab itu?
Esme beranjak, ia berusaha mengambil kembali kertas itu darinya, tapi Alucard meninggikan tangannya, hingga Esme kesulitan mengambil kertas itu. "Kembalikan padaku!" sorotan matanya sangat tajam.
Ku kira hanya pria baj*ngan itu saja yang bisa membuatnya menangis, ternyata selembar kertas ini pun bisa membuatnya menangis sampai riasan di wajahnya berantakan. (Batin Alucard)
Alucard menahan tangan Esme, ia memeriksa kertas apa itu. "Tagihan biaya rumah sakit?" gumamnya.
"Atas nama Tn.Harits? Siapa itu? Baru beberapa jam batal menikah, kau sudah menangisi pria lain lagi! Esmeralda, kau benar-benar wanita yang menarik." Jiwanya sedikit panas.
Saat sedang lengah, Esme segera mengambil kertas itu. "Bukan urusanmu! Tn.Harits adalah ayahku. Buang pikiran kotormu mengenai aku, karena aku bukan wanita seperti itu. Paham!" Esme berbalik meninggalkan Alucard.
Alucard sedikit terkejut, tapi ia tersenyum. "Wow, semakin menarik. Aku suka wanita yang berambisi seperti ini," gumamnya dengan wajah yang berseringai.
Alucard berjalan kembali menuju mobilnya, sepertinya ia sudah mengetahui penyebab Esme menangisi kertas tagihan biaya rumah sakit itu. "Kim! Lunasi seluruh biaya rumah sakit atas nama Tn.Harits sampai dia sembuh."
Sekretaris Kim mengerutkan kening dengan bola mata yang berputar. "Siapa itu Tn.Harits, Tuan?" tanyanya heran.
"Tidak perlu banyak tanya. Selesaikan saja apa yang baru saja aku perintahkan," ucapnya dingin.
"B-baik, Tuan."
*********
Esme berjalan menuju ATM, ia mengambil habis uang tabungannya. Setelahnya, ia kembali ke bagian administrasi rumah sakit. "Mbak, saya ingin bertanya tentang pembayaran biaya rumah sakit atas nama Tn.Harits, apakah biayanya bisa di bayar nanti, dua hari kedepan?" Perasaan Esme sangat cemas, ia takut di tolak mentah-mentah begitu saja.
"Tunggu sebentar, ya." Petugas administrasi mengeceknya dulu. "Biaya rumah sakit atas nama Tn.Harits sudah dilunasi sejak 5 menit yang lalu," katanya.
"Apa?" Esme terhentak kaget. "Tidak mungkin, coba tolong di cek kembali," ucapnya panik.
Petugas administrasi pun mengecek ulang.
"Disini memang sudah dinyatakan lunas, mbak," katanya sedikit jutek. "Tolong jangan membuat antrean lebih panjang lagi!"
__ADS_1
Esme menoleh ke belakang, dan benar saja orang-orang sedang mengantre di belakangnya. "Ah, m-maaf...." Esme belalu dan pergi dari situ.
Siapa yang sudah melunasinya? (Esme berpikir keras)
Yang bisa melunasi semua biaya rumah sakit itu pasti orang yang sangat kaya. Esme berpikir keras, dan akhirnya pikirannya tertuju pada Alucard.
Ia segera pergi ke gedung apartemen mencari Alucard, karena saat Esme menghilang atas insiden keguguran itu Alucard menyembunyikannya di apartemennya.
Setelah sampai, ia langsung menuju lift, lalu berjalan ke tempat yang dituju. Saat berjalan menuju apartemen Alucard, langkah kaki Esme semakin cepat, karena ia melihat Alucard akan masuk ke dalam apartemennya.
"Hey, Alucard!" teriaknya.
Alucard menoleh ke sumber suara, ia berseringai karena sudah menduganya.
Esme semakin dekat dan... "Kau 'kan! Pasti kau yang melunasi biaya rumah sakit ayahku?" Ia mengerutkan dahinya.
"Apa yang kau bicarakan? Datang-datang langsung berwajah masam. Masuklah," Alucard membiarkan pintu itu terbuka agar Esme masuk. Tapi ternyata Esme hanya berdiam diri di depan apartemennya.
"Kenapa? Apa kau pikir aku akan menyerangmu?" Alucard menunggingkan senyumnya. "Tenang saja, kau itu bukan tipeku. Ayo masuk, aku hanya ingin menjamu seorang tamu. Bukankah tidak baik berbincang di depan pintu?"
Esme berjalan perlahan masuk ke apartemen itu. Ia hanya ingin memastikan apakah Alucard yang melunasi biaya rumah sakit ayahnya?
"Kenapa memandangiku terus? Kau sudah memandangi wajahku selama 4 detik," kata Alucard.
Esme sedikit terkejut.
"Hanya 4 detik saja dipermasalahkan, memangnya tidak boleh?"
"Tidak boleh! Karena di detik ke 5, aku akan semakin tampan dan kau bisa jatuh hati padaku," ucapnya penuh percaya diri, sambil berjalan membuka lemari pendingin mengambilkan beberapa makanan.
"Hey, aku kemari ingin memastikan apakah kau yang melunasi semua biaya rumah sakit ayahku? Katakan yang sejujurnya, aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi," ucap Esme dengan nada sedikit meninggi.
"Duduklah, kau terlihat kelelahan," katanya.
Esme merasa jengkel karena Alucard terus saja mengulur waktu. Ia pun duduk di sofa ruang tamunya sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai.
"Hey! Aku tidak menyuruhmu duduk disitu...," Alucard tersenyum usil.
Esme semakin dibuat jengkel. "Baiklah, aku akan duduk di parkiran!" Ia berjalan ke luar dengan emosi yang mengembara.
Alucard meletakkan makanan di atas meja dan langsung menghadang Esme.
"Kenapa buru-buru sekali? Duduk dan makanlah sesuatu dulu, perbanyak karbohidrat dan protein, karena berpura-pura bahagia itu membutuh banyak tenaga," Alucard berbicara seperti ia sudah tahu segala sesuatu yang sedang menimpa Esme.
Kata-kata yang di ucapkannya membuatku merasa sedikit damai (Batin Esme)
Alucard memaksanya duduk lagi, Esme pun menurut. "Kenapa kau membiayai rumah sakit ayahku?" tanya Esme, ia sudah mulai sedikit tenang.
Alucard duduk dan bersandar. "Sebenarnya aku tidak berniat sama sekali membantumu. Hanya saja, uangku sangat banyak. Ck! Aku sampai bingung menghabiskannya," decaknya, ia belaga di hadapan Esme.
Cih... lama-lama aku bisa muntah jarum mendengar ucapan sombongnya itu.
"Ya benar." Esme beranjak. "Aku sudah tahu siapa kau. Kau adalah CEO DJ Entertainment, perusahaan hiburan terbesar di Korea. Dan perusahaan Mord itu sebenarnya milik Claude, adikmu 'kan. Aku tidak habis pikir, kenapa kau ingin mengambil alih perusahaan Mord dengan menyingkirkan posisi Leo, padahal posisi jabatanmu sangat agung disana," Esme manarik nafas dalam-dalm lalu membuangnya. "Keluarga kalian tidak perlu mengkhawatirkan biaya hidup. Hidup kalian sudah sangat terjamin! Maka dari itu...." Tiba-tiba, Esme membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya tak terlihat. Alucard mengernyit heran.
"Pinjami aku beberapa uang," ucap Esme. Jiwanya bergetar, harga dirinya sudah benar-benar hancur saat itu juga.
Alucard menciutkan kedua bola matanya, ia sedikit terkejut. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
__ADS_1
Esme tak menjawab, ia masih di posisi membungkuk. "Apa kau mau membungkuk sampai pagi?" katanya, yang sedikit tak tega melihat Esme seperti itu.
Esme mendongakan wajahnya dan kembali duduk.
"Ceritakan padaku, ada masalah apa lagi yang terjadi? Kita ini rekan kerja, aku adalah atasanmu, tidak perlu sungkan-sungkan."
Esme melirik kesana kemari, ia sedikit ragu untuk menceritakan masalah baru yang menimpanya lagi. Tapi, entah mengapa hatinya terus mendorongnya untuk berkeluh kesah pada Alucard. "Mm, aku... aku di usir oleh ibuku dari rumah." Bicaranya sambil menundukkan kepala.
Alucard terbelalak. Ternyata masih ada seorang ibu yang sangat tega mengusir anaknya, ini sangat bertentangan sekali dengan sifat ibunya yang ada di Korea. Ibu Alucard sangat menyayanginya, hingga saat Alucard pergi ke Indonesia pun, ibunya menangis terisak-isak.
"Apa benar, kau di usir ibumu? Tapi... aku tidak melihat barang-barang yang kau bawa," katanya sedikit meragukan.
Esme memalingkan wajahnya. "Aku tidak sudi mengambil semua barang milikku dari rumah itu, barang-barang di rumah itu semuanya hanyalah kenangan. Jika aku membawanya bersamaku, kehidupan masa depanku akan selalu dibayangi oleh kenangan masa lalu. Aku tidak ingin lebih sakit dari sekarang," ucapnya pilu.
Hati Alucard tergerak. "Aku tidak menduga, ternyata semua keluargamu adalah pengkhianat yang tidak tahu malu. Aku kira orang menjijikan semacam itu hanya ada di film saja. Jadi penasaran, bagaimana cara mereka bersisir, hingga tanduk mereka bisa tidak nampak. Ternyata... orang bermuka dua lebih menyeramkan dari pada kuntilanak bermuka rata."
Alucard beranjak, ia berjalan mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Kim! Pesankan satu apartemen di sebelah apartemen milikku, dan isi lemari baju dengan beberapa pakaian wanita ukuran L. Pakaiannya tidak boleh terbuka. Aku mau, kau melapor hasilnya dalam dua jam kedepan," ucap Alucard dengan kecepatan bicaranya.
"Tapi, Tuan. Di sebelah apartemenmu sudah ada yang menempatinya," kata sekretaris Kim di balik telepon.
"Tendang saja penghuninya keluar, atau kau ajukan dengan membelinya dua kali lipat dari harga pertama mereka membelinya!" Alucard menutup panggilan itu begitu saja.
Esme tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar, ia menelan salivanya. Benar-benar dunia orang kelas atas sungguhan.
Alucard berbaik hati, dengan cuma-cuma ia membelikan satu apartemen untuk Esme ditambah lagi dengan beberapa pakaian wanita. Tapi, dari mana ia tahu ukuran bajunya L ?
"Al, aku tidak mengharapkan bantuan lebih darimu, apalagi kau sampai memesan apartemen dan beberapa baju untukku. Aku hanya ingin meminjam beberapa uangmu saja," kata Esme.
Alucard menoleh tajam ke arahnya. "Kenapa kau narsis sekali? Aku membelikan apartemen dan pakaian wanita itu untuk ibuku yang sebentar lagi akan ke Indonesia." Alucard menggigit bibir bawahnya, ia ingin tertawa karena sudah mengusili Esme.
Blush...
Apa? T-ternyata untuk ibunya? Uh, malu sekali.... (Batin Esme meronta-ronta dengan pipi yang memerah)
Alucard memunggungi Esme, ia tersenyum lebar disana. Ingin sekali ia cubit dan menggigit pipi merah Esme, benar-benar sangat gemas melihatnya.
"Ehemm... begini, baru saja aku mendapat pesan dari ibuku, ternyata dia mengundur keberangkatannya ke Indonesia. Dia akan kemari akhir bulan depan. Karena aku sudah terlanjur memesan apartemen dan pakaian wanita, bagaimana jika kau isi dulu apartemennya," ucap Alucard.
Esme tersipu malu. "Mm, tidak apa-apa 'kah?" tanyanya gugup.
Alucard langsung menganggukan kepalanya.
Tapi, Esme menciutkan kedua matanya. Ia merasa ada yang janggal. "Kau menolongku sebanyak ini apa kau mengharapkan sesuatu dariku?" ucapnya dengan penglihatan yang tajam.
Kalau di pikir-pikir, bukankah seharusnya begitu? (Alucard memperlihatkan senyum liciknya)
Suasana berubah menjadi mencekam...
.....
BERSAMBUNG !!!
Hey mau kemana say? Like, Komen & Vote dulu dong hihi... ❤
Ada yang mau baca novel SURROUNDED SEVERAL BOYS? Disitu menceritakan kisah cinta Djordi Aganor & Bae Nana orang tua dari Alucard 😂 ceritanya bikin ketawa kok, ga bikin greget gemes kaya kisah Esme hehee..
__ADS_1