
.
Pukul 08:06 WIB.
"Kak!!" panggilnya, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Leo. "Bangun, Kak. Ini udah siang!"
Leo membalikkan tubuhnya, ia memunggungi Alice sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Alice mencoba membangunkannya lagi dengan terus menggoyangkan tubuh Leo. "Kak Leo, katanya hari ini Kakak mau pergi cari kerja? Lagian uang belanjaanku dari Kak Kadita sudah semakin menipis, susu hamilku pun sudah habis," ucap Alice sambil mengelus-elus perut buncitnya.
Leo masih terdiam juga.
"KAK!... KAK LEOOO!!!"
"Rrghh... bisa tidak kau jangan menggangguku? Aku baru saja tertidur! Asal kau tahu, semalam suntuk aku sudah mencari lowongan pekerjaan!! bentak Leo.
"Cari kerja? Cari kerja apanya? Semalaman, Kakak itu hanya main game sambil ngopi dan menghabiskan 2 bungkus rokok," bantah Alice.
"Jangan sok tahu kamu!! Sudah diam!... Tahu-tahu aku kerja saja!! Uang, uang dan uang yang kau pikirkan!" Leo menutup kedua telinganya dengan bantal.
Air mata Alice membendung. Ia bagaikan pengemis yang sedang mengemis-ngemis. Padahal, saat tinggal bersama orang tuanya, jika ia mau apapun selalu dituruti. Tidak pernah kehabisan uang.
Alice yang saat itu baru selesai mandi, mengambil ponselnya. Ia mencari lowongan pekerjaan untuk dirinya sendiri.
Banyak sekali lowongan pekerjaan, tapi sayangnya, tidak boleh untuk wanita hamil.
Alice termenung, meratapi nasibnya.
Kruyuukkk... kruyukkk...
Perutnya meronta ingin makan. Biasanya setiap jam 7, Alice sudah sarapan. Tapi, mulai sekarang ia harus bisa membiasakan sarapan di atas jam 7.
Alice mengambil dompet dari dalam lemari, lalu ia membukanya. Kedua tatapan matanya getir saat melihat isi dompet itu.
__ADS_1
"Tinggal 51.500 lagi?" gumam Alice. "Harus masak apa hari ini?" Air matanya hampir saja menetes.
Alice mengambil uang 50.000 itu. Ia akan pergi ke warung membeli 2 butir telur untuk sarapan.
Ceklek...
Pintu terbuka.
"Alice!! Kau mau kemana?" tanya Leo tiba-tiba.
Langkah kaki Alice langsung terhenti. "Aku mau ke warung, beli telur."
"Belikan aku rokok setengah bungkus saja. Jangan lupa kopinya," pinta Leo tidak tahu malu.
"Kak! Uangku tinggal 50 ribu lagi. Kalau dibelikan rokok dan kopi, kita mau makan apa?"
"Kau kan bisa meminta uang pada orang tuamu dulu!" bentak Leo.
"Kak Leo!!! Aku sudah tidak ada keberanian untuk meminta apapun pada orang tuaku. Apalagi sampai meminta uang pada mereka. Mereka itu sudah sangat benci padaku!" ucap Alice.
"Bagaimana bisa Kakak berbicara seperti itu dengan entengnya? Saat ini, yang jadi tulang punggung keluarga itu adalah kamu. Kewajiban kamu itu mencari nafkah, Kak. Mulai sekarang aku tidak mau bergantung pada orang tuaku. Mereka sudah sangat sulit karena aku, aku tidak mau terus-terusan menjadi beban mereka," ucap Alice sambil berjalan ke luar dari kontrakan kecilnya itu, meninggalkan Leo.
Leo menggertakkan giginya, rahangnya mengeras. "Dasar wanita bodoh!!!"
Ia berjalan mencari-cari ponsel Alice. "Dimana wanita itu menyimpan ponselnya?" gumamnya.
Leo membuka lemari pakaiannya. Ketemu! Ia segera mengambil ponsel milik Alice itu, dan langsung membuka kontak yang ada di ponsel Alice. Ada kontak yang bertuliskan 'My Mom'. Leo meng-kliknya lalu mengirim pesan pada Ny.Irina.
"Bu, Alice belum bisa mengatur keuangan. Kak Leo selalu memberikan uang belanja, tapi Alice menghabiskannya. Saat ini, keuangan Alice menipis, susu hamilpun sudah habis, dan besok Alice harus mengecek kandungan ke rumah sakit. Bisa tidak ibu meminjami Alice beberapa uang?"
Begitulah Leo yang menyamar sebagai Alice untuk meminta uang pada Ny.Irina.
Tidak lama kemudian, ponsel Alice berdering. Ada pesan baru. Leo langsung memeriksanya. Dan, itu dari Ny.Irina.
__ADS_1
"Alice, kau harus bisa mengatur keuangan. Jangan boros! Leo sudah berusaha menafkahimu, seharusnya kau pergunakan uang itu sebaik mungkin. Kau harus bisa menabung mulai saat ini. Ibu akan mengirimkan uang untukmu, tapi ibu hanya bisa membantumu sedikit. Pergunakan uang itu sebutuhnya saja! Berikan no rekening Leo?"
Setelah membaca pesan itu, kedua mata Leo langsung hijau. Benar-benar lelaki mata duitan. Leo langsung mengirimkan no rekeningnya, dan menghapus seluruh pesan itu, agar tidak diketahui oleh Alice.
Setelah menunggu beberapa menit, Ny.Irina mengirim pesan lagi, bahwa ia telah mengirim uang 5 juta untuk Alice ke rekening Leo.
Ceklek...
Pintu terbuka.
Kedua mata Alice terbelalak saat melihat Leo sedang mengutak-atik ponselnya. "Kaka!!... K-kamu sedang apa?" Alice langsung menghampirinya berniat merebut ponsel miliknya.
Leo segera menghapus pesan terakhir dari ibunya itu. "Aku hanya memeriksa saja, siapa tahu ada kontak pria selain aku di ponselmu." Leo beralasan. "Nih," ucapnya santai, sambil memberikan ponsel itu pada Alice.
Apa Kak Leo takut aku bermain api? Hihi... sebenarnya Kak Leo sangat sayang dan cinta padaku, aku tahu itu. Dia hanya tidak tahu saja bagaimana cara mengungkapkannya. (Batin Alice percaya diri)
Alice mengambil ponselnya lalu menyimpannya kembali ke dalam lemari tanpa ada rasa curiga sedikitpun di hatinya.
Saat Leo mengambil handuk, Alice langsung memeluk erat tubuhnya. "Kak, aku tahu... sebenarnya Kakak sangat menyayangiku 'kan?"
Ingin sekali Leo dorong tubuh Alice ini, karena ia sangat jijik pada Alice. Tapi, Leo harus menahannya dan juga menyenangkannya, karena kini, Alice akan ia gunakan sebagai ATM berjalan.
"Ehmm... ya, sudah cukup. Lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas jika kau memelukku erat seperti ini," ucap Leo.
Alice langsung melepaskan pelukannya. "Hihi... maaf, maaf!!" Perasaan Alice sangat bahagia. "Oh ya, Kaka mau aku buatkan telur ceplok, telur dadar atau nasi goreng?"
"Memangnya kau bisa masak?" tanya Leo sebelum melangkah masuk ke kamar mandi. Ia ingin segera pergi ke ATM untuk mengambil uang itu.
"Masih belajar sih. Tapi, aku akan berusaha membuat sarapan yang spesial untuk Kakak, bagaimana?"
"Ya, terserah kau sajalah," ucap Leo, acuh tak acuh sambil menutup pintu kamar mandi.
....
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS 🙏🤧