
.
"AL!! Auh," Esme merintih sambil menahan perutnya yang sakit.
Sayangnya, Alucard sudah sangat jauh.
"ALUCARD!!"
Teriakannya itu mengundang perhatian. Para staff perusahaan berlarian menuju sumber suara.
"Bu Direktur! Apa yang terjadi?"
"Sepertinya Bu Direktur mengalami kontrasi."
Esme hanya mengernyit kesakitan.
"Kita bawa ke rumah sakit terdekat! Tadi, presdir ke arah sana. Cepat kejar dan beritahu!!"
"Baik!"
Staff yang satu segera mengambilkan kursi roda, lalu yang satunya lagi membantu Esme duduk di kursi roda, dan yang lainnya hanya menonton saja, tapi mereka ikut panik.
Esme di dorong ke luar dari perusahaan. Ia meremas baju kerjanya, keringat dingin mengguyur seluruh badannya.
Saat tiba di luar, tiba-tiba terdengar suara Alucard, Kadita dan Roger memanggil. Mereka berlarian menghampiri dengan rasa cemas dan panik.
"Kenapa tiba-tiba sekali? Pakai mobilku saja," kata Alucard panik. Ia menggendong Esme dan masuk ke dalam mobilnya.
"Roger, perusahaan aku serahkan dulu padamu dan Garry!" sambungnya sebelum mengendarai mobil.
"Baik. Tak perlu khawatirkan perusahaan," teriaknya.
Mobil pun pergi dari situ. Suasana yang ramai langsung bubar.
"Apakah sudah waktunya?" bisik Roger pada Kadita.
"Sepertinya iya. Bulan ini usia kandungannya memang sudah masuk 9 bulan." Kadita bergegas menuju mobilnya, ia ingin ikut melihat kondisi Esme.
"Hey, Ibu anak satu!!" panggil Garry, tiba-tiba. Ia berlari kecil menghampiri Kadita sambil menggendong Romeo. "Mau kemana? Apa kau melupakan anakmu?" geramnya sambil menyerahkan Romeo padanya.
"Haiss... kalian ini! Ya sudahlah, ayo masuk. Kerjakan tugas masing-masing."
Padahal ingin sekali ikut ke rumah sakit, Kadita benar-benar mencemaskan Esme. Namun, ia lupa hari ini ia membawa Romeo ke perusahaan.
Kadita segera menghubungi Tn.Harits, mengabarkan bahwa cucunya akan segera lahir.
...
Di rumah sakit.
Esme segera di tangani. Ia dibawa ke ruang persalinan, untuk di cek oleh dokter kandungan.
Alucard yang panik mondar-mandir menunggunya di luar. Lalu, ia segera menghubungi keluarganya di Korea tentang hal ini. Ia tak tahu harus melakukan apa sekarang, sangat gugup rasanya berada di situasi seperti sekarang, karena ini baru pertama kali baginya.
Yang ada dipikirannya saat ini ialah, Esme dan anaknya baik-baik saja.
Dokter ke luar dari ruang persalinan. Ia menjelaskan pemeriksaannya pada Alucard. Katanya, kandungannya tidak ada yang bermasalah. Kesakitan itu ternyata Esme memang sudah memasuki pembukaan 3, jadi normal saja ia merasakan perutnya mules.
Alucard menghela nafas lega saat mendengarnya.
Sebelum pergi, Dokter menyuruh Alucard mendampinginya, dan mengusulkan untuk membawanya jalan-jalan kecil, agar proses pembukaannya lebih cepat.
Alucard masuk ke dalam ruang persalinan, ia melihat tubuh Esme yang sedang meringkuk di atas bangsal, sambil memijat-mijat pinggangnya. Wajahnya sedang merintih kesakitan.
"Honey, apa sangat sakit?" tanyanya dengan suara yang bergetar tak tega.
Ia membantu Esme memijat pinggangnya dengan sangat hati-hati.
"Tentu saja sakit, tapi aku masih bisa menahannya," katanya dengan nada bicara yang lemah.
__ADS_1
Wajah Esme sangat pucat, disertai dengan keringat dimana-mana. Bibirnya kering, sorotan matanya lemah.
"Dokter menyarankan kau harus jalan-jalan kecil. Apa kau sanggup?"
"Ya, nanti aku akan melakukannya kalau mulesnya sudah sedikit membaik."
"Hmm... aku tak tega melihatmu seperti ini. Aku akan mengajukan pada dokter untuk operasi caecar."
"Jangan! Tidak perlu, aku dan kandunganku baik-baik saja. Aku ingin melahirkan secara normal," ucap Esme kekeh.
"Tapi, honey -"
"Aduh, Al!! Sakit lagiii. Jangan pijit bagian situ. Ini saja yang dipijitnya."
"A, ya, ya... maaf."
Waktu berlalu begitu cepat. Dari siang sampai sore, waktunya hanya di habiskan untuk berjalan-jalan menelusuri koridor rumah sakit.
Saat mulesnya kambuh, Esme akan berhenti sambil membungkukkan tubuhnya sedikit. Pada saat yang bersamaan, Alucard akan memijat lembut pingganggnya dari belakang.
Baju pasiennya sudah terlihat basah karena keringat.
Semakin lama, sakit dan mulesnya semakin meningkat. Kakinya sudah bergetar menahan sakit yang sangat menusuk itu.
Alucard menyuruhnya untuk berbaring dulu di bangsal, tapi Esme menolak. Ia sangat tidak sabaran. Ingin segera melahirkan anaknya, ingin bertemu dan melihat wajah anak dalam kandungannya itu.
Saat akan melangkah, tiba-tiba cairan bening mengalir dari alat kelaminnya, membasahi pakaiannya.
"Esme, apa ini? Apa kau ngompol?" Wajah Alucard terkejut.
Esme yang tak sadar, segera melihat ke arah yang Alucard tunjuk. Basah?
Deg...
"Sepertinya ketubannya sudah pecah." Jantungnya berdetak kencang, karena Esme pernah dengar dari Kadita, katanya saat pecah ketuban, sakitnya mules akan semakin menusuk, bahkan rasanya perut itu seperti sedang di koyak-koyak.
Alucard tidak tahu kenapa Esme sangat panik. Ia pun membawanya masuk ke ruang persalinan, lalu berlari memanggil dokter.
"Aaaa, sakiitttttt."
Di dalam, Esme merintih kesakitan. Benar ucapan Kadita, setelah ketuban pecah, rasa sakitnya semakin tak terkendali. Tangannya mengepal erat sampai telapak tangannya sedikit terluka.
"ESME!!" panggil seseorang, yang tak lain adalah ayahnya, Tn.Harits.
Tn.Harits masuk menghampirinya. "Dimana Alucard? Kenapa kau sendirian?"
"Sss... hoss, hoss... aku menyuruhnya untuk memanggil dokter," katanya sambil mengatur nafas.
Disaat yang bersamaan, dokter datang dengan wajah kusut, karena telah dimarahi habis-habisan oleh Alucard.
Alucard datang ke ruangannya, mengatakan bahwa istrinya akan segera melahirkan, ia sedang menahan sakit. Namun, dokter itu tak percaya, karena siang tadi di cek baru pembukaan 3. Masa iya sore ini sudah akan melahirkan?
Ketidakpercayaan dokter itu membuat Alucard sangat jengkel, ia memarahi dokter itu habis-habisan.
"Bapak, mohon tunggu di luar. Saya akan mengeceknya," kata Dokter pada Tn.Harits.
"Ah, baik, baik."
Tn.Harits pun berjalan ke luar dengan tampang khawatir.
Alucard sigap. Ia akan selalu berada di samping Esme.
Saat di periksa oleh dokter, Esme mengeluh perutnya semakin sakit dan mules yang melilit.
"Dok, apa perlu memeriksanya sampai menusukan jarimu kesana?" geram Alucard. Mungkin ia berpikir, yang sedang dokter periksa itu adalah miliknya. Sesuatu yang sensitif.
"Memeriksa pembukaan memang seperti ini caranya, Tuan," kata Dokter.
Untung saja dokternya wanita. Kalau pria, langsung ku pukul sampai bonyok wajahnya. (Batin Alucard)
__ADS_1
"Masih pembukaan 8, tapi jalan lahirnya sudah memungkinkan untuk melahirkan, dan lagi... ketubannya pun sudah pecah," ucap Dokter. Ia pun segera menyuruh perawat untuk menyiapkan alat-alat yang akan di perlukan.
Esme terus saja berdoa dalam hati. Ia memohon keselamatan untuk bayinya dan dirinya sendiri.
Semakin kesini, mulesnya semakin sering. Esme sampai menyengkram keras lengan Alucard.
"Tahan, ya sayang. Kau harus kuat. Sebentar lagi kita akan melihat dede bayinya."
Alucard terus saja menenangkan Esme sambil memijat pinggang dan mengelus perutnya.
"Aduh, Al. Saakiiittt sekali, hikss." Air matanya mengalir sambil terus saja mengatur nafas.
Suasana semakin menegang saat para perawat datang membawa alat-alat medis.
"Cepat dong! Lelet sekali, anakku ingin segera bertemu orang tuanya tuh, dia menyakiti perut istriku!" Alucard sangat panik, ia bicara kemana-mana.
"Tahan sayang. Ayo, atur lagi nafasmu."
Para perawat dan dokter sudah siap.
Aih, kenapa ramai sekali yang menanganinya? Dokter satu saja apakah tidak cukup? (Batin Alucard)
"Nona, berbaring yang benar, tekukkan lututmu, seperti ini. Pegang pahamu dengan kedua tangan. Dengarkan intruksi dariku, kalau mulesnya datang, kau bisa mengejankannya, lihatnya ke arah pusarmu, ya. Kalau mulesnya hilang, kau ambil nafas, atur nafasmu, kembalikan staminamu, dan saat mulesnya datang lagi, kau bisa kembali mengejan. Dan, saya sarankan, jangan menaikkan bokongmu jika tidak ingin di jahit. Apa kau sudah paham?"
Esme mengangguk cepat, ia benar-benar sudah tak kuat menahan rasa sakitnya.
Rasa mulespun tiba.
"Heuuuuuuu...."
Esme menggigit kain yang berada di mulutnya.
Alucard menutup kedua matanya sambil berdoa. Ia tak sanggup melihat wajah kesakitan Esme. Hatinya akan semakin tersayat jika kekeh melihatnya.
"Iya, iya, pintar. Ayo, ambil nafas dulu."
"Hoss... hoss... Heeuuuuuu...."
Dalam hatinya tetap memanjatkan doa. Kesakitan ini seperti sedang berada di ambang kematian.
"Bagus, sedikit lagi. Bokongnya jangan di angkat!"
"Heeuuuuuu...."
"Ya, ya, sedikit lagi." Dokter tersenyum lebar.
"Lihat, Tuan. Kepala bayinya sudah terlihat," bisik salah seorang perawat.
Spontan Alucard membuka matanya. Sekilas ia merasa senang sampai meneteskan air matanya, tapi, uh... ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Rasanya ngeri.
Ayo, Esmeeee!!! (Batin Alucard sambil mengelap keringat di dahi Esme)
"Ya, sedikit lagi. Ayo, ayo."
Esme menarik nafas dalam-dalam, lalu segera mengejan dengan sekuat tenaga sampai urat-urat di lehernya muncul.
"Hoaaa, hoaaa, hoaaa...."
Anak merekapun lahir.
Alucard tersenyum haru dengan wajah memerah. Air matanya lagi-lagi tak bisa dibendung. Ia memeluk Esme sambil menciuminya.
Alucard menangis sesegukkan di pelukannya.
....
**BERSAMBUNG!!!
Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain ya, siapa tau nyantol sama ceritanya...
__ADS_1