
.
Alice berjalan cepat menghampiri mereka. "Lepaskan, suamiku!!" Ia menarik tubuh Ara agar terlepas dari tubuh Leo.
"HEY! SADARLAH KALIAN!" teriak Alice. "Huhuu... apa yang kalian lakukan? Dasar bodoh!! Boddoooohhh...." Alice memukul-mukul tubuh Leo. "Kak Leo buka matamu! Lihat siapa dia?"
Orang-orang yang sedang menonton langsung terkejut mendengar Alice memanggil nama 'suami'.
"Hah? Suaminya? Bukankah tadi dia bilang pasangan yang sudah mengotori Club ini adalah Direktur Pemasaran dari perusahaan Mord dengan seorang investor?"
"Apakah ternyata si investornya ini adalah suaminya sendiri? Atau dia malah masuk ke dalam perangkapnya sendiri?"
"Tadi dia dengan sombongnya mengajak kita kemari untuk melihat pertunjukan. Ternyata suaminya sendirilah yang sedang melakukan itu dengan wanita lain."
"Iya, kasihan sekali, ya. Padahal dia sedang hamil besar. Tapi, malah memergoki suaminya berselingkuh."
Bisik-bisik para wanita penggosip.
Alice yang mendengarnya langsung murka. Ia menoleh tajam ke arah beberapa wanita penggosip itu. "APA YANG KALIAN LIHAT!!!" teriaknya, "bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk pergi?" Alice beranjak, lalu mendorong-dorong semua orang, termasuk si wartawan untuk pergi dari situ.
"Unch... lebih lembut lagi, Kak Al?" ucap Ara yang masih belum sadar atas kegaduhan yang sudah ia buat.
"Tunggu! Kenapa aku merasa disini banyak orang? Apa kau terganggu, Esme?" Leo memijat keningnya, ilusinya sudah sedikit menyusut.
"Sudahlah... biarkan orang-orang melihatnya. Buat mereka tahu kalau aku adalah milikmu dan kau adalah milikku." Ara memeluk tubuh Leo yang masih disangkanya Alucard.
"Aaarrghhhhh!!!! Aku bisa gilaa!" Alice mengutuk dirinya sendiri. Ia sangat frustasi. "Kenapa Kak Leo dan wanita gobl*k ini belum sadar juga?" Emosinya masih membara.
Aroma ini... (Batin Alice)
Ia menoleh ke arah meja. Ada sebuah benda kotak berukuran kecil berwarna merah. Alice langsung mengambilnya. "I-ini 'kan... Merk parfum perangsang terkuat!"
"SIAL!!! SIAL!! SIAL!!!"
Brakk...
__ADS_1
Alice melempar parfum perangsang itu hingga pecah. "Esme? Ya! Ini pasti perbuatanmu, ESMEEE!! DASAR KEPAR*T!!" Alice berjalan ke kamar mandi, ia mengambil segayung air. Lalu,
Byuurrr.
Alice mengguyur tubuh Leo dan Ara, hingga wajah mereka basah kuyup.
"Ah! Ah! Ke-kenapa jadi basah begini?" ucap Ara. Otaknya perlahan mulai kembali normal.
PLAK... PLAK...
Alice menampar pipi Ara dan Leo. "Buka mata kalian! Lihat, kekacauan apa yang sudah kalian perbuat!" geramnya.
Leo dan Ara bertatap mata. Mereka langsung terbelalak karena saking terkejutnya melihat orang di depannya bertelanjang dada. "K-k-k-k-k-kauu!!! Se-sedang apa kau disini?" Ara dan Leo tergagap.
Plak...
Alice menampar pipi Ara lagi. "Dasar bodoh! Kau sudah tidur dengan suamiku, dan kalian melakukannya di depan orang banyak. Sebenarnya ada apa dengan kalian!" Alice sangat jengkel. Ia tak terima suaminya melakukan itu dengan wanita lain, apalagi sampai orang lain tahu.
"A-apa?" Ara menundukkan kepalanya. Ia melihat pakaian dalamnya sudah terlepas dari tubuhnya. Tampilannya sangat berantakkan. "Tidak! Ini tidak mungkin! Bukankah aku tadi bersama dengan Kak Alucard?" Jiwanya hancur berantakan.
"Uh," Leo merintih kesakitan sambil memegang pipinya yang berdenyut. Ia masih tercengang, percaya tak percaya, tapi rasanya tadi ia melakukannya dengan Esme bukan Ara.
"DASAR WANITA GILA!!! KENAPA KAU MEMUKUL SUAMIKU?" teriak Alice.
"DIAM!!! Aku menjaga kesucianku hanya untuk Kak Alucard! Dan, sekarang kau malah menghancurkannya." Rahang Ara mengeras. "KEMARI!! KUBUNUH KAU!"
Alice segera menghadangnya. "Mau apa kau! Jangan berani-beraninya menyentuh suamiku." Alice menarik tangan Leo. "Kenapa kau masih bengong? Cepat, pakai celanamu. Kita pulang!"
"Pulang? Enak saja!" Ara menarik rambut Alice. "Ini semua gara-gara rencanamu yang bodoh itu. Kesucianku hilang karena suamimu!" bentak Ara.
"A-a... sakit! LEPASKAN!!" Alice berbalik menyerang Ara. "Kau saja yang tidak becus menjalankan rencananya!"
Leo segera mengenakan pakaiannya. "Alice, Ara!! HENTIKAN!!" Leo memisahkan mereka berdua.
Ara menarik tangan Leo. "Aku ingin meminta pertanggung jawabanmu!" celetuk Ara.
__ADS_1
Leo terhentak kaget.
"A-apa! Meminta tanggung jawab apa, dasar idot?" ucap Alice, ia kembali membara.
"Aku ingin memintanya bertanggung jawab, karena dia sudah menodai aku. Aku ingin dia menikahiku!" celetuk Ara.
Me-menikah? (Batin Leo melemas)
"Kau dan dia hanya kecelakaan. Kalau saja kau tidak lengah, ini semua tidak akan terjadi. Apa kau tidak melihat perut besarku ini?" kata Alice.
"Memangnya kenapa?"
Alice mengambil botol minuman lalu memecahkannya. Ia menyodorkan pecahan runcingnya pada Ara.
"Langkahi dulu mayatku!!"
"Hentikan pertengkaran kalian, wanita-wanita sial. Dengar baik-baik... sampai kapanpun di hatiku hanya akan ada Esme! PAHAM!!" Leo berjalan ke luar dari ruang VVIP itu untuk mencari Esme.
"Kak Leo! Tunggu aku," panggil Alice. Sebelum ia pergi dari sana, Alice menoleh pada Ara. "Aku mengusulkan, sebaiknya kau mati bunuh diri atau pindah ke Negara lain. Jangan pulang ke Korea dan jangan menetap juga di Indonesia. Beritamu malam ini sudah tersebar di internet. Keluarga besarmu yang katanya tersohor itu pasti tidak akan membiarkanmu hidup-hidup!" Kemudian, Alice berlalu meninggalkan Ara.
Deg...
Beritaku? Tentang aku dan Leo sudah tersebar di internet? (Batin Ara)
Jantung Ara berdebar kencang, ketakutan. Ia tak bisa berkutik, raut wajahnya datar tanpa ekspresi. Tubuhnya jadi gemetar dan mengeluarkan banyak keringat.
"Apa wartawan yang ku suruh memotret Esme malah memotret aku?" gumamnya. "AAA, DASAR SIAL, BRENGS*K! BRENGS*K! BRENGS*K!... Kenapa akhirnya jadi begini."
Ara beranjak dari ranjang. Ia mengambil ponselnya. "Aku tidak bisa mengakui kekalahan begitu saja. Beritaku malam ini harus ditimbun dengan berita yang lebih besar dan kuat agar beritaku tenggelam. Aku akan membeberkan masa lalu Esme, masa lalu menantu keluarga Aganor yang sangat kelam."
.....
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa, LIKE KOMEN & VOTE 😘
__ADS_1