Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Balas Dendam


__ADS_3

.


"Siapa kalian? Lepaskan tanganku!" seru Esme tanpa menoleh. Pandangannya hanya menyorot tajam pada para pengkhianat itu.


"Aku pemilik Hotel ini. Kau tidak bisa membuat kekacauan di Hotelku," kata Alucard yang masih saja menahan tangan Esme.


"Esmeralda, aku tidak tahu masalah kau dan Leo. Tapi, sebaiknya kau jangan bertindak gegabah dulu ketika sedang emosi," tutur Leo.


Oh, jadi namanya Esmeralda. (Batin Alucard)


Esme menghela nafas yang terasa amat berat. Ia menghapus air matanya, lalu menoleh ke arah mereka.


"Jika kekasih kalian selingkuh, lalu keluarga kalian sendiri tahu, dan mereka malah menutupi perselingkuhan itu dari kalian, apa yang akan kalian lakukan? Apa? ... Apa kalian akan diam saja!?" kecam Esme tanpa sadar, penuh emosi.


Ah, jadi... seperti itu. (Batin Alucard dan Roger)


"Sudah sana pergi! Aku tidak membutuhkan campur tangan orang lain!" Nada bicara Esme meninggi.


Alucard dan Roger sedikit terkejut, kemudian mereka melepaskan genggaman tangannya perlahan. Mereka mulai melangkah meninggalkan Esme.


Mungkin wanita ini butuh waktu untuk sendiri.


Lutut Esme bergetar, tubuhnya jatuh ke lantai, sudah benar-benar tak kuasa menahan kenyataan yang teramat menyakitkan.


Esme menundukkan kepalanya. Ia menangis terisak-isak disana.


"Aaaaa... Ya Tuhaannn... bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak terima! Ini diluar jangkauanku, ini benar-benar sakit! Sakit sekali !" ucap Esme tanpa sadar, tangisannya terus mengguyur di kedua pipinya.


Saat Esme sedang menangis di balik guci besar, tidak sengaja ada dua pria tua mata keranjang yang menatap tubuh indahnya.


Mereka menyuruh orang-orangnya untuk menarik paksa Esme menuju kamar Hotelnya.


Orang-orang suruhan pria mata keranjang itu menunggu waktu yang tepat.


Saat Esme berjalan akan menghampiri Leo dan keluarganya, tiba-tiba saja mulutnya di bekap kain, kedua tangannya di tarik, tubuhnya di seret masuk ke dalam lift khusus.


Apa lagi ini?


Esme terhentak kaget, kedua matanya terbelalak. "Mmm... mmmm ... mm," entah apa yang ia ucapkan karena mulutnya sudah dililit oleh kain. Esme memberontak sambil memperhatikan perutnya agar tidak tersentuh orang-orang berbaju hitam itu.


Saat pintu lift akan tertutup, Leo dan keluarganya melewati lift tersebut.


Ibuuuu.... Leooo.... Tolong aku, ibuuu....


Aaaaaa.... LEO! Aku disini! 😭 (Esme mengentak-hentakkan tubuhnya. Batinnya menjerit memanggil nama mereka sambil menangis)


Leo dan keluarganya tidak sadar, mereka melewati lift itu begitu saja, karena itu adalah lift khusus. Betapa tidak adilnya, kehidupan ini bagi Esme.


Pintu lift pun tertutup.


Esme memandangi setiap orang-orang yang sedang menjaganya dengan ketat.


Ya Tuhaaann, cobaan apa lagi ini? Aku tidak bisa melawan lima orang pria berbadan besar dalam keadaan hamil.


Pintu Lift terbuka. Orang-orang suruhan itu menyeret kasar tubuh Esme. Mereka membawanya masuk ke kamar Hotelnya.


K-kamar? (Tubuh Esme bergetar hebat, matanya semakin terbelalak)


Esme mengamuk, ia menolak untuk masuk ke kamar itu. Semua tenaga ia kerahkan agar bisa lolos. Sayangnya itu semua hanya sia-sia. Tubuh Esme di panggul masuk ke dalam, dan di jatuhkan di atas ranjang oleh orang-orang suruhan itu. Kemudian, orang-orang suruhan itu keluar, dan mengunci pintu, meninggalkan Esme dan kedua pria tua mata keranjang.


Mereka melupakan tangan dan kaki Esme yang tidak di ikat. Dasar bodoh!


Esme melepaskan kain yang melilit di mulutnya. Ia memecahkan vas bunga dan menodongkannya ke arah dua pria tua itu.


Dua pria tua itu terkejut, mereka mengangkat kedua tangannya saat melihat betapa runcingnya pecahan vas bunga itu.


Dasar para tua bangka! Apa mereka tidak menghargai perasaan istrinya jika mereka tahu kelakuan bejadnya ini. Aku sangat benci pria berotak kotor seperti mereka!


"Jangan mendekat! Kalian menyandera orang yang salah. Aku adalah bencong, bukan wanita sungguhan. Cepat buka pintunya, biarkan aku keluar!" teriak Esme. Tubuhnya gemetar ketakutan.


"Apa? Bencong? Kau pikir kami bodoh?" salah satu pria itu berseringai. "Letakkan benda tajam itu, kita akan membayarmu sepuluh kali lipat," ucapnya.


"Dengar ya, aku bukan wanita seperti itu. Cepat beri aku jalan. Kalau tidak, aku akan menyayat tubuh kalian dan mengeluarkan usus kalian!" kecam Esme, emosinya mulai bergejolak.


Kedua pria itu menelan salivanya, kemudian mereka menyingkir dan memberi jalan begitu saja.


Esme menatap was-was sambil terus saja menodongkan benda tajam itu.

__ADS_1


Saat Esme akan membuka pintu, dua pria itu memberi simbol dengan mengedipkan matanya.


Salah satunya penepis tangan Esme, membuat vas bunga itu jatuh, dan satunya lagi menarik tangan Esme kembali ke ranjang.


Esme sangat geram, ia menendang bokong pria tua itu sampai jatuh ke lantai.


Pria yang satu lagi menahan tangannya. Esme pun berniat menendangnya, tapi pria itu langsung menghindar dan mendorong tubuh Esme hingga perutnya terbentur ujung meja.


Duk!!


"A-" Esme merintih kesakitan, ia menyentuh perutnya.


Dua pria itu membanting tubuh Esme ke atas ranjang. Esme hanya terbelalak, tubuhnya sudah kaku menahan sakit yang teramat dalam di perutnya. Ia tak bisa lagi memberontak.


Mereka langsung melucuti pakaian Esme. "Ti-tidak! J-jangan... jangan lakukan, hikss." Esme mengernyit kesakitan, sambil terus berusaha menahan pakaiannya agar tidak terlepas.


Uh, anakku...


Pandangannya sudah tidak jelas, keringat pun sudah membanjiri tubuhnya. Jiwanya meronta kesakitan, tapi tubuhnya terdiam karena sudah benar-benar lemas tak bertenaga.


Pandangan matanya kosong melompong, air matanya menetes tanpa perintah. Esme ikhlas, ia memasrahkan kehidupannya yang sudah benar-benar kacau sekacau-kacaunya.


Tubuhnya sudah tak bisa digerakan, sangat kaku, karena perih yang teramat menusuk di perutnya.


Arrgghh, sakit !! Apakah tubuh anakku remuk karena terbentur tadi, karena ini benar-benar sakit. (Disaat sudah hampir setengah telanjang seperti itu, Esme tetap mengkhawatirkan keadaan anaknya)


Saat kesadarannya hampir hilang. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di dobrak. Esme sudah tak menghiraukan siapa itu, ia mencoba mendamaikan tubuhnya.


Hanya terlihat bayangan seseorang yang sedang menghajar kedua pria mata keranjang itu di samping ranjang.


Aku harap itu Leo. (Esme tersenyum, lalu matanya tertutup. Ia tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat)


Dua pria tua itu tergeletak tak berdaya di lantai dengan wajah yang babak belur.


Ternyata, pria yang memukul mereka adalah Alucard.


Alucard terbelalak saat melihat tubuh Esme yang setengah telanjang dengan cairan kental merah berbau amis di sekitar alat kelaminnya.


Ia segera menggendongnya dan membawa Esme ke rumah sakit.


******


Tiba-tiba matanya terbelalak. "Dimana ini?" gumamnya sambil melihat sekeliling ruangan.


"Uh, perutku. Sakit!" rintih Esme, ia meraba perutnya. "Ah! A-anakku?" Mulutnya menganga.


Saat akan beranjak, tiba-tiba saja Alucard masuk menghampiri Esme dengan sekuntum bunga mawar. Ia memberikannya pada Esme, lalu duduk begitu saja tanpa perintah.


"Kau?" Esme membulatkan kedua matanya. Ia sangat bingung.


"Kau adalah wanita yang ditinggalkan. Bagaimana jika aku membantumu membalaskan dendam pada para pengkhianat itu?" Alucard berbicara santai.


?


Esme mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti, lelaki asing di hadapannya itu sedang berbicara apa?


Alucard bisa menebak apa yang membuat Esme mengernyitkan dahinya.


"Kau akan mengenali siapa diriku setelah kau mencaritahu berita dari Korea," ucapnya.


"Besok adalah hari pernikahanmu. Keluargamu dan kekasihmu sangat panik mencari aset berharga mereka yang sudah hilang beberapa hari ini," ucapnya penuh arti.


Deg....


Pernikahan?


"A-apakah besok tanggal 25?" Kedua matanya bergetar.


Alucard hanya tersenyum.


Senyumannya itu berartikan 'ya' bagi Esme.


Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri? Lalu....


"B-bagaimana dengan ... kandunganku?" Esme sangat ragu mempertanyakan itu, karena kehamilannya adalah aib baginya.


Alucard menundukkan wajahnya. "Aku turut berduka cita atas kematian calon anakmu."

__ADS_1


A-apa?


Esme terbelalak. "A-apa yang ....?" Ia menarik rambutnya ke belakang. "Ma-maksudmu... aku keguguran?" Kedua matanya memerah, air matanya sudah berlinangan.


Kebisuan Alucard membuat perasaan Esme semakin hancur. Esme sangat menyesalinya pergi ke hotel itu, bertemu para pria ******** mata keranjang yang sudah membunuh bayi tak berdosanya.


"Hey, kuatkan hatimu. Dengarkan aku baik-baik. Aku sudah mencari tahu semua tentang kelicikan Direktur Mord Grup, yang tak lain adalah kekasihmu. Dia mempekerjakanmu hanya untuk meraup keuntungan saja, karena kinerjamu sangat bagus, itu memberikan keuntungan besar bagi bisnisnya," jelas Alucard. Ia mulai memanas-manasi Esme lagi.


Hati Esme benar-benar tersayat. Luka yang belum sembuh, sudah tergores lagi dengan kenyataan dari Alucard.


"Satu lagi. Apa kau tahu, kau itu telah dijual oleh keluargamu padanya."


A-apa? Tidak ! Ini tidak masuk akal. (Esme mengerutkan keningnya)


"Apa kau tidak di beri tahu? Bisnis ayahmu sudah bangkrut beberapa minggu yang lalu, kemudian keluargamu menjualmu pada Leo hanya untuk menyambung hidup mereka. Keluargamu sangat takut melarat ! Maka dari itu mereka menutupi perselingkuhan Leo dari dirimu," kecamnya.


"Tidak! Itu tidak mungkin. Keluargaku tidak seperti itu. Kau hanya orang asing. Atas dasar apa kau mencoreng jelek nama baik keluargaku begitu saja !" Esme mengotot.


"Kau 'kan sudah tinggal lama dengan keluargamu, tapi kenapa kau begitu bodoh tidak mengenal sosok mereka yang sebenarnya," celetuk Alucard.


Alucard mengambil ponsel dan menelepon sekretarisnya.


"Kim, bawa buktinya kemari. Sekarang!"


Sekretaris Kim sedang berada di kantin rumah sakit, baru saja akan memakan bakso suapan pertama, tiba-tiba atasannya memerintahkan dia sesegera mungkin untuk membawa bukti yang sudah ada di genggamannya. Ia pun tak bisa membantahnya, Sekretaris Kim langsung menunda laparnya tanpa mengeluh.


Ia sangat patuh pada atasannya.


Bagaikan binatang peliharaan saja.


Tidak lama, Sekretaris Kim pun datang.


"Perlihatkan bukti itu padanya!" seru Alucard.


Sekretaris Kim menyodorkan bukti berupa rekaman cctv dan rekaman suara. Cctv itu memperlihatkan Leo dan Ny.Hilda yang sedang bertemu di sebuah kafe. Mereka menjalin kerjasama untuk menutupi perselingkuhannya, menyuap ibunya dengan jaminan hidup.


Betapa sesaknya Esme melihat bukti nyata itu. Ingin sekali untuk tidak mempercayai semua yang menimpa hidupnya. Tapi, itu semua benar adanya.


Esme menitikan air mata kekecewaan.


Ibu? Ibu... hiks, ibu tega seperti ini pada Esme? (Batinnya menjerit)


Esme tak memperdulikan semua informasi yang Alucard tahu itu dari mana. Pikiran dan rasanya sudah bercampur aduk.


"Bagaimana dengan keadaan ayahku saat ini?" Meskipun rasanya sesak, ia masih mengingat ayahnya.


"Sebenarnya, ayahmu adalah orang satu-satunya yang tidak menyetujui perjanjian jahat Leo dan Ibumu. Dia tak bisa berkutik, karena semuanya dikendalikan oleh ibumu yang serakah. Saat mengetahui kau hilang, dia jatuh sakit. Ayahmu satu-satu orang yang tulus mengkhawatirkanmu," jelasnya. Alucard sedikit tak tega membeberkan semuanya pada Esme.


Hikss, ternyata hanya ayah seorang... Ayah, betapa kejamnya dunia padaku!


Esme langsung beranjak dari bangsalnya dengan emosi di jiwa yang sudah bergejolak.


Alucard dengan santainya menggerakan tangan pada Sekretaris Kim untuk menahan Esme.


"Jangan terburu-buru. Kita susun rencana dulu untuk membalas perbuatan mereka. Apa kau ingin membuat para pengkhianat itu menang begitu saja?" katanya. "Kau memerlukan sandaran yang tepat. Dan, akulah sandaran yang tepat untuk membantumu menghancurkan mereka," ucapnya sombong.


Alucard menanamkan benih balas dendam dalam hati Esme.


Esme mengepalkan kedua tangannya. Ia semakin panas. Tubuhnya sudah benar-benar terbakar api kebencian.


Sepertinya, status orang ini sangat tinggi. Memang benar, aku perlu seseorang yang lebih tinggi dari Leo untuk membalaskan dendam. (Batin Esme mulai terpancing)


"Baiklah. Aku setuju! Apa rencananya?" Esme menyetujuinya tanpa basa-basi, tanpa tahu ada maksud terselubung dibalik bantuan Alucard.


Alucard langsung berseringai. Jiwa bahagianya meronta-ronta. Tapi, ia berusaha untuk tetap cool di hadapan Esme.


Kebahagiaan Esme dirampas sebegitu tidak adilnya. Kekasih dan keluarganya menghianatinya. Hubungannya dan kepercayaannya hancur sebelum ia menikah. Anaknya meninggal sebelum bertemu dengannya.


Kesalahan apa yang sudah Esme perbuat di kehidupan sebelumnya, hingga Tuhan memberikan cobaan yang bertubi-tubi sakitnya di kehidupan yang sekarang.


Tapi, Esme tak bisa menyalahkan takdir begitu saja. Percayalah, Tuhan akan memberikan pelangi setelah badai menerpa.


...


BERSAMBUNG !!!!


Jangan lupa Like, Komen & Vote ❤

__ADS_1


Yang baru baca, klik Favoritkan biar dapet notiv tiap novelnya up hhe..


__ADS_2